Beranda/Mantu Kesayangan/
Bab 40 Otakku Tersengat Listrik
Part 40
Dua garis biru? Tidak, ini tidak mungkin. Masa iya aku hamil?
"Baaaaaang!" Aku berteriak histeris sebelum kesadaran hilang. Saking syoknya membuat jantungku berdebar tak karuan. Kaki mulai lemas dan tangan yang memegang benda kecil panjang ini begitu gemetar.
Bang Rendra mendekat, dia mendorong pintu kamar mandi yang memang tak kukunci.
"Kenapa, Ning?" Dia langsung menangkap tubuhku yang hampir oleng lalu membopong ke ranjang.
"Kamu pusing?"
Dia membantuku meminum segelas air putih. Aku tak banyak bicara, tetapi langsung menyodorkan hasil testpack yang ada garis dua samar itu. Aku menggigit bibir bawah dan menatapnya ragu. Padahal belum telat haid, kok, udah bisa dilihat? Aku takut jika respon Bang Rendra akan tak enak hati. Bisa saja kan dia marah karena jika aku hamil akan membuatnya makin sulit dengan Mutia? Tidak hanya itu, bagiamana dengan Reiner? Ah, ini semakin membuatku pusing.
"Kamu hamil?" tanyanya, ekspresinya tak terlihat terlalu kaget tetapi dia langsung memelukku. "Sudah kuduga," gumamnya.
"Bang, bagaimana ini ... aku hamil?" lirihku dengan perasaan entah.
Bang Rendra menatapku serius, sesaat kemudian dia terbahak sendiri. "Ada apa denganmu? Kenapa takut begitu? Hey, kamu bukan hamil di luar nikah. Jadi enggak perlu takut, kita akan merawatnya bersama, Sayang." Lagi-lagi Bang Rendra merangkulku dan menepuk-nepuk punggung pelan seperti pada anak kecil.
Aku terdiam, jujur saja ada rasa lega. Namun, perasaan kaget dan takut masih begitu dominan.
"Tapi, Bang ...." Aku menatap Bang Rendra lagi dengan mata berkaca-kaca. "Bagaimana jika Mutia memintamu bersamanya? Apa kamu akan meninggalkanku dan bayi ini?" lanjutku dengan mencetuskan pemikiran sendiri.
Lelaki di depanku ini terdiam lalu menahan tawanya dan mencubit hidungku, gemas.
"Tidak akan. Sudah dibilang aku dan Mutia sudah selesai, kenapa masih khawatir? Tidak percaya? Perlu bukti apa?" Bang Rendra mendekatkan wajahnya. Aku jadi salah tingkah.
Kupalingkan wajah dan menepis mukanya pelan. "Sudahlah sana mandi!" titahku tak ingin melanjutkan perbincangan. Sebelum beranjak, dia mencuri kecupan di pipi. Sontak membuatku melepar bantal padanya.
Jam sudah menunjuk pukul setengah enam, aku masak sambil bolak-balik ke kamar mandi. Bau masakan ini membuat perutku mual. Rasanya tak kuat! Akhirnya aku hanya menumis kacang panjang dan masak nasi saja.
"Kalau tidak enak badan tak usah masak. Beli saja." Bang Rendra datang sambil merapikan kancing lengan kemejanya. Dia sudah tampak rapi.
"Di rumah saja, ya?" pintanya.
Aku bingung mau berangkat kerja atau tidak. Badan masih berasa lemes, kadang juga pening.
"Nanti aku yang bilang ke Mbak Ana."
"Eh, enggak, jangan-jangan .. orang izin kerja kek izin sekolah ajah perlu diwakilin. Nanti aku bilang sendiri."
Baiklah, sebaiknya memang aku libur saja. Aku ingin ke rumah Mamah, mungkin saja aku bisa mengorek informasi tentang Reiner. Kenapa mereka menyembunyikan semuanya dariku? Aku yakin ada yang tak beres, karena tak mungkin jika Reiner baik-baik saja, tapi Mamah justru memaksa Bang Rendra menikahiku.
Mungkinkah saat kecelakaan itu Reiner tak selamat? Kalau pun iya, kenapa mesti disembunyikan dariku?
"Ya udah, nanti sore kita ke dokter kandungan."
Ajakkan Bang Rendra membuatku terpaku, rasanya masih tidak menyangka. Apa iya aku hamil? Ada rasa berat dan tak rela, terlebih ingatanku tentang Reiner mulai sedikit demi sedikit kembali. Namun, aku juga tak bisa bohong kalau perasaanku pada Bang Rendra mulai tumbuh subur.
"Baiklah. Oiya, Bang, aku boleh minta permintaan darimu?"
Bang Rendra mengangkat satu alisnya. "Tumben, apa?"
"Aku ingin ... Bang Rendra jaga rahasia kalau aku sudah mulai mengingat masa lalu, meski belum semuanya."
"Gitu? Kenapa? Bukannya lebih baik orang-orang terdekat tahu? Siapa tahu mereka bisa membantumu agar lebih cepat mengingat semuanya."
Aku menggeleng cepat. Tak setuju dengan pendapat Bang Rendra, entah kenapa feelingku bilang agar menyembunyikannya untuk saat ini.
Usai Bang Rendra berangkat kerja, aku pun mengirim pesan pada Mbak Ana untuk tidak masuk kerja. Aku tahu sekali pun tidak berangkat juga tak masalah, itu kafe punya Reiner seingatku. Jadi kukira akan ada toleransi. Lagian, mereka yang ada di kafe juga bukan orang-orang baru. Harusnya mengenalku dengan baik, tetapi sepertinya mereka bersandiwara. Siapa uang menyuruh? Apa Mamah? Atau Mbak Anya?
Mbak Ana, Bang Ilyas, sebelumnya aku mengenal dekat mereka karena sering bolak-balik ke kafe bareng Reiner. Pasti ada alasan kenapa mereka memilih memperlakukanku seperti orang baru saat pertama kali bekerja. Yah, sepertinya untuk saat ini aku tidak boleh banyak suuzan karena kepalaku semakin pusing jika menebak-nebak. Harusnya saat ini aku fokus saja pada kehamilanku, juga mencari tahu tentang keberadaan Reiner.
***
Sengaja aku ke rumah Mamah agak siangan jam-jam Mbak Anya menjemput Azriel di sekolah. Yah, agar aku lebih leluasa karena aku yakin Mbak Anya akan lebih mudah curiga, sedikit saja melihat gerak-gerikku yang berbeda.
Dari luar, rumah Mamah terlihat sepi. Kuketuk pintu beberapa kali barulah ada yang menyahut dan membukanya.
"Loh, Ningrum? Sama siapa?" Mamah kaget ketika aku sudah berdiri di depan pintu.
"Sendiri, Mah. Mamah lagi ngapain?" tanyaku sambil mengikuti langkah beliau ke dalam.
"Buat kue bolu. Ayo, sini, nanti kamu cobain, ya!"
Aku mengangguk dan terus membuntut. Aroma kue dari balik oven mulai tercium. Begitu menggoda.
"Masih lama ya, Mah?"
"Yah, paling dua puluh menit lagi." Mamah masih mengocok-ngocok adonan kue yang lain. Sengaja aku tak membantu beliau dan pamit ke kamar mandi sebentar. Mamah tak curiga.
Rumah ini sangat sepi karena hanya ada Mamah. Mbak Anya baru saja pergi jemput Azriel, sementara suaminya sudah pergi kerja.
Pelan-pelan kunaiki anak tangga menuju lantai dua. Seingatku di sana ada kamar Renier dan sebelahnya kamar Bang Rendra, lelaki yang sekarang jadi suamiku. Sungguh aneh, sebelumnya aku tak pernah mengenal baik dengannya. Hanya sesekali bertemu itu pun ketika dia terlihat sibuk dan terkesan cuek.
Sampai di depan kamar Reiner aku berhenti. Detak jantungku jadi tak beraturan, tanganku bahakan gemetar saat mendorong handle pintu. Untungnya tak dikunci.
Selangkah demi selangkah kumasuki ruangan yang familier. Ruangan ini masih tertata rapi, bahkan terlihat begitu terawat. Mungkinkan Reiner masih menempatinya?
Aku duduk di tepi ranjang mengamati seisi ruangan yang tampak tak aneh, lalu bangkit lagi menuju lemari. Saat membukanya aku sedikit terkejut karena tak ada satu pun baju milik Reiner ada di sini. Itu berarti kamar ini kosong, terlihat terawat karena mungkin Mamah selalu membereskannya. Kalau Reiner tak tinggal di sini? Lalu di mana dia sekarang? Aku bahkan tak pernah melihatnya.
Sepertinya tak ada yang berhasil kudapat dengan menyelinap ke sini. Yang ada justru aku dibuat rindu dengan foto-foto yang terpajang di dinding. Senyum Reiner begitu menyejukan dan terkesan lucu karena akan membuat matanya menyipit.
Aku berdiri di depan dinding lalu menyentuh foto Reiner dengan telunjukku. Dia begitu tampan, rambutnya yang kecoklatan dan kulitnya yang putih. Juga mata elangnya yang berwarna coklat terang membuatnya berbeda.
"Rei, kamu di mana? Tahukah jika sekarang aku menikah dengan Bang Rendra? Ini sangat tak masuk akal kan? Maafkan aku ...," gumamku, tak mampu lagi membendung air mata.
Perasaan yang begitu entah, situasi ini membuatku seperti orang gila.
"Ning! Kamu belum selesai, Nduk?" Teriakan Mamah membuatku kembali ke alam sadar. Kuseka air mata dan menghirup napas dalam-dalam, harus cepat-cepat mengakhiri keberadaanku di sini. Buru-buru aku turun dengan langkah yang sedikit gontai.
"Iya, Mah," balasku agar beliau tak curiga.
Mamah berdiri sembari merunduk, beliau sedang mengolesi kue bolu yang baru saja matang dengan butter cream. Terlihat lebih cantik dengan tampilan warna-warni.
"Mamah bikin kue, ada acara apa sih?" tanyaku ketika sampai di depan beliau.
"Enggak ada. Tadi Azriel yang minta Mamah buatin. Nanti pulangnya kamu juga boleh bawa. Rendra pasti bakal senang."
Aku hanya mengangguk dan tersenyum senang saat disuruh mencicipi kue yang begitu lembut ini. Mamah emang pinter banget buat bikin ginian.
***
Pulang dari rumah Mamah aku tak mampir ke mana pun dan memilih langsung balik. Takutnya keasyikan main dan tak tahu jika Bang Rendra pulang lebih dulu. Nanti pasti marah kalau tahu aku palah keluyuran.
Sore ini mulai mendung, sepertinya nanti akan turun hujan. Karena awan hitam yang begitu pekat membuat sinar mentari redup lebih awal. Kutunggu Bang Rendra di balik jendela ruang tamu.
Jam sudah menunjuk pukul empat, harusnya dia sudah pulang. Sayangnya tak mengabari apa pun sejak tadi.
Hujan mulai turun, begitu deras. Aku jadi semakin khawatir. Sedari tadi aku mondar-mandir dan menengok ke arah jalan.
Suara sepeda motor yang berhenti tepat di depan jalan membuatku menyipitkan mata. Seseorang berkemeja biru muda turun dari ojek dengan basah kuyup. Loh, Bang Rendra kok malam naik ojek?
Kubuka pintu dan langsung menyongsongnya ke teras. Pasti sudah kehujanan dari tadi, terlihat semuanya basah membuat baju yang dia pakai begitu nempel ke badan.
"Kok, naik ojek, Bang?"
"Mobil mogok," terangnya sambil mengibas-ibaskan rambut. Beberapa percikannya mengenai wajahku.
"Oh, kenapa enggak neduh dulu? Atau pake mantel?"
"Tanggung. Tadi udah mau sampai baru turun hujan deres banget." Bang Rendra bersedekap, sepertinya dia kedinginan. Aku langsung menyuruhnya masuk.
"Sebentar kusiapan air hangat," kataku mencoba mengerti dengan keadaanya yang mulai menggigil. Bang Rendra hanya mengangguk.
Tubuhnya yang basah membuat lantai juga ikutan basah karena tetesan langkahnya. Tahu seperti itu, Bang Rendra langsung berlari ke kamar mandi. Kebetulan water heater di kamar Bang Rendra lagi rusak jadi terpaksa aku membawakannya air hangat dari dapur. Sedikit saja, tapi cukup untuk mandi.
"Bang, ini airnya!" Aku mengetuk pintu.
"Ya, taruh di depan!" Tak lama Bang Rendra keluar, kepalanya melongok mencari ember yang kubawa.
Aku masih duduk di tepi ranjang untuk menunggunya. Tak tahu jika itu justru membuatnya kaget. "Heh, kenapa di situ?" katanya terkejut. Sama aku pun kaget melihatnya.
Aku masih melongo karena melihatnya keluar dengan telanjang. Untuk sepersekian detik kami hanya saling tatap, sampai aku sadar langsung menutup mata. Buru-buru dia mengambil ember itu lalu masuk lagi. Suara guyuran dari dalam membuatku tahu kalau dia mulai mandi. Aku memilih berlalu dan menunggunya di ruang tengah.
"Ning, kamu taruh di mana sweter punyaku?" teriak Bang Rendra dari dalam kamar.
"Ada, di lemari!" seruku sambil menghangatkan makanan.
Lama Bang Rendra tak keluar juga, kususul ke kamarnya dan lihatlah semua baju-baju yang ada di lemari dia turunkan membuat kamarnya tambah berantakan.
"Enggak ketemu?" tanyaku sambil berjalan menuju lemari. Bang Rendra hanya memakai handuk yang dia lilitkan ke pinggang, sesekali tangannya menggigil tapi kekeh mencari sweter tanpa mau memakai yang lain dulu.
Aku berjinjit karena seingatku menaruhnya di bagian paling atas. Namun, sulit karena tak bisa melihat dan hanya bisa merabanya.
"Sebentar, aku ambil kursi dulu." Tanganku susah untuk menjangkaunya, karena biasanya memang memakai kursi untuk menata baju-baju Bang Rendra.
"Udah cepet!" titah Bang Rendra, dia menahanku agar aku tak beranjak dan langsung mengangkat tubuhku.
"Ayo ambil!" Bang Rendra memegangi pinggangku agar bisa menggapainya. Halah, ini hanya bagian kesempatan seperti biasa agar bisa pegang-pegang tak jelas ... aku tahu! Tapi, anehnya aku pun merasakan sesuatu yang berbeda. Sejak tadi melihatnya telanj*ng membuat otakku terasa tersengat listrik dan jadi eror. Berkali-kali aku menelan ludah saat tadi kembali ke kamar ini dan melihat Bang Rendra hanya memakai handuk.
Apa efek hamil bisa meningkatkan sesuatu yang tak biasa? Rasanya mudah sekali terangsang dan ini membuatku gila.
"Dapat!" ucapku girang. Bang Rendra langsung menurunkanku tanpa drama, mungkin keburu kedinginan sejak tadi.
"Ini, Bang!" Aku menyodorkan sweter berwarna hitam itu padanya, sementara Bang Rendra langsung menerima dan memakainya.
Tadinya aku ingin kembali ke dapur, jalanku buru-buru karena saking geroginya sampai tak sadar kakiku tersandung sisi sofa dan reflek tanganku meraih apa saja agar tak jatuh dan itu termasuk bagian ujung handuk Bang Rendra.
Kedua tangan Bang Rendra sedang sibuk memakai sweter, tentu tak ada yang menahan ketika handuk itu mulai merosot karena ditarik olehku.
"Aaa!" Aku yang melukakan aku sendiri yang teriak karena melihat sesuatu ... begitu jelas.
Bersambung mmm.Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (58)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
wau sangat menarik untuk dibaca mrnemani kala istirahat
27/05/2022
0Semoga ceritanya asyk seperti judulnya ya, kubaca dlu ya
09/06
0menarik 😍
03/03
0Lihat Semua