Bab 27

Pov Alia
Pintu ku buka perlahan. Mama sudah menyambut kedatangan ku di ruang tamu. Kedua tangan di silangkan di dada membuat nyaliku seketika menciut.
"Apa yang kamu lakukan pada Alvan? Kenapa kamu turunkan jabatannya menjadi OB? Kenapa kamu usir dia dari rumah?"
Ya Tuhan, belum juga selesai masalahku. Dan kini bertambah lagi satu masalah.
Melangkah mendekati wanita yang telah melahirkanku tiga puluh satu tahun yang lalu itu. Ku jatuhkan bobot tepat di sampingnya. Ku tarik nafas dalam untuk memasok oksigen ke dalam otak. Aku harus bisa menahan emosi dan berpikir jernih kalau tidak masalah ini akan melebar kemana-mana.
Mama adalah kelemahanku. Mas Alvan sangat licik. Tega dia memanfaatkan mama untuk ambisinya. Suamiku adalah menantu kebanggaan mama. Beliau sangat mempercayai ular jantan itu. Ya, bisa dibilang sifatnya sebelas dua belas denganku.
"Jelaskan apa yang terjadi dengan rumah tangga kalian? Kamu selingkuh?" Mama menatap nyalang ke arahku. Seakan aku ini tersangka pembunuhannya yang harus dilenyapkan.
"Siapa yang selingkuh, ma?"
"Kamu!" Mama mengarahkan jari telunjuk padaku,"Alvan bilang kamu selingkuh. Kamu mengusir Alvan karena dia memergoki kalian bercumbu di kamar."
Ku pijit kepala yang terasa berdenyut. Bisa-bisanya lelaki breng**k itu memutar balikkan fakta. Dia yang selingkuh dan mendua tapi aku yang jadi tersangka. Sial*n!
"Sabar, sabar Alia. Jangan mudah terpancing emosi!" batinku.
"Jelaskan Alia!"
"Apa yang Mas Alvan katakan pada Mama?"
"Alvan datang ke rumah dengan motor lamanya. Pakaian berantakan. Mama sempat tak mengenalinya. Saat kami berhadapan wajahnya mengiba. Dengan suara parau ia bercerita jika kamu selingkuh saat Alvan ke kantor. Alvan menegur kamu. Tapi kamu justru marah dan mengusir dia. Bahkan jabatan di kantor kamu lengser menjadi OB." Mama terdiam sesaat, mengatur emosi yang kian memuncak.
"Sadar kamu Al, dia itu suamimu. Orang yang harus kamu hormati. Ingat surga seorang istri terletak di bawah kaki suami," ucap mama dengan suara sedikit melunak.
Mama adalah seorang wanita yang patuh pada suami. Tak pernah sekali pun mama membentak papa saat marah. Dia adalah contoh istri solehah.
Suami memang harus dihormati. Tapi suami yang seperti apa dulu. Suami yang setia dan penyayang memang harus di hormati. Tapi kalau suaminya tukang selingkuh dan koruptor. Pantas kah di hormati? Tentu saja tidak!
"Dan mama percaya dengan ucapkan Mas Alvan?"
"Entahlah,yang pasti mama datang kemari untuk mencari kebenaran."
Ada rasa kecewa ketika mama lebih percaya ucapan Mas Alvan dibandingkan aku, anak kandungnya sendiri. Entah fitnah apa yang dikatakan lelaki ular itu. Semakin kesini bukan bertobat tapi justru semakin bikin ulah.
Mama masih menatapku tajam. Pertanyaan yang ku abaikan membuat wanita berkulit putih itu semakin marah. Terlihat jelas dadanya naik turun.
Ku hembuskan nafas kasar. Beban ini terasa berat di pundak. Sudah saatnya ku lepas batu yang menghimpit tubuh. Ku buka tas, tangan merogoh kertas dan foto yang ada di dalam. Ku lempar di atas meja. Kesal selalu di pojokkan.
Tangan yang mulai keriput itu mengambil kertas dan foto. Matanya membulat sempurang melihat bukti perselingkuhan suamiku. Ini lho ma,menantu yang mama banggakan hingga tak percaya pada anak sendiri.
"I-ini Alvan dengan siapa, Al? Kenapa mesra begini?"
Astaga naga. Mama kelewat polos atau bagaimana sih? Orang awam pun juga tahu kalau mereka ada hubungan hanya dengan melihat foto itu.
"Itu menantu kesayangan mama dan istri sirinya. Namanya Mega. Tentu mereka menikah tanpa sepengetahuanku." Mama masih membisu. Beberapa kali ia mengelus dadanya. Seakan tak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat.
Ku tunjuk kertas di bawah foto. "Itu bukti penggelapan uang perusahaan yang dilakukan Mas Alvan untuk memenuhi kebutuhan gundiknya."
Perlahan tubuh mama disandarkan di sofa. Bukti pengkhianatan Mas Alvan masih ia genggam.
"Ini bukan editan kan? Bukan rekayasa untuk menutupi perselingkuhan yang sudah kamu lakukan?"
Ya Tuhan, mama masih saja tidak percaya dengan ucapanku. Pelet apa sih yang diberikan Mas Alvan hingga mama begitu percaya.
"Mama lebih percaya Mas Alvan dibanding aku, anak mama sendiri." Ku angkat tubuh ini dari sofa. Melangkah meninggal mama yang masih menatapku lekat.
Balik badan, "Kalau tidak percaya tanyakan saja pada Bang Rizal. Akan ku kirim alamat gudik Mas Alvan ke nomor mama."
"Bukan begitu maksud mama Al. Semua bisa dibicarakan baik-baik. Mungkin dia khilaf karena sudah sangat mendambakan anak. Bukankah pernikahan selalu ada masalah," ucap mama dengan suara mulai melunak.
Semudah itu mama memaafkan Mas Alvan. Anak mama ini sedang dikhianati. Dan mama bilang Mas Alvan khilaf. Khilaf kok sampai punya anak.
"Bayangkan saja jika mama berada di posisi Alia. Apa yang akan mama lakukan?" Dengan menahan amarah ku tinggalkan mama.
"Al, Alia ... Maafkan mama!"
Tak ku hiraukan mama yang terus meminta maaf dan memanggil namaku. Lebih baik menenangkan diri agar tidak tersulut emosi.
Ku kunci kamar lalu membantingkan tubuh di atas ranjang. Ku tatap langit-langit.Rasa kesal dan marah masih mendominasi. Kalau bukan mama pasti sudah ku tampar.
"Dasar ular jantan sial*n! Beraninya memutar balikkan fakta," makiku.
***
Pov Rahmawati (Mama Alia)
"Al, Alia ... Maafkan mama!"
"Alia!"
Alia tak menghiraukan ucapanku. Dia masih berjalan ke lantai atas tanpa menenggok ke belakang. Melihat perlakuan Alia membuat hatiku seperti di sayat, sakit. Seumur hidup, baru kali ini Alia berkata kasar padaku.
Ku lihat beberapa foto yang ada di tangan. Ini memang foto Alvan. Dia terlihat bahagia dengan wanita di sampingnya. Hati istri mana yang tak sakit melihat pemandangan ini. Aku tahu Alia sangat terluka dengan pengkhianatan Alvan.
Ku baca foto kopi laporan keuangan perusahaan. Memang benar ada keganjilan dalam laporan ini. Penarikan uang dengan nominal besar setiap bulannya. Alvan, kenapa kamu setega ini pada kami?
Tak ingat kah saat ku angkat derajatmu. Dengan tangan terbuka ku terima kahadiranmu. Aku bahkan sudah mengaggapmu sebagai anakku sendiri. Namun justru luka yang kamu torehkan pada putriku. Kurang apa kami padamu?
Ku hembuskan nafas kasar. Bodohnya aku yang mudah percaya dengan ucapan Alvan tanpa mencari kebenaran. Perkataan Alvan memang sangat meyakinkan hingga dengan mudahnya aku termakan fitnah keji dari mulut lamis itu.
Sebenarnya aku memang marah dengan tindakan Alvan. Namun jika Alia dan Alvan sampai bercerai bagaimana? Ini yang sangat ku takutkan. Sebuah perceraian.
Sebagai seorang wanita, status janda adalah momok tersendiri. Janda selalu di cap sebagai wanita murahan dalam masyarakat. Sebagian janda yang bertindak negatif tapi berdampak bagi semua wanita yang berstatus sama.
Status janda tidaklah salah, hanya pandangan orang lain yang keliru. Aku pernah mengalami di posisi ini. Di pandang rendah orang lain karena berstatus janda. Padahal aku janda di tinggal mati. Lalu bagaimana nasib Alia jika menyandang status janda cerai.
"Rahma, aku tahu kamu merindukan kehangatan. Aku siap menjadi penghangat tubuh. Kapan pun kamu mau."
Kata-kata itu kembali terngiang di telinga. Memori kejadian beberapa tahun silam seperti diputar kembali. Penghinaan yang diberikan salah satu klien tepat setelah 100 hari kepergian suamiku.
Sakit, benci, marah dan kecewa bercampur menjadi satu. Kejadian itu menjadi kenangan pahit bagiku. Dan itu yang membuat aku takut Alia mengalami kejadian yang sama. Di hina karena berstatus janda.
***
Ting
Satu pesan masuk di aplikasi berwarna hijau. Sebuah foto Alvan dengan selingkuhannya. Foto yang menampakkan kebahagiaan. Nyeri melihat ini.
"Maafkan mama, Alia. Mama sudah menuduhmu yang tidak-tidak." Bulir bening mengalir dari sudut netra.
Duduk di sambil memberi makan ikan di kolam. Halaman belakang adalah tempat favoritku saat di rumah Alia. Aku mendapatkan ketenangan saat berada di sini.
"Mama ...." Suara lelaki yang sangat ku kenal. Lelaki yang ku besarkan dengan penuh kasih sayang.
Rizal berjalan ke arahku. Mencium punggung tanganku dengan takzim. Tanpa diminta Rizal duduk di sampingku. Menggenggam tangan ini dengan erat. Matanya menatap lekat padaku.
"Mama tak percaya dengan Alia?" Pertanyaan yang mampu menyentil hatiku.
"Bukan, bukan begitu Zal, mama hanya ...."
"Rizal tahu apa yang mama pikirkan. Mama takut kejadian yang menimpa mama akan menimpa Alia, kan?" Aku mengangguk membenarkan perkataan Rizal.
"Mama tenang saja. Alia wanita yang kuat. Dia pasti bisa mengatasi setiap masalah. Yang dia perlukan saat ini adalah dukungan kita."
Rizal benar, tak seharusnya aku memikirkan hal buruk jika Alia menjadi janda. Bukankah Alia jauh lebih bahagia hidup seorang diri dari pada memiliki suami seperti Alvan.
"Mama tenang, urusan perceraian Alia, sudah ku serahkan pada temanku yang berstatus pengacara. Alia berhak bahagia, ma," ucap Rizal mantap.
Rizal seakan bahagia dengan perceraian Alia dan Alvan. Sorot matanya memancarkan kebahagiaan yang luar biasa. Ini yang sebenarnya ku takutkan. Bukan karena status janda. Tapi karena Rizal.
Dari dulu aku merasa, jika perhatian dan kasih sayang Rizal kepada Alia bukan sekedar perhatian antara kakak dan adik. Namun lebih dari itu. Inilah alasan Rizal tak pernah membawa seorang wanita ke rumah. Karena Alia.
Haduh, Apakah Rizal menyukai Alia?
Jangan lupa tinggalkan jejak. Like dan komen. Mampir juga ke cerita emak yang lain ya.

Komentar Buku (92)

  • avatar
    MaufikhohPutri Elok

    Mantap

    21d

      0
  • avatar
    Bolu bera

    bagus

    28/04

      0
  • avatar
    Dicky ahmad Dicky ahmad46

    Mantap banget

    01/04

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru