Beranda/Once then Forever/
Bab 52
"Makan, Dim."
Ajakan dari Brian, kakak sepupu sekaligus pemilik acara, diabaikan saja oleh Dimitri. Suaminya Sera itu duduk sendirian di salah satu meja yang sedikit jauh dari meja lainnnya di halaman belakang itu. Fokus menatap pada perempuan bergaun merah muda di sana.
Inka, istrinya Brian melahirkan anak ketiga sebulan lalu. Acara makan bersama ini diadakan sebagai bentuk selamatan.
Duduk tegak dengan kedua tangan bersedekap, atensi Dimitri sepenuhnya tertuju pada Sera. Di sana, bersama Inka dan sepupu lain, si istri tampak berseri-seri.
Sungguh pemandangan yang bagus. Sejak tadi, sembari menatapi Erza--putra sulung Brian--Sera terus tersenyum. Cantik sekali lengkungan di bibir perempuan itu, hingga mampu membuat Dimitri tak berpaling sesenti pun.
Terus memandangi, pembicaraan ia dan si istri beberapa bulan lalu seketika mengisi benak. Soal Sera yang sebenarnya ingin memiliki anak, tetapi takut akan banyak hal.
Sebelum ini, konversasi tersebut tak terlalu ia pikirkan. Namun, sekarang, setelah melihat senyum cerah Sera di depan Erza, ia malah terusik.
Terlihat menatapi Erza penuh minta sejak tadi, benarkah Sera sudah ingin memiliki bayi? Bukan apa-apa, Dimitri hanya ingin membuat istrinya bahagia. Jika memang anak bias membuat Sera senang, kenapa tidak? Toh, itu juga salah satu desakan Mirna sejak tiga bulan lalu.
Masih melihat Sera saksama, Dimitri ikut tersenyum karena di sana Sera tertawa lebar. Perempuan itu baru saja mendapat satu ciuman di pipi dari Erza.
Dengan segera pria itu mengatur mimik. Jangan sampai tertangkap basah bahwa sejak tadi mengamati, sebab Sera tengah berjalan menghampiri.
"Makan?" Menengok ke arah meja prasmanan, Sera merangkul pundak lelaki yang duduk itu.
Membalas dengan gelengan, Dimitri melingkarkan tangan di pinggang Sera. Menilik ekspresi perempuan itu, keinginan untuk bertanya sedikit surut.
"Erza mirip Papanya, 'kan? Lucu. Dia udah pintar ngomong."
Dimitri bertanya pada diri sendiri. Jika saat ditanya nanti Sera menjawab ingin punya anak, sudah siapkah dirinya? Ketakutan istrinya ada benarnya. Mengurus anak tak semudah membuatnya.
"Aku ambil makanan dulu, ya?"
Masih ragu bertanya, Dimitri mengangguk saja pada Sera. Perempuan itu menjauh, pikirannya semakin ke mana-mana.
Bukan hanya harus bertanggung jawab atas si anak, Dimitri juga harus siap akan konsekuensi bahwa perhatian Sera akan terbagi nantinya. Pria itu mendesah kesal saat membayangkan istrinya akan lebih fokus ke anak mereka nantinya.
Kekhawatiran yang wajar sebab setelah menikah, keperluan lelaki itu mulai dari urusan makan, pakaian, keuangan dan tentu saja ranjang, semuanya ada campur tangan dari Sera.
Belum lagi, mereka baru menikah tiga bulan. Harusnya masih asyik menikmati waktu berdua. Namun, bagaimana jika kehadiran anak mampu membuat Sera bahagia? Apa ia sanggup mengesampingkan hal itu? Ditambah lagi, ibunya mulai semakin gencar membicarakan cucu belakangan.
"Ayo makan. Ini enak." Sera duduk di samping Dimitri dengan piring keramik ukuran besar yang diisi berbagai macam kue.
"Kamu mau apa dengan semua kue ini, Sera?" Dimitri mengambil piring tadi, menaruhnya di atas paha. Menontoni si istri makan dengan perasaan takjub. "Mau kamu habisin semua? Muat di perut memang?"
Sera berhenti mengunyah, menatap suaminya dengan raut kecewa. "Enggak boleh? Kamu larang aku makan ini semua?"
Yang ditanyai berdecak gemas, mendesah dalam hati. Ekspresi barusan benar-benar menggemaskan di matanya. "Aku cuma tanya, ini semua muat di perut?"
"Ini enak, Dim."
"Enakan mana sama kamu?"
Sera terbatuk, memicing ke arah si suami. "Cobain." Ia menyuapkan sepotong wajik yang menjadi favorit dari semua kue yang ada.
Mengunyah, Dimitri mengangkat bahu asal. "Lumayan."
"Ini semua Kak Brian yang buat. Aku baru tahu dia jago masak."
Alis pria itu menyatu. "Tahu dari mana dia bisa buat kue?" Seingatnya belum menceritakan sedetail itu pada Sera.
"Dikasih tahu tadi." Sera menunjuk ke meja prasmanan.
Dimitri menoleh ke sana, disambut lambaian tangan dari Brian. Oh, si tukang tebar pesona itu sudah beraksi rupanya.
Senang dengan kue-kue tradisional yang dibuat langsung oleh Brian, Sera terpikirkan sebuah ide. Asal saja, dicetuskannya pada si suami.
Sera menyarankan, bagaimana jika di salah satu gerai Marvelous Dimt disajikan jajanan pasar yang enak seperti ini. Ia punya insting jika makanan ini akan laku keras.
"Cari makanan enak dan asli kayak gini susah sekarang. Harus ke pasar dulu. Marvelous Dimt kan khusus jual kue modern dan roti. Tambah menu seru kali, ya?" Dia menyuapi Dimitri lagi. Kali ini sepotong kue berwarna hijau dengan kelapa parut di atasnya.
"Pak Dion bisa enggak, ya?"
"Minta tolong Kak Brian aja diskusi sama koki kamu. Bagi hasil kayaknya sama-sama untung."
Dimitri melirik penasaran pada Sera. Mengapa bisa perempuan itu memengaruhinya secepat dan semudah ini. Jelas, Dimitri tertarik dengan peluang yang disuarakan barusan.
Sedang asyik memandangi istrinya, Dimitri langsung memasang raut masam saat Brian muncul di sana. Mengangsurkan segelas air mineral pada istrinya.
"Senangnya ada yang makan kueku selahap itu." Pujian tulus pria berusia 35 tahun itu lontarkan. Berdiri di hadapan Sera, ia tersenyum.
"Katanya setia. Istri orang diganggu juga," ejek Dimitri. Ia mengambil gelas dari tangan Brian, kemudian memberikannya pada Sera.
"Siapa, sih, yang enggak pengin gangguin Sera?" Santai, Brian menyahut. Sengaja mengedipkan satu mata pada istri adik sepupunya itu.
Tersenyum saja, Sera mengacungkan ibu jari pada Brian. "Enak. Semua kuenya enak. Kak."
"Aku udah siapin untuk kamu bawa pulang. Minta sama Kak Inka sana."
"Serius ini?" Penasaran, Sera berjalan ke arah rumah. Menemui Inka dan menagih ucapan Brian.
"Join bisnis sama aku mau, Bang?" Dimitri memulai konversasi serius setelah Sera pergi. Ia mengutarakan niat untuk bekerja sama, seperti yang tadi Sera tuturkan.
"Ini bukan ide kamu, kan?" Brian jelas paham ini bukan murni keinginan Dimitri. Sejak lama si adik sepupu tahu ia mahir membuat kue. Namun, kenapa baru sekarang terpikirkan ini?
"Karena Sera suka kue buatanku, ya?"
"Mau atau tidak? Tujuh puluh, tiga puluh?" Dimitri menoleh ke pintu belakang rumah Brian. Sera barusan keluar dari sana. Istirnya itu tersenyum manis layaknya anak kecil, sembari mengamit lengan Mirna.
Brian mengikuti arah pandangan Dimitri, kemudian tersenyum. Ikut senang sebab adik sepupu dari keluarga ibunya itu akhirnya menemukan orang yang benar-benar dicintai.
"Nanti aku luangkan waktu untuk diskusi sama kokimu. Enggak usah bagi hasil."
Semringah Dimitri mendengar itu. "Deal, ya?" Ia mengulurkan tangan.
Brian menyambut jabat tangan itu. "Deal. Asal Sera senang." Pria itu terbahak saat Dimitri menguatkan jabatan tangan dengan dahi berlipat.
Mirna dan Sera datang, Brian memilih undur diri.
"Kalian berdua, Mama mau bicara serius." Mirna duduk di bangku yang tadi Dimitri tempati. Ia menatap serius pada anak dan menantunya.
"Sudah berapa bulan kalian menikah?"
"Tiga bulan." Sera diam-diam meraih jemari Dimitri yang berdiri di sampingnya.
Dimitri merespon dengan menautkan jemari mereka.
"Dan Sera belum hamil?"
Sera menggeleng pelan. Malu dan juga sedikit takut.
"Ma, ayolah. Bicarakan hal ini di rumah Brian?"
"Kalian enggak usaha, ya?" Mirna memicing. Kali ini protes apa pun dari Dimitri tak akan dipedulikan. Sudah cukup ia menunggu tiga bulan.
"Usaha. Hampir tiap hari." Tanpa beban Dimitri menjawab. Pria itu kemudian meringis karena cubitan di perut dari Sera.
"Agar lebih memastikan, kalian periksa ke dokter dulu. Supaya kalau ada yang perlu ditangani, bisa terdeteksi dari sekarang. Mama ini sedih harus datang ke selamatan lahiran sepupu-sepupu kamu, Dim. Kapan Mama yang didatangi?"
"Mama masih mau ngatur hidup aku sampai ke urusan mau punya anak atau enggak?" Nada bicara Dimitri mulai meninggi, meski rautnya masih tampak datar.
"Ma--"
"Yang mau punya anak itu aku dan Sera. Ini rumah tangga kami, Mama enggak ada hak ikut campur soal apa pun."
Mirna terdiam dengan air muka kelabu. Ia sedih sebab kerinduannya untuk menimang cucu tak juga dimengerti sang putra.
"Senin sampai Kamis ini Dimitri ada jadwal kontrol ke toko. Kami usahakan ke dokternya Jum'at, ya, Ma." Sera berusaha menengahi, meski hatinya juga ketar-ketir.
Si mertua mengangguk haru. "Kamu jangan marah sama Mama, ya, Sera."
Sera memeluk Mirna. "Enggak, Ma. Doain supaya hasil pemeriksaannya baik-baik aja, ya?"
"Pasti, Sayang. Pasti." Mengurai pelukan, wanita itu mengecup kening Sera sekilas. Ia melirik kesal pada si anak. "Kamu itu susah sekali paham keinginan orang tua. Nanti, kalau Mama udah enggak ada, baru tahu rasa."
Mamanya pergi, Dimitri mengembuskan napas kasar. "Kenapa kamu setujui maunya Mama?"
Sera tersenyum, kemudian memeluk lengan suaminya. "Kita berdua baik-baik aja, 'kan? Cuma belum waktunya aja untuk punya anak."
Entah kenapa, saat itu juga, sebuah ketakutan besar mengisi celah hati Sera. Bagaimana jika memang benar ada yang salah dengan dirinya? Bagaimana jika ia mengalami masalah di tubuh yang menyebabkan tak akan bisa memiliki keturunan?
Itu pasti mimpi buruk. Di keluarga Adinata--keluarga ayah Dimitri--suaminya adalah cucu pertama. Bagaimana bila ia tidak bisa melahirkan anak sebagai penerus?Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (22)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
sangaat baguss
06/05/2025
0baguss
29/04/2025
0bagus banget, seru
18/04/2025
0Lihat Semua