Lu Gonggong masih berdiri dengan posisi penghormatan, sementara seorang wanita yang sudah berumur namun masih tersisa kecantikan di usia mudanya, duduk menyandar di kursi panjang berlapis beledru dengan santai. Dia mendengarkan setiap ucapan yang keluar dari mulut sang kasim. Sudah menjadi kebiasaannya untuk selalu mendapatkan berita terkini dari Kasim yang selalu berada di sisi putranya, Kaisar Langit, Nanggong Huang Di. Dia mempercayai sang kasim yang telah mengabdi padanya sejak hari pertama dia dilantik sebagai permaisuri setelah permaisuri sebelumnya mangkat karena melahirkan putri pertamanya. "Apa yang membuat Kaisar menurunkan dekrit itu?" Ibu Suri bertanya dengan heran. "Apakah hanya karena insiden pingsannya Rong Guifei?" Tanyanya lagi. "Yang Mulia, di luar telah beredar rumor tidak sedap mengenai Nona Muda Luo. Itu membuat Pangeran Ketiga dan Rong Guifei bersikeras untuk memohon pada kaisar," jelas Lu Gonggong. Ibu suri terkekeh. Menurutnya ini terlalu dangkal, hanya sebuah lelucon. "Itu hanyalah sebuah alasan. Lu Gonggong apakah menurutmu itu masuk akal? Sepertinya putraku sudah berubah." Raut muka Ibu Suri tampak meredup. Kekecewaan jelas tergambar di wajah cantiknya yang mulai menua. "Yang Mulia, saya harap ini hanya sebuah kelalaian semata yang tidak akan mempengaruhi situasi ibukota." Lu Gonggong berusaha menghiburnya. Dia paham betul ucapan ibu suri barusan. Selama bertahta baru sekali ini kaisar menunjukkan keberpihakannya. Dekrit yang diturunkannya untuk Nona Muda Luo secara tidak langsung menunjukkan dukungannya untuk pangeran ketiga. "Tidak mungkin. Situasi sudah pasti akan sedikit bergejolak. Kita semua tahu dengan turunnya dekrit tersebut akan mempermudah jalan cucu Jenderal Ning memasuki wangfu milik Pangeran Ketiga." Ibu Suri terlihat semakin muram. "Sia-sia sudah niat baikku. Dengan memberikan dekrit pertunangan untuk putri dari Grand Tutor Luo, aku dan kaisar saat itu berharap akan mengurangi tekanan persaingan diantara para pangeran," gumamnya melanjutkan ucapannya tadi. Lu Gonggong hanya terdiam. Semasa pemerintahan kaisar sebelumnya tidak terjadi peralihan tahta yang berdarah. Karena beliau hanya memiliki satu orang putra dan beberapa putri dari permaisuri maupun selir. Jauh berbeda dengan kondisi saat ini. Kaisar Nanggong memiliki 9 putra tanpa ada satu orang putripun. Permaisuri Hua sendiri hanya memiliki seorang putra yang kini telah dinobatkan menjadi pangerah mahkota. Sedangkan kedelapan pangeran lain terlahir dari para selir. Berbicara peluang, mungkin hanya pangeran kelima dan ketujuh yang memiliki kans yang hampir mendekati posisi pangeran mahkota. Pangeran kelima merupakan putra dari Huang Guifei. Posisi sang ibunda yang hanya satu tingkat di bawah permaisuri dan dukungan dari keluarga keibuannya, menjadikannya sebagai kandidat terkuat untuk berebut kekuasaan dengan pangeran mahkota. Sedangkan pangeran ketujuh, putra dari selir termuda kaisar. Meski tanpa pangkat yang tinggi siapapun tidak akan meragukan dukungan keluarga keibuannya, Chu Wangfu. Ibundanya adalah putri tertua keluarga Chu, kakak dari Chu Wang, perdana menteri saat ini. Sayangnya pangeran ketujuh yang sedari kecil telah ditinggalkan sang ibunda, lebih memilih untuk hidup menjauh dari keriuhan politik dan perebutan kekuasaan. Dia lebih tertarik untuk berkelana. Sekalipun kelak dia kembali ke ibukota maka dia akan berada di sisi permaisuri untuk mendukung pangeran mahkota. Kedekatan kedua pangeran ini telah menjadi legenda di ibukota. Begitupun dengan pangeran kelima. Mereka bertiga justru hampir tidak pernah bergesekan ataupun berseberangan. Justru telah berkali-kali berhasil dalam tugas ataupun misi yang menjadi tanggungjawab mereka bertiga. Kini sepertinya Pangeran Ketiga akan turut memeriahkan panggung politik negeri ini. Meski sebelumnya bertunangan dengan Luo Ding Xiang yang merupakan putri dari Grand Tutor Luo, namun itu tidak memberinya dukungan yang signifikan. Faktanya pertunangan ini akan membuatnya dalam posisi aman siapapun kelak yang akan naik tahta. Kendati itupun membuatnya dalam posisi stagnan. Dia tidak lebih dari pangeran yang terhormat tanpa kekuasaan, meski akan terjamin kekayaannya. Tentu akan berbeda jauh jika dia menikahi Luo Han Mudan, Nona Muda Kedua Luo, yang merupakan putri dari Jenderal Luo Han Yu sekaligus cucu dari Jenderal Ning Xuan. Dukungan militer yang didapatnya tidak bisa diremehkan. Hal ini membuat hampir semua pejabat istana maupun keluarga berpengaruh lainnya menjadi gelisah. Apalagi mengingat Jenderal Xie sama sekali tidak pernah menampakkan dukungan untuk siapapun. Sikap diamnya ini semakin membuat spekulasi liar tidak menentu di ibukota. Selain Ibu Suri yang telah dengan tegas memperlihatkan kegelisahannya, di tempat lainpun terjadi hal yang sama. Wanita cantik itu tidak berhenti mondar-mandir tidak menentu. Raut wajahnya terlihat muram dan sedih. Berkali-kali dia menggigit bibirnya. "Kau sudah bertemu dengannya bukan?" Dia berhenti dan bertanya pada seorang wanita yang tengah menundukkan kepalanya tak jauh darinya. "Iya Yang Mulia. Dua kali saya bertemu dengannya. Pertama kali atas undangan Nyonya Tua Chen yang meminta saya untuk membawa beberapa pelayan untuknya." Wanita itu bertutur dengan lembut namun tegas dan jelas. "Kau harus pastikan pelayan yang terbaik dan setia untuknya." Wanita itu masih terlihat gelisah. "Lantas untuk apa kau bertemu dengannya lagi?" Lanjutnya dengan penuh rasa ingin tahu. "Nona Luo Ding Xiang meminta saya untuk membawa beberapa gadis pelayan yang memiliki kemampuan dasar menjahit dan menyulam. Dan dia juga sepertinya telah menduga saya mengenal mendiang ibunya, Nyonya Hua Yan Yue," jelasnya pada wanita yang masih berdiri di hadapannya dengan gelisah. "Nyonya Yu, temui dia lagi. Pastikan semua baik-baik saja. Tapi untuk apa para pelayan itu?" Wanita cantik itu tampak berpikir dengan keras. "Yang Mulia jangan khawatir. Saya akan melakukan yang terbaik yang saya bisa." Wanita itu, yang ternyata Nyonya Yu, menegaskan kesanggupannya. "Baiklah. Jika ada masalah, kau tahu apa yang harus dilakukan bukan?" Kembali wanita cantik itu menginstruksikan. "Sekarang pergilah. Aku perlu waktu untuk memikirkan semua ini. Ada banyak hal yang harus aku lakukan." Dengan kibasan tangan wanita cantik itu meminta Nyonya Yu untuk pergi. Nyonya Yu memberi hormat dan segera meninggalkannya tanpa banyak kata-kata. Dengan diiringi seorang pelayan, dia pergi meninggalkan istana kediaman sang Permaisuri melalui pintu samping yang mengarahkannya langsung ke gang sempit yang menghubungkan dengan jalanan ibukota. Wanita cantik dengan dandanan yang anggun itu mendudukkan tubuhnya di atas kursi panjang. Dipijatnya pelipisnya dengan hati-hati. "Yang Mulia tenangkanlah hati dan pikiran anda. Saya khawatir anda akan jatuh sakit jika berpikir terlalu keras." Seorang pelayan menghampirinya dan membantu memijat bahunya. Wanita itu diam saja dan justru memejamkan matanya. Dia adalah Permaisuri Hua Yue Ying, ibunda dari pangeran mahkota. Sedari beberapa hari yang lalu kegelisahan melanda hatinya. Insiden pingsannya Rong Guifei di depan ruang belajar kaisar membuatnya memiliki prasangka yang buruk. Meski Mu Huang Guifei membujuknya untuk tidak terlalu memikirkannya, namun pagi ini justru dialah yang menularkan kegelisahannya pada sang permaisuri. Kedua wanita cantik penguasa istana dalam itu dikenal dengan hubungan mereka yang sulit untuk di tebak. Keduanya tidak bisa dikatakan bersahabat namun juga tidak berseteru. Keduanya memiliki batasan masing-masing dan saling menghormati. Keduanya berasal dari keluarga bangsawan kuno yang tentunya kental dengan intrik-intrik di halaman belakang. Mungkin ini yang membuat keduanya menghindari intrik menjijikkan yang terkadang justru merugikan mereka. Mu Huang Guifei sedari pagi telah mengirimkan pelayan kepercayaan untuk memberi kabar mengenai dekrit yang diturunkan kaisar untuk Nona Muda Luo. Dan ini membuat permaisuri gelisah sepanjang pagi. Dia segera meminta pelayannya untuk memanggil Nyonya Yu. Dia mencemaskan Luo Ding Xiang, gadis belia yang baru saja menghadapi musibah dengan meninggalnya kedua orangtuanya. Sementara di Luo Manor, suasana masih seperti sediakala. Seperti tidak terjadi apapun. Sangat kontras dengan situasi di tengah masyarakat yang justru bergunjing mengenai pembatalan pertunangan Nona Muda Pertama dengan Pangeran Ketiga. Nyonya Luo bersikap biasa saja seakan tidak peduli. Seakan-akan yang menimpa keponakannya itu tidak ada hubungannya dengan Luo Manor. Sedangkan kedua putrinya pun bersikap sama. Hanya di halaman kediaman Nyonya Tua Chen yang sepertinya terpengaruh dengan insiden itu, selain Luo Ding Xiang pribadi. Halaman Nyonya Tua Chen yang biasanya sunyi beberapa hari ini cukup ramai dikunjungi beberapa tamu. Nyonya Luo menutup mata dengan semua hal yang terjadi. Dia sepertinya sengaja membiarkan orang-orang di luar manor untuk mencari tahu apa yang terjadi di balik tembok manor. Sedangkan Luo Ding Xiang sendiri memilih untuk tidak melakukan apapun. Selain menyadari posisinya yang tanpa perlindungan, musim dingin yang semakin menjadi menghalanginya untuk keluar manor. "Nona bagaimana untuk selanjutnya? Dengan pembatalan pertunangan ini, Nyonya Luo memiliki kesempatan untuk semena-mena dalam urusan perjodohan anda." Ibu Chin kembali dilanda kecemasan, bahkan lebih dari biasanya. "Aku tahu Ibu. Akupun sedikit merasa khawatir. Mungkin sekarang saatnya aku harus menemui Nyonya Yu. Bisakah Ibu membuatkan janji bertemu dengannya?" Luo Ding Xiang menatap salju yang berjatuhan dari jendela kamarnya. "Baiklah nona, saya akan meminta Ah Long untuk menyampaikan pesan anda." Ibu Chin segera keluar dari kamar dan menjalankan perintahnya. Ah Long adalah kusir kereta mereka sedari di Jiangnan. Sekilas dia hanyalah seorang kusir, tidak lebih dari itu. Namun bagi Luo Ding Xiang, pria itu lebih dari seorang kusir maupun kurir. Luo Ding Xiang masih terduduk di tepi jendela. Dia memandang salju yang turun dengan sendu. Dalam beberapa bulan ini banyak hal terjadi dalam hidupnya. Meninggalnya kedua orangtuanya disusul Selir Yu, perjalanan ke ibukota yang cukup jauh, perlakuan tidak menyenangkan dari bibi, nenek dan sepupunya, dan kini pembatalan pertunangannya. Seketika rasa lelah mendera jiwa dan raganya. Dia tidak khawatir dengan masa depannya. Namun semua hal yang terjadi saat ini akan berpengaruh pada Guo'er. Itu lebih menakutkan baginya. Tanpa sadar airmata menetes di pipinya. Setelah sekian lama baru hari ini dia menangis. Selama beberapa bulan ini dia menahan airmata dan beban hatinya karena rasa tanggungjawabnya pada manor dan adiknya. Namun hari ini, ditemani salju yang turun semakin deras, dia terisak-isak sedih. "Ding Xiang adalah bunga dandelion. Dia tidak indah namun ada di manapun. Tidak beraroma harum namun bisa bertahan hidup di manapun. Hari ini biarkan helai-helai mahkotanya yang kering luruh dan terbang tertiup angin," gumamnya lirih. Airmatanya seumpama helaian mahkota bunga dandelion yang mengering. Ringan dan mudah tertiup angin. Secepat itulah airmatanya akan mengering setelah hari ini tertumpah seluruhnya. "Ding Xiang, hari ini pertama dan terakhir kalinya kau menangis. Setelah hari ini tidak ada airmata lagi dalam hidupmu." Tekadnya dalam hati sambil mengusap airmata di pipinya. Ditatapnya salju yang turun dan ditadahkannya telapak tangannya keluar dari jendela untuk menampung salju yang perlahan-lahan menutupi halaman. Tanpa disadarinya sekelebat bayangan ungu sedari tadi memperhatikannya dari atas pohon persik yang tumbuh di samping jendela kamarnya. "Little Marquis, saatnya kita pergi." Tepukan di bahunya menyadarkan si jubah ungu. Dia mengangguk dan segera melesat menyusul pria berjubah biru yang menepuk bahunya dan melesat bersama meninggalkan Luo Manor.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (258)
Maleficent Yeti
syabas author...jalan cerita yg menarik dan tidak membosankan...
teruskan berkarya.
syabas author...jalan cerita yg menarik dan tidak membosankan... teruskan berkarya.
16/06/2022
0author..kenapa ceritanya tak pernah tamat
18/03
0good
16/02
0Lihat Semua