logo text

Bab 22 penyelamatan Claudya

Riana menjawab dengan menganggukkan kepalanya. Ia segera berlari ke parkiran di mana mobilnya berada. Ia melajukan mobinya dengan kecepetan di atas rata-rata. Ia ingin segera sampai untuk menyelamatkan Claudya.
Setelah sampai di tujuan Riana menjelaskan maksud dan tujuannya datang. Johan segera menghubungi semua anak buahnya untuk datang ke markas.
“Loe tau dimana persembunyiannya Erick?” tanya Riana cemas.
“Siapa yang gak tau Erick, dia musuh bebuyutan gue dan yang lainnya. Kita pasti bisa selamatin kakak loe," ujar Johan menenangkan Claudya.
Semua sudah berkumpul, Johan memberitahu tentang apa yang terjadi pada Riana. Mereka semua bersedia membantu. Johan menyusun rencana, ia dan satu rekannya memantau terlebih dahulu keadaan di markas Erick.
Setelah dirasa aman ia dan yang lainnya akan menyelamatkan Claudya. Ia tak ingin gegabah seperti Johan yang dulu selalu gegabah dan ceroboh.
Di rumah Erick ternyata ada banyak penjaga. Johan harus berhati-hati jika ingin semua berjalan sesuai yang direncanakan. Erick orang yang cukup berpengaruh dikalangan para pengusaha di kota tersebut. Ia bukan orang sembarangan.
“Jadi gimana ini, Jo?” Riana gelisah ia hanya mondar mandir sepanjang hari.
“Besok kita harus pancing Erick untuk keluar dari rumah itu. Dengan begitu tidak akan ada banyak penjaganya.” terang Johan sambil menyalakan sebatang rokok.
Riana tak menanggapi perkataan temannya itu, ia hanya ingin segera berjumpa dengan Claudya. Ia kasian pada Rey dia selalu menanyakan tentang Claudya.
Sesuai dengan apa yang direncanakan Erick keluar rumah karena Johan sengaja menyuruh anak buahnya untuk membakar salah satu restoran yang dikelola Erick selama ini. Johan, Riana dan yang lainnya datang secara terpisah untuk mengelabui para penjaga.
“Oke sekarang pergi dengan tugas masing-masing, berhati-hatilah. Good luck!"
Mereka berpencar dengan tugas yang sudah di susun. Johan dan Riana mencari Claudya ke seluruh penjuru rumah yang sebelumnya para penjaga sudah dilumpuhkan anak buah Johan.
Mereka tiba di depan sebuah kamar yang diduga tempat Claudya disekap. Ketika Riana ingin membuka pintu mereka dihadang penjaga.
“Siapa kalian?” ia mengacungkan sebilah golok.
“Gimana ini, Jo?” Riana terlihat panik.
“Tenang, loe mundur dulu biar gue yang beresin,” pinta Johan.
“Sini loe! Hadepin gue." Johan memancingnya.
Johan secara spontan mengarahkan tendangan ke arah perutnya.
“Argh…!!!” ia terpental ke belakang.
Ia berlari ke arah Johan sambil mengangkat tinggi goloknya. Johan pasang kuda-kuda siap menghadapi semua serangan. Ia mengarahkan goloknya ke arah perut Johan ia hendak menusukkan benda itu disana.
Beruntung Johan berhasil menangkis tangannya dan menjatuhkan golok itu ke lantai. Johan memukul rahang pria itu hingga menimbulkan suara gemeretak.
"Argh...!!!" ia mengerang kesakitan. Mungkin rahangnya patah akibat pukulan Johan telak.
"Riana! Cepat buka pintunya!" titah Johan pada Riana karena Riana hanya berdiam diri di ujung tembok.
"Eh, iya, ma'af," jawab Riana dengan segera membuka pintu.
"Jo, pintunya dikunci. Gak bisa di buka," ujar Riana seraya menggerak-gerakan handle pintu.
"Haah...!!! Sial. Awas! kita dobrak aja pintunya," Johan bersiap dari jauh untuk menendang pintu setelah berhasil melumpuhkan penjaga itu.
(Gubraak!!!) pintu berhasil terbuka dengan tiga kali tendangan.
Di atas ranjang Claudya terbaring lemah masih menggunakan pakaian pengantin nya. Sungguh keadaan yang mengkhawatirkan.
"Mbaaak!!!" jerit Riana melihat Claudya tak sadarkan diri.
"Tenang Riana, sekarang kita bawa kakak loe ke rumah sakit. Sebentar lagi Erick pasti datang, kita harus cepat keluar dari sini." ucap Johan dengan sigap mengangkat tubuh Claudya keluar dari rumah Erick.
Sesampainya di dalam mobil, ia mengintruksikan pada anak buahnya untuk segera meninggalkan lokasi. Johan memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia khawatir jika Erick akan segera tiba dengan penjaga yang lebih banyak.
"Assalamualaikum, Bun kami udah berhasil bawa mbak dari tangan Erick. Tapi keadaannya sekarang sedang tidak baik jadi sekarang kami lagi di perjalanan ke rumah sakit," ucap Riana pada Hanah di sambungan telepon.
"Ya Allah Claudya, kamu sms kan aja di rumah sakit mana nanti Bunda langsung ke sana. Apa kamu sudah memberi tau Umi Nissa dan yang lain?" tanya Hanah dengan cemas.
"Belum Bun, Bunda aja yang kasih tau mereka ya!" pinta Riana.
"Baiklah, kalian hati-hati di jalan kami akan segera ke sana," Hanah menutup sambungan teleponnya.
Sesampainya di rumah sakit, Claudya langsung di tangani oleh dokter. Seorang suster menggantikan pakaiannya yang terlihat lusuh. Dokter melakukan pemeriksaan menyeluruh.
"Dengan keluarga nona Claudya!" panggil seorang suster.
"Iya, saya adiknya sus," Riana menghampiri.
"Dokter ingin bicara, mari ikut saya!" suster membawa ke ruangan dokter.
"Begini, mbak Claudya mengalami dehidrasi hebat, ia juga tidak mendapatkan asupan makanan selama beberapa hari. Dan kami juga menemukan sedikit cairan anti serangga di dalam tubuhnya.
Untung segera mendapatkan pertolongan. Jika tidak mungkin kami tidak bisa menyelamatkan nyawanya." penjelasan dokter membuat Riana syok.
"Astagfirullah, apa mbak mencoba bunuh diri?" lirih Riana.
"Jadi sekarang gimana keadaannya, Dok?"
"Ia sudah melewati masa kritis nya sebentar lagi akan kami pindahkan ke ruang perawatan."
"Alhamdulillah... Kalo begitu saya permisi dulu," pamit Riana seraya bangkit dari duduknya.
Riana meninggalkan ruang dokter dan melangkah menuju ruangan dimana Claudya terbaring.
"Kok mbak sampai nekat begini sih, mbak?" ucap Riana tak habis pikir dengan apa yang menimpa keluarganya. Ia mengelus tangan Claudya yang mulai terasa hangat.
Semua keluarga sudah berkumpul di rumah sakit, termasuk Rey. Tak henti-hentinya ia menatap Claudya yang belum juga siuman dari pingsannya. Ia tidak mau melepaskan genggamannya dari tangan Claudya.
Riana menghela nafasnya sebelum berkata. "Kita harus melaporkan ulah Erick ini ke polisi,"
"Tapi kalo Erick menculik Claudya lagi gimana? Umi takut sayang," sahut Nissa dengan raut wajah yang gelisah mendengar penuturan Riana.
"Saya udah konsultasikan hal ini pada teman saya yang seorang pengacara. Awalnya saya pun mau melaporkan ini. Nyawa Claudya dalam bahaya jika masih di tangan Erick ketika melaporkannya. Tapi karena sekarang Claudya sudah aman bersama kita, insya Allah kita bisa melaporkannya ke polisi dengan kasus penculikan dan penyekapan," jelas Yusuf.
"Menurut kamu piye, Le?" Ainun bertanya pada Rey yang dari tadi hanya melamun memandang Claudya.
"Saya menurut saja bagaimana baiknya, Bu. Jika itu demi kebaikan istri saya."
"Baiklah kalo gitu, biar saya aja yang membuat laporan ke polisi," timpal Yusuf.
"Claudya! Kamu sudah sadar?" ucap Rey begitu melihat Claudya mulai membuka matanya.
"Alhamdulillah," ucap mereka serempak.
Sudah beberapa hari Claudya dirawat di rumah sakit, kini keadaannya mulai membaik dokter sudah memperbolehkan pulang tapi masih harus banyak istirahat. Untuk sementara Rey dan Claudya tinggal di rumah Ha nah sampai kesehatan Claudya sembuh total dan bisa beraktivitas seperti dulu.
"Maafin mas ya, Claudya, mas gak bisa jadi suami yang baik. Gak bisa jagain kamu, mas memang gak berguna," Sesal Rey dengan menundukkan kepalanya. Ia tak sanggup menatap Claudya.
"Mas gak boleh ngomong begitu, aku bersyukur bisa nikah sama kamu. Terlepas dari semua yang mas omongin tadi." protes Claudya sambil memegang kedua pipi suaminya agar mau menatapnya.
"Sekarang kita jalani ini semua dengan penuh rasa syukur. Kalo aku udah sembuh total kita pindah ke rumah kita ya, mas? Kita mulai kehidupan rumah tangga kita dari sana." ujar Claudya dengan bergelayut manja di bahu Rey.
"Iya sayang, makasih banyak ya." Rey menjawab permintaan istrinya itu dengan mengecup keningnya.
Erick ditangkap di kediamannya, ia tak berkutik dengan semua bukti yang di perlihatkan polisi padanya.
"Awas kalian, ini belum berakhir. Aku tak akan tinggal diam atas semua yang kalian lakukan ini. Tunggu aja," gumam Erick sebelum di gelandang ke kantor polisi.
Kini Rey dan Claudya sudah di rumah yang akan menjadi awal kehidupan mereka. Sudah satu tahun berlalu dan mereka sudah di karuniai seorang putri yang cantik mirip dengan sang Ibu.

Komentar Buku (114)

  • avatar
    Uteajulian

    semoga bagus

    24/06/2025

      0
  • avatar
    Gajah

    mantap

    08/06/2025

      0
  • avatar
    akun backup zpt

    bagusss bangettt

    01/05/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru