Beranda/Pembalasan Winter/
Marius dan Kehidupannya
Dalam lorong yang cerah, dinding-dinding kaca besar dan indah membuat sinar matahari menerangi setiap sudut ruangan. Marius menggerakan kursi rodanya dan berjalan sendirian. Pria itu mengenakan pakaian yang formal sore ini, namun ekspresi di wajahnya terlihat tegang terlihat tidak begitu terlepas seperti biasanya.
Marius menegakan punggungnya begitu dia sampai di depan pintu besar yang langsung di sambut oleh dua orang sekretaris yang terlihat sangat mengenali dirinya. Kedua sekretaris itu langsung membungkuk memberi hormat melihat kedatangan Marius dan segera membantu membuka pintu.
Marius tetap menunjukan ekspresi dinginnya yang tidak terbaca.
Kursi roda yang di dudukinya bergerak melewati pintu, Marius masuk ke dalam sebuah ruang besar yang menjadi ruangan kerja.
Kedatang Marius ke ruangan itu membuat Levon, ayahnya Marius yang semula sibuk berbicara dengan seseorang di handpone langsung mengakhiri perbincangannya.
Tanpa memberi salam, Marius menggerakan kursi rodanya lagi dan berdiam diri di depan meja kerja Levon. Marius datang karena mendapatkan panggilan begitu banyak dari Levon yang meminta dirinya untuk menemuinya ke perusahaannya. Karena itulah Marius datang.
Marius tidak akan pernah datang ke ke rumah maupun perusahaan ayahnya jika bukan karena paksaan yang bertubi-tubi.
Levon membalikan kursi yang di dudukinya dan menatap Marius dengan seksama. Sudah lama mereka tidak bertemu, meski hubungannya dengan Marius tidak baik, namun Levon tidak pernah berhenti memperhatikannya.
Levon segera beranjak dari duduknya mengitari meja dan duduk di sofa, pria itu sedikit tersenyum melihat puteranya yang sudah hampir dua bulan ini tidak dia lihat secara langsung.
Levon merasa sangat senang setiap kali Marius datang kepadanya meski harus dengan paksaan, namun hanya itu satu-satunya cara Levon bisa bertemu dengan puteranya. Di luar itu, Levon tidak bisa bertemu Marius karena Jenita tidak mengizinkannya, begitu pula Marius yang tidak menginginkan Levon menyapa dirinya di depan umum apalagi datang ke rumah pribadinya.
“Apa kabar?” tanya Levon mendahului, Levon tahu jika Marius tidak akan bersuara sedikitpun jika dia Levon yang lebih dulu mengajaknya berbicara.
“Seperti yang kau lihat” jawab Marius dengan tenang dan hanya melihat ke sebuah figura photo dirinya semasa kecil tengah di gendong Levon. Photo itu, menjadi photo yang satu-satunya di pajang di meja kerja Levon.
Marius tersenyum ironis, sikap Levon seperti seorang ayah yang sangat baik karena hanya memajang satu-satunya photo Marius di tempat kerjanya. Apa yang Levon lakukan tidak akan pernah bisa menyentuh hati Marius sedikitpun, bahkan meski Levon memajang photonya di seluruh dunia dan membiarkan semua orang tahu bahwa Marius adalah puteranya.
“Aku dengar sekarang kau mulai latihan berjalan” Levon angkat bicara lagi.
Kepala Marius bergerak ke sisi, memperhatikan ruangan kerja Levon yang begitu familiar untuknya karena dulu sering dia pakai untuk menjadi tempat bermain ketika Levon sibuk. Menjadi tempat makan siang bersama keluarganya karena Jenita sering mengantarkan bekal ke kantor.
Semua kenangan masa kecil Marius masih tersimpan kuat di kepalanya.
“Hanya latihan” jawab Marius dengan dingin. “Ada kepentingan apa mengundangku kemari?” tanya Marius yang tidak mau bertele-tele.
“Bisakah kau tidak langsung bertanya seperti itu?”
“Aku tidak memiliki waktu banyak” jawab Marius singkat.
“Kita akan membicarakannya nanti, setelah semua keluarga kita berkumpul.”
Seketika Marius menatap Levon dengan tajam. “Tapi aku bukan bagian dari keluarga ini.”
“Berhenti beromong kosong Marius!”
“Kau yang seharusnya berhenti beromong kosong. Aku sudah mengatakannya ribuan kali, keluargaku hanya ibuku, Kim dan lintasan. Jangan membuatku kesal karena aku tidak mau membuang waktu.”
“Apa kau akan terus semalanya seperti ini padaku? Berhentilah bertindak kekanak-kanakan. Aku menerima semua kemarahanmu, namun ada saatnya kau juga harus menerima semuanya.”
“Aku akan berhenti bertindak kekanak-kanakan jika kau berhenti melibatkaku pada orang-orang yang kau sebut keluarga.”
“Marius. Kau benar-benar.”
“Fuck your familly.” Maki Marius semakin tajam dan tidak menunjukan sedikitpun rasa hormatnya pada Levon. Marius memundurkan kursi rodanya dan segera berbalik pergi.
“Marius!” panggil Levon seraya beranjak. Pria paruh baya itu menatap nanar Marius, puteranya yang kini duduk di kursi roda terlihat begitu menyedihkan. “Aku ingin membicarakan warisan. Tolong duduklah sejenak saja karena kau adalah pewaris perusahaan,” pinta Levon dengan suara lebih lembut penuh permohonan.
Marius menengok, melihat Levon dengan senyuman yang tidak dapat di artikan.
Suara pintu ruangan kerja Levon terdengar bergerak, pintu itu kembali terbuka, Marius yang ingin menjawab ucapan Levon hanya bisa menahan kata-katanya ketika melihat Shanom, ibu tirinya, bersama Sean, adik tirinya.
Sean sedikit terkejut melihat kehadiran Marius yang sudah cukup lama tidak dia temui, dengan cepat Sean menyembunyikan rasa terkejutnya dan tersenyum formal seakan menyambut hangat kehadiran Marius yang selama ini selalu Sean anggap tamu di perusahaan Levon.
“Lama tidak bertemu,” sapa Sean seraya melangkah perlahan mendorong bahu ibunya untuk ikut masuk.
Senyuman yang semula mengukir bibir Shanom menghilang, mata Shanom sedikit bergetar melihat tatapan dingin Marius. “Marius,” panggil Shamon menggantung begitu saja karena tidak tahu harus berkata apa pada Marius.
Alih-alih membalas sapaan mereka, Marius memilih tetap melajukan kursi rodanya dan pergi keluar melewati Sean dan Shanom.
“Marius, berhenti!” pinta Levon dengan sedikit teriakan. “Marius, Ayah mohon! Berhentilah!.” Pinta Levon lagi terlihat bersedih dan kecewa karena Marius tak bergeming dan tetap pergi.
“Biar aku saja yang menghentikannya Ayah.” Sean segera berbalik dan pergi untuk mengejar kepergian Marius yang belum jauh.
“Kenapa kau memanggilnya ke sini?” Shanom langsung bertanya begitu pintu ruangan Levon kembali tertutup.
Levon memijat pelipisnya dengan kuat, pria itu tidak bersuara dan memilih pergi ke meja kerjanya lagi untuk menghubungi pihak keamanan agar menahan Marius bila nanti Marius sudah ada di lobby perusahaan.
“Aku bertanya kepadamu, kenapa kau diam saja?” tanya Shanom menuntut.
“Kau akan tahu jika nanti semuanya sudah berkumpul.”
***
Dalam kesunyian Marius bergerak dengan kursi rodanya, sorot matanya yang dingin menyimpan segunung cerita yang hanya bisa dia simpan di dalam hatinya.
Marius datang menemui Levon karena dia pikir hanya mereka berdua yang akan berbicara serius setelah sekian lama tidak saling menyapa, namun apa yang Marius harapkan tidak terjadi.
Kehadiran Marius di perusahaan mencuri perhatian beberapa orang yang mengenalnya, namun pria itu tidak membiarkan siapapun berani mendekatinya. Marius sibuk dengan dunianya dan bergelut dengan kemarahan-kemaraan yang membuat dia semakin muak untuk berada di perusahaan, tempat yang dulu begitu sangat dia banggakan.
Kini kebanggan itu sudah hilang seperti bayangan yang berada dalam kegelapan.
“Marius” panggil Sean dengan cukup keras. Sean berjalan dengan cepat mengejar kepergian Marius yang tetap bergerak menjauh. “Marius, tunggu!” panggil Sean lagi.
Marius langsung membalikan kursi rodanya dan melihat Sean yang berjalan dengan cepat kerahnya.
Kedua pria itu akhirnya saling berhadapan dengan cara yang mencolok. Bahkan meski hanya dari bayangan saja, semuanya sudah berubah.
Dulu, saat mereka saling berhadapan, lukisan bayanganpun sudah bisa menunjukan betapa kuatnya mereka berdua.
Namun kini sudah berubah..
Sinar matahari sore yang menembus jendela-jendela gedung perusahaan menyoroti mereka berdua dan menciptakan bayangan di dinding. Bayangan itu terlihat menyedihkan karena Marius, pria yang dulu begitu sempurna kini duduk di kursi roda dan berhadapan dengan adiknya yang berdiri dengan kedua kakinya.
Ketegangan langsung tercipta di antara mereka berdua, kedua pria itu menyimpan rasa benci masing-masing di hati mereka terhadap satu sama lainnya.
Langkah Sean terhenti dengan menyisakan jarak sedikit jauh dari Marius. Tubuh Sean menegak, pria itu berdiri dengan kesombongan sambil memasukan tangannya ke dalam saku celana.
Sean tersenyum sinis, menatap Marius dengan penuh rasa kasihan. “Kenapa kau pergi begitu saja? Kau tidak lihat ayah sangat sedih karena kelakuanmu itu?” tanya Sean dengan nada dinginnya.
“Aku pergi, ataupun tidak. Itu bukan urusanmu.”
“Berhentilah menghindari pertemuan keluarga, semakin banyak kau menghindar kau semakin terlihat seperti pecundang yang menyedihkan,” cemooh Sean dengan sedikit decihan kesalnya. “Aku tidak menyukaimu, tapi aku tidak pernah menghindari perkumpulan keluarga kita. Jadi lakukanlah seperti apa yang aku lakukan, jika kau tidak bisa berjalan sepertiku, maka menurut saja sepertiku yang tidak pernah menghindar dari perkumpulan keluarga. Kau paham kan?.”
Tangan Marius terkepal, rahangnya mengeras kuat dengan gigi yang mengatup kuat. Hinaan Sean membuat harga diri Marius begitu terinjak sampai ke dasar.
“Kenapa kau diam? Kau masih membenciku karena kematian Kimberly?” Tanya Sean dengan nada dinginnya dan senyuman meremehkan yang terlukis di bibirnya.
Sean, dia adalah mantan kekasih Kimberly yang sudah membuat Kimberly menuju pada jurang kehancuran hingga bunuh diri.
Tangan Marius kian terkepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih dengan gigi yang saling mengerat. Marius masih bisa mengontrol diri setiap kali Sean menyerang dirinya, namun Marius akan kehilangan kendali setiap kali Sean memanggil nama Kimberly di hadapannya.
“Berhentilah membenciku, karena kita sudah tidak lagi memperebutkan sesuatu lagi” ucap Sean lagi yang mengisyaratkan betapa seriusnya persaingan mereka dulu karena seorang Kimberly Feodora.
“Kau” panggil Marius yang mulai angkat suara. “Semakin kau banyak bicara. Aku semakin melihat kekuranganmu dan rasa tidak percaya dirimu untuk bersaing denganku.”
Tangan Sean langsung terkepal begitu kuat, rahanganya mengetat seketika, dalam dua langkah pria itu mendekat lebih dekat dengan Marius. “Aku tidak tidak takut bersaing dengan pria lumpuh sepertimu” hina Sean.
Tubuh Sean membungkuk mendekatkan wajahna dengan Marius, keduanya saling menatap tajam memperkuat permusuhan yang terjadi.
“Bagiku kau sudah mati. Kepergian Kimberly, sama saja dengan kematianmu,” hina Sean lagi menghacurkan mental Marius. Sean langsung berdiri lagi dan berbalik, sekilas dia melihat Marius yang terlihat sangat marah kepadanya. “Berhentilah menghindariku dan keluarga kita. Meski kini kau bukan siapa-siapa, maka berhentilah semakin mempermalukan dirimu seperti sampah yang tidak berguna.”
Marius menarik napasnya dengan sesak mencoba mengendalikan kekesalannya dan bersikap tenang untuk bisa lebih rasional. “Kau terlalu percaya diri” jawab Marius dengan penuh tekanan.
Marius menggerakan kursi rodanya mendahului Sean, pria itu mengurungkan niatnya untuk pergi dan memilih untuk kembali ke ruangan kerja Levon, tempat keluarganya berkumpul meski perkumpulan itu sangat menyesakan dan membuatnya tidak nyaman.
Kedatangan Marius yang kembali ke ruangan membuat Levon merasa lega meski dia tahu kehadiran Marius kembali ke meja adalah sebuah keterpaksaan. Akan tetapi, Levon tetap merasa bersyukur karena kini Marius bisa mendengarkan semua yang ingin dia sampaikan kepadanya.
Sean langsung duduk di samping Shanom. Sementara Marius berada di sebrang. Levon sendiri terlihat langsung menghubungi seseorang melalui pesan singkatnya.
Levon langsung duduk di tengah-tengah keluarganya.
“Bagaimana kabarmu Marius?” tanya Shanom dengan senyuman memaksakan.
Marius sedikit mengangkat wajahnya dan membalas senyuman Shanom. “Seperti yang kau harapkan. Masih lumpuh tidak bisa berjalan” jawab Marius dengan kasar.Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (99)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
Kimberly masuk ke tubuh Winter dan berhasil mengubah hidup Winter menjadi sukses dan bahagia.
03/09/2023
2bagus banget ceritanya
15/05/2022
0kak kirian awal baca ni novel udh tamat,eh ternyata blm jd kapan kelanjutan nya🥰
8d
0Lihat Semua