logo text

BAB 29: Love & Hate

“Benarkah? Dari sikapmu itu, kau terlihat seperti pria yang suka bilang benci, tapi ternyata cinta.”
“Jaga bicaramu Winter. Kau terlalu besar kepala dan percaya diri. Aku bersikap baik kepadamu karena kasihan betapa menyedihkan dan tidak bergunanya hidupmu” jawab Marvelo dengan sedikit teriakan dan suara yang terbata.
“Tapi kemarin kau terlihat khawatir padaku. Sebenarnya kau memang suka padaku tapi arght_” pegangan Winter pada sisi kapal membuat satu kakinya tidak mampu lagi menopang tubuhnya dan membuat Winter terjatuh ke lantai dengan bokong terlebih dahulu membentur lantai dan satu kaki yang masih berada di sela pagar kapal.
“Lihatlah dirimu, sudah aku bilang. Kau merepotkan.” Komentar Marvelo tanpa berniat membantu.
“Brengsek” bisik Winter mengumpat, merasakan tulang ekornya terasa seperti menembus bokongnya. “Bantu aku!.”
“Tidak mau. Nanti kau akan berpikir aku benar-benar menyukaimu.” Tolak Marvelo. Marvelo langsung beranjak dan pergi ke sisi kapal lain untuk menerima panggil seseorang yang menghubunginya.
Winter mendengus kesal menahan makian lebih keras, dengan susah payah dia melepaskan kakinya dari celah besi, gadis itu perlahan merangkak dan berpegangan pada tiang untuk bisa bangun.
Begitu kembali berdiri, Winter melenturkan kakinya kembali dan mengambil camata renang. Winter menaiki anak tangga kecil dan melihat ke bawah, memperhatikan gerakan air laut yang tenang.
Cuaca hari ini cukup panas, air laut tidak akan membekukan dirinya. Winter akan berenang mengegrakan kakinya, jika perlu sampai kakinya menjadi seperti burung plaminggo.
Tanpa keraguan Winter melompat dan membuat suara ceburan terdengar cukup keras terdengar oleh Marvelo yang kini langsung menurunkan handponenya dan berlari melihat apa yang terjadi.
“Sialan. Dia benar-benar merepotkan.” Marvelo mengumpat kesal melihat bayangan tubuh Winter yang bergerak di sisi kapal menuju tengah.
Tubuh Winter tidak kunjung ke permukaan.
Tanpa berpikir dua kali Marvelo langsung melemparkan handponenya dan melompat dari kapal.
Marvelo melompat hendak membantu Winter karena dia tahu, Winter sangat payah dalam berenang, beberapa kali Winter sering di temukan tidak sadarkan diri karena terlalu takut dengan berenang.
Ada alasan besar dari balik semua ketakutan yang Winter rasakan.
Winter terjerat dalam lingkaran trauma yang kuat.
Kecelakaan semasa kecilnya yang di alami Winter bersama ibunya adalah alasannya.
Dulu, kecelakaan yang di alami Winter dan ibunya membuat mobil yang di tumpangi mereka menabrak sisi tebing dan terlempar dari tebing ke lautan.
Mobil yang mereka tumpangi tenggelam di lautan. Sang sopir meninggal di tempat.
Ibu Winter memutuskan untuk segera berusaha menyelamatkan Winter terlebih dahulu dan mengeluarkannya dari mobil, ketika Winter berhasil keluar, ibu Winter yang masih terjebak di dalam mobil tidak dapat menyelamatkan diri sendiri lagi karena mobilnya tenggelam semakin dalam ke lautan.
Ibu Winter tenggelam ke dalam lautan bersama mobil mereka.
Tubuh Marvelo meluncur terjatuh masuk ke dalam air laut, dengan cepat pria itu bergerak cepat mengejar Winter yang bergerak di bawah laut. Bibir Marvelo menekan menahan napas dengan mata terbuka lebar merasakan sedikit perih air laut.
Di antara bersih dan birunya air lautan, Marvelo melihat Winter yang kian dekat dengannya. Begitu Winter sudah berada di jangkauannya, dengan kuat Marvelo menarik ke atas lengan Winter.
Winter yang sedang asyik berenang melihat ikan-ikan kecil sedikit terkejut karena tiba-tiba sesuatu menarik lengannya. Winter pikir itu adalah ikan besar yang memangsa lengannya.
Kepala Winter terangkat melihat Marvelo yang menariknya dengan cepat dan membawanya pergi ke permukaan.
Apa yang Marvelo lakukan? Kenapa dia menarik Winter ke atas? Pegangan pria itu sangat kuat hingga membuat Winter tidak memiliki kekuatan untuk melepaskannya.
Begitu sampai di permukaan Winter melepaskan kacamatanya. Kaki Winter bergerak di bawah permukaan air laut, gadis itu melihat Marvelo yang mengusap wajahnya yang basah, pegangannya di lengan Winter berubah menjadi cengkraman.
Keduanya bernapas dengan cepat mengambil pasukan udara.
Rahang Marvelo mengeras, pria itu marah besar melihat sorot mata Winter yang polos tanpa dosa bahkan gadis itu terlihat kebingungan dengan apa yang di lakukan Marvelo kepadanya.
“Apa yang kau lakukan? Kau mau mati hah!” teriak Marvelo marah. “Berhenti berbuat bodoh dan merepotkan semua orang! kau bukan anak kecil lagi!.”
Kimberly yang tidak tahu masa lalu Winter terlihat kebingungan mengapa Marvelo sangat marah.
“Apa maksudmu brengsek? Aku hanya berenang!” teriak Winter yang akhirnya memaki.
Rahang Marvelo mengeras, kilatannya yang membara menunjukan setumpuk kemarahan dengan napas yang bergerak kasar. Marvelo melepaskan cengkramannya dan perlahan bernapas dengan tenang. “Kau trauma dengan air laut Winter.”
Winter termangu, sebagai Kimberly dia sama sekali tidak tahu jika Winter yang asli memiliki trauma.
Melihat kebingungan Winter membuat Marvelo sedikit mundur.
“Siapa kau sebenarnya? ” bisik Marvelo bertanya.
Kemarahan dan kebingungan Winter yang merasa terganggu lenyap dengan cepat, degup jantung Winter perlahan berdetak cepat di landa oleh ketakutan.
Apakah Marvelo mulai menyadarinya?.
Bibir Winter sedikit bergetar, dia tidak tahu harus berkata apa.
“Mengapa kalian berisik? Ya Tuhan Winter” panggil Benjamin yang kini berada di atas bersama Lessy melihat ke bawah, mereka mendengar teriakan Marvelo, karena itu mereka memastikan apa yang terjadi.
“Apa yang kau lakukan Winter?.” Vincent yang baru sampai langsung melompat turun dari sampan dan menarik Winter. “Kau tidak bisa berenang, kenapa harus berenang. Kau tidak apa-apa? Harusnya kau hati-hati dengan tidakanmu, kenapa kau sangat ceroboh.” Omel Vincent marah.
“Aku sudah bisa berenang” jawab Winter samar.
“Jangan bercanda Winter!” Vincent menutun Winter mendekati tangga agar segera naik.
Tanpa bicara apapun lagi, Winter segera naik, namun gadis itu tidak dapat mengalihkan perhatiannya dari Marvelo yang kini sudah lebih dulu naik dengan kemarahan yang sangat mendidih.
Apa yang sebenarnya terjadi?.
Kimberly tidak tahu apapun yang sebenarnya terjadi.
Apa yang sebenarnya terjadi kepada Winter di masa lalu hingga membuat semua orang cukup posesif kepadanya hingga sampai di titik di mana mereka tidak percaya bahwa Winter bisa melakukan apapun sendiri.
***
Winter duduk di sisi kapal, rambutnya sudah setengah kering itu terlihat berkibar di terpa angin. Gadis itu duduk menekuk lututnya sambil memegang segelas kopi dan merasakan cuaca yang panas perlahan menjadi dingin kembali.
Usai kejadian tadi Winter memilih tidak melakukan apapun karena semua orang terus mengawasinya seakan Winter di larang melakukan apapun yang berhubungan dengan berenang.
Winter teringat ucapan Marvelo beberapa saat yang lalu mengenai trauma.
Winter trauma air laut dan tidak bisa berenang.
Lantas apa yang membuat Winter trauma?.
Kimberly harus mencari tahu semuanya..
“Velo” panggil Winter melambaikan tangannya pada Marvelo yang baru kembali dia lihat setelah pertengkaran tidak jelas mereka tadi.
Marvelo terdiam dan hanya bersandar pada sisi kapal, pria itu melihat Winter yang kini tidak jauh darinya tengah melambaikan tangan meminta Marvelo mendekatinya.
“Velo, kemarilah” panggil Winter lagi yang masih duduk di tempatnya. Kaki Winter cukup kesemutan karena itu dia tidak bisa segera bangun dan menemui Marvelo.
Marvelo masih diam dan berpura-pura tidak mendengarkan apapun meski matanya tertuju kepada Winter.
“Velo!” Jerit Winter dengan keras hingga membuat semua orang melihat ke arah Marvelo dan memelototinya.
Marvelo berdecih kesal. Dengan malas Marvelo mendekat dan duduk di samping Winter. Kemarahan yang sempat terlihat di mata Marvelo sudah hilang seakan kemarahannya kepada Winter hanya sesaat karena perasaan khawatir yang berlebihan.
Melihat sikap cuek Marvelo diam-diam membuat Winter merasa sedikit jengkel, namun dia tidak bisa menunjukannya secara langsung. “Aku minta maaf atas kejadian tadi.” Winter memulai percakapan.
Marvelo tidak menjawab.
“Aku sudah mengatakannya kepadamu sebelumnya bahwa aku ingin berubah. Aku harus melawan ketakutanku dan mencoba hal-hal yang selama ini aku takutkan agar aku bisa berani dan bisa menaklukan kelemahanku. Karena itulah aku sekarang sedang berusaha melakukan apa yang selama ini tidak pernah aku coba lakukan.” Karang Winter dengan lancar setelah beberapa menit menghapal menyusun kata yang harus dia ucapkan.
Usaha Winter sedikit membuahkan hasil karena kini Marvelo melihatnya dengan serius. “Kau tidak akan pernah berubah sampai kapanpun jika kau masih membawa Paula ke dalam kehidupanmu.”
Ucapan Marvelo mengandung perhatian yang besar bagi Winter.
“Aku tahu dia teman yang buruk. Tidak, dia bukan temanu. Aku sudah tahu mana yang salah dan mana yang benar. Aku masih akrab dengan dia karena aku ingin mengetahui semua yang dia lakukan sebelum aku memutuskan membalasnya seperti apa.”
Jawaban Winter membuat Marvelo semakin di buat berpikir keras.
Siapa yang sudah memotivasi Winter dan merubah cara berpikirnya.
“Siapa yang merubahmu pikiranmu?.”
Perlahan Winter membalas tatapan Marvelo, matanya berkaca-kaca tiba-tiba ketika teringat kehidupannya di masa lalu sebagai Kimberly Feodora yang gemerlap indah seperti bintang, namun begitu dia kehilangan cahayanya, dia meredup di antara kegelapan.
“Kimberly Feodora” jawab Winter dengan suara bergetar, hatinya sangat sakit bak tertusuk saat menyebutkan namanya sendiri.
“Mengapa?.”
“Dia adalah seorang bintang besar dan wanita yang kuat. Dia bukanlah pembunuh sahabatnya, namun dia tetap menyerah dengan cara bunuh diri karena tidak tahan dengan kebencian yang tidak seharusnya dia terima. Apa yang Kimberly lakukan sama saja dengan mengalah dengan kejahatan dan fitnah. Andai dia bertahan sedikit lebih lama. Dia akan kembali mendapatkan kehidupannya yang sempurna.” Winter berhenti berbicara dan menarik napasnya lebih dalam merasakan sesak yang mencekik dirinya.
“Aku tidak ingin seperti Kimberly, aku tidak ingin menyerah, aku tidak ingin tunduk apalagi kalah dengan hal-hal jahat, aku tidak ingin diam menerima kebencian yang tidak seharusnya aku terima. Aku harus memperjuangkan hak-hak hidupku yang selama ini aku abaikan. Aku akan berjuang hingga akhir dan menunjukan bahwa aku tidak akan gentar menunjukan kebenaran.”
Jawaban Winter yang sangat dalam dan penuh makna membuat pikiran Marvelo berkelana memikirkan banyak hal dan semakin lekat melihat sepasang mata Winter yang terlihat berkaca-kaca menekan segumpal emosi yang menguras hatinya.
Apa yang di katakan Winter adalah hal penting yang selama ini di tunggu semua keluarganya.
Haruskah kini Marvelo juga merubah pandangannya juga pada gadis itu? Namun apakah perubahan Winter akan membuat dia kembali menjadi Winter yang dulu?.
“Apa yang kau inginkan?” tanya Marvelo samar, hatinya yang keras mendadak lunak karena sebuah harapan Winter bisa menepati apa yang sudah dia ucapkan.
To Be Continue..

Komentar Buku (99)

  • avatar
    Kris Biantoro

    Kimberly masuk ke tubuh Winter dan berhasil mengubah hidup Winter menjadi sukses dan bahagia.

    03/09/2023

      2
  • avatar
    Enia

    bagus banget ceritanya

    15/05/2022

      0
  • avatar
    FitriFitri

    kak kirian awal baca ni novel udh tamat,eh ternyata blm jd kapan kelanjutan nya🥰

    4d

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru