Beranda/Mantu Kesayangan/
Bab 54 Merubah Konsep Resto
Part 54
"Ah, bukan siapa-siapa, Bang!" Aku langsung berdiri mendekat ke Bang Rendra. "Nanti akan kuceritakan," tambahku dengan suara pelan.
Bang Rendra mengerutkan keningnya, tetapi tak banyak bertanya lagi. Mbak Anya tersenyum tipis lalu beranjak ke kamarnya.
"Acara sudah selesai, mau pulang?"
"Pulangnya nanti saja, Ren. Mamah juga masih kangen!" Mamah datang dari ruang depan dan langsung memegangi lengan Bang Rendra.
"Ya udah, Bang, pulang nanti malam saja, asal jangan nginep dulu, soalnya enggak bawa baju ganti.
Bang Rendra mengangguk setuju. Mereka kembali duduk bersama, sepertinya Mamah begitu antusias bertanya tentang perkembangan kesehatan Bang Rendra. Sayangnya, ada yang kurang karena tak ada selingan candaan dari Mbak Anya. Azriel juga sedang tertidur, jadi semakin sepi saja setelah orang-orang di acara pulang.
***
Malam, sebelum kami tidur Bang Rendra kembali bertanya tentang siang tadi yang dibicarakan Mbak Anya. Tentu saja aku tak bisa berbohong dan langsung menceritakan kecurigaan Mbak Anya dengan Mas Danu. Wajah Bang Rendra berubah memerah dan tegang.
"Tak akan kumaafkan jika itu benar. Siapa pun itu jika berani menyakiti orang-orang didekatku takan kubiarkan mereka tenang ...," ucap Bang Rendra dengan mata berkilat-kilat. Sepertinya dia ikut emosi.
Kuusap lengan Bang Rendra agar dia sedikit tenang. "Ini baru dugaan, semoga saja tidak benar, ya."
Aku yang berbaring di sebelahnya menggeser posisi agar lebih dekat lalu menyenderkan kepala ke pundak Bang Rendra, sementara dia bersender ke kepala ranjang. Tangannya kugenggam lalu muncul ide dengan pertanyaan gila.
"Bang?"
"Hem?"
"Kalau kamu bagaimana? Mungkin kah nanti kalau bosan denganku kamu akan mencari wanita lain?"
Bang Rendra langsung menoleh dan menatapku intens. "Ngomong apa sih, Ning? Kok, jadi ikut-ikutan?"
"Ya jawaaab ajah, Bang! Aku cuma pengen denger jawaban kamu ajah, kok!" Aku cemberut.
"Dasar, kekanakan!" umpatnya sembari mencubit pipiku.
"Aw! Sakit tahuuu!"
"Abis, pertanyaannya ngeselin!"
"Ya kan bisa ajah, soalnya kebanyakan co--" Belum selesai aku bicara Bang Rendra justru menciumku.
Pelan-pelan kurasakan bibirnya yang begitu lembut, melumat, dan bermain-main, menahanku agar tak bisa lagi mengucapkan apa pun.
Bang Rendra berhenti, dia mengusap bibirku yang basah karena ulahnya. "Jangan berpikir yang tidak-tidak, aku tak bisa janji sampai kapan bisa setia, tetapi jika suatu saat aku berpaling ... aku memberimu hak untuk bunuh saja aku ...."
"Loh, kok dibunuh?" Aku kaget dengan jawaban Bang Rendra yang terkesan tak masuk akal.
"Karena aku yakin tak akan melakukan itu," balasnya dengan seulas senyum lalu memelukku.
"Sebelum Mamah memungutku, aku hanya seorang anak malang korban keegoisan orang tua. Mereka berpisah lalu salah satunya membuangku ...." Lelaki ini tak lagi meneruskan ucapannya dia semakin erat memeluk seakan-akan sedang menahan tangis.
Suasana hening, aku pun memilih diam dengan membalas pelukannya. Aku tahu, mungkin masa lalunya begitu berat sampai-sampai untuk menceritakannya saja Bang Rendra tertahan-tahan.
"Aku tidak tahu, sekarang mereka masih hidup atau tidak, kenapa tak pernah mencariku sama sekali."
"Mungkin saja mereka mencari, tetapi belum bisa bertemu, Bang. Kalau pun tidak, kuharap kamu tak terlalu memikirkannya, toh sekarang ada aku dan calon anak kita."
Bang Rendra melepas pelukan, dia melihat ke arah perutku yang masih rata lalu mengusapnya lembut. "Sayang, Ayah janji takan membuat kalian kehilangan sosok ayah." Aku tersenyum geli karena tingkah Bang Rendra seperti anak kecil.
***
"Ayo kita ke kafe," ajak Bang Rendra tiba-tiba, tentu saja membuatku sedikit kaget karena di siang bolong begini dia ingin ke kafe Rei.
"Loh, tumben?"
"Iya, keadaanku sudah mulai membaik. Sepertinya aku memutuskan ingin resign dan beralih ke usaha saja. Bukannya itu yang kalian inginkan?" ucap Bang Rendra dengan senyum semringah.
Yah, keinginanku, Mamah, dan Mbak Anya. Aku ikut tersenyum lebar lalu bersiap untuk ke kafe.
Sepanjang jalan pandanganku tak henti-hentinya menyelusuri pedagang yang berada di pinggir jalan, siapa tahu ada yang jual rujak. Rasanya ingin sekali memakan yang segar dan pedes, air liur bahkan seperti ingin menetes membayangkannya.
"Cari apa sih?" tanya Bang Rendra yang melihatku tak bisa tenang.
"Aku pengen rujak, Bang!" keluhku.
Bang Rendra tersenyum lalu bergeleng. "Hm dasar bumil, kita beli buahnya saja gimana? Abang bisa bikin, kok."
"Serius?"
Bang Rendra mengangguk, aku pun begitu antusias. Kusuruh supir taksi untuk menepi dan aku membeli buah-buah untuk dibikin rujak. Bang Rendra menunggu di mobil.
Kupilih jambu batu, jambu air, apel, mangga, dan lain-lain yang sekiranya enak untuk dirujak.
"Hem, binar matamu itu loh, bikin orang enggak tega," ucap Bang Rendra ketika aku masuk kembali ke mobil.
Aku hanya terkekeh-kekeh, sepertinya nyidam ini membuatku ingin selalu dimanja.
***
Sampai kafe, seperti biasa sudah buka. Sayangnya pengunjung sepertinya begitu sepi. Aku dan Bang Rendra langsung ke dapur dan menyapa karyawan yang kutemui.
Pak Herman yang biasanya sibuk memasak kini terlihat santai, bahkan sedang menyesap kopi ketika kami sampai.
"Eh, Mas Rendra? Ningrum?" ucapnya terlihat kaget dengan kedatangan kami.
"Hem, santai ya?" sindir Bang Rendra.
"Iya mau gimana lagi, Mas, pengunjung sepi. Lah, mau masak apa?" balas Pak Herman.
Bang Rendra mengajak Pak Herman untuk duduk bersama di luar, masih di area belakang, aku juga ikut.
"Semenjak kejadian itu pengunjung sangat sepi, Mas. Kabarnya banyak yang takut karena ada yang menyebar isu tentang kematian Reiner dan jenazah yang tersimpan di kafe ini."
Bang Rendra serius mendengarkan cerita Pak Herman, salah satu pekerja paling lama di sini sekarang.
"Begitu ya? Untuk pengganti Ana dan Ilyas bagaimana? Apa Mbak Anya sudah mencarinya?"
Sejenak Pak Herman terdiam. "Mbak Anya pun jarang ke sini, kemarin-kemarin dia hanya bilang cari barista pengganti, sudah ada. Tetapi untuk tugas Ana belum ada yang menggantikan." Pak Herman bicara dengan nada berat.
"Kalau kafe begini terus saya enggak jamin ke depannya bisa tetap eksis. Pengunjung tak ada, saya pun mulai bosan Mas ...."
Bang Rendra terlihat berpikir. "Jangan begitu, Pak, anda satu-satunya karyawan paling lama di sini. Mungkin ke depannya aku akan lebih perhatian. Bagaimana menurut Pak Herman agar kafe ini maju kembali?"
"Bagaimana kalau kita rubah konsepnya saja, Bang? Pak?" usulku.
"Bagaimana menurutmu, Ning?" Bang Rendra memepersilahkanku untuk memberi masukkan.
"Ya, kalau pemikiranku begini, Bang, kafe itu identik dengan nongkrong. Saranku sih kita luasin ajah, bukan hanya kafe tapi resto, jadi kita buka lantai dua itu dan renovasi lagi? Termasuk kamar Rei ...."
"Kamar Rei?" Bang Rendra terdiam sejenak, sepertinya sedang mempertimbangkan sesuatu.
Bersambung ...Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (58)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
wau sangat menarik untuk dibaca mrnemani kala istirahat
27/05/2022
0Semoga ceritanya asyk seperti judulnya ya, kubaca dlu ya
09/06
0menarik 😍
03/03
0Lihat Semua