logo text

Ketahuan Pacaran

Sebuah mobil bak terbuka berhenti di halaman rumah Ayya, Fikri turun dari mobil di temani Bayu asistennya.
"Assalamuallaikum Ay, gimana udah selesai jahitannya?" Fikri menghampiri Ayya yang sedang berkutat dengan mesin jahitnya, tepat berada di sebelah dipan Bu Salamah.
"Wa'allaikumussalam bentar lagi Fik, ini lagi finishing," jawabnya tanpa menoleh karena sibuk dengan mesin jahitnya.
"Nak Fikri mau di buatin teh?" tawar Bu Salamah seraya tersenyum hangat.
"Nggak usah Bu, gimana kabar ibu hari ini?" ujarnya seraya mendekat kepada wanita yang sedang terbaring itu.
"Alhamdulillah baik dan sehat!" Bu Salamah mengepalkan tangannya ke udara dengan kuat, berbanding terbalik dengan tubuh lemahnya.
"Hehehe ... alhamdulillah. Nanti coba deh Ibu pake kursi roda, biar nggak capek tiduran terus," tutur Fikri.
"Setuju Fik, mudah-mudahan aku bisa beliin ibu kursi roda nanti," sahut Ayya seraya menoleh kepada Fikri dan ibunya.
"Aamiin, aku siap bantu!" Fikri tersenyum simpul.
"Bantu do'a ya, Nak! Kamu sudah banyak membantu keluarga kami. Ibu nggak enak hati kalau harus merepotkan kamu terus," ujar Bu Salamah.
"Nggak papa Bu, santai aja. Fikri nggak harus manggul batu atau besi kok sampe harus repot, hehehe." Fikri terkekeh.
"Kamu sendirian Fik ngangkut barang?" tanya Ayya seraya memasukkan hasil jahitan ke dalam karung besar. Fikri menghampirinya untuk membantu gadis itu.
"Ada Bayu di depan, Bay ... sini bantuin masukin barang!" ajak Fikri kepada Bayu.
Perlahan Ayya mundur saat kedua laki-laki itu sibuk mengemas barang, ia duduk di samping ibunya sembari membunyikan jari-jarinya yang pegal.
"Bu, kangen deh sama Amar," ucapnya seraya menatap wajah Bu Salamah.
"Ibu juga kangen, semoga saja Amar selalu sehat di sana dan di mudahkan belajarnya," tutur Bu Salamah.
"Kalau kangen tinggal video call aja," timpal Fikri.
"Apa itu video call?" ujar Ayya kebingungan sembari melihat ibunya yang sama-sama memasang wajah tak tahu.
"Video call itu telfon tapi pake video, gini nih!" Fikri menghampiri kedua wanita itu, ia menunjukkan layar ponselnya kepada Ayya.
"Aku video call Amar, ya?" tutur Fikri.
"Nih nanti nunggu Amar angkat aja, aku tinggal dulu, ya! Mau nganter barang dulu," pamit Fikri.
"Ini ponselnya gimana Fik?"
"Gampang, nanti aku kesini lagi," serunya seraya melenggangkan kaki keluar dengan mengangkat barang bersama Bayu.
Sesaat kemudian layar ponsel yang berada di tangan Ayya menampilkan wajah Amar.
"Assalamuallaikum," sapa Amar dari sana.
"Wa'allaikumussalam Nak Amar," ujar Bu Salamah antusias.
"Mar, gimana kabar kamu? Sehat?" tanya Ayya sembari mengembangkan senyumnya.
"Alhamdulillah sehat, Bu Salamah, Ayya dan Balqis gimana kabarnya?"
"Alhamdulillah sehat semua Nak, Balqis masih sekolah belum pulang," terang Bu Salamah.
"Kamu nggak kuliah Mar?"
"Nanti siang Ay, sekarang lagi santai nih di depan penginapan." Gambarnya menunjukkan Amar duduk di sebuah rumah dan menampilkan seorang laki-laki muncul dari dalam pintu.
"Itu siapa Mar?" tanya Ayya penasaran.
"Itu temen satu penginapan, kebetulan satu kampus juga.”
“Ini nomer Fikri bukan?" lanjutnya.
"Iya Mar, tadi Fikri pergi nganter barang, hpnya tinggal disini,” jelas Ayya.
"Di tinggal?" tanya Amar lagi seraya mengernyitkan dahinya.
"Iya," jawab Ayya singkat.
"Seakrab apa Ayya dan Fikri? Apa sampe sedekat itu?" gumam Amar dalam hati.
"Nak Fikri sekarang MasyaAllah ... banyak berubah jadi dermawan, baik hati dan suka menolong, Nak. Ibu sampe nggak nyangka dia bisa berubah seperti itu," jelas Bu Salamah.
Amar termenung, sesaat kemudian ia tersadar saat mendengar suara Bu Salamah.
"Eh, iya alhamdulillah Bu." Amar tersenyum kikuk berusaha menutupi gejolak rasa cemburu yang mulai merasuki hatinya.
"Ay, aku mau ngobrol sama kamu boleh?"
"Hmmm ... boleh?" seraya menatap wajah ibunya yang mengangguk pelan.
Sejurus kemudian Ayya berjalan ke teras depan.
"Iya Mar, kenapa?" ucapnya dengan penuh penasaran.
"Hmmm ... kamu dekat sama Fikri, ya?" ujar Amar dengan ragu.
"Nggak juga kok Mar, kita hanya teman biasa. Fikri kesini kalau mau ambil barang atau ngasih bahan ke aku." Ayya menjelaskan.
"Ohh ... semoga kamu nanti bisa beli ponsel sendiri ya, Ay! Biar bisa komunikasi sama aku," ucap Amar sekenanya, sepadan dengan perasaannya yang entah kenapa berubah cemas setelah nama Fikri di sebutkan.
"Aamiin ... iya, tadi Fikri sendiri yang ninggalin ponsel ini karena aku bilang sebelumnya ke ibu kalau kangen sama kamu. Jadi, dia suruh aku telfon kamu." Ayya merasa hal ini harus di jelaskan agar pemikiran Amar tak menjadi liar.
Amar menghela nafas lega.
"Iya, nggak papa kok Ay." Amar tersenyum tipis sembari memeriksa jam di pergelangan tangannya.
Ia bisa berfikir tenang saat ini, mendapat penjelasan singkat dari Ayya, walaupun tanpa di minta.
Atau kalau tidak, ia akan mengalami hal serupa seperti sebelumnya, melamun dan seperti orang yang linglung.
"Ay, udah dulu ya?! Aku mau siap-siap ke kampus," ungkapnya.
"Iya Mar, kamu sehat-sehat di sana!"
"Insyaallah, salam buat Bu Salamah dan Balqis si centil, ya?!" Amar mengembangkan senyumnya.
"Iya, nanti aku sampein."
Amar menutup layar ponsel dengan menerbitkan senyuman di bibirnya, tidak ada kata-kata cinta, tapi berbincang dengan Ayya cukup mengobati kerinduan di hatinya.
****
Klik!
"Pacaran boy?" ujar Fahri dari balik jendela. Laki-laki malang yang di sapanya tersentak kaget.
"Ngintip boy?" sambung Amar.
"Hahaha ... ketahuan pacaran nih?!" ledek Fikri.
“Jangan ngaco Fahri!” sanggahnya, sebenarnya ia sendiri tak bisa menyangkal, mungkin saja hubungan ia dan Ayya bisa di katakan pacaran, tapi mereka tidak pernah meresmikan hubungan dengan sebutan itu.
“Udah, nggak usah ngelak! Pacaran juga nggak papa boy! Namanya orang dewasa, yang penting tetep inget sama beasiswa. Jangan sampe gara-gara cinta pendidikan kamu di anggurin! Inget bapak-ibu yang sudah menaruh harapan sama kamu!” Sekali lagi ucapan Fahri memang ada benarnya, walaupun di sampaikan dengan cara yang, aaah ... menyebalkan!
"Ada apa sih rame-rame?" seru Anas yang muncul dengan pakaian rapi.
"Biasa sahabat kita yang satu ini kalau nggak rame bukan Fahri namanya," tutur Amar.
"Hahaha ... iya deh, ngalah aja, biar nggak kebongkar kedoknya." Fahri melangkah pergi sambil tertawa.
Amar mendelik kepadanya.
"Cakep juga loh," ucap Fahri seraya menoleh sejenak.
"Fahri!!!" pekik Amar.
"Yaa ... ya ... ampun boy!" Fahri kabur berlari.
Anas menggelengkan kepala melihat aksi kedua sahabatnya.
"Kamu udah rapi aja Nas?" ujar Amar sembari memperhatikan Anas lekat.
"Iya, aku mau ke masjid dulu, nanti baru lanjut ke kampus."
“Ada acara apa?”
“Biasa remaja masjid, mau ada perombakan jadwal imam sholat. Jadi, harus di musyawarahkan dulu,” ungkapnya.
"Oh, hati-hati di jalan!” tandas Amar memperhatikan langkah Anas meninggalkan penginapan setelah mengucap salam.

Komentar Buku (173)

  • avatar
    Enjel

    aku suka alur cerita nya

    19/04

      0
  • avatar
    Khrl Anm

    saya tidak tahu

    10/08/2025

      0
  • avatar
    QhadeejaDamia

    love it

    09/03/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru