Beranda/Pembalasan Winter/
BAB 30: Rindu Masa Lalu
“Apa yang kau inginkan?” Tanya Marvelo samar, hatinya yang keras mendadak lunak karena sebuah harapan Winter bisa menepati apa yang sudah dia ucapkan.
Mendadak Winter tersenyum lebar. “Beritahu aku apa yang terjadi sebelum aku tidak sadarkan diri di atap gedung.”
“Jangan harap!” tolak Marvelo tanpa keraguan.
“Kalau begitu kenalkan aku pada anak-anak populer di sekolah!”
“Aku akan memikirkannya” jawab Marvelo terdengar lebih tenang, pria itu segera beranjak dan pergi meninggalkan Winter sendiri. Marvelo akan lebih memilih memperkenalkan gadis itu kepada anak-anak populer di sekolah di bandingkan harus menunjukan dan memberi tahu apa yang telah terjadi sebelum Winter di temukan tidak sadarkan diri.
Melihat kepergian Marvelo yang masuk ke dalam kapal membuat Winter ikut turun dari tempat duduknya dengan kaki yang sedikit bergetar masih kesemutan.
Mereka belum selesai berbicara, namun Marvelo sudah pergi.
Dengan langkah lebar Winter ikut masuk ke dalam kapal melewati orang-orang yang kini tengah bermain billiard sambil berbincang. Winter mengikuti langkah Marvelo yang kini masuk ke dalam kamar.
Tanpa permisi gadis itu langsung membuka pintu, Marvelo yang baru melepaskan pakaiannya hendak tidur langsung tersentak kaget dan sedikit berteriak. “Apa yang kau lakukan Winter!.”
Dengan tenang Winter menutup pintu. “Kita belum selesai berbicara.”
“Keluar.”
“Tidak, aku belum selesai bicara.”
“Tidak sepantasnya kita berdua di kamar.”
Seketika Winter tertawa dan melompat ke ranjang sambil melihat keluar melaui jendea kecil yang memperlihatkan pemandangan indah lautan. “Kau kan gay, kenapa harus malu berduaan di kamar denganku.”
Marvelo langsung bungkam, pria itu mendengus kesal dengan perubahan sikap Winter yang mengingatkan dirinya pada kenangan masa kecilnya saat bersama Winter.
Marvelo terduduk melihat Winter yang menelungkupkan tubuhnya dan melihat keluar.
“Kau ingin bicara apa?” tanya Marvelo terdengar samar.
Kepala Winter bergerak ke sisi, memperhatikan Marvelo dengan serius.
Perutnya tiba-tiba sedikit menghangat. Marvelo terlalu panas untuk seorang pria yang masih remaja. Ototnya yang terbentuk sempurna membuat tubuhnya menjadi atletis, wajahnya yang tampan dan tegas, penampilannya yang rapi ddan irit bicara sangat menggoda jiwa seorang Kimberly.
Sangat di sayangkan pria itu terlalu muda. Winter tidak merasakan getaran apapun selain kagum dengan ketampanan dan tubuhnya.
Winter segera duduk, lalu berkata “Aku ingin mengikuti kompetisi ratu sekolah,” ucap Winter dengan serius.
Reaksi pertama yang Marvelo perlihatkan adalah reaksi kaget, namun di detik selanjutnya dia tertawa meledak merasa terhibur.
Bagaimana bisa Winter merasa percaya diri untuk mengikutinya?.
Tawa keras Marvelo sudah tentu mengejek dan menganggap perkataan Winter bualan semata.
Dengan kesal Winter bergeser, gadis itu duduk di depan Marvelo dan menarik tengkuknya.
Winter marah dengan tawa Marvelo yang mengejeknya karena selama ini dia pikir hanya Marvelo yang memiliki pandangan baik kepada Winter Benjamin.
Tawa Marvelo terhenti begitu wajah, mareka saling berhadapan dengan posisi yang terlalu dekat. Dengan sisa-sisa tawanya Marvelo tidak berkata-kata selain melihat mata Winter yang menatap tajam dirinya dengan penuh kemarahan.
Bibir Marvelo langsung mengatup, menyadari bahwa tawanya melukai hati Winter.
“Lihat aku, apa aku tidak pantas ikut ajang itu?” tanya Winter dengan serius.
Marvelo tidak langsung menjawab, dia berkedip beberapa kali memperhatikan keteguhan di mata Winter, pandangan Mervelo menelisik, memperhatikan anak-anak rambut di pipinya yang selalu merah tertimbun lemak itu, kini sudah tidak begitu terlihat. Wajah Winter terlihat besinar dan segar mengenakan riasan wajah dengan tepat.
Perhatian Marvelo terpaku pada bibir mungilnya Winter yang terpoles pelembut bibir berwarna merah muda.
Mengapa Winter terlihat cantik hanya dengan seperti itu?.
Dengan cepat Marvelo mengembalikan kesadarannya dan menjauh dari Winter. Mendadak wajah Marvelo merah malu, pria itu membuang mukanya dan mengusap tengkuknya beberapa kali.
“Aku tidak berkata bahwa kau tidak pantas ikut” jawab nya kelabakan. “Aku tertawa karena itu terlalu mengejutkanku.”
“Kau terkejut karena aku yang gemuk ini ingin mengikuti kompetisi ratu sekolah?” Sindir Winter dengan decihan kesalnya.
“Maaf.”
Satu kata yang keluar dari mulut Marvelo memadamkan amarah di dalam jiwa Kimberly karena langsung merasakan ucapan tulus Marvelo tanpa berbelit-belit.
“Aku ingin kau mendukungku meski terpaksa. Jika kau mendukungku, orang-orang akan memperhatikanku karena kau terkenal di antara gadis-gadis. Aku tidak akan menerima penolakan apapun, jika kau menolak aku bersumpah akan langsung menyebarkan aibmu.” Ancam Winter dengan tegas.
Winter segera turun dari ranjang dan pergi keluar usai berbicara.
Marvelo terdiam melihat pintu kamarnya tertutup. Pria itu menjatuhkan tubuhnya ke ranjang dan terbaring, perlahan matanya terpejam memikirkan kenangan kecilnya di masa lalu.
***
Dalam kesendirian Winter berjalan menyusuri jalanan, gadis itu melangkah di antara kerumunan banyak orang yang berjalan. Winter mengeratkan coat yang di kenakannya, salju kembali turun membuat banyak orang berjalan dengan cepat agar tidak kedinginan.
Bebeapa kendaraan lalu lalang di jalanan, semua tempat makan terlihat penuh.
Sepulang dari liburan singkatnya, Winter memutuskan berkeliaran pergi menikmati malamnya sendirian dengan berjalan kaki. Menjalani kehidupan sebagai Winter memiliki keuntungan di mana dia bisa bepergian ke manapun tanpa ada yang memberpahtikan dan meminta photo kepadanya.
Kaki Winter bergerak tanpa dia ketahui tujuannya akan ke mana, beberapa kali Kimberly terdiam di depan beberapa toko melihat bayangannya sendiri di depan kaca.
Kepala Winter mendongkak melihat lampu-lampu kota yang di tata dengan cantik berwarna warni, salju yang turun terlihat indah berkilauan. Salju yang turun di malam yang gelap itu samar-samar membuat Winter teringat banyak bayangan yang tiba-tiba bermunculan.
Ada sebuah kesedihan yang entah mengapa mengganggu hatinya.
Jiwa Kimberly gundah tanpa alasan..
Tiba-tiba dia merindukan dunianya yang dulu.
Winter menarik napasnya dalam-dalam, tiba-tiba dia memiliki keinginan untuk pergi ke tempat-tempat yang menyimpan banyak kenangan tentang Kimberly. Feodora.
***
Winter memutuskan memasuki sebuah gedung museum yang katanya museum itu menyimpan barang-barang peninggalan Kimberly. Hati Winter berdegup, sebuah kesedihan membekas di hatinya meski semuanya sudah usai dan kebenaran terungap.
Tidak ada kebencian lagi yang kini orang-orang tunjukan kepada sosok Kimberly. Namun meskipun begitu, meskipun kebenaran sudah terungkap, akan tetapi Winter tetap merasakan sebuah penyesalan yang melekat di hatinya.
Mengapa dulu Kimberly tidak bertahan sedikit lebih lama lagi hingga kebenaran terungkap?.
Jika saja Kimberly tidak memutuskan bunuh diri, mungkin dia tidak akan terjebak dalam tubuh Winter.
Akan tetapi, bagaimana nasib Winter jika gadis itu tidak berubah sama sekali?. Mungkin selamanya Winter akan terjebak dengan hidup sebagai gadis yang naif dan terus menderita di bawah tekanan orang-orang jahat.
Winter manarik napasnya dengan berat, dia meletakan layar handponenya di depan layar pendeteksi khusus tiket masuk. Begitu pintu terbuka, Winter segera masuk.
Suasana tenang terasa sangat damai dalam museum itu. Bangunan yang khas abad pertengahan itu memanjakan pandangan Winter.
Di setiap sudut ruangan tidak ada hentinya menampilkan banyak barang-barang yang berharga yang di simpan dengan baik.
Winter melihat handponenya untuk melihat jalan yang tunjukan secara virtual menuju tempat di mana barang-barang Kimberly di simpan.
Perlahan Winter berhenti melangkah dan berdiri di depan sebuah pagar dengan kaca yang mengelilingnya.
Bayangan tubuh Winter memantul samar di terlihat kaca, gadis itu mendongkak dengan mata yang berkaca-kaca melihat gaun pertama yang dia kenakan di masa lalu saat untuk pertama kalinya mendapatkan sebuah penghargaan kontes kecantikan.
Tanpa sadar, jiwa Kimberly yang tegar dan kuat menjatuhkan air matanya sambil melihat bayangan dirinya sendiri yang sekarang terlihat di kaca.
Dia sudah bukan Kimberly lagi, sekarang dia adalah Winter.
Kimberly sudah tiada..
Tubuh Kimberly sudah termakan tanah, Kimberly hanya meninggalkan barang-barang dan jiwanya yang kini masih berkeliaran.
Winter mengusap air matanya dan tersenyum pedih, gadis itu pergi ke tempat lain melihat buku-buku diarie Kimberly yang terpajang di museum. Winter dapat melihat beberapa buku tulisan Kimberly dan beberapa kertas yang terpajang memperlihatkan tulisan tangan seorang Kimberly di masa-masa terberat dalam hidupnya yang harus menjalani segalanya sendirian.
Kimberly di pecat dari agensy, manager yang memegang keuangannya membawa kabur semuanya, kebencian yang kian membesar dan tumpukan hutang mencekiknya.
Catatan kecil penuh kepedihan di masa-masa terakhir kehidupannya itu tertuang dalam beberapa lembar kertas yang di simpan dengan rapi.
Winter terdiam memperhatikan satu persatu buku diari yang sangat dia kenal.
Beberapa orang yang berada di samping Winter segera dan memberikan Winter kesempatan untuk melihat isi buku.
Winter berdiri di depan dinding yang menyediakan sebuah layar besar. Winter mengusap layar, membaca isi-isi dari diarienya di masa lalu yang pernah dia tulis.
Kimberly yang bermulut pedas menuliskan banyak kata-kata indah dan hangat di bukunya seperti seorang penyair cinta.
Semua kebahagiaan hingga kesedihan yang pernah singgah di hati Kimberly tertuang dalam tinta yang menguntai tulisan.
Setiap kata yang di tulis tersusun penuh makna dan membuat siapapun akan kembali membacanya berulang kali untuk menerka-nerka apa yang Kimberly maksudkan dari balik kata-kata indah dan untaian tulisan cantiknya.
Tulisan di buku itu adalah kebenaran mengenai jiwa Kimberly yang sesungguhnya, dia adalah wanita yang hangat dan lembut.
Jari-jari besar Winter kembali menggeser halaman-halam buku.
Di detik selanjutnya Winter memutuskan menyudahi untuk tidak membacanya lagi.
Kini, gadis itu terdiam kebingungan dan terlihat sedang berpikir untuk mengingat-ingat sesuatu.
Tulisan indah di semua diarie itu memang tulisannya ketika hidup sebagai Kimberly. Namun, mengapa dari beberapa halaman tulisan, Wnter tidak tahu makna dan kejadian dari tulisan yang dia buat di buku diarienya? Apa yang terjadi?.
Mengapa Winter melupakannya?.
Masih dengan kebingungannya, Winter pergi ke sisi lain, melihat lukisan indah yang di buat oleh Kimberly di masa lalu yang dia habiskan lebih dari empat bulan untuk melukisnya.
Winter berdiri di depan lukisan besar yang terpajang itu.
Winter memperhatikan dengan detail untuk merasakan seperti apa dulu tangannya bergerak menyapu kuas yang membawa cat.
Lukisan besar yang terpajang di atas kanvas itu di buat dengan cat minyak, menggambarkan sebuah rumah kuno khas bangunan eropa di abad pertengahan yang tidak terlihat mewah, tidak juga terlihat buruk.
Di depan rumah itu terdapat beberapa taman bermain dengan bangku-bangku panjang untuk berkumpul, pagar rumah terbuat dari kayu bercat putih terlihat berantakan.
Ada anak-anak kecil terlukis di sana tengah bermain, mereka terlihat sangat bahagia. Di lukisan itu terdapat seorang wanita paruh baya berpakaian seorang biarawati tersenyum menumpukan kedua tangannya di tengah perut.
Lukisan itu tidak selesai, ujung kanvas di bawah bagian kanan masih memperlihatkan kanvas yang putih bersih.
Winter melihat tembok marmer yang mengukirkan sebuah tulisan.
Pengabdian Bunda Evelyne dengan cintanya yang tak terbatas.
Terima kasih Bunda, sudah memberikan surga di rumah tempat kami tumbuh.
Panti asuhan ini, dunia kami.
Winter terpaku, pupil matanya bergetar, Winter hanya ingat dengan sosok wanita yang bernama Bunda Evelyne itu, namun dia sama sekali tidak ingat apapun dengan rumah yang di deskripsikan di marmer bahwa itu adalah panti asuhan di mana Kimberly tumbuh.
Mengapa Winter tidak ingat? Apalagi dia yang melukisnya. Mengapa Winter melupakannya?.
Apa yang sebenarnya terjadi?.
Batin Kimberly terus bertanya-tanya mengenai apa yang sebenarnya terjadi.
To Be Continue..Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (99)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
Kimberly masuk ke tubuh Winter dan berhasil mengubah hidup Winter menjadi sukses dan bahagia.
03/09/2023
2bagus banget ceritanya
15/05/2022
0kak kirian awal baca ni novel udh tamat,eh ternyata blm jd kapan kelanjutan nya🥰
3d
0Lihat Semua