Beranda/Paket Baju Bayi Dari Suamiku/
Bab 24
Ku tarik nafas dalam lalu menghembuskan secara perlahan. Menetralisir emosi yang hampir meledak karena kedatangan tamu tak di undang. Pagi-pagi duo ular sudah membuat masalah. Ya Tuhan, apa salahku hingga mendapatkan mertua seperti itu?
Ku bawa piring yang masih berisi makanan ke wastafel. Nafsu makanku hilang karena kedatangan ibu dan anak tak tahu malu itu.
"Masakan bibik tidak enak ya, Bu? Kok makanannya tidak di habiskan?"
Aku menjadi tak enak hati karena masakan bik Sum tak ku habiskan.
"Em, bukan begitu bik. Masakan bik Sum selalu enak. Tapi karena ada ular betina jadi tak nafsu makan."
Bik Sum mengernyitkan dahi, terlihat ia bingung dengan ucapanku. Aku sih bicara yang tidak-tidak pada orang tua. Jelas bik Sum tak mengerti.
"Ular betina siapa Bu?"
Benar kan, bik Sum bingung dengan perkataan ku. Tapi tak mungkin jika aku bilang ibu dan Saya-lah ular betina itu.
"Bukan apa-apa, bik. Tak usah di bahas lagi."
"Apa ibu dan non Sasya?" Aku hanya tersenyum melihat tingkah lugu asisten rumah tanggaku itu.
"Bibi juga tidak suka dengan keluarga Bapak, tak pernah ada sopan-sopannya. Tiap kemari selalu ada maunya. Tidak ibu, bapak, dan anak. Semua sama saja men ...." Bik Sum menutup mulut dengan kedua tangannya. Seperti salah bicara. Aku hanya tersenyum melihatnya.
Alia, kenapa kamu bodoh sekali! Dari dulu saja Bik Sum sudah menyadari kelakuan keluarga Mas Alvan yang seperti benalu. Dan kamu baru sadar sekarang?
Ya Tuhan, kemana saja aku ini?
"Maaf ya Bu, jika saya salah bicara," ucapnya sambil menunduk.
"Tidak apa-apa bik, toh kenyataannya memang begitu. Alia saja yang bucin hingga membuat mataku tertutup rapat."
Cinta buta,itu yang terjadi pada ku dulu, atas nama cinta melupakan logika. Dan akhirnya sengsara.
***
Aku duduk termenung di mulut kolam sambil memberi makan ikan koi yang sudah cukup besar. Pakan ikan yang ku tabur membuat hawan di dalam air bergerombol datang untuk melahapnya. Percikan air mengenai lenganku. Aku yang hanya memakai kaos lengan pendek dengan celana di bawah lutut membuat percikan air mengenai tangan tanpa kain penutup. Ya, jika di dalam rumah aku memang tak memakai hijab. Toh tak ada lelaki di sini. Hanya ada bik Sum dan aku.
Ku pandangi langit, cahaya matahari sudah condong ke barat. Kicau burung kenari di balik sangkar membuat suasana terasa nyaman. Mas Alvan memang penyuka hewan bersayap itu. Ada beberapa burung dengan jenis berbeda di halaman belakang.
Rumah ini memang luas, ada kolam renang dan kolam ikan di halaman belakang. Sedang halaman depan hanya di penuhi bunga beraneka ragam. Pak Supri adalah tukang kebun di rumah ini. Beliau akan datang dua hari sekali untuk membersihkan kandang burung dan mengurus tanaman. Kebetulan hari ini beliau tak datang.
Hari ini hari minggu, kantor tutup. Aku hanya menghabiskan waktu di rumah. Sengaja hari ini bik Sum ku minta menemani dirumah. Entah kenapa setelah kedatangan duo ular membuat perasaanku tak enak. Mas Alvan pun belum nampak batang hidungnya. Aku justru berharap dia enyah saja dari muka rumah ini.
"Astaga sertifikat rumah!"
Segera aku berlari menuju kamar di lantai atas. Lagi dan lagi aku merutuki kebodohanku yang lupa dengan surat penting rumah ini. Bisa saja Mas Alvan mengambil sertifikat dan mengadaikannya. Tak mungkin ia menjual rumah tanpa tanda tangan dariku. Karena rumah ini masih atas namaku.
Aku sudah berdiri di depan pintu kamar. Mengatur nafas yang tersengal akibat berlari dari halaman belakang sampai ke depan kamar. Kaki berasa nano-nano kala menopang tubuh gempalku dan berlari menaiki anak tangga.
Aku harus program diet dan olahraga teratur untuk mendapatkan postur tubuh ideal. Mengurangi porsi makan belum cukup menurunkan berat badanku. Ya, maklum saja baru dua hari aku mengurangi porsi makan. Itu saja sudah menyiksa.
Aku masuk ke kamar dengan perlahan karena kaki terasa berat untuk digerakkan. Nafas masih belum teratur tapi sudah lebih baik dari tadi.
Dengan hati berdebar ku buka lemari besar di hadapanku. Tangan mulai memencet password brankas yang ada di dalam lemari. Kata sandi brankas adalah tanggal pernikahan kami. Tak hanya aku yang tahu tapi Mas Alvan juga mengetahuinya. Ya, karena tak ada yang pernah ku tutup-tutupi dari suamiku. Tapi justru Mas Alvan yang pandai menutupi sesuatu padaku.
Aku bernafas lega saat melihat sertifikasi rumah dan surat penting lainnya masih ada di dalam brankas, termasuk kotak perhiasan berwarna merah.
Rasa penasaran membuatku membuka kota berwarna merah yang tadi ada di dalam brankas. Ku teliti semua perhiasan yang ada di dalamnya. Semua masih ada, dari gelang, kalung, liontin, anting dah cincin. Tapi kenapa cincin berlian kado ulang tahun dari Bang Rizal tak ada?
Ku tumpahkan isi kotak di atas ranjang. Aku harus mencari cincin itu. Aku tak mau kado ulang tahun ke 21 hilang. Berulang kali ku cari cincin kesayangan itu. Namun tetap saja benda itu tak ada di dalam kotak.
Merasa belum puas, ku keluarkan semua isi dalam brankas. Berharap benda itu terselip dalam surat-surat penting.
Setengah jam aku mencari di dalam lemari, laci di meja rias, bahkan di kolong tempat tidur tak luput dariku. Namun benda yang ku cari tetap tak ada. Kemana hilangnya cincin itu? Aku tak pernah lupa memasukkannya ke dalam kotak perhiasan.
Mas Alvan. Ya, apa jangan-jangan cincin itu diambil Mas Alvan dan diberikan kepada istri barunya? Kalau benar terjadi, akan ku beri pelajaran dia!
Barang-barang telah ku kembalikan ke tempat semula. Password brankas pun telah ku ganti. Mungkin barang-barang berharga seperti surat sertifikat dan perhiasan harus ku sembunyikan dulu. Tapi dimana? Bang Rizal, ya, akan ku titipkan barang ini ke apartemennya. Pasti jauh aman di sana dari pada di lemari ini.
Bisa saja saat aku tak di rumah. Mas Alvan membobol isi brankas dan tak ada yang curiga karena dia masih berstatus suamiku.
Ting ....
Satu pesan masuk di aplikasi berwarna hijau.
[Ada kabar baik, ke apartemen abang sekarang!]
Aku tersenyum membaca pesan darinya. Bang Rizal memang tahu aku tengah memikirkannya. Dan kabar baik apa yang ingin ia sampaikan padaku?
***
Setelah shalat magrib, segera ku lajukan kendaraan roda empat milik Mas Alvan menuju apartemen bang Rizal. Kotak perhiasan dan surat-surat penting sudah ada di tas. Akan ku amankan barang berharga ini di apartemen Bang Rizal.
Empat puluh menit, waktu yang ku butuhkan untuk sampai di apartemen Bang Rizal. Jalan yang ramai membuat laju kendaraanku tak terlalu cepat.
Aku berjalan menuju ke tempat Bang Rizal tanpa bertanya ke bagian resepsionis. Ya, karena aku sudah tahu nomor berapa apartemen Bang Rizal.
Pintu apartemen di buka dari dalam sebelum tangan memencet tombol bell. Entah dari mana Bang Rizal tahu jika aku sudah ada di depan pintu kamarnya.
Kami bejalan sejajar masuk. Sesekali tangannya usil mengacak rambutku yang sudah tertutup hijab. Kebiasaan sejak kami masih anak-anak hingga sekarang.
"Apa ini?" tanyanya saat ku letakkan perhiasan dan surat berharga di atas meja.
"Simpankan barang ini Bang! Ku rasa rumah sudah tak aman lagi. Lebih baik sementara semua barang ini ada di sini."
"Alvan berulah?"
Ah, tak mungkin ku beri tahu jika cincin berlian pemberiannya telah hilang. Dan aku curiga pada Mas Alvan. Aku tak mau Bang Rizal marah karena aku lalai dalam menyimpan cincin itu.
"Antisipasi saja Bang. Ada kemungkinan Mas Alvan melakukan itu kan?" Bang Rizal menganggukkan kepala.
Bang Rizal mengambil benda berharga miliku lalu segera masuk kamar. Ku rebahkan tubuh di atas sofa empuk. Menatap langit-langit yang berwarna putih. Ada kenyamanan saat aku berada di apartemen Bang Rizal ini. Aku merasa aman saat berada di sini.
"Lihatlah!" Bang Rizal meletakkan beberapa foto di atas meja. Foto apa aku pun tak tahu.
Aku membenarkan posisi duduk, merasa sudah nyaman segera ku ambil beberapa foto yang ada di atas meja. Mata membulat melihat foto itu.
Mas Alvan tengah duduk di teras sambil melatakkan tangan di pundak seorang wanita yang tengah menggendong seorang bayi. Wanita yang sama seperti wanita yang dulu bersama Sasya di restoran Jepang tempo hari.
Ada juga foto saat Mas Alvan mencium kening wanita. Wanita yang sama seperti di foto pertama.
Apakah dia istri kedua Mas Alvan?
Apakah itu anaknya?
Ya Tuhan ....
Dada terasa sesak melihat foto mersa Mas Alvan. Aku memang tahu dia berselingkuh. Namun melihat foto ini hatiku seperti di tusuk sembilu. Sakit, sakit sekali.
Aku memang membenci pengkhianatan Mas Alvan. Membenci kebohongan yang ia lakukan padaku. Namun aku tak bisa membohongi hatiku, jika rasanya sakit meski cintaku padanya sudah hilang di telan ombak pengkhianatan.
Menghapus cinta yang pernah bertahta memang tak semudah membalikkan telapak tangan. Akan ada rasa sakit saat mencabut bunga mawar dari tangkainya. Dan seperti itulah sebuah cinta.
Bulir bening dan hangat mengalir tanpa bisa ku bendung. Terasa nyeri dalam sanubari. Dalam hati aku berjanji akan membalas rasa sakit yang Mas Alvan berikan untukku.
"Abang sudah tahu alamat wanita itu. Rumah itu berada di perumahan elit. Rumah yang di beli dengan cara kredit dan saat ini belum lunas. Untuk siapa saja orang yang terlibat dalam penggelapan dana perusahaan masih abang selidiki."
"Apa yang harus Alia lakukan, Bang? Haruskah ku buat mereka pergi dari rumah yang diangsur dengan uang Alia?" Bang Rizal menggeleng.
"Abang punya cara untuk menghancurkan kebahagiaan mereka." Bang Rizal tersenyum menyeringai.
Jangan lupa tinggalkan jejak. Like dan komen.Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (92)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
Mantap
25d
0bagus
28/04
0Mantap banget
01/04
0Lihat Semua