logo text

Di Pecat ( Part Ayya)

Dengan mengenakan stelan rok plisket dan atasan tunik, Ayya memasuki rumah Bu Hindun yang sering di sapa Bu Lurah—lantaran jabatannya—lewat teras samping seperti biasa, wanita itu wara-wiri setiap hari di rumah itu karena menjalankan tugas mengganti ibunya.
“Assalamuallaikum,” salamnya saat melewati ambang pintu, ia mengedarkan pandangan ke seisi ruangan.
Terlihat sepi, hanya ada Bu Lurah nampak sibuk di dapur yang tak menjawab salamnya.
Mungkin beliau tidak dengar, pikir Ayya.
“Pagi, Bu!" sapanya, berjalan agak membungkuk melewati Bu Lurah.
Wanita itu masih membisu, tak menggubris sama sekali, ia hanya melirik sekilas dan membuang pandangannya ke sembarang arah—asal bukan Ayya—sebab terlihat seperti menjijikan di matanya.
Ayya berusaha tak menghiraukan perasaanya yang tak enak hati, ia mulai menjalankan tugasnya mengambil baju-baju kotor di rak yang tersedia.
Terkadang merasa heran, setiap hari mencuci, tetapi pakaian kotor selalu menggunung. Mungkin dalam sehari, setiap orang di keluarga ini bisa mengganti pakaiannya 3 sampai 4 kali, maklum orang kaya, pikirnya sendiri
Gadis itu memasukan satu persatu pakaian tersebut ke dalam mesin cuci. Tangan terampilnya menyambi dengan mengambil baju-baju yang sehari sebelumnya telah ia cuci, tugas selanjutnya ia harus menyetrika semua baju yang telah kering.
Waktu menunjukkan pukul 12.30, semua rangkaian tugasnya dari mencuci, menjemur, merapihkan, menyetrika selesai sudah.
Ayya beranjak, akan tetapi ia melihat tumpukan piring kotor di atas westafel.
Ia urungkan niatnya untuk pergi sekarang, merasa sungkan meninggalkan pekerjaan di rumah tempat ia bekerja. Walaupun itu tidak terhitung sebagai tugasnya, tetapi tidak ada salahnya membantu sesama, setiap kebaikan akan bernilai pahala.
Ayya mengusap peluh di dahi setelah semuanya telah rapi.
“Hey! Anak orang miskin?!" pekik suara dari arah belakang tubuhnya. Seketika Ayya berbalik menatap sumber suara.
"Besok pagi kamu nggak usah kesini lagi. Kamu di pecat!” seru Bu Hindun seraya berkacak pinggang.
“Hah?! Di pecat? Memangnya ada kekeliruan apa dengan kerja saya Bu? Maafkan saya ... akan saya perbaiki lagi kedepannya." Ayya menangkupkan kedua tangannya di dada dengan menghiba.
“Memangnya saya nggak tau, gara-gara kamu Fikri berkelahi sama anaknya Bu Sarah, si Amar itu! Sampai-sampai Fikri babak belur,” tudingnya sembari melototkan kedua manik mata.
“Maafkan saya Bu, untuk hal itu ... itu di luar kehendak saya.”
“Tidak ada kata maaf untukmu, memangnya kamu bisa ganti rugi semua luka yang Fikri alami?! Dasar anak miskin! Saya heran, gadis miskin kaya kamu bisa-bisanya di perebutkan dua laki-laki. Fikri lagi ... anak bodoh! Nggak bisa milih apa gadis yang lebih cantik dan lebih kaya.” Bu Hindun terus memaki-maki Ayya dengan beragam kata yang menyayat-nyayat hatinya.
Keputusan Ayya telah final, ia tak ‘kan bisa lagi mengharapkan ampun maupun belas kasih dari orang berwatak congkak serta arogan seperti Bu Hindun.
Ia menghentikan lakunya menghina di hadapan Bu Hindun dan bertekad untuk melenggangkan kaki dari rumah itu.
Gadis yang di sebut miskin itu menyeka bulir air mata yang jatuh di pipinya, “Baik Bu, saya akan pergi dari sini! Dan tidak akan kembali lagi. Terimakasih untuk semuanya dan untuk jasaku hari ini saya telah ikhlaskan.”
“Silahkan pergi dan jangan pernah menginjakkan kaki dekilmu di rumah ini lagi!" Kedua tangannya menarik Ayya untuk menyeretnya keluar.
Segera Ayya tepis kedua tangan itu dengan wajah merah padam, “Tak perlu seperti ini Bu, saya bisa jalan sendiri.”
“Sudah miskin, sombong pulak?!” dengus Bu Hindun.
Dengan beragam emosi yang berpadu dalam hatinya, Ayya tak berniat lagi melontarkan kata. Langkahnya ia jejaki melewati ambang pintu yang terbuka lebar.
“Tunggu Ayya!” Suara bariton Fahri memekik di gendang telinga.
Gadis itu tak menghiraukan perintahnya, ia tetap saja melangkah pergi, membuat Fahri berlari mengejarnya.
Lengan Ayya tercekal oleh tangan besar yang berotot, sekuat tenaga ia berusaha melepas tetapi hasilnya nihil.
“Lepaskan aku!Lepas Fikri?!” bentak Ayya, bola matanya melebar.
“Dengarkan aku dulu, jangan pergi!” tukas Fikri.
“Aku bilang lepas!Jangan berani menyentuhku, kamu bukan mahromku!"
Akhirnya Fikri mengalah, ia melepaskan genggaman erat di lengan Ayya.
“Aku cinta sama kamu Ayya, tolong jangan menghindar lagi! Dan ... hiraukan semua ucapan ibuku.”
“Hentikan Fahri! Biarkan dia pergi, dia nggak level sama kamu, sini masuk!” teriak Bu Hindun dari teras depan.
“Kamu dengar ‘kan? Aku dan kamu itu bagai langit dan bumi. Sampai kapanpun nggak akan bersejajar maupun menyatu," ujar Ayya sembari menyeringai kejam.
“Tapi Ay, aku ....”
Ayya menghela nafas panjangnya, lalu menghembuskannya perlahan.
“Kamu anak baik, penurut dengan orang tua. Perintah orang taumu adalah kewajiban,” Ayya memotong pembicaraannya seraya merendahkan nada bicaranya.
“Aku pergi, jadilah anak yang berbakti kepada ibumu! Dan untuk kejadian tempo hari aku minta maaf kepadamu dan keluarga, sebab aku tak bisa bertanggung jawab membiayai lukamu,” tegas Ayya, lalu ia melenggang pergi.
Fikri tak lagi membantah maupun melawan, ucapan yang Ayya lontarkan menusuk ke dalam sanubarinya.
Walaupun dari kalangan orang yang tak berada tapi jiwanya begitu besar.
“Benar katamu dulu, saat aku masih bisa bergaul denganmu ... jadilah orang baik, maka kau akan mendapatkan jodoh yang baik karena jodoh merupakan cerminan diri. Aku harus menjadi lebih baik untuk mendapatkanmu," ujar Fikri seorang diri, kedua netranya memperhatikan Ayya yang semakin hilang di pandangannya.
***
Ayya menghentikan langkah di depan rumah, ia harus memastikan tidak ada air mata yang tersisa di wajahnya. Ia takut memantik kekhawatiran ibunya.
“Assalamuallaikum,” salam Ayya ketika melewati ambang pintu rumah geribik tempat naungan hidupnya selama ini.
Ia bergegas menghampiri Bu Salamah yang sedang terduduk dengan kaki yang diluruskan.
Ayya segera meraih tangan lemasnya untuk di salami.
“Wa’allaikumussalam, tumben kamu pulang lebih lama, Nak? Apa banyak cucian hari ini?” tanya Bu Salamah penasaran.
“Iya Bu, Ayya capek ... aku istirahat dulu, ya Bu.” Ayya menatap sekilas wajah ibunya dengan berkaca-kaca, sekuat tenaga ia tahan air matanya agar tak lolos di hadapan sang ibu.
Ia berjalan menuju kamar dengan menahan tangis yang hampir tumpah.
Ia ingin mengontrol emosinya terlebih dahulu, sebelum mengutarakan semua kepada sang ibu.
Air matanya pecah di atas pembaringan, Ayya tak peduli jika bantalnya akan basah karena derasnya air mata.
Ia raih liontin di leher sembari mengangkat kepala dari telungkupnya.
“Mar, langkahku limbung tanpamu. Di saat badai menerjang, dimana lagi aku harus bersandar?” ucapnya dengan sesenggukan.
Lama Ayya menumpahkan semua emosi dengan tangisannya karena hanya itu yang bisa ia lakukan untuk meluapkan perasaan.
Setelah di rasa lebih tenang, ia beringsut duduk di tepi ranjang.
“Baik Mar, aku gadis kuat! Aku akan berjuang untuk masa depanku, untuk keluargaku dan juga untuk kamu," gumamnya sendiri.
“Setiap niat baik pasti akan Allah mudahkan jalan ‘kan? Aku harus gigih sepertimu, agar kelak aku bisa tangguh mendampingimu.” Ayya tersenyum simpul memandangi liontin pemberian Amar.

Komentar Buku (173)

  • avatar
    Enjel

    aku suka alur cerita nya

    19/04

      0
  • avatar
    Khrl Anm

    saya tidak tahu

    10/08/2025

      0
  • avatar
    QhadeejaDamia

    love it

    09/03/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru