Beranda/Paket Baju Bayi Dari Suamiku/
Ancaman Alvan
Pov Alvan
Aku berjalan sambil menahan emosi yang sudah di ubun-ubun. Sial*n kenapa seceroboh ini! Harusnya tak ku biarkan Alia masuk kantor sebelum laporan keuangan ku ubah. Kalau begini bisa mati aku! Kenapa juga aku tidur seperti orang mati, sampai aku tak mendengar alarm yang beryanyi nyaring.
Sekarang aku sudah tak bisa menginjakkan kaki di kantor ini. Lalu bagaimana semua rencanaku? Hancur sudah!
Ku acak rambut, frustasi. Pusing kepalaku memikirkan semua ini.
"Pagi, Pak," sapa karyawan yang berjalan melewatiku. Aku tetap diam tak menjawab, ku biarkan saja mereka berlalu dengan pandangan penuh selidik ke arahku.
"Penampilan Pak Alvan hancur banget ya?"
"Bu Alia ke kantor, apa ada masalah?"
"Pasti masalah besar. Tahu sendiri kan kelakuan suaminya bagaimana?"
"Mungkin sudah tahu kedoknya?"
Terdengar cuitan para karyawati bagian marketing. Ku toleh tiga wanita bertubuh gempal itu. Seketika mulut mereka membisu. Nah kan baru sekali di lirik sudah mati kutu. Awas saja jika aku kembali kemari. Akan ku pastikan mereka menangis karena ku tendang dari sini. Tunggu saja nanti!
Ku langkahkan kaki tanpa melihat ke depan. Mata ini masih awas melirik kumpulan wanita toxic. Sudah tubuh gempal, pikiran pun ikut gempal!
Waduh kenapa lantai yang ku pijak seakan bergoyang-goyang hingga membuatu hilang kendali. Rasanya tubuh ini juga ingin bergoyang. Kenapa ini?
BRUUG
"Aww... Sakit!" Aku meringis kesakitan saat tubuh jatuh dan pantat ini beradu dengan lantai.
"Hahaha ...." Semua orang yang melihatku tertawa terbahak-bahak. Termasuk tiga wanita gempal dan office boy yang menegepel lantai.
Sial! Bahkan tak ada satu orang pun yang membantuku berdiri. Hancur sudah harga diriku. Semua gara-gara si gembrot Alia. Awas akan ku balas semua perlakuannya padaku. Istri tak tahu diuntung.
"Dirman!" teriakku lantang. Ku pengani pentat yang terasa sakit akibat terbentur dengan celana yang sudah basah.
"Maaf, Pak," ucapnya sambil cengar-cengir.
"Lain kali tanda lantai basah dipasang dong!" makiku sambil berusaha berdiri.
"Udah dipasang tau, Pak! Makannya kalau jalan lihat ke depan bukan lihat cewek!"
"Kamu! Akan ku pecat nanti!" Dirman hanya mencebik lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
Keterlaluan, apa dia tidak tahu jika aku pimpinan di sini!
Argghh... Sial!
Dengan rasa malu luar biasa aku berjalan keluar kantor. Semua orang yang berpapasan denganku selalu melihat bagian pantat. Aku sudah sama persis dengan anak kecil yang ngompol di celana.
Kemana Alvan yang penuh kharisma dan ketampanan. Hari ini lengkap sudah penderitaanku.
Ku lajukan kendaraan roda empat tanpa tujuan. Pikiran kalut membuatku bingung harus kemana. Mau pulang ke rumah malas. Malas jika nanti bertemu si gembrot Alia. Pasti akan kena omelan lagi. Atau aku ke rumah Mega saja? Sudah kangen dengan Aira.
Kriiinngg ....
Panggilan masuk dari Mega, istri kedua ku. Senyum merekah mengingat wajah cantik Mega yang selalu membuatku rindu. Jauh dengan Alia si gembrot kucel itu.
"Hallo sayang,"
"Mas, kesini dong. Aku kangen," ucapnya dengan suara manja. Dan ini yang selalu membuatku tergila-gila. Dia seperti tahu jika aku akan ke sana. Mungkin ini yang namanya kemistri.
Mega memang tak hanya pandai di atas ranjang tapi sikapnya yang manja membuatku selalu jatuh cinta padanya. Sebagai seorang lelaki mempunyai istri yang selalu manja adalah kebahagiaan tersendiri. Aku merasa selalu dibutuhkan sebagai suami. Berbeda jika memiliki istri yang mandiri. Dia selalu melakukannya seorang diri. Ya, seperti Alia.
"Tunggu sebentar, Mas akan ke sana!" Sambungan telepon segera ku matikan. Segera ku lajukan kendaraan roda empatku menuju rumah minimalis dengan dua lantai yang ku hadiahkan untuknya. Hadiah pernikahan kami lebih tepatnya. Walau belum lunas, masih kurang setengahnya.
Pernikahanku dan Mega memang baru sah secara agama. Namun keluargaku lebih menyukai Mega. Terlebih dia bisa memberiku keturunan. Aira nama putri kecil kami. Aku selalu merindukannya tapi keadaan yang memaksa kami berpisah.
Aku berjalan menuju rumah. Suara canda dan tawa terdengar dari balik pintu. Dengan siapa istri cantikku saat ini? Tak sabar ku buka pintu rumah yang tidak dikunci.
"Papa ...." Mega merebut Aira dalam gendongan ibu lalu berjalan ke arahku. Senyum mengembang tergambar jelas di wajahnya.
"Aira sayang." Ku ciumi buah hatiku. Masalah seakan hilang saat melihat putri mungil dalam gendongan istriku. Aira adalah semangatku. Semangat untuk mengambil uang dari perusahaan Alia.
"Mamanya gak dicium nih?" ucap Mega merajuk. Bibirnya yang maju membuatku semakin gemas. Kalau tak ada keluargaku. Sudah ku makan habis dia.
Segera ku cium pipi istriku. Bau wangi masuk ke dalam indra penciuman. Mega memang selalu menawan. Harum tubuhnya bagai wangi terapi yang menyegarkan. Sejenak aku lupa dengan masalah besar yang ada di depan mata.
"Nih Mas, Aira digendong. Kangen papanya!" Mega menyerahkan bayi yang belum ada dua bulan ke dalam gendonganku. Aku sedikit kikuk menerimanya. Maklum aku belum terbiasa menggendong bayi.
"Kunci mobil dan dompet mana, Mas?" Mega menengadahkan tangannya.
"Mau buat apa?"
Perasaanku mendadak tak enak. Pasti dia akan merampok isi dompetku. Bisa gawat jika penyakit shoppingnya kambuh. Kalau tak sedang ada masalah dengan senang hati akan ku berikan. Tapi saat ini keadaan belum mendukung untuk menuruti semua keinginannya.
"Sini, Mas!" Mega mendesak. Dan aku selalu tak berani menolak permintaannya. Mesti nantinya aku akan menderita.
"Ada di saku belakang." Tangan Mega dengan gesit merogoh saku celanaku dan mengambil benda di dalamnya.
Benar dugaanku. Tangan mulus Mega mengambil kartu debit dan kartu kredit yang ada di dalamnya. Setelah barang yang ia cari berpindah tangan. Dompet hitamku dimasukkan kembali ke dalam saku celana.
"Ayo Sya!" Mega melambaikan tangan ke arah adikku yang duduk sambil memainkan ponselnya.
Aduh, gawat!
"Mau kemana sih yang?"
"Mau shopping dong, Mas. Aku bisa stres di rumah terus dengan Aira. O, ya, kamu jagain Aira ya. Kalau ada apa-apa bisa panggil Mbak Ria di belakang."
Ria adalah babysitter Aira. Mega mana mau mangasuh anak seorang diri. Menyusui anakku saja tidak. Katanya takut tubuhnya rusak. Entah kenapa pikirannya bisa seperti itu.
"Ta-tapi ada masalah serius ini."
"Nanti saja lah Mas, aku pusing di rumah terus."
Mega dan Sasya segera berlalu dari hadapanku. Adik dan istri keduaku memang sebelas duabelas sangat lihai dalam menghambur-hamburkan uang. Mereka pikir cari uang itu gampang. Mereka tidak tahu jika ada masalah besar yang sebentar lagi meledak.
Suara mobil semakin menjauh dari halaman rumahku. Kepala tambah pusing membayangkan jika uangku akan terkuras habis.
"Kenapa kamu kusut seperti itu?Pakaian kamu juga berantakan." Ibu menatapku dari ujung kepala hingga ujung kaki. Wanita yang duduk di sofa itu terheran-heran melihat penampilanku yang amburadul tak berbentuk.
Ku serahkan bayi mungil kepada neneknya. Menghembuskan nafas kasar lalu memijit kepala yang terasa berdenyut. Disaat seperti ini harusnya Mega memijitku, bukan justru kelayapan tak jelas.
"Ada apa Van? Cerita sama ibu!"
"Alia marah besar bu, Alvan sudah tidak diizinkan masuk kantor. Alia sudah tahu aku sering mengambil uang perusahaan dalam jumlah besar. Bisa gawat jika aku tak diizinkan mengelola perusahaan. Mana bisa aku memberi uang kepada Mega."
"Apa!" ucap Ibu dan bapak serentak. Bapak yang sedari tadi asyik merokok kini nampak terkejut.
"Aku lagi pusing tapi Mega dan Sasya malah menghamburkan uang."
"Kenapa bisa kecolongan seperti ini sih Van? Apa kamu tidak memanipulasi data?"
Ku sesali kecerobohanku. Harusnya dari awal laporan ku ubah. Ku naikkan harga pembelian bahan dasar dua kali lipat. Pasti Alia tak curiga. Selama ini aku hanya korupsi sedikit. Paling lima sampai sepuluh juta perbulan. Itu semua dari hasil penjualan. Harga di laporan ku turunkan padahal kenyataan harga masih sama seperti biasa. Ingin ku naikkan harga tapi khawatir jika tak laku.
"Bagaimana Van?" Ibu terlihat cemas. Begitu pula bapak.
"Alvan gak tahu, bu. Pusing."
"Kamu saja gak tahu, apalagi bapak yang tidak pernah sekolah. Mana bapak ngerti begituan." Bapak mematikan rokok. Menatapku dengan wajah serius
Oweek ... Oweekk ....
Suara tangis Aira, membuatku semakin pusing. Segara ku panggil Mbak Ria. Tak berapa lama pengasuh Aira datang lalu menggendong tubuh mungil bayiku. Tangan kanannya memberikan susu formula yang sudah dimasukkan ke dalam dot.
Oweek ... Oweek ....
Aira masih tetap menangis. Susu yang ada di dalam botol belum berkurang sedikit pun. Aira tak mau minum. Bayi kecil itu kasih tetap menangis. Bahkan suara tangisnya semakin kencang.
Mbak Ria sudah memeriksa pokoknya. Pokoknya masih kering tapi kenapa putriku masih menangis. Di saat seperti ini Mega justru pergi entah kemana. Memang keterlaluan dia.
Ibu dan bapak bergantian menggendong Aira tapi tetap saja bayi itu terus menangis.
"Aduh Pak, Aira tidak mau diam. Coba bapak yang gendong siapa tahu diam." Ria segera menyerahkan bayi mungil itu padaku. Ku gendong sambil menyanyikan sebuah lagu anak-anak. Tangis Aira perlahan menurun hingga akhirnya ia terlelap dalam gendonganku.
Setengah jam menggendong Aira pundakku rasanya mau putus. Akhirnya ku tidurkan perlahan di dalam box bayi.Belum sempat ku letakkan bayi itu menagis lagi. Ya Tuhan, kepalaku rasanya mau pecah.
"Bagaimana bu?" tanyaku bingung.
"Kamu telepon Mega, suruh cepat pulang!" titah bapak.
Segera ku ambil benda pipih yang ada di atas meja. Memencet dua belas digit nomor Mega.
"Apa sih mas? Ganggu orang senang saja!" bentaknya. Dasar istri durhaka.
"Cepat pulang, Aira rewel!"
"Ada Mbak Ria kan Mas? Gitu saja repot!"
Astaga, benar-benar keterlaluan si Mega. Belanja saja yang ada di kepalanya. Anak rewel tidak diperdulikan!
"Pulang atau tak ada jatah bulanan!"Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (92)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
Mantap
18d
0bagus
28/04
0Mantap banget
01/04
0Lihat Semua