Transaksi

Mante Hemilton, pria itu menatap dingin Winter yang berada di hadapannya, pria itu sedikit terkejut begitu mengetahui orang yang menghubunginya dan meminta jasanya adalah seorang gadis yang masih muda.
Mante tidak bisa banyak berkomentar, sudah ada ratusan orang yang datang mengubunginya dalam waktu satu tahun terakhir ini, mereka datang dari berbagai kalangan dan usia. Winter Benjamin bukan satu-satunya anak muda yang menginginkan jasa kejahatan.
Lagi pula, ini bukan urusan Mante, dia datang untuk bekerja sama.
Perlahan Mante menegakan tubuhnya, “Nona Winter, apa tujuan Anda menghubungi kami?”
Tangan Winter mengepal, meremas permukaan roknya dan tertunduk melihat permukaan meja. Winter membuang napasnya dengan kasar sebelum berkata, “Saya membutuhkan jasa Anda.”
“Anda sudah tahu konsekuensinya jika berhubungan dengan kami?” tanya Mante perlahan.
Winter menggeleng, dia menghubungi mafia karena marah yang tidak terkendali. Tujuannya hanya ingin membuat Aurin dan Nathan hancur melalui tangan orang lain karena jika Winter melakukannya sendiri, dia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
“Biar saya beritahu aturan kami jika Anda ingin memakai jasa kami. Pertama, identitas Anda akan di rahasian sampai kapanpun. Kedua, bayaran kami tergantung tugas yang Anda berikan. Ke tiga, jika pekerjaan sudah selesai, semua yang telah terjadi di antara kita harus di lupakan seakan tidak pernah terjadi apapun. Ke empat, jika suatu saat nanti pekerjaan yang kami kerjakan di usut pihak berwajib, kami akan terus menjaga kerahasiaan dan menyelesaikanya sendiri karena pekerjaan itu tanggung jawab kami. Dan yang ke lima, jika Anda melanggar aturan dari apa yang sudah saya katakan barusan, pihak kami memiliki hak untuk menyingkirkan Anda dengan cara apapun.”
Lidah Winter terasa kelu mendengarkan empat aturan sederhana kerja sama, namun rasanya cukup menakutkan untuk dia setujui.
Winter termenung memikirkan semuanya penuh pertimbangan karena dia harus mengantisipasi apa yang akan terjadi di masa depan jika Aurin dan Nathan tahu Winterlah yang sudah mengganggu mereka.
“Bagaimana Nona Winter?” tanya Mante setelah selesai memberi waktu Winter berpikir beberapa menit.
“Saya setuju dengan semua aturannya” jawab Winter dengan suara bergetar.
Jiwa Kimberly yang berada di dalam dirinya merasa was-was namun dia tidak memiliki keinginan untuk mundur meski kemungkinan di masa depan nanti dia akan menemui kesulitan.
“Jadi, apa yang Anda inginkan dari kami?” tanya Mante.
Winter menelan salivanya dengan kesulitan, lidahnya terasa kelu merasa kesulitan untuk berkata-kata. Seumur hidupnya baru kali ini dia memiliki niat dan berencana melakukan tindakan kejahatan. Winter menyadari keinginannya sangat jahat, namun dia tidak ingin berhenti dan hanya menonton para penghianat kehidupan Kimberly Feodora hidup dalam kebebasan.
Winter tidak memiliki kekuatan untuk mengambil apa yang telah orang-orang itu curi karena kini dia berada di dalam tubuh orang yang berbeda, namun dia berhak menghancurkan semuanya karena semua yang di miliki mereka adalah milik Kimberly Feodora.
Winter mengeluarkan dua lembar photo dari tasnya dan meletakannya di atas meja.
Dengan sisa-sisa keberaniannya Winter mengangkat wajahnya dan membalas tatapan Mante, “Aku ingin kalian membakar bar Pentagon malam ini, pastikan hanya bar itu hancur. Namun pastikan tidak ada satupun korban jiwa” ucap Winter seraya menunjuk photo di bar yang sudah dia ambil.
Bulu mata Mante bergerak lembut menatap lembaran photo yang kini dia ambil. “Hanya ini saja?”
“Satu lagi. Beri pelajaran orang ini, jangan sampai terbunuh, sedikit cacat tidak masalah” Winter menunjuk photo Aurin dan Nathan. “Mereka sudah mencuri banyak hal yang sangat besar dari seseorang, aku ingin kau juga mengambil kunci dan berkas seft deposit box. Di dalam kotak itu ada beberapa berlian langka bersama beberapa batang emas, kau harus menjualnya. Setengah dari hasil penjualan itu aku berikan padamu, dan setengahnya lagi berikan pada yayasan juga sekolah milik Kimberly Feodora.”
Mante tercekat kaget, rentetan perintah Winter terdengar cukup keras, namun mustahil hal kejam itu bisa di pikirkan oleh gadis yang baru beranjak dewasa.
Mante tidak percaya, seorang gadis kecil meminta dia melakukan sebuah kejahatan tingkat tinggi. Ini sangat mustahil untuk bisa di terima, namun tatapan Winter yang di penuhi tekad kuat jelas ini adalah sebuah permintaan yang serius.
“Nona Winter, kami tidak pernah menolak permintaan para klien, terkecuali permintaan sebuah pemberontakan pada pemerintah yang sah. Kami memiliki hacker yang handal untuk bisa mengambil harta di dalam SDB yang Anda ceritakan, namun kami membutuhkan alasan yang kuat mengapa Anda ingin kami melakukannya.”
Winter kehilangan kata-kata, dia tidak harus menjawab apa. “Apa itu perlu?”
Mante menyeringai, sorot matanya kian tajam menatap Winter. “Saya tidak akan bertanya alasan di balik permintaan klien jika orang itu sudah dewasa. Namun Anda berbeda, saya harus mengetahuinya alasan yang logis karena semua pekerjaan yang kami kerjakan bukan semata-mata demi uang saja. Anda harus tahu, tidak semua kejahatan di lakukan karena hanya ingin berbuat jahat untuk memenuhi nafsu jiwa, ada banyak orang yang ingin melakukan kejahatan karena balas dendam dan melindungi diri.”
Perkataan Mante membuat jiwa Kimberly merasa gelisah, tiba-tiba hatinya terdorong untuk menjawab. “Aku ingin bersenang-senang saja”
“Saya bisa mengenal karakter seseorang dalam waktu tiga menit, dan saya bisa mengetahui jawaban jujur atau berbohong seseorang,” ejek Mante menyindir Winter karena sudah berbohong.
Napas Winter terasa sesak, ternyata Mante Hemilton seseorang yang sangat teliti. Kini tidak ada alasan lain untuk Winter menjawab berbohong, “Aku akan menjawabnya dengan jujur, tapi biarkan hanya kita berdua yang ada di ruangan ini.”
Mante langsung mengangkat tangannya, memberi isyarat anak buahnya pergi, dengan cepat mereka pergi dan melompat keluar menuju balkon dan menutup jendela menyisakan Winter dan Mante.
Mante yang masih duduk dengan tenang hanya mengetuk-ngetuk ujung jarinya pada permukaan meja, pria itu terdiam menunggu kapan Winter akan berbicara.
Wajah Winter memucat, tangannya gemetar berkeringat dingin. Jiwa Kimberly di landa rasa gugup karena merasakan tekanan kuat yang mendorong dia untuk berkata jujur.
Beberapa kali Winter mengatur napasnya sebelum akhirnya mulai angkat bicara. “Kau mengenal Kimberly Feodora?” tanya Winter dengan hati-hati.
Mante menggeleng tidak tahu.
“Kimberly Feodora adalah super model yang terlibat skandal pembunuhan, dan dia bunuh diri tiga tahun yang lalu. Pemilik bar Pentagon yang sekarang adalah Nathan Manuela dan Aurin, dia adalah manager dan sahabat Kimberly. Bar seharga jutaan dollar itu di beli dari hasil mencuri uang Kimberly Feodora. Dan harta yang terisa di seft deposit box itu adalah milik Kimberly Feodora. Semasa hidupnya, Kimberly tidak bisa mengambilnya karena Nathan mengambil semua kunci dan berkasanya. Bank tidak akan mungkin menyerahkan harta di dalam box itu kepada orang yang bukan ahli waris.” Winter berhenti berbicara karena sesak dan kesulitan memberitahu semuanya.
Kening Mante mengerut samar karena Winter bercerita seperti seseorang yang begitu tahu semuanya. “Bagaimana Anda tahu Kimberly Feodora tidak mencantumkan ahli waris?” tanya Mante menguji.
“Kimberly Feodora mencantumkan sekolah dan yayasan yang dia bangun menjadi ahli waris karena dia sangat memikirkan anak-anak yang kurang beruntung untuk tetap bisa mendapatkan pendidikan yang layak sampai mencapat usia dewasa.”
“Bagaimana Anda tahu semua ini?”
Mendadak mata Winter memanas, hatinya bergetar hebat, napas Winter langsung tersendat-sendat karena mendadak merasakan perasaan sakit, sedih, kecewa dan marah mengusai hatinya.
“Karena aku Kimberly Feodora yang meninggal tiga tahun lalu,” lirih Winter terdengar begitu menyakitkan.
Tiba-tiba air mata yang luruh terjatuh membasahi pipinya. Ini untuk pertama kalinya Winter memberitahu seseorang, sebuah rasa percaya yang begitu kuat tiba-tiba mengikat dirinya pada Mante, karena itu Winter mau berbicara.
Winter tahu apa konsekuensinya mengakui kebenaran itu, mungkin ini bahaya untuknya atau sebaliknya, Mante Hemilton menertawakan pengakuan konyolnya.
Mante terbelalak kaget, dengan cepat pria itu kembali bersikap biasa meski apa yang dia dengar tidak masuk akal, namun Mante tidak melihat sedikitpun kebohongan di mata Winter saat menjawabnya.
“Itu sudah cukup,” jawab Mante seraya membungkuk memberikan sapu tangannya agar Winter menghapus air matanya.
Mante Hemilton tidak memberikan reaksi seperti apa yang Winter bayangkan.
“Kau percaya padaku?” tanya Winter bingung.
“Jika Anda bukan Kimberly. Tidak mungkin Anda bertindak sejauh ini untuk orang asing yang tidak memiliki hubungan apapun dengan Anda,” jawab Mante terdengar singkat namun begitu dalam seakan dia memahami perasaan Winter.
“Jika aku mengakui ini kepada orang lain, mungkin mereka akan mengatakan aku orang gila,” bisik Winter berandai-andai.
“Anda benar. Namun terkadang, ada sebuah kebenaran yang tidak logis dan tidak bisa di buktikan dengan ilmu pengetahuan.”
Winter tercekat kaget mendengarkan jawaban bijaksana Mante Hemilton, perlahan Winter mengusap air matanya dengan sapu tangan itu. Ketegangan dan rasa takut di dalam diri Winter perlahan berkurang.
Mante menarik ujung lengan jaketnya dan melihat ke arah jam, pria itu segera melihat Winter lagi.
“Jadi, Nona Winter, Anda setuju akan memulai kesepakatan sekarang?”
“Itu benar,” jawab Winter terdengar penuh tekad.
Dengan cepat Winter meletakan tas yang di bawanya di atas meja dan membukanya agar Mante melihatnya. “Seratus ribu dollar untuk membakar bar. Untuk masalah seft deposit box, kita akan membahasnya di pertemuan selanjutnya.”
Mante mengangguk pelan terlihat tidak memilki perkataan apapun lagi yang perlu di bahas dengan Winter Benjamin.
“Baik, kami akan memberi kabar besok pagi. Jika Anda tidak mendapatkan kabar, lihat saja berita.”
Dengan senyuman lega Winter mengangguk setuju.
Mante mengangkat tangannya dan mengajak besalaman untuk memulai kesepakatan yang sah. Winter segera membalasnya dan menggenggam tangan Mante dengan kuat.
***
Winter berdiri di depan panthouse Marvelo, kegalauan di hatinya setelah bertemu Mante Hemilton membuat dia bingung untuk pergi ke mana, dan di sinilah dia sekarang, berdiri di depan panthouse Marvelo, seseorang yang akhir-akhir ini dia kenal.
Winter memutuskan datang menemui Marvelo karena kini hanya pria itu yang sedikit bisa Winter percaya untuk bisa dia temui dalam keadaan apapun.
Meski sudah bertemu Mante Hemilton dan meminta bantuannya, rupanya Winter masih merasa gelisah dan sedih tergiang-giang bayangan kenyataan bahwa Nathan dan Aurin adalah penghianat kehidupan Kimberly Feodora.
Hati Winter sangat sakit sampai membuat dia ingin merintih di setiap hembusan napas yang dia lewatkan.
Winter berjinjit, dia menekan bel beberapa kali sampai Marvelo membuka pintu.
Pria berdiri di depan pintu, melihat penampilan Winter dari ujung kaki sampai ujung rambutnya. Kening Marvelo mengerut, melihat wajah Winter yang berantakan dan mata yang sembab karena terlalu banyak menangis.
“Kau kenapa?” tanya Marvelo bingung. Seharusnya hari ini Winter berpesta karena sudah lolos audisi, bukan bersedih seperti seseorang yang putus asa.
Winter mengangkat sebotol minuman yang di bawa. “Minum bersamaku,” ajaknya dengan suara yang serak.
Marvelo langsung membuka pintu, tidak ada penolakan seperti biasanya yang dia lakukan untuk malam ini. Tidak hanya Winter saja yang mengalami malam buruk, Marvelo juga sedang mengalaminya.

Komentar Buku (99)

  • avatar
    Kris Biantoro

    Kimberly masuk ke tubuh Winter dan berhasil mengubah hidup Winter menjadi sukses dan bahagia.

    03/09/2023

      2
  • avatar
    Enia

    bagus banget ceritanya

    15/05/2022

      0
  • avatar
    FitriFitri

    kak kirian awal baca ni novel udh tamat,eh ternyata blm jd kapan kelanjutan nya🥰

    23h

      0
  • Lihat Semua

Selesai

Rekomendasi untuk Anda