Beranda/Mantu Kesayangan/
Bab 63 Bertemu dengan Mutia Saat Hamil
Part 63
Aku jadi merasa tak enak karena melihat respon mereka begitu. Bang Rendra ikut menoleh padaku.
"Malik masih sakit, Ning, dan sekarang kembali dirawat di rumah sakit. Sudah satu bulan dia koma. Karena kecelakaan membuatnya begitu ...," terang Bu Nur.
"Malik kecelakaan?"
Bu Nur mengangguk. "Kapan-kapan kuajak menjenguknya ya," tambah beliau dengan seulas senyum.
Pertemuan bukan hanya makan malam saja, setelahnya kami kembali berbincang bersama. Bang Rendra terlihat langsung akrab dengan Pak Hambali. Mereka berdua ngobrol soal bisnis, sementara aku diajak keliling rumah oleh Bu Nur.
Beliau menunjukkan beberapa koleksi lukisan yang amat disukai sejak dulu. Aku tak terlalu paham dengan nilainya, sepertinya sangat mahal.
"Ini foto Malik saat bayi, Bu?" tanyaku ketika melihat foto kecil di atas meja, kelihatannya sudah sangat lama. Ada Pak Hambali muda menggendong seorang bayi.
"Bukan, itu kakaknya Malik ...."
"Oh, kok di foto waktu kita bareng enggak ada Bu? Harusnya sudah besar ya? Atau kala itu sudah sekolah?"
Bu Malik kembali terdiam, seakan-akan sedang berpikir. "Saya tak yakin, karena boleh dibilang dia anak tiri saya. Sebelum menikah dengan Pak Hambali, bahkan anak itu belum pernah saya temui. Suami saya bilang dia hilang."
Aku hanya bisa manggut-manggut, sebenarnya begitu penasaran tetapi mau dijelaskan seperti apa pun aku tak akan paham. Malik seperti apa saja aku benar-benar tak ingat.
"Nah, ini foto Malik waktu remaja," ucap Bu Nur menunjukkan foto lain.
Aku kembali mengamatinya, seorang lelaki usia tanggung dengan kacamata dan senyum khas yang membuatku benar-benar kaget. Dia sangat mirip dengan Dokter Zen. Aku yakin. Jika foto saat kecil sedikit ragu tetapi kali ini tampak semakin jelas.
"Bu, apa benar namanya Malik? Sepertinya aku mengenal anak ini, tetapi tak yakin jika namanya Malik. Apa dia seorang dokter?" tanyaku ragu.
Mata Bu Nur membulat dengan senyum terukir diwajahnya. "Jadi kamu ingat--"
"Bu!" panggil Pak Hambali dari arah ruang tamu sebelum Bu Nur menyelesaikan ucapannya.
"Tunggu, Bu ...." Aku ingin memastikannya lagi, tetapi Bu Nur buru-buru berlalu.
Sepetinya tadi beliau tidak menyanggah pertanyaaanku. Apa benar Malik itu dokter? Kalau iya bisa jadi selain Malik ada nama panjangnya kan? Pokoknya aku yakin dia Dokter Zen!
Sebelum beranjak kusempatkan mengambil gambar dengan ponsel, setelahnya ikut kembali ke ruang tamu.
Bang Rendra dan Pak Hambali tertawa begitu kompak entah hal lucu apa yang sedang dibicarakan, sementara Bu Nur dari belakang membawa dua cangkir kopi.
"Nah, ayo dicoba Ren ... kopi ini nikmat sekali," ucap Pak Hambali.
Dari cangkir terlihat asap masih mengepul dan aroma kopi begitu menyengat. Bang Rendra meniupnya sekilas lalu menyesapnya perlahan.
"Benar, Pak, ini enak sekali. Wah ... sepertinya kalau ada di kafe akan jadi kopi favorit." Bang Rendra menolah padaku, seakan-akan ingin memberi tahu kalau itu benar-benar nikmat dan dia punya rencana untuk diadakan dia kafe.
Aku dan Bu Nur ikut menyimak pembicaraan dua lelaki yang begitu asyik itu.
"Eh, kalau dilihat-lihat selain kalian punya selera yang sama, senyum kalian juga mirip, loh. Klop banget!" celetuk Bu Nur sembari terkekeh.
Kalau dilihat-lihat memang benar, garis senyum mereka mirip, selain itu ... "Hidung mereka juga sama mancungnya, Bu," candaku ikut menambahi.
Pak Hambali tertawa keras. "Itu tanda kalau kita memang cocok!" ujar Pak Hambali.
Malam ini terasa begitu menyenangkan karena selain bisa bersilaturahmi kami juga mendapat orang tua baru. Pak Hambali dan Bu Nur menjadi sosok orang tua baru yang bisa memberi banyak pengalaman pada kami.
***
Malam semakin larut, pukul sepuluh kami memutuskan untuk pulang. Pak Hambali dan Bu Nur mengantar kami sampai teras rumah dan meminta agar lain kali bisa main lagi ke sini.
Bang Rendra pun tampak semriah usai bertemu dengan mereka.
"Kamu kelihatan seneng banget, Bang."
Bang Rendra tersenyum dan mengangguk. "Pak Hambali sosok lelaki yang baik, Ning. Aku suka mengobrol dengan beliau. Ada banyak kesukaan kami yang sama."
Aku ikut senang mendengarnya, hanya satu yang masih mengganjal yaitu tentang Malik dan kemiripannya dengan Dokter Zen. Namun, aku tak ingin menceritakan ini sekarang. Aku tak ingin membuat Bang Rendra penasaran juga atau justru cemas.
***
Suara kicauan burung di samping rumah menjadi musik alam yang menemaniku memasak. Pagi yang cerah, sinar mentari mulai terlihat dari persembunyian. Sengaja aku memasak lebih awal karena nanti ada jadwal di komunitas ibu hamil. Aku akan membawa bekal karena ingin berangkat pagi.
Bang Rendra sudah bangun, dia baru saja mau mandi.
"Bang, aku berangkat dulu ya ...."
"Mau kuantar?"
"Enggak, aku mau jalan kaki sekalian olahraga seperti saran dokter," ucapku yakin. Lagian jarak ke saja tak terlalu jauh, meski lumayan jika harus jalan kaki.
Kupakai pakaian olahraga yang nyaman untuk ibu hamil dan membawa ransel kecil tempat minum dan sarapan tadi. Rencananya sebelum ke komunitas aku ingin istirahat di taman sembari makan di sana, kayaknya seru walau sendirian.
Sejuk sekali, apalagi lewat jalan gang yang tak banyak kendaraan lewat sini. Dedaunan terlihat masih basah karena embun yang mengendap.
"Pagi, Bu!" Kusapa beberapa orang yang kutemui.
"Eh, Mbak Ningrum, olahraga? Duh, dedek utunnya ...." Ibu Anisa memotong langkahku, sempat-sempatnya dia mengusap perutku yang membuncit. Katanya biar ketularan ingin mempunyai anak lagi, candanya.
Rumah Bu Anisa dekat dengan taman jadi aku sering melihatnya dan membuat kami akrab.
Di bawa pohon palm ada kursi kayu, aku berhenti untuk beristirahat dan minum, tak lupa juga membuka kotak bekal yang kusiapkan tadi. Nasi goreng yang masih hangat.
"Hem, bagi, dong!" Suara tak asing itu datang dari sebelah kanan.
Hilya berjalan mendekat lalu duduk tepat di sebelahku. Matanya langsung tertuju pada bakal yang kubawa.
"Dikit ajah!" ketusku sembari menahan tawa.
"Dih, pelit!" Dia bilang gitu sambil menyendok nasi goreng ke mulutnya. Enggak cuma satu dua kali tapi hampir habis setengahnya.
"Eh, doyan apa laper?"
"Dua-duanya! Soalnya belum sarapan juga, niatnya mau beli bubur ayam eh tutup!"
Ketika kami sedang asyik-asyiknya, datanglah ibu hamil lain menghampiri kami.
"Ningrum?"
Aku kaget ketika mendengar suara yang tak asing itu, ternyata benar ada Mutia di komunitas ini. Dia berdiri bersama ibu-ibu yang lain lalu menatapku kaget juga. Tak tampak berubah dia masih terlihat cantik dengan badan yang ideal, hanya perut yang sedikit terlihat membuncit, masih kecil mungkin kisaran empat atau lima bulan.
"M--mutia?" Entahlah aku harus bagaimana melihatnya begitu antara malu dan insecure.
Bersambung ....Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (58)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
wau sangat menarik untuk dibaca mrnemani kala istirahat
27/05/2022
0Semoga ceritanya asyk seperti judulnya ya, kubaca dlu ya
09/06
0menarik 😍
03/03
0Lihat Semua