Beranda/Mantu Kesayangan/
Bab 55 Ketukan Misterus
Part 55
Aku mengangguk ragu, jadi tak yakin kalau ide ini akan disetujui.
"Iya, itu sih hanya saran saja agar pembeli kita bertambah. Kulihat banyak pekerja di sekeliling kafe ini yang kalau jam istirahat itu cari makan, sementara di kafe kita kan enggak terlalu banyak menu."
"Kalau saya setuju, soalnya bisa sekalian menyalurkan hobi untuk bereksperimen dengan banyak menu," sela Pak Herman.
Bang Rendra manggut-manggut lagi. "Oke, akan kupertimbangkan untuk merubah tempat ini jadi resto saja dan ada tempat khusus untuk ngopi agar ciri khas awal tidak berbuah karena siapa tahu ada pelanggan tetap yang tak rela jika menu lama dihilangkan. Tetapi untuk saran renovasi kamar Rei kita butuh persetujuan Mamah."
Kali ini giliran aku yang manggut-manggut. "Ya udah, silahkan berkerja kembali, Pak. Tapi aku minta tolong, untuk siapkan cobek dan bumbu rujak ke sini, ya?" titah Bang Rendra pada Pak Herman.
Pak Herman menaikkan satu alisnya. "Untuk?"
"Kita mau bikin rujak, Pak, siapa tahu bisa jadi menu tambahan nanti," celetukku dengan memberi kode kedipan mata pada Bang Rendra, dia hanya tersenyum geli.
"Oke, baiklah," balas Pak Herman lalu menyuruh asistennya membawakan pesanan Bang Rendra tadi.
Kubantu Bang Rendra memotong buahnya, sementara dia mengulek bumbu. Duh, baru mencium baunya saja udah ngiler, padahal biasanya kalau ada bau menyengat langsung mual.
"Banyakin mangganya ya, Bang? Kayaknya enak yang asem-asem!"
"Boleh, mau pedes enggak?"
"Yang sedang-sedang ajah, Bang," jawabku lalu terkekeh-kekeh.
Kulihat Bang Rendra memberi sedikit gorengan kacang juga membuat bumbunya semakin gurih dan kerasa enak.
"Semangat nguleknya, Bang!" seruk saat buah mulai kumasukan ke cobek lumayan besar, sedikit demi sedikit. Bang Rendra tertawa. Di dalam koki dan asistennya yang sedang menganggur karena tak ada pesanan ikut nimbrung keluar.
"Wah, seger itu, Mas!" ucap Pak Herman memberi jempol.
"Ayo cobain!" ajak Bang Rendra pada Pak Herman dan yang lainnya, sementara aku sudah mengambil dua piring lebih dulu.
Kuajak Bang Rendra untuk duduk lagi menikmati rujak yang dia bikin. "Gimana rasanya?"
"Enaaak! Pedesnya pas!" pujiku masih dengan mengunyah.
"Jangan banyak-banyak nanti sakit perut!"
Aku hanya mengangguk dan melanjutkan lagi sampai rujak di piring habis.
***
Sorenya kami pulang sebentar ke rumah untuk menyiapkan pakaian, aku ingin menginap di rumah almarhum Bapak karena Bang Rendra bilang sudah ada yang mengurus dan membersihkan setiap hari, memang tidak tinggal di sana tetapi Bang Rendra memberinya tugas untuk menjaga dan menyalakan lampu setiap petang.
"Kamu yakin mau menginap?" tanya Bang Rendra lagi untuk meyakinkanku.
Aku mengangguk mantap, rasanya rindu juga, mungkin dengan berada di sana ada lagi ingatan yang bisa kutemukan.
Hampir magrib kami baru sampai dan langsung disambut oleh Mang Jupri dan istrinya.
"Alhamdulilah jadi dateng, Mas? Mari masuk, tadi ketika sampean ngabarin mau menginap ke sini saya sudah suruh istri saya untuk memasak dan beresin kamar," ucap beliau dengan senyum ramah.
Aku berjalan dengan memegangi lengan Bang Rendra untuk memapahnya karen jalannya masih sedikit pincang.
"Silahkan beristirahat dulu, nanti kalau mau makan malam akan saya siapkan."
"Terima kasih, Pak!" balas Bang Rendra lalu memilih duduk di sofa, sementara aku membawa tas ke kamar.
Pak Jupri mendampingiku sampai depan pintu. "Makasih, ya, Pak, udah bantu bersihin rumah ini."
"Ah bukan masalah, Mbak. Saya justru senang karena pekerjaan ini. Oiya rumah saya yang ada di ujung sana Mbak di jalan masuk gang tadi," tuduhnya.
"Oh iya, Pak, maaf apa anda baru di kampung sini atau sudah lama? Aku agak lupa," ucapku ragu karena tak mampu mengingat kalau pernah bertetangga dengan beliau.
"Saya baru, Mbak. Dan sebelumnya tak sempat tahu tentang almarhum bapaknya Mbak yang tinggal di sini."
"Oh ...." Aku mengangguk paham dan memutuskan untuk masuk ke kamar, sementara Pak Jupri berlalu.
Kamar ini bersih, sayangnya masih kosong seperti saat lalu. Aku duduk diam memandangi setiap sudut yang masih samar ada kenangan apa di dalamnya, kenapa ingatanku tak mampu menjangkau kenangan itu.
Bapak, Ibu, bantu aku mengingatnya ....
***
Suara jangkrik dan hewan malam menemani obrolanku dan Bang Rendra di beranda rumah. Tidak ada suara kendaraan karena jalan gang begitu sepi, rumah Bapak paling ujung dan tidak ada tetangga yang dekat. Tetapi pemandangan di sini cukup indah, apalagi di samping rumah yang langsung berbatasan dengan persawahan. Aku bisa melihat bulan dan bintang di langit tanpa terhalang pepohonan.
"Indah ya?" lirihku.
Bang Rendra tersenyum lalu menyesap kopi di tangannya. "Iya, sayangnya kalau lama-lama bisa habis dikerubungin nyamuk!"
"Eh iya, banyak nyamuk ya, Bang. Aku ambil obat nyamuk dulu ya?"
Bergegas aku mengambil obat nyamuk oles yang memang kubawa di dalam tas, lalu kembali menemui Bang Rendra.
Saat ingin keluar, tak sengaja kulihat gambar coretan di pintu. Sejenak aku berhenti dan memandangnya lebih jeli. Rasanya ada sesuatu yang begitu dekat saat aku melihatnya.
"Bu, lihat, Bu! Ningrum bisa gambar!"
"Oiya? Coba Ibu lihat!" Selintas bayangan mulai tergambar dibenak. Gambar rumah dan ikan yang sedikit tak jelas itu menyimpan kenangan yang mulai kuingat.
"Ning, kok, lama?" teriak Bang Rendra dari luar.
"Iya, Bang, sebentar!"
Bang Rendra begitu tak sabaran, pasti dia udah bentol-bentol diciumi nyamuk.
"Bantu oles!" titahnya dengan wajah manja. Tak bisa kutolak, aku pun mengusap tangan dan wajahnya dengan lotion harum bunga lavender.
"Bisa sekalian pijat?"
"Yee, dikasih hati minta jantung!" Kucubit pipinya yang kebetulan paling dekat dengan jemariku sekarang.
Bang Rendra mengaduh, tetapi tak kuhiraukan tetap memberinya cubitan juga gelitikan.
Malam semakin larut, tak terasa karena sedari tadi kami bercanda gurau bahkan sampai lupa dengan makan malam yang sudah disiapkan istri Mang Jupri.
***
Pukul sembilan, usia puas bersantai di depan barulah kami masuk. Kupanaskan kembali lauk yang sudah mendingin karena sejak sore tadi sudah siap. Bang Rendra menunggu dengan anteng sembari bermain ponsel, katanya sedang mencari inspirasi untuk usaha resto nanti dengan menonton youtub.
"Serius amat!" godaku saat melihatnya seakan-akan tak berkedip sedari tadi.
Lelaki di depanku hanya tersenyum.
Kuletakan lauk dan ayam goreng di meja lalu mengambilkan nasi untuk Bang Rendra.
"Ayo makan dulu!"
Baru saja aku terduduk dan menyendokan beberapa makanan ke mulut terdengar suara pintu diketuk lumayan keras.
"Apa mungkin Mang Jupri?"
Awalnya kami ragu untuk membukanya karena hanya suara ketukan pintu tanpa ada salam atau memanggil, tetapi rasa penasaran membuat kami yakin untuk bergegas ke depan.
Tok! Tok! Tok!
Suaranya semakin kencang, aku dan Bang Rendra saling pandang.
Bersambung ...Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (58)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
wau sangat menarik untuk dibaca mrnemani kala istirahat
27/05/2022
0Semoga ceritanya asyk seperti judulnya ya, kubaca dlu ya
09/06
0menarik 😍
03/03
0Lihat Semua