Bab 67

Sore ini Sera sedang berada di rumah Mirna. Bersama Dimitri dan beberapa anggota keluarga lainnnya. Ada acara makan dan bakar-bakar bersama. Tidak ada perayaan apa-apa, si ibu mertua hanya ingin merasakan hangatnya suasana saat seluruh keluarga berkumpul.
Dimitri sedang ada di halaman belakang bersama sepupu-sepupunya mempersiapkan panggangan, ikan dan daging, si istri tengah duduk di ruang tamu bersama Mirna.
Mertua dan menantu tersebut berangkulan di sofa, dengan Mirna yang memijat pelan punggung Sera.
"Jangan capek makanya." Mirna menduga pegal yang istri anaknya itu rasakan di pinggang dan punggung adalah akibat dari terlalu memaksakan diri mengerjakan pekerjaan rumah.
"Kalau orang lain lihat, disangkanya Sera yang anak Mama, sedang Dimitri yang menantu." Inka yang baru turun setelah memberi makan Erza tersenyum melihat kedekatan Mirna dan Sera.
"Memang. Kayaknya, mereka ini dulu tertukar pas masuk ke kandungan. Harusnya Sera yang jadi anak Tante." Semringah wanita itu menjawab.
Bukan sedang membual, tetapi memang demikian. Sudah terbukti. Semenjak menikah dengan Dimitri, ia tak lagi perlu perang urat dengan anaknya itu. Sera selalu bisa mengerti maksud dan keinginannya dan acap kali bisa memberi pengertian pada Dimitri.
"Tidur kamu, Nak?" Mirna menunduk dan mendapati mata Sera terpejam di pelukan. Ujung bibirnya kembali menjungkit.
"Capek, Ma. Padahal enggak ngapa-ngapain." Sera menjawab dengan mata masih tertutup.
Membiarkan menantunya menikmati pelukan dan pijatan, Mirna melihat Dante datang. Anaknya itu duduk di sebelah.
"Sera jadi bayi? Ditimang-timang gitu?"
"Kenapa? Pengin?" goda si kakak ipar.
Tersenyum saja. Dante berucap lagi. Kali ini pria itu membicarakan soal Dimitri. Soal pertemuan mereka beberapa saat lalu.
"Suamimu itu masih mikirin soal kemungkinan donor sp*rma dari aku? Bukannya kalian udah lumayan adem tiga bulan belakang?"
Sontak saja kalimat itu membuat Sera duduk tegak. Matanya memicing pada lelaki di sebelah Mirna. Memastikan orang itu tidak salah bicara.
"Dia suruh aku cek ke dokter. Memastikan aku subur. Gila, 'kan?"
Sejak pertama kali dicetuskan, Dante tidak setuju akan ide kakaknya. Bagaimanapun, itu sedikit aneh. Nantinya, jika benar-benar dilakukan pasti membuat semua orang tidak nyaman.
Hingga kini ia juga tidak setuju. Karena itu, saat tidak sengaja bertemu Dimitri beberapa minggu lalu dan diajak bicara mengenai soalan ini, ia sedikit kesal dan sama sekali tidak menanggapi.
Mengadukan hal itu pada Sera dianggap sebagai tindakan terbaik. Biarkan perempuan di depannya ini yang memberi pelajaran pada Dimitri yang kepala batu.
Usai mendengar penuturan detail dari Dante, raut wajah Sera tampak tak bersahabat. Jelas ada kekesalan di sinar matanya.
Perempuan itu berdiri, menatap Mirna.
"Harusnya ini udah clear. Harusnya dia enggak bahas lagi soal ini. Mama keberatan kalau aku marah-marah sama dia di sini? Sekarang?"
Sedikit heran, karena biasanya Sera bisa bersikap setenang air, Mirna mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan barusan.
"Kapan lagi lihat Dimitri diomelin istri. Silakan."
Mirna memberi izin, langkah seribu Sera menuju halaman belakang. Matanya menyorot tajam dan fokus pada pria berkaus putih di dekat alat pemanggang.
"Dimitri Adinata!"
Panggilan tegas itu membuat semua orang di sana menoleh pada si empunya suara. Ekspresi terkejut dan terheran kentara di cara mereka menatap perempuan yang berjalan cepat menuju Dimitri.
"Hati-hati, Sera." Brian memperingatkan saat istri adik sepupunya tersandung sandal di atas jalan setapak yang terbuat dari batako.
Amredo Adinata, si kakek yang duduk di kursi goyang ikut-ikutan memerhatikan. Sampai-sampai buku yang sedari tadi dibaca sudah tertutup.
"Kamu masih bahas soal donor sp*rma sama Dante?" Satu pukulan Sera beri di lengan suaminya.
"Sakit, Sera!" Dimitri mengernyit tidak terima.
"Sakit? Sakit mana sama perasaan aku?" Kali ini cubitan bertubi-tubi ia daratkan di perut Dimitri.
Si pria menjauh, mengambil ancang-ancang untuk kabur. Tampaknya, tanduknya Sera sudah keluar. Akhir-akhir ini, entah kenapa, saat marah, perempuan itu sering bersikap kelewat kejam. Meneriaki, memukul lengan, mencubit dan yang paling parah, mencabuti bulu kaki.
Sembari mengingat-ingat masalah apa yang sudah ia buat, Dimitri berjalan mundur, menghindari Sera yang terus melangkah maju, berusaha meraihnya.
"Ini tentang apa? Jelaskan dulu. Jangan langsung gebukin anak orang." Dimitri bersembunyi di balik sebuah pohon mangga. Lipatan di dahinya makin dalam.
"Mama udah kasih izin aku gebukin kamu. Kamu masih bahas soal donor itu sama Dante, 'kan? Barusan dia cerita." Sera bergerak ke kiri, suaminya bergeser ke arah sebaliknya. Rasanya, ingin dipindahkan saja pohon mangga besar yang menjadi tameng pria itu.
Oh, itu. Dimitri paham. Lelaki itu melengkungkan bibir. Mencoba memohon belas kasihan dengan tersenyum manis. "Cuma jaga-jaga. Iseng. Enggak serius." Sera nyaris bisa meraih lengan kaus, ia berlari ke arah pintu belakang.
Di sisi lain, Brian dan Amredo sudah terkikik. Melempar tatapan mengejek pada Dimitri. Akhirnya, pria dingin itu mendapat lawan sebanding.
"Sini kamu, Dim!" Baru berlari sedikit, Sera merasa lelah. Ia berhenti mengejar suaminya. Menumpu tangan di pinggang dan mengatur napas. Kenapa tiba-tiba tatapannya mengabur?
"Kita bahas di rumah, ya? Banyak orang di sini. Ka-- Sera!"
***
Perlahan membuka mata, Sera mengerjap beberapa kali demi menyesuaikan sinar yang masuk ke mata. Perempuan itu merasa lemas di sekujur tubuh.
Saat sudah sepenuhnya membuka mata, ia melihat wajah-wajah tidak asing, tetapi dengan ekspresi mengganjal. Otaknya mulai mengingat kejadian sebelum ini.
Ah, memberi pelajaran pada Dimitri.
Baru saja Sera ingin bertanya di mana suaminya, Mirna sudah lebih dulu bersuara.
"Mama tahu. Kamu itu memang pembawa kebahagiaan di keluarga Adinata." Mirna tersenyum haru, menciumi kening Sera penuh kasih sayang.
Terheran, senyum lebar di wajah Brian, kakek mertua dan Kak Inka membuat Sera semakin bingung.
"Beruntung Dimitri dapat istri seperti kamu."
"Kalau dia berulah, Kakek enggak keberatan kamu cubit dia seperti tadi."
"Kalau mau kue buatanku, tinggal bilang, ya."
Tercenung, Sera mendudukkan diri. Nanti saja semua keanehan ini coba dipahami. Ia harus menyelesaikan perkara dengan Dimitri dulu. Jangan sampai lelaki itu ragu lagi dan kembali serius dengan ide meminta anak dari Dante. Bisa-bisa Sera sakit kepala lagi.
"Dimitri mana, Ma? Aku belum selesai sama dia." Tidak menunggu jawaban, perempuan itu turun dari ranjang dan berjalan keluar.
Halaman belakang. Targetnya pasti ada di halaman belakang.
Orang yang dicari Sera memang di sana. Sedang duduk di salah satu bangku taman. Dua tangan saling bertaut, tatapannya menerawang.
Dimitri masih tidak percaya. Benarkah semua ini terjadi? Benarkah hal baik ini akhirnya terjadi di hidupnya? Benarkah masa penebusan dosa itu sudah berakhir?
Pria itu memejam. Mengingat perkataan Tante Gita--dokter keluarga--beberapa saat lalu.
Jantungnya berdegup kencang. Telapak tangan bahkan terasa lembab. Sebuah tanggungjawab besar menanti. Sanggupkah ia mengemban?
Ia membuka mata. Pada rumput subur di bawah kaki ia tersenyum. Jadi ini penyebab mengapa belakangan ia dan Sera kerap bersikap tak lazim. Bukan hanya Sera, ia juga terkena imbas.
"Dimitri!"
Panggilan itu membuat kepalanya dengan cepat menoleh. Sudah berdiri, bersiap menghampiri, tetapi akhirnya mematung di tempat. Sera masih tampak marah. Apa yang terjadi? Bukankah harusnya perempuan itu menangis haru?
"Jangan lari kamu! Aku rontokin semua bulu di kaki kamu!"
Oh, tidak. Mengesampingkan rasa ingin tahu tadi, pria itu berjalan mundur. Jika Sera sudah mengucap ancaman itu, maka ia patut waspada atau kesakitan dunia akan melanda. Tidak main-main, istrinya itu ahli memutus rambut di kaki dengan cara paling mengerikan.
"Jangan lari!" Sera mengacungkan telunjuk pada Dimitri yang sudah berlari ke sana-kemari. Membuatnya harus ikut meliukkan langkah mengikuti.
"Kita bahas baik-baik, OK? Jangan lari dulu." Berbelok ke kanan, lengan Dimitri nyaris bisa diraih Sera.
"Jangan lari? Kamu juga jangan lari!" Tersengal-sengal, Sera masih berusaha mengejar.
"Astaga! Sera, jangan lari-lari begitu. Nanti jatuh, Nak!" Bak sedang memperingati bocah lima tahun, Mirna memasang wajah cemas di dekat pintu belakang.
"Jangan belain dia, Ma."
"Stop!" Dimitri berhenti berlari. Dadanya naik-turun. Kehabisan oksigen karena terus dikejar, juga dikuasai panik.
Melihat Sera sudah tak lagi berlari, Mirna menghampiri dan memeluk perempuan itu. Membiarkan tubuh si menantu bersandar padanya. Pasti sangat lelah.
"Jangan lari-larian dulu. Di perut kamu ini ada cucu Mama."
Wajahnya kaku, Sera menoleh pada si ibu mertua. "Apa?" Ekspresi tak paham mengisi raut.
"Sama istri yang lagi hamil, ya, ngalah, kek, Dim." Brian ikut menimpali. Pria itu tertawa. "Sera ngidam cabut bulu kaki kamu seru kali, ya?"
Dimitri menatap datar ke sana. "Jangan ikut campur."
Tunggu. Sera sedang mencerna keadaan. Menghubungkan ucapan yang didengar di kamar, kemudian .... Perempuan itu menoleh pada Dimitri.
Sera menunjuk perut. Dia memang pingsan tadi. "Maksudnya?"
Sorot mata Dimitri berubah teduh. Angin yang melewati wajahnya saat itu terasa begitu menyejukkan dan manis.
"Kamu hamil, Sera. Kata Tante Gita, udah dua bulan." Nyaris menangis pria itu saat kalimat barusan lolos dari bibir. Tak menyangka akan mengatakan hal sebagus itu.
Tertegun sesaat, Sera mulai menerima fakta itu saat pelukan Mirna menyapa. Ibu mertuanya menangis haru, ia malah menyunggingkan senyum lega.
"Akhirnya. Penantian kalian terbayar, Nak." Mirna tak henti mengecup puncak kepala menantunya. Ia teringat bagaimana perempuan itu meyakinkannya dulu.
Senyum bahagia muncul di wajah-wajah anggota keluarga lain. Dante, Amredo si kakek, Inka bahkan Brian. Sedikit banyak mereka tahu apa saja yang sudah Sera dan Dimitri alami sebelum ini. Maka itu kebahagiaan ini terasa sangat berarti.
Kebahagiaan yang lebih besar lagi mengisi relung hati Dimitri. Ia membayangkan. Seandainya dulu mengabaikan keteguhan hati Sera. Jika saja dulu ia menuruti rasa marah sesaat dan mengakhiri pernikahan. Maka semua ini tak akan dialami.
Sungguh. Sesuatu yang didapat melalui kerja keras, kesabaran dan usaha, terasa amat manis.
"Aku hamil? Anaknya dia?" Tertawa di ujung tanya, Sera mengarahkan telunjuk pada suaminya yang masih menatapi.
"Iya. Kamu hamil anaknya Dimitri Adinata," ucap Dante membenarkan. 
Hati si calon ayah berdesir mendengar itu. Seketika hati diliputi hangat dan haru. Matanya mulai memerah.
Dia bisa. Ia ternyata mampu memberi keturunan. Bersahut-sahutan suara Sera yang selama ini memberi kekuatan masuk ke telinga. Membuat rasa bersyukur membuncah di dada.
Rasanya ingin segera berlari menuju Sera dan membawa perempuan kesayangan itu dalam dekapan. Mengucap terima kasih, meski itu tidak akan cukup.
"Mau dipanggil apa? Ayah? Bapak? Atau Daddy?" Sera bertanya riang. Hatinya terenyuh menyaksikan binar bahagia terpancar di mata suaminya. Tahukah pria itu jika dia bahagia, maka Sera akan beratus-ratus kali bahagia?
Menatap dua manik cokelat di sana, Dimitri menjawab, "I love you, Sera. I love you."
Suara siulan menyahut. Ledekan dari Brian dan Dante.
"Kalau hidup cuma sekali, aku beruntung karena udah jatuh cinta sama kamu. Kalau setelah kematian, aku dilahirkan kembali, aku berjanji hanya akan mencintai kamu."
Sebab tanpa Sera, tak ada kebahagiaan yang akan mampir di kehidupan Dimitri.
"Geli! Berhenti!" Rona merah di pipi, Sera menggigit bibir. Mengirim isyarat pada suaminya untuk menyudahi serangan kalimat manis tadi.
"I love you, Sera. Hari ini, besok, nanti juga selamanya."
**SELESAI**

Komentar Buku (22)

  • avatar
    ArumAisyah

    sangaat baguss

    06/05/2025

      0
  • avatar
    RahmadintaCarla

    baguss

    29/04/2025

      0
  • avatar
    Karin Nabila Kamuty

    bagus banget, seru

    18/04/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru