Kakak Marvelo

“Jika kau melewati masa mudamu dengan hal-hal baik saja, kau tidak akan memiliki kenangan yang berharga” jawab Winter terlampau tenang.
“Berhenti beromong kosong. Sejak kapan kau merokok?.”
“Memangnya apa urusanmu?” tanya balik Winter dengan senyuman lebar. “Hah.. sayang sekali” Winter menghela napasnya terlihat panjang.
Perlahan Winter membungkuk, gadis itu merongoh sesuatu dari bawah bangku yang di dudukinya, Winter mengambil sebatang rokok bersama pemantik yang terbungkus kertas.
Winter sengaja menyimpannya di sana karena hanya itu sisa rokok yang dia miliki dari Marius.
Dengan tenang Winter mengambil pemantik dan menyalakannya, tanpa ragu dan berpikir dua kali, Winter langsung merokok di hadapan Marvelo, dengan sangat pandai Winer mengisap rokok itu dan membuang kepulan asap dari mulutnya.
Beberapa kali Marvelo berkedip, dia masih tidak percaya, Winter yang polos, lembut dan tidak pernah macam-macam, kini merokok di hadapannya.
Winter tidak hanya merokok biasa..
Dia merokok dengan gaya dan sangat pandai, cara dia merokok memperlihatkan jika ini bukan untuk satu atau ke dua kalinya Winter merokok. Namun sering.
Perubahan Winter sudah terlampau sangat jauh.
Ini tidak bisa di biarkan.
Begitu kesadarannya kembali sepenuhnya, Marvelo langsung merebut rokok yang sudah beberapa kali Winter hisap.
“Sialan Winter, hentikan!” maki Marvelo marah besar.
“Apa yang kau lakukan!” Winter marah karena rokok pereda ketegangan yang baru beberapa kali dia hisap di rebut Marvelo.
“Menghentikan kegilaan dan kenakalanmu! Kau sudah sangat berlebihan dan terlalu jauh berbuat hal yang buruk” jawab Marvelo seraya melemparkan rokok itu ke lantai dan menginjaknya beberapa kali.
“Kau yang berlebihan. Brengsek, dasar sialan. Jangan ikut campur urusanku!” Winter kian marah dan menarik tangan Marvelo.
“Jaga ucapanmu Winter” Marvelo ikut tersulut emosi karena Winter berkata kasar ketika di beritahu.
“Ucapan apa huh?” Winter menarik kerah baju Marvelo dan merangseknya dengan berani meski kaki Winter sendiri harus benar-benar berjinjit untuk bisa sedikit terlihat lebih tinggi.
“Kau sudah benar-benar gila Winter, apa ini perubahan yang ingin kau tunjukan kepada dunia? Gadis kasar pemberontak aturan? Kau pikir itu membanggakan hah?”
“Fuck you” hardik Winter tepat di depan Marvelo.
Rahang Marvelo mengeras, kali ini dia menahan ucapannya sendiri untuk tidak membalas kekasaran Winter.
Suara pintu yang terbuka di belakang mereka terdengar, membuat pertikaian kecil yang baru saja di mulai di antara Winter dan Marvelo terhenti, keduanya langsung melihat ke arah pintu.
Charlie yang baru naik ke atap terlihat bingung dan ragu, gadis itu memegang daun pintu dan melihat Marvelo bersama Winter bergantian yang terlihat seperti sedang bertengkar hebat.
Perlahan Winter melepaskan cengkramannya dan menjauh dari Marvelo yang kini mematung melihat Charlie yang memutuskan untuk menutup pintu dan mendekat.
Charlie bersedekap dan menatap tenang Marvelo dengan Winter bergantian, gadis itu sudah mendengar suara teriakan keduanya sejak sebelum pintu terbuka.
Pandangan Charlie langsung tertuju kepada Marvelo yang menatap dirinya dengan dingin. “Apa yang kalian lakukan? Jangan berisik saat bertengkar.”
“Kita tidak bertengkar. Hanya sedikit adu mulut” jawab Winter.
“Untuk apa kau ke sini? Di sini gedung kelasku.” Marvelo membuka suaranya dengan kata-kata yang tidak bersahabat kepada Charlie.
Charlie langsung berdecih dan membuang mukanya terlihat kesal dengan ucapan Marvelo.
“Panggil aku kakak, sialan.” Charlie tiba-tiba memarahi Marvelo.
“Kakak?” tanya Winter dengan bingung.
“Dia Kakakku” jawab Marvelo dengan dingin.
“Kandung?”
“Sialnya benar,” jawab Charlie dengan decihan kesalnya seakan dia merasa cukup terpaksa memiliki adik kandung seperti Marvelo.
Winter menganga seketika. Apa yang dia dengar terlalu mengejutkan dirinya, namun begitu Winter memperhatikan wajah cantik Charlie dan wajah tampan Marvelo yang memiliki banyak kesamaan, dengan terpaksa Winter mempercayainya.
Charlie semakin mendekat, menatap Marvelo dengan tajam. “Sekarang kau mengakuiku sebagai kakakmu?” tanya Charlie pada Marvelo.
“Tidak” jawab Marvelo dingin.
“Adik terkutuk,” balas Charlie yang langsung melengos pergi ke sisi lain atap gedung.
“Tunggu!” Kemarahan Winter langsung mereda, di lihatnya Charlie dan Marvelo bergantian. “Kalian tidak akan menceritakan apapun kepadaku?” Tanya Winter meminta penjelasan mengenai hubungan Marvelo dan Charlie.
Marvelo langsung merapikan pakaiannya yang sedikit kusut karena Winter. “Untuk apa aku menceritakannya padamu?.”
“Karena kita teman semasa kecil!”
Charlie yang semula bersikap acuh langsung membalikan tubuhnya dan menatap Winter dengan ekspresi tidak percaya. Charlie tidak percaya, anak kecil yang dulu begitu cantik itu kini telah berubah begitu jauh.
Charlie ingat, dulu sewaktu kecil, Marvelo sering menceritakan teman perempuannya dan menunjukan banyak photo gadis kecil itu. Mengejutkan untuk Charlie begitu mengetahui jika ternyata orang itu adalah Winter Benjamin.
“Apa yang ingin kau tahu?” tanya Charlie.
***
Winter bersedekap, melihat Charlie dan Marvelo bergantian. Kedua orang itu saling menatap penuh permusuhan dan saling membelakangi, dan kedua orang itu adalah adik kakak, kandung!.
Sangat mengejutkan.
Tidak ada banyak orang yang tahu jika Charlie dan Marvelo adalah saudara kandung, Charlie sangat terkenal di sekolah, namun Marvelo menutup diri dari apapun yang bisa membuat dirinya mencolok, meski pada akhirnya Marvelo selalu menjadi pusat perhatian karena ketampanan dan kecerdasannya.
Charlie dan Marvelo bersikap seperti orang asing di hadapan semua orang, karena itulah tidak ada yang mengetahui jika mereka bersaudara.
Lantas, jika semua orang tidak mengetahui bahwa Charlie dan Marvelo saudara kandung. Apakah Winter yang asli juga tidak tahu?.
“Bagaimana bisa kalian bersaudara?” tanya Winter.
Secara bersamaan Charlie dan Marvelo melihat ke arah Winter.
Dengan seksama Winter melihat keduanya, tidak begitu mengejutkan jika mereka bersaudara. Charlie sangat cantik, dan Marvelo sangat tampan.
Mereka memiliki garis wajah yang sama, warna bola mata yang serupa.
“Saat usiaku dua tahun, perusahaan ayah kami bangkrut, aku harus pergi ke Leiden dan tumbuh di sana dengan kakek nenekku. Kami kembali bertemu dan bersama lagi setelah Marvelo berusia sepuluh tahun” jawab Charlie menjelaskan.
“Dan kenapa kalian menyembunyikan hubungan kalian?”
“Dia” Charlie menunjuk Marvelo yang memunggunginya. “Dia tidak pernah mau menghormatiku sebagai kakaknya.”
“Aku tidak kaget dengannya” jawab Winter dengan senyuman lebarnya. “Kau punya rokok?” tanya Winter tanpa sungkan kepada Charlie.
Charlie mengeluarkan pave. “Hanya ada ini.”
“Tidak masalah.”
Marvelo yang semula diam dan tenang mulai panik melihat Charlie dan Winter yang langsung meninggalkan dirinya dan memilih untuk berdiri di ujung atap sekolah sambil menghisap pave.
Keberuntungan semakin datang pada Winter, tidak hanya dapat meredakan dan membungkam masalah yang sering terjadi selama ini. Kebenaran mengenai Charlie adalah kakak kandung Marvelo semakin memudahkan Winter untuk bisa masuk ke dalam kalangan orang-orang populer di sekolah.
***
Marius menggerakan kursi rodanya melewati beberapa orang yang berjalan ke arah berlawanan, beberapa kali pria itu berhenti di depan kelas-kelas latihan dan gym tempat biasa Winter berada.
Hari ini gadis itu tidak datang.
Entah ke mana dia.
Marius diam termenung, beberapa hari ini dia terus teringat sosok Winter yang kadang mengganggu dan membuatnya kesal karena gadis itu suka berbicara sembarangan, namun di saat Marius tidak melihatnya, dia merasakan sebuah kerinduan yang tidak dapat di jelaskan.
Marius bingung karena tidak tahu apa yang dia rindukan dari Winter, yang pasti Marius ingin banyak berbicara dengan gadis itu.
Dengan berat hati Marius kembali ke ruangan terapinya dan kembali berlatih.
Beberapa dokter dan temannya cukup di buat kaget karena Marius berinisiatif ingin berlatih berjalan usai beberapa jam bertemu dengan psikolog.
Tidak ada yang tahu, keinginan Marius muncul usai Winter mengatakan sesuatu yang cukup dalam dan jujur kepada Marius.
Perkataan Winer sangat mempengaruhi pola pikir Marius.
Tidak peduli seberapa kasarnya Winter Benjamin ketika berbicara. Satu hal yang pasti, kata-kata yang Winter ucapkan, nyatanya bisa mengubah pemikiran Marius yang selama ini selalu berkubang dalam kesedihannya.
Kejujuran Winter dalam mengomentari Marius membuat Marius pada akhirnya mau mengevaluasi dirinya sendiri dan akhirnya memutuskan sesuatu yang mengejutkan.
***
Tumpukan buku berserakan di di lantai dan ranjang, usai beberapa jam ini Winter menghabiskan waktunya untuk belajar secara marathon. Hal ini akan menjadi momentum bagi dia membuktikan diri bahwa dia adalah orang yang cerdas dan akan menyusul ketertinggalannya yang begitu jauh hingga namanya berada di barisan paling bawah.
Rasa lelah setelah melewati yang penuh dengan drama dan belajar membuat Winter tidak kuat untuk pergi berolahraga.
“Winter. Apa aku boleh masuk?” Suara Vincent terdengar di luar bersamaan dengan ketukan di pintu.
“Masuklah.”
Kedatangan Vincent ke dalam langsung di sambut oleh suasana kamar yang berantakan, Vincent segera mengambil beberapa buku dan kertas di lantai sambil sesekali melihat ke arah Winter untuk memastikan bahwa adiknya baik-baik saja usai melewati hari yang berat.
Tiga hari lagi, Vincent harus segera kembali ke Manchester. Berat untuk Vincent pergi karena dia sudah mulai merasa bahagia dan mendapatkan kembali kehangat keluarganya yang sempat hilang.
Winter adiknya sudah berubah, Vincent merasa bahagia di kota Loor.
Usai merapikan semua buku, Vincent duduk di sisi ranjang, memperhatikan Winter yang diam terlentang meredakan rasa lelah yang menderanya.
Tidak hanya sifatnya yang berubah, tubuh Winter juga perlahan berubah, dan hal yang paling membahagiakan Vincent adalah Winter tidak pernah mengeluh sakit lagi.
“Winter, apa kau butuh sesuatu?” tanya Vincent hati-hati. Biasanya, Winter akan histeris dan membutuhkan obat penenang setiap kali berhadapan dengan orang-orang banyak dan menjadi pusat perhatian.
Karena itu, ketika Vincent mendengar Winter kembali mendapatkan perundungan, hal yang pertama Vincent lakukan adalah menelpon dokter.
“Aku baik-baik saja” jawab Winter dengan tenang, “Terima kasih sudah berada di sampingku.”
“Aku harus kembali ke Manchester.”
“Tidak apa-apa. Segeralah kembali lagi ke sini dalam keadaan baik-baik saja.”
“Aku sangat senang dengan perubahanmu, tidak peduli apa yang di katakan orang lain.” Aku Vincent seraya mengusap lembut kepala Winter, tatapan hangat di mata Vincent membuat jiwa Kimberly bergetar hebat karena baru merasakan kehangatan sebuah keluarga.
“Boleh aku memelukmu?” tanya Winter, murni keinginan dari jiwa Kimberly yang selama ini selalu kesepian.
Tanpa berkata, Vincent langsung membuka lebar tangannya dan membuat Winter segera bergerak bangun, memeluknya dengan erat.
Vincent adalah kakak Winter. Namun bagi jiwa Kimberly, Vincent adalah adiknya karena usia lebih muda tiga tahun darinya.

Komentar Buku (99)

  • avatar
    Kris Biantoro

    Kimberly masuk ke tubuh Winter dan berhasil mengubah hidup Winter menjadi sukses dan bahagia.

    03/09/2023

      2
  • avatar
    Enia

    bagus banget ceritanya

    15/05/2022

      0
  • avatar
    FitriFitri

    kak kirian awal baca ni novel udh tamat,eh ternyata blm jd kapan kelanjutan nya🥰

    1d

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru