logo text

Bab 31 PENCULIKAN KEDUA

Mendengar kegaduhan dari dalam kamarnya. Rey berteriak memanggil semua pengawalnya. Tapi, nihil tak satu orang pun yang datang dan mendengar teriakannya. Rey pu bergegas mendorong kursi rodanya secepat yang ia bisa menuju ke arah kamarnya dan Claudya.
Di sana terlihat beberapa orang tengah menyeret Claudya. Mereka semua bertopeng dan menggunakan pakaian serba hitam. Rey yang melihat itu tak tinggal diam.
Walaupun dengan kekurangannya ia dengan sigap menarik baju salah satu orang bertopeng itu dari belakang. Lalu secara spontan melayangkan bogem mentah ke dagu pria itu hingga ia tersungkur.
Sementara Claudya masih di bawa oleh pria bertopeng lainnya. Melewati halaman rumah untuk menuju mobil yang sudah terparkir di depan pagar rumah megah itu. Claudya hanya bisa berteriak histeris dan meronta minta di lepaskan
Dia hanya bisa menangis mengingat tubuhnya masih lemah karena kejadian yang menimpanya kemarin.
Rey segera menyusul mereka, dan …
BUUUK!!! Seseorang memukul kepala Rey dari belakang. Tubuh Rey limbung dan jatuh ke tanah dan tertimpa kursi rodanya.
“Maaas …! teriak Claudya saat melihat suaminya jatuh tersungkur ke tanah.
Sementara orang yang memegang Claudya tadi langsung menyeret Claudya untuk masuk ke mobil. Melihat Claudya sudah berada di dalam mobil semua pria bertopeng itu pun ikut masuk ke dalam mobil mereka masing-masing.
Mobil-mobil itu pun meninggalkan rumah Rey. Sebelum benar-benar kehilangan kesadarnnya Rey masih bisa mendengar teriakan Claudya perlahan semakin menjauh dan menghilang.
Beberapa jam kemudian Candra datang. Ia datang bermaksud ingin menunjukkan beberapa model kaki palsu pada Rey. Begitu sampai di depan pagar, sungguh hal yang tak terduga terjadi di depan mata Candra.
Para pengawal Rey tergeletak tak bernyawa. Mereka semua mati dengan cara yang sama. Mereka mengalami luka tembak dari jenis senjata yang tak menimbulkan suara. Oleh karena itu Rey tak mendengar apapun saat para pria bertopeng menyerang.
“Apa yang terjadi di sini?” Candra bergegas memasuki halaman rumah Rey dan meninggalkan mobilnya begitu saja.
“REY!!!” Candra menopang kepala Rey dengan tangannya, darah mengalir dari belakang kepala Rey. Ia mengalami luka yang cukup parah.
Di saat Candra akan mengangkat Rey ke dalam rumah, terdengar suara seseorang yang datang.
“Mas Rey!” pekik Riana dan Hanah bersamaan saat melihat Rey tak sadarkan diri di tangan Candra.
Hanah menutup mulut dengan kedua tangannya melihat keadaan Rey.
“Can, apa yang terjadi? Kenapa bisa seperti ini?” cerca Riana yang panik melihat keadaan rumah sang kakak.
“Aku juga tidak tahu, begitu aku sampai Rey sudah tergeletak di sini. Cepat kau panggil ambulans dan polisi.” titah Candra yang di balas anggukan oleh Riana.
“Mbak! Apa kau melihat mbak Claudya, Candra?” tanya Riana begitu ia teringat dengan kakaknya.
Candra dan Riana saling melempar pandang, Riana dan Hanah spontan berlari ke dalam rumah.
Keadaan di dalam rumah lebih memprihatikan banyak pengawal dan beberapa orang bertopeng bergelimpangan. Seisi rumah berpindah dari tempat semula.
Riana berjalan ke kamar Claudya sedangkan Hanah berlari menuju kamar Alisha.
“Mbak! Mbak! Mbak di mana?” Riana berteriak mencari Claudya mengelilingi seisi rumah. Tapi, nihil ia tak menemukan Claudya di mana pun.
Riana kembali berlari ke kamar Alisha.
“Alisha …!” lirih Riana di ambang pintu kamar Alisha. Ia melihat Alisha nampak begitu syok dan menangis ketakutan di pelukan bi Sum.
Riana melempar pandangan pada Hanah yang berada di sudut kamar. Sang Bunda hanya menatapnya dan menggelengkan kepalanya.
Perlahan Riana melangkah mendekati Alisha dan duduk di hadapannya.
“Alisha … , “ panggil Riana dengan perlahan, gadis itu takut jika akan membuat Alisha makin syok. Riana merentangkan kedua tangannya.
“Aunty!” Alisha berhambur ke pelukan Riana dan menangis dengan tersedu-sedu.
Riana membiarkan gadis kecil itu tetap berada di pangkuannya. Ia merengkuh dan terus mencium pucuk kepalan Alisha. Riana takut jika keponakannya ini akan mengalami trauma berat setelah kejadian ini. Karena terlalu lama menangis dan lelah akhirnya Alisha tertidur. Bi Sum mengangkat Alisha dari pangkuan Riana dan menidurkannya di ranjangnya agar ia lebih nyaman.
Riana, bi Sum dan juga Hanah beranjak keluar kamar dengan mengendap ngendap. Tak berselang lama terdengar suara sirene ambulans dan mobil polisi saling bersautan di halaman rumah.
Beberapa orang polisi dan tim forensik datang. Semua jenazah sudah di angkat ke mobil ambulans. Begitupun dengan Rey, mereka segera membawanya ke rumah sakit.
“Bi Sum, saya minta tolong jaga Alisha. Jangan tinggalkan dia sedetikpun. Aku ingin ke rumah sakit dengan Candra mengantar kak Rey,” pinta Riana tulus pada bi Sum.
“Dengan senang hati, Mbak tidak perlu khawatir. Aku akan menjaganya dengan sepenuh hati, mbak!” jawab bi Sum.
“Terima kasih, Bi. Aku yakin itu.”
“Oh, ya, Bun, Bunda mau di sini apa mau ikut ke rumah sakit?” ujar Riana sesaat akan melangkah meninggalkan meinggalkan kediaman sang kakak yang tak tau berada di mana.
“Pergilah, sayang jangan khawatirkan Bunda. Bunda akan tetap di sini untuk ikut menjaga bi Sum dan Alisha.”
Tergambar jelas kekhawatiran dan kepanikan di wajah Riana. Mereka berdua pun naik ke mobil ambulans.
“Bun, jangan memberitahukan kejadian ini pada keluarga umi Nissa. Riana tidak mau membuat orang merasa cemas.” ujar Riana dengan sedikit berteriak karena posisi Hanah cukup jauh dari mobil polisi.
Hanah hanya menganggukkan kepalanya dan mengangkat jempolnya.
Salah seorang polisi menghampiri dan sedikit mengintrogasi bi Sum karena dia lah saksi mata yang berada di lokasi kejadian.
“Maaf, bisa anda ceritakan apa yang terjadi?” ucap polisi muda sambil mengeluarkan pulpen dan buku kecil. Dan siap menulis apapun yang di katakan bi Sum, tanpa mengurangi ataupun di tambah, ia berkata jujur.
“Tadi sewaktu saya akan membangunkan non Alisha untuk bersiap pergi ke sekolah, terdengar suara kegaduhan dan teriakan. Karena penasaran saya pun mengintip di balik pintu. Banyak pria bertopeng masuk ke dalam rumah dan membawa Ibu entah kemana.
Begitu saya balik badan ternyata Alisha sudah bangun dan melihat apa yang terjadi pada Ibu dan Bapak. Ia menangis dan akan berlari menghampiri mereka. Bibi tidak mau terjadi apa-apa pada non Lisha maka dari itu saya tarik tangannya dan mengunci pintu kami bersembunyi di sini sampai mbak Riana datang.” jelas bi Sum panjang lebar.
Polisi dan Hanah mendengarkan dengan seksama tanpa menyela sedikitpun.
“Pria bertopeng? Berapa jumlah mereka?” tanya polisi muda tersebut.
“Pastinya saya kurang tahu, pak. Karena mereka semua memegang pistol jadi saya tak berani keluar dari kamar ini.”
“Baik terima kasih atas informasinya. Kalo gitu saya permisi.” pamitnya seraya memasukkan kembali buku dan pulpennya.
Sepeninggal polisi itu, bi Sum terisak, bahunya bergetar. Akhirnya pertahanan matanya jebol. Ia tak kuasa menahan tangisnya lebih lama lagi. Ia sangat ketakutan karena melihat kejahatan tepat di depan matanya.
Sementara itu di rumah sakit. Rey segera dilarikan ke ruang operasi karena mengalami luka yang cukup serius di kepalanya. Riana mondar mandir di depan bersama Candra. Pandangannya selalu melihat ke arah lampu indikator ruang operasi menunggu dokter ke luar dari sana.
“Siapa yang berani berbuat sekeji ini?” gumam Riana. Candra yang mendengar itu pun mendekati Riana.
“Ri, sebenarnya sebelum kejadian ini tadi malam, Rey sudah cerita. Jika keluarganya sedang dalam bahaya. Teror selalu menghantui mereka setiap saat. Bahkan kemarin Claudya sempat hampir kehilangan nyawa jika tak di tolong oleh pengawalnya.”
“Ya ampun, kenapa mereka tidak menceritakan hal seserius ini padaku.”
“Mungkin mereka tidak mau membuatmu cemas, Ri.”
“Jadi siapa yang melakukan hal serendah ini?”

“Dari keterangan Rey, mereka adalah Erick dan Erlangga. Mantan kekasih dan lawan bisnis Claudya.”
“Sudah ku duga, di dunia ini tidak ada yang sekeji Erick.”
Setelah beberapa jam menunggu akhirnya lampu indikator pun padam. Seorang dokter ke ruangan itu. Riana dan Candra pun mendekat.
“Bagaimana keadaan kakak saya, Dok?” tanya Riana cemas.

Komentar Buku (114)

  • avatar
    Uteajulian

    semoga bagus

    24/06/2025

      0
  • avatar
    Gajah

    mantap

    08/06/2025

      0
  • avatar
    akun backup zpt

    bagusss bangettt

    01/05/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru