logo text

Bab 21 Serba Salah

Part 21
"Ayo, pulang!" Paksaku langsung memegang pergelangan tangan Ningrum. Dia justru tersentak kaget dan ingin menarik tangannya. Namun, tak sedikit pun kulonggarkan dan tetap erat mencekal pergelangannya.
"Lepasin, Bang!" Ningrum terus menyentak-nyentakkan tangannya.
"Anda tak dengar jika Ningrum ingin lepas? Pergelangan tangannya bisa saja cedera karena ulah anda!" Dokter Zen menatapku tajam, tangannya menepis tanganku lalu menarik lengan Ningrum agar berdiri di dekatnya.
Rahangku mengeras, kami berdua saling adu tatap, kalau bukan di tempat umum sudah kutonjok mukanya yang sok pahlawan. Kurang aj*r!
"Mau pulang atau tidak?" kataku tegas pada Ningrum, dia yang tadinya terlihat begitu kesal kini justru ketakutan. Namun, sedikit demi sedikit dia menggeser tubuhnya ke dekatku.
"Dokter Zen, maaf aku harus pulang," ucap Ningrum sebelum dia melangkah mengikutiku.
Tak peduli dia terpaksa atau tidak aku tetap menggenggam tangan Ningrum agar mau mengikuti langkahku. Dia seakan-akan melangkah dengan kaki terseret-seret.
"Aku bisa sendiri!" Ningrum menyentakkan tangannya lagi lalu masuk ke mobil tanpa harus kupaksa.
Sepanjang jalan Ningrum hanya diam dan membuang muka keluar jendela, sementara aku mati-matian menahan emosi dan rasa kesal ini.
***
"Apa yang kamu lakukan dengan Dokter Zen sampai malam begini?" tanyaku tak sabaran ketika kami baru saja masuk rumah.
Ningrum terlihat lebih tenang dan berani, dia bersedekap lalu membalas tatapanku dengan sinis.
"Kenapa? Kalau kamu bisa pergi sesuka hati dengan wanita lain, kenapa aku tidak?" Dia tersenyum, yang entah kenapa aku jadi berasa horor. Senyumnya terkesan aneh dan meremehkanku.
"Hei, jelaskan apa sejak pagi kalian bersama?" Kuraih pundak Ningrum agar tak beranjak dari hadapanku.
Dia hanya tersenyum dan memutar bola mata, lalu menunjuk ke arah dadaku dan mendorongnya. "Kenapa? Kamu cemburu?" Matanya mengerling, tetapi raut sinis itu tak berubah juga, membuatku semakin geram. Bisa-bisanya, aku merasa dipermainkan. Apa Ningrum sedang balas dendam dengan membuatku panas?
"Iya," balasku singkat dengan tatapan tajam padanya. Aku tak suka dia begini.
Ningrum terkekeh-kekeh.
"Aku tak bercanda! Jangan pernah dekat dengan lelaki lain!" Mungkin aku terkesan egois, tapi entah kenapa aku begitu. Rasanya hanya ingin Ningrum jadi milikku saja.
"Kamu seperti anak kecil, Bang!"
Tuduhan Ningrum semakin membuatku tambah kebakaran, bisa-bisanya dia bilang aku seperti anak kecil?
"Biar aku tunjukkan seberapa dewasa pria di hadapanmu!" Kudorong tubuh Ningrum sampai mentok di tembok lalu mengunci pergerakannya dengan kedua tangan.
Aku dan Ningrum masih beradu tatap, kini dadanya mulai terlihat kembang kempis seakan-akan menahan takut, juga emosi yang menyeruak sepertiku.
"Berhenti, Ba--bang! Bu--bukan i--ni maksudku!" katanya terjeda-jeda karena bibirnya yang mulai kukecup-kecup. Semakin dalam kulumat bibirnya membuat dia bungkam dan tak lagi bisa bicara. Tangannya mencoba memberontak dengan mendorong dadaku, kadang pula memukuli lengan dan mencubit dengan keras, tak kuhiraukan. Sensasi di bibirnya jauh membuatku merasakan semakin bergairah dan terpancing.
Bukan sedang kerasukan, tapi boleh jadi memang aku seperti orang kesetanan. Tak kubiarkan Ningrum bisa bergerak dengan leluasa, bibir masih kukulum sementara tangan kananku mulai meraba pahanya. Dia memakai dress pendek sebawah lutut membuatku bisa dengan mudah menelusuk lewat bawah. Dia menggelinjang geli dan terus memberontak.
Siapa sangka dia mulai membalas ciumanku, pelan-pelan masuk dalam permainan ini. Namun, aku lengah ketika tiba-tiba dia menggigit bibirku dengan kencang. Sontak aku melepasnya dan memundurkan diri. Rasanya bibirku seperti pecah, kuusap dan benar saja kutemukan bekas merah di tangan. Itu berarti bibirku berdarah karena perbuatannya. Masih belum puas, Ningrum lalu menginjak kakiku dan mendorong agar aku berjarak darinya. Sial!
"Rasain!" ketusnya lalu dengan cepat berlari ke arah kamar. Aku membuntuti tetapi kalah telak ketika dia langsung menutup dan mengunci kamarnya. Sudah kucoba dorong dan mengetuknya tetapi dia kekeh tak mau buka sampai kudengar suara kran air dari dalam sana, aku pun memilih beranjak. Sepertinya dia lagi mandi. Kuputuskan ke kamar sendiri dan ikut mengguyur tubuh dari atas kepala yang masih berasa cenat-cenut karena tak bisa melampiaskan hasrat. Bahkan kejantananku sudah terbangun, sialnya sebisa mungkin aku harus tenang dan menidurkannya kembali.
***
Malam semakin larut, tapi tak ada tanda-tanda seorang wanita keluar dari kamar. Aku sudah menunggunya lumayan lama di ruang tengah, akhirnya kuputuskan untuk mengentuk pintu lagi.
"Ning, buka!" Tak ada balasan dari dalam sana.
Sekali dua kali, aku terus memberondong ketukan, sampai seseorang menyahut.
"Apaan sih , Bang, jangan ganggu. Aku ngantuk!"
"Aku lapar, Ning!" balasku dengan suara mengiba.
"Masak saja sendiri! Aku tak mau keluar, nanti kamu berbuat yang tidak-tidak lagi!" Sepertinya Ningrum masih ketakutan karena tadi.
"Tidak ... aku janji!" Hening lagi. Aku pun mulai putus asa dan membalik badan, tetapi suara decitan pintu membuatku langsung menoleh. Ningrum keluar, aku langsung menyambutnya dengan senyum antusias. Meski dia justru cemberut.
"Biasanya juga bisa masak sendiri, dasar manja," gerutunya sembari melewatiku untuk ke dapur. Aku sama sekali tak tersinggung, justru merasa senang itu berarti dia masih menyimpan perhatian dengan mau keluar dan memasakkanku. Ya, aku hanya ingin melihatmu saja! Lapar? Tidak terlalu.
Ningrum cekatan membuatkan nasi goreng dan telur mata sapi, sementara aku duduk anteng sembari mengamatinya. Rambutnya yang dikucir ke atas begitu menarik perhatian, apalagi ketika dia bergerak rambutnya ikut mengayun ke kiri dan ke kanan. Leher putih itu jadi begitu terlihat, sayangnya belum sempat kucicipi keburu dapet gigitan maut darinya tadi.
"Ehem!" Suara berdeham itu langsung membuat fantasiku buyar dan buru-buru membenarkan posisi duduk. Dua piring nasi goreng sudah siap di depanku.
Ningrum makan lebih dulu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Aku jadi merasa canggung, sesekali meliriknya dan dia masih fokus menunduk ke piring di hadapannya. Suasana jadi sekaku ini.
"Maafkan aku ...," ucapku tulus untuk membuatnya tak lagi tak acuh begini.
Dia hanya mengangguk lalu membuang muka ke samping kiri sambil menyuap nasi.
***
Semalaman aku tak bisa tidur, entah kenapa diamnya Ningrum semakin membuatku gila. Pagi ini sengaja aku bangun lebih pagi, ah tidak lebih tepatnya memang terbangun dini hari dan tak bisa memejam lagi. Mungkin jika aku membantu pekerjaan rumah akan ada sedikit senyum darinya. Jadi pagi buta aku sudah menyelesaikan cucian lalu memasak nasi, untuk lauknya kebetulan ada persediaan ikan, aku langsung menggorengnya. Setelah itu kutata di atas meja.
Biar tambah sweet, nasinya kubentuk love juga irisan wortel, ya entah cocok apa tidak dengan lauknya yang penting tampilannya bagus. Semoga saja Ningrum memujinya. Aku tersenyum lembar membayangkan cewek itu tersipu-sipu.
Jam sudah menunjuk pukul enam, tetapi tak ada tanda-tanda dia terbangun.
Lantai di ruang depan sudah ku-pel, sekarang di ruang tengah, tepat di depan pintu kamar Ningrum aku mengepelnya bolak-balik sambil sesekali mendekatkan telinga ke pintu, terdengar seperti orang jalan. Tahu begitu aku geser ember dan tempat berdiri agak jauh.
Pintu benar-benar terbuka, tetapi Ningrum seperti tak sadar jika aku sedang mengepel. Dia berjalan sambil mengucir rambutnya yang masih berantakan. Namun, tak mawas diri jika lantainya licin. Tanpa diduga kakinya terpeleset, tubuhnya terpelanting ke belakang. Untung saja aku sigap menangkapnya, meski aku yang harus jatuh terduduk, setidaknya Ningrum tak merasa sakit.
Kami masih ada di posisi sweet, kupangku tubuh Ningrum yang terlihat kaget. Matanya membulat saat tahu aku menyelamatkannya. Senyumku merekah, aku yakin jika kali ini dia akan sangat berterima kasih.
Plaaak!
Ningrum menepis pipiku, meski tak terlalu kencang, tentu ini membuatku kaget.
"Dasar mesum!" serunya sambil mencoba berdiri.
Haaa? Boleh tidak kalau sekarang aku merasa benar-benar seperti orang bodoh?
"Mesum apanya?" Aku ikut berdiri dengan menghentak. Tak terima dengan perlakuannya.
"Pasti kamu sengaja kan, Bang, ngepel di sini biar aku jatuh dan kamu nyelametin kayak tadi? Sengaja pengen remes-remes pantat aku kan? Meeees*m!" bentaknya lalu memukuli lenganku.
Astaga, aku bahkan tidak sadar akan itu, hanya reflek saja menangkapnya. Cuma kebetulan tanganku pas menyangga pantat Ningrum.
"Hey! Tidak usah menuduh! Kalau aku mau bukan hanya pantat, tapi sekalian juga ...." Tanganku terangkat dengan jemari ingin meremas. Tatapanku jatuh ke dada Ningrum.
Dia yang sadar langsung menutupi dadanya, lalu menginjak kakiku dengan kencang. Tentu membuatku mengaduh kesakitan.
"Dasar nyebelin!" Ningrum langsung berbalik menuju dapur.
Salah lagi salah lagi!
Aku membuntut dengan membawa ember dan kain pel lalu meletakannya di tempat asal.
Kuperhatikan dari jauh saat Ningrum membuka tudung saji. Aku bisa melihatnya kalau dia mesem-mesem. Lalu jemarinya mengambil wortel yang kubentuk love, dia langsung memakannya.
"Gimana, enak?" ucapku dari arah samping.
Uhuuuk! Uhuuuk!
Ningrum tersedak, wajahnya memerah. Sigap aku memberinya air minum dan dia langsung menenggaknya buru-buru.
"Ish, ngagetin! Di mana-mana yang namanya wortel ya kayak wortel lah! Apalagi ini enggak dimasak," gerutu Ningrum, bukannya memuji justru dapet semprotan.
Kuacak rambut frustasi, lalu duduk untuk sarapan. Sementara Ningrum sehabis memelototiku dia langsung pergi ke belakang. Hah, apa dia lagi PMS? Kenapa jadi garang banget.
Suap demi suap masuk ke mulut tanpa sedikit pun kuresapi dengan kenikmatan.
"Baaang! Kenapa bujanya kamu cuciii?" teriak Ningrum.
Suaranya membuatku kaget. Apalagi yang salah? Astaga, tahu begini mending tidak usah merepotkan diri sendri. Hah, brengs*k!
Bersambung ...

Komentar Buku (58)

  • avatar
    Jaka89

    wau sangat menarik untuk dibaca mrnemani kala istirahat

    27/05/2022

      0
  • avatar
    Bintang Kejora

    Semoga ceritanya asyk seperti judulnya ya, kubaca dlu ya

    09/06

      0
  • avatar
    Annaznissa

    menarik 😍

    03/03

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru