logo text

Bab 49 Bandara

Bab 49 Bandara
Masalah viralnya foto-foto dengan Kanaya membuat ia benar-benar sibuk. Ia harus mengurus ke bebera situs dan akun agar foto tersebut berhenti beredar. Belum lagi persoalannya yang baru saja mundur dari perusahaan. Mencipta berbagai polemik baru yang menyita materi, waktu juga pikiran.
“Huh ….” Bima mengembus napasnya yang berat.
Dipijatnya pelipis berharap rasa sakit di kepalanya bisa berkurang. Namun semua terasa sia-sia tak ada yang dapat menghiburnya kecuali kehadiran Kanaya. Ya Kanaya, ia sangat merindukan wanita itu.
Saking sibuk urus ini itu, Bima belum sempat bertemu lagi bahkan komunikasi visa telpon pun tidak.
Apa kabarnya kamu? Hati Bima bertanya seraya memandang nama kontak bernama Yaya.
Yaya adalah panggilan kesayangan Bima untuk Kanaya, tetapi tidak ada satu pun orang yang tahu selain dirinya.
“Telepon enggak? Telepon … enggak.” Bima terus menimbang apakah ia harus meneleponnya lebih dulu atau tidak.
Telpon sajalah. Daripada urat-uratku terus menegang tidak karuan. Setidaknya mendengar suaranya saja sudah meringkan beban pikiran ini. Entah kenapa aku selalu bersemangat saat mendengar suaranya? Hati Bima terus bicara sebelum akhirnya panggilan tersambung.
Klik.
“Hallo,” sentak Kanaya begitu keras di gendang telinga. “Ngapain sih lu telpon-telpon gue? Ganggu saja!” lanjutnya sukses membuat Bima menganga.
“Oh ma-maf, kalau saya sudah mengganggu,” sesal Bima setelah hampir tercekat di kerongkongan karena terkejut dengan reaksi wanita yang sangat dirindukannya itu.
Kesadaran Kanaya seketika terkumpul dengan mata membeliak saat menaydari kalau yang menelepon adalah Bima, orang yang sangat ia tunggu akhir-akhir ini.
Aduh, Bima? Rupanya dia yang menelepon. Seru hati Kanaya seraya memastikan nama kontak yang tampak di layar ponsel.
Ia segera duduk, lalu merapihkan rambut dengan jari jemari seolah Bima melihatnya, padahal hanya panggilan telpon biasa.
“Ekhm,” deham Kanaya seperti tengah mengatur nada suara. “Eh, Bi--,” lanjutnya terhenti karena sambungan terputus.
Ih kok dimatiin. Dengkus Kanaya dalam hati.
Bima di tempat berbeda pun bertanya-tanya kenapa Kanaya terdengar marah sekali saat ditelepon dan kenapa panggilan diputus? Mungkin sinyal cinta keduanya membuat sinyal telpon seluler merajuk karena cemburu. Eh, apaan sih? Enggak nyambung.
Walau merasa gengsi, Kanaya akhirnya memutuskan untuk menelepon balik. Akan tetapi operator malah bilang kalau nomer yang sedang dituju sedang sibuk. Pasalnya Bima berpikiran kalau Kanaya memang masih marah gegara ia menemui Anna dan Alya tempo hari tanpa izin. Jadi ia memutuskan untuk menelepon orang lain saja terkait pekerjaan.
“Yah, dia kayaknya marah karena aku tadi membentak. Sensitive banget jadi cowok. Padahal aku kan tidak tahu kalau yang telpon dia. Coba kalau tahu, aku pasti menyapa selembut mungkin.” Kanaya bermonolog.
Drett … ponselnya bergetar lagi. Nama Meta muncul lagi memanggil. Kebetulan sekali Kanaya butuh seseorang untuk melampiaskan rasa jengkelnya lantaran Bima tidak mau angkat telpon yang padahal memang berada di jaringan lain.
“Hallo, kampret lu. Gara-gara lu, Bima jadi salah paham. Gue pikir tadi yang telpon lu, tahunya dia. Gue bentak-bentak lagi. Dasar apes!” cerocos Kanaya tak berjeda.
“Woi, lu kenapa sih?”
“Masih nanya, gue lagi kesel sama lu.”
“Ih, kesambet nih orang. Kayaknya kamu emang ada main dengan Bima,” tuding Meta membuat Kanaya semakin jengkel.
“Serah lu! Ngapain telpon gue lagi?”
“Justru gue masu kasih tahu lu info penting tentang Bima.”
“Info apa?”
“Gue kasih tahu info penting ini, tapi lu berhenti ngegas ngomongnya.”
“Ya-ya. Info apa?” ulang Kanaya dengan nada melunak.
“Nah gitu dong. Gendang telinga gue kan aman.”
“Iya buruan. Apa infonya?” Kanaya tidak sabar.
“Kata suami gue, Bima itu mau pindah ke luar negri.”
“What?” Kanaya menyentak.
“Dengerin dulu napa? Ya jadi gini, dia kan sudah dipecat dari Emba grup. Nah kebetulan dia ada tawaran kerja di New York. Terus kata suami gue, mantan yang sangat Bima cintai ternyata ada di sana juga. Apa mungkin mereka mau balikan ya?” terang Meta panjang.
Seketika Kanaya mematung. Kabar yang dibawa Meta laksana petir yang menyambar kesadarannya. Ia tak berkomentar dan memilih menutup telpon sepihak seperti yang biasa ia lakukan.
“Ih, lagi-lagi dimatikan. Padahal aku belum selesai ngomong kalau itu hanya baru gossip orang-orang di kantor. Belum tahu kebenarannya seperti apa. Bodo ah!” Meta mendumbel sendiri dan memilih tak peduli untuk konfirmasi kepada Kanaya.
Jarum jam terus berputar setia menemani mata Kanaya yang terjaga semalaman. Ia sungguh tak bisa tidur. Kata-kata Meta terus terngiang-ngiang.
“Apa aku patah hati? Tidak!” Ia bertanya dan menyangkalnya sendiri.
Ia merasa malu karena selama ini menganggap Bima menyukainya. Padahal dari apa yang Meta tuturkan sepertinya Bima sangat mencintai wanita masalalunya. Bahkan ia akan pindah ke luar negri dan pasti hidup bersama dengan mantannya. Begitulah yang terus dipikirkan Kanaya.
Dia juga merasa frustasi dan gengsi jika dirinya tanpa sadar sudah mengharapkan Bima. Meski ia sendiri tidak tahu sejak kapan debaran tak biasa itu terus bertalu-talu di hatinya.
“Apa aku secepat ini move on dari Elang? Kupikir aku akan terus mencintainya. Dulu aku butuh waktu satu tahun untuk mencintai Elang dan sekarang aku habiskan waktu satu tahun juga untuk melupakannya. Semua ini karena kehadiran Bima. Lantas setelah aku patah hati gara-gara Bima, siapa yang akan membuatku melupakannya? Apa Elang lagi? Oh my god!” Kanaya bermonolog dan kepalanya terasa mau meledak.
Mentari terbit.
Suasa sarapan yang sepi. Di hari libur sekolah ini Anna pergi jogging janjian dengan anak tetangga. Sedangkan Alya lagi menyantap roti bakarnya di meja makan. Kanaya gontai berjalan kea rah Alya, lalu menarik kursi untuk diduduki.
“Pagi Mah,” sapa Alya.
“Pagi juga. Hoam ….” Kanaya menguap.
“Mama! Mama kenapa?” tanya Alya terkejut melihat mata panda Kanaya.
“Enggak kenapa-kenapa. Mama hanya mengantuk,” jawabnya lesu.
Kanaya menelengkupkan kedua tangan di atas meja diikuti kepalanya.
“Eh Mama, jangan tidur di sini dong,” protes Alya.
Kanaya tak menjawab. Ia benar-benar mengantuk gara-gara tak tidur semalam suntuk. Alya hanya bisa geleng-geleng melihat kelakuan mamanya yang aneh. Biasanya Kanaya selalu sibuk di tempat kateringnya. Akan tetapi semenjak viras foto-foto itu, pesanan catering pun menurun drastis. Jadi ia lebih banyak santai di rumah. Hanya alam pikirannya yang sibuk. Sibuk membantah perasaannya kepada Bima. Di saat mau mengakui perasaannya secara jujur, malah patah hati.
Kegalauan Kanaya bersaing ternyata dengan kegalauan Anna. Namun putri sulungnya itu tidak pernah memperlihatkan kekacauan. Ia bisa mengatasi perasaannya dengan cukup baik. Ya paling menyibukkan diri dengan olahraga. Olahraga yang sedang ia gemari adalah seni bela diri unik asal Thailan, yaitu Muay thai.
Anna melampiaskan kegalauannya dengan membentuk pertahanan diri. Kegalauan yang membuat patah hati, lantaran cowok yang sudah lama ia taksir baru saja resmi pacaran dengan temannya sendiri.
Kadang puber kedua orang dewasa memang melebihi ABG. Padahal ini baru permulaan Kanaya jatuh cinta lagi.
“Tidak!” racau Kanaya tiba-tiba mengangkat kepala membuat Alya terkejut.
“Mama! Apa-apa sih?” cebiknya kesal.
Tanpa menjawab, Kanaya beranjak kembali ke kamarnya. Ia memutuskan untuk menelepon Bima lebih dulu pagi ini. Tak peduli dengan harga dirinya. Ia harus tanggalkan sebentar demi mendapat penjelasan langsung dari Bima. Setidaknya lelaki itu harus bilang kepada Kanaya kalau akan pindah ke New York.
Pagi-pagi Bima sudah ada di Bandara. Kurang lebih satu jam lagi pesawat akan membawanya terbang. Ia duduk santai sejenak sambil mengecek surel-surel yang masuk. Tiba-tiba nama Yaya menari-nari di layar, lekas ia angkat penuh semangat.
Semoga saja kali ini dia enggak marah-marah. Batin Bima.
“Hallo Bim,” sapa Kanaya lembut langsung membuat senyum terbit di bibir Bima.
“Iya Nay.”
“Eum, kamu lagi dimana?” tanyanya basa-basi.
“Bandara.”
“Apa Bandara?” sontak mata Kanaya membulat.
“Iya di Bandara.” Bima memperjelas.
“Tolong jangan pergi dulu. Tolong tunggu aku sebentar saja. Ok?”
“I-iya. Tapi ada apa?” Bima senang sekaligus bingung.
“Pokoknya tunggu aku. Sekarang juga aku nyusul ke sana.”
Sambungan pun terputus. Bima mematung. Ia berasa mimpi ditelpon Kanaya tiba-tiba dan bilang bahwa akan menemuinya. Padahal jarak ke Bandara lumayan jauh. Tanpa pikir panjang Kanaya segera menyambar kunci mobil dan segera melaju menuju Bandara di Cengkareng.
Kenapa kamu pergi secepat ini? Setidaknya kita harus bertemu walau sebentar. Tega sekali kamu, Bim. Hati Kanaya terus bicara.
Dadanya terasa benar-benar terasa sesak. Ada buliran yang ia tahan agar tidak keluar dan menggenang. Rasa tidak rela di hatinya membuncah.
***

Komentar Buku (253)

  • avatar
    PutriAtika

    bagus banger

    29/07/2025

      0
  • avatar
    MaulanaRina

    bgus

    26/07/2025

      0
  • avatar
    RohatiTiti

    bagus banget

    24/07/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru