MARETHA Begitu aku menginjakkan kaki di sekolah, Dante langsung menyeretku menjauh. "Aku ingin bicara denganmu!" Aku menatap Dante dengan ketakutan. Aku mematung di sana dan menolak dia seret. Tapi, Dante terus menyeretku dan membawaku ke ruang auditorium yang kosong. "Maretha, kau sudah keterlaluan! Kau sudah merusak seluruh rencana yang aku susun dengan baik." Di ruang auditorium hanya ada kami berdua. Dante bisa saja membunuhku saat itu juga. Tapi aku yakin dia tidak akan melakukannya. Kuteguhkan tekadku dan aku beranikan diri untuk menatap Dante. Aku tidak boleh lengah dan lemah di hadapan siapapun saat ini. "Bukankah sudah kukatakan untuk terus diam dan berpura-pura kau tidak pernah ada di dunia ini? Lihat apa sudah kau lakukan? Kau sudah melewati batas, Maretha! Jika saja kau terus bersembunyi dan tidak menampakkan diri, hal ini tidak akan terjadi." Aku tidak tahan berpura-pura lagi. Aku hanya tersenyum sinis pada Dante. Dia pikir aku akan menuruti semua ucapannya? Dia pikir aku akan terus bersembunyi seperti seorang pengecut? "Aku tidak peduli omong kosong apapun yang kau sampaikan pada komite disiplin, tapi aku ingin mengetahui satu kebenaran darimu! Apakah malam itu kau bertemu dengan Zachary saat menuju ke perkemahan musim dingin?" Aku pura-pura kaget. "Kenapa aku harus bertemu dengan Zachary?" Dante maju selangkah dan melotot padaku. "Itu sebabnya kau menyamar dan berpura-pura menjadi dia?" "Untuk apa aku menjawab pertanyaanmu? Kau bahkan sudah bisa mengarang sendiri jawabannya," balasku dengan sinis. "Pelacur!" desis Dante. "Jangan berbicara kecuali kau mau menjawab pertanyaanku. Kau bertemu dengan Zachary dan memakai topengnya, kan? Kau berpura-pura menjadi dia dan datang ke kabin. Kau berpura-pura ingin menyerang kami, kan?" Aku sangat ketakutan. Tubuhku hampir saja menggigil jika aku tidak berusaha mengeraskan hati menghadapi kemarahan Dante. Aku berpura-pura tegar di hadapannya. Jadi selama ini Dante berpikir bahwa yang menyerang Grey di ruang klub berburu adalah Zachary? Aku akan tertawa. Jika saja dia tahu siapa yang melakukannya, mungkin Dante akan lebih marah lagi. Dante mencengkeram kedua bahuku dan menggoyang tubuhku dengan cukup keras. "Kenapa kau membantu Zachary? Kenapa kau berkhianat kepada saudaramu sendiri? Jika kau tidak datang malam itu dan mengacaukan segalanya, aku pasti sudah menangkap Zachary. Dia berusaha menjebakku dan menjadikanku tersangka yang menyerang Grey! Aku hanya ingin menangkapnya." Kusingkirkan kedua tangan Dante dari bahuku dan kutatap dia dengan tajam. "Seharusnya kau berterima kasih padaku karena aku tidak menyeretmu dalam masalah yang lebih serius. Kalau saja aku mengatakan setahun yang lalu ada orang lain yang terlibat selain Grey Roxell, aku yakin kau akan menangis darah hari ini." Aku melirik ke arah podium yang tertutup oleh tirai. Aku tahu seseorang sedang mencuri pembicaraan kami dari sana. Aku sengaja mengeraskan suaraku agar dia ikut mendengarnya. "Gadis keparat! Apa kau mau menghalangiku?" Dante mengangkat kepalan tinjunya dan hampir memukulku. Aku tidak berusaha menghindar ataupun mengalah. Sebaliknya aku tantang dia dengan tatapan mataku. "Jangan mengusik Zachary! Jangan pernah menyentuh dia seujung kuku pun." "Hahaha…" Dante tertawa keras alih-alih marah. Dia turunkan tinjunya dan mundur selangkah. "Sudah kuduga. Kalian bertemu malam itu. Lebih tepatnya…" "Aku tidak mau kau menangkap pelaku yang sesungguhnya." "Apa yang sudah dia lakukan untukmu? Membalaskan dendammu? Jadi… Kau memang bersekongkol dengan orang ini? Oh, apa kamu mencintainya? Jangan bermimpi Maretha. Zachary bahkan tidak melirikmu sama sekali. Aku tahu kau bukan gadis yang akan dia pilih dan cintai." Kini aku yang tertawa terbahak-bahak dan membalas serangan Dante. "Aku tahu dia tidak mungkin jatuh cinta padaku, tapi setidaknya dengan aku berbuat baik padanya, dia akan tetap berada di pihakku." "Kau benar-benar gadis psikopat!" "Aku sudah cukup mengalah selama ini, Dante. Aku sudah cukup diam. Aku berusaha menghilangkan diriku dari pandangan orang-orang. Aku juga tidak pernah mengungkit-ungkit tentang status persaudaraan kita. Tapi kalian sudah bertindak terlalu jauh. Kalian sudah mengusik kesenanganku." *** CASSANDRA "Ke mana kau akan membawaku, Zach? Kita sudah meninggalkan kota dan masih belum juga sampai?" Suaraku tersapu oleh deru angin yang cukup kencang. Kami berkendara menggunakan motor jauh meninggalkan kota. Zachary tidak menjawab pertanyaanku. Dia terus memacu motor sampai aku melihat ada garis cakrawala. Pantai. "Kau pernah ke pantai?" Kami berhenti dan memarkir motor. "I-iya." "Kenapa kamu menjawab dengan ragu-ragu? Apakah Erick yang membawamu ke sini?" Dan aku pun mengangguk. Kami berjalan-jalan menyusuri pantai dengan kaki telanjang. Butiran-butiran pasir menyelimuti seluruh permukaan kaki kami. Ini adalah pantai yang sama tempat Erick pernah membawaku. Entah kenapa rasanya sangat berbeda ketika datang ke sini bersama dengan Zachary. Aku merasa lebih bahagia dan lebih bergairah. Zachary tiba-tiba berhenti. Aku hampir saja menabraknya. Dia berbalik dan meraih pinggangku dalam pelukannya. "Apa yang kalian lakukan di pantai? Apakah Erick juga memperlakukanmu seperti ini?" Tiba-tiba Zachary menunduk dan mendekatkan bibirnya ke bibirku. Seharusnya aku senang, tapi aku malah marah. Aku mendorong Zachary sekuat tenaga sampai aku terjatuh ke permukaan pasir. "Kau gila? Apa yang kau lakukan, Zach? Apa tujuanmu membawa aku ke sini?" Zachary pun ikut duduk di permukaan pasir sambil menyembunyikan wajahnya di antara kedua tangannya. Dia lalu tertawa terpingkal-pingkal. "Kenapa kau marah, Cass? Apa karena aku yang melakukannya? Jika itu Erick, apa kau akan membiarkan dia menciummu?" Aku tertunduk. Wajahku bersemu merah sekaligus menahan marah. Apa sebenarnya yang Zachary inginkan? "Aku pikir kau mengajakku keluar rumah karena ingin membicarakan tentang masalah penangkapan kemarin. Tapi, kenapa kau tiba-tiba marah dan membahas tentang Erick?" Zachary mendongakkan wajah ke langit dan berbicara dengan santai. "Karena aku iri padanya. Erick selalu bisa diandalkan. Dan kau selalu percaya padanya. Sedangkan aku? Seolah-olah apapun yang aku usahakan selalu tidak pernah bisa mengejar langkahnya. Apalagi jika menyangkut dirimu." Aku kaget. Apa maksud dari percakapan ini? Aku pikir Zachary tidak serius. Dia hanya asal berbicara, kan? "Setidaknya masalah Grey sudah diselesaikan. Dan mereka sudah menutup kasusnya. Kau bisa terbebas dari tuduhan itu dan juga Sebastian. Omong-omong bagaimana dengan dia?" Zachary menatapku. "Malam itu, aku mengantarkan Sebastian kembali ke bar. Dia terlihat syok tetapi Sebastian adalah orang yang kuat. Dia bahkan telah menanggung semua resiko demi kita. Aku yakin dia baik-baik saja sekarang." "Bagaimana denganmu, Cass?" "Aku?" Saat itu ponselku berdering. Aku memeriksanya dan ada sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak aku kenal. 'Kau pikir sudah merasa bebas sekarang, Cassandra Brown?' Refleks aku jatuhkan ponselku dan tertegun menatapnya. Zachary kebingungan dan menggenggam tanganku. "Ada apa?"
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
saya Sagat suka
26/08/2024
0kurang bagus
17/08/2024
0Ceritanya bagus bangettt sumpahhh😎😎
13/08/2024
0Lihat Semua