Bab 50

Sera tampak melambaikan tangan pada mobil Mirna yang mulai menjauh. Senyum bahagianya setia terpasang di wajah.
Hari ini, sejak pagi hingga sore, perempuan itu menghabiskan waktu bersama sang mertua. Menemani berbelanja sekaligus dibelanjai, menemani ke salon dan bertemu beberapa teman. Seperti yang Dimitri pernah ceritakan, salah satu alasan ibunya gigih menikahkan kedua putra adalah karena ingin merasakan memiliki anak perempuan.
Mereka melakukan banyak hal tadi. Juga membicarakan beberapa topik. Sera senang sebab sepengamatan tadi, si ibu mertua terus menebar senyum dan tawa.
Tidak langsung pulang, Sera minta diturunkan di Marvelous Dimt yang terdekat dari rumah. Sempat membicarakan Dimitri, mendadak jadi ingin makan roti dengan selai srikaya dari toko suaminya.
Mendorong pintu masuk, perempuan itu disambut senyum hangat salah satu pegawai di sana.
"Saya mau beli roti tawar dan selai srikaya, Mbak," jelasnya.
Menuntun Sera ke rak khusus roti, karyawan dengan name tag Riani itu mencuri-curi pandang. Hingga pelanggan tersebut selesai memilih barang yang akan dibeli, ia tetap berdiri di belakang dan menatapi saksama.
"Saya bayar di sana, kan, Mbak?" Sebenarnya sudah tahu, Sera bertanya demikian karena mulai tak nyaman. Ia sadar jika sedari tadi diperhatikan.
"Maaf. Kayaknya, saya pernah lihat Ibu." Karyawan itu tampak mengerutkan dahi, berusaha mengingat. Wajah Sera tak asing.
"Maaf, Mbak. Saya belum pernah lihat, Mbak."
Karyawan tadi mengusap dagu. Mata masih mengikuti Sera yang memilih duduk di salah satu sudut toko, ia yakin memang pernah melihat perempuan itu. Namun, di mana dan kapan, memori di kepala masih belum jelas mengingat.
Antrean di depan kasir lumayan panjang, Sera memutuskan duduk di salah satu bangku yang ada. Berusaha mengabaikan tatapan pegawai yang tadi ia ajak bicara, pandangan dibawa mengitari tempat tersebut.
Marvelous Dimt ramai hari ini. Pelanggan yang sedang memilih barang masih banyak, yang antre juga lumayan. Pemandangan yang membuat ia takjub dan kagum.
Bisnis Dimitri ternyata sangat berkembang. Punya sepuluh toko yang ramainya seperti ini, pria itu pasti punya kemampuan mumpuni. Tak heran Mirna sangat membanggakan sulungnya tersebut. Dimitri memang punya kualitas.
Pelayanan yang ada baik, kualitas barang yang dijual juga tak main-main. Sukses jelas bisa diraih bila menekuni usaha seserius ini.
Sibuk melihat-lihat, Sera terperanjat saat sebuah suara terdengar.
"Istri yang punya toko harus antre juga?"
Menoleh, ia dapati Dante berdiri di hadapan dengan senyum mengejek. Sera membalas senyuman itu, kemudian menaruh telunjuk di depan bibir.
Dante menarik kursi ke dekat Sera, lantas duduk. "Suamimu ke mana? Kenapa enggak suruh dia bawakan roti ini untukmu?" Diam-diam laki-laki itu memandangi wajah perempuan di hadapan. Perasaan rindunya lumayan terobati.
Yang ditanyai mengusap kening berulang-ulang. Dari balik jemari bisa dilihatnya beberapa karyawan mulai berkumpul dan tampak berbisik.
Sikap Sera yang seolah malu itu memancing senyum di wajah Dante. Ia merasa beruntung karena tadi Mirna memberitahu bahwa istri kakaknya itu ada di sini. Ia jadi memiliki peluang untuk bertemu.
"Mereka pasti bisa kenali kamu, Sera. Mereka kan datang ke acara resepsi." Tangan Dante sudah hampir menyentuh puncak kepala kakak iparnya, ketika sebuah suara menginterupsi.
"Jauhkan tanganmu."
Toko itu mendadak hening, semua mata tertuju ke pintu. Dimitri di sana. Berdiri dengan dua tangan tersimpan di saku, tak lupa raut datar yang mampu mengintimidasi siapa saja.
Dante menghela napas berat, Sera buru-buru berdiri saat dilihatnya Dimitri berjalan cepat menuju meja mereka.
Hal seperti ini pernah terjadi. Dulu, di rooftop. Takut kejadian serupa terulang, saat si suami sudah berada di hadapan, ia langsung memeluk dari samping.
"Jangan berkelahi. Kalian mau adu pukul di tempat umum? Kami kebetulan bertemu di sini." Bicara di belakang bahu Dimitri, ia memejam takut.
Menerima perlakuan demikian, Dimitri menyeringai. Semakin senang saat Dante memalingkan wajah. Ia sama sekali tidak ada niat adu pukul. Namun, jika kesalahpahaman Sera bisa membuatnya mendapat pelukan seperti ini, jelas tidak keberatan.
"Dari pada jadi obat nyamuk, pulang, gih." Lelaki itu menggerakkan dagu ke arah pintu. Mengusir si adik terang-terangan.
Dante mendengkus. "Posesif!" ejaknya. Beranjak ia pun memutuskan untuk pulang saja. Ia sudah lihat Sera, perempuan itu tampak baik dan cerah. Rasanya sudah cukup.
"Hati-hati, Dante."
"Siap!" sahutnya girang pada Sera dari ambang pintu. Diberi perhatian kecil begitu saja, rasanya sudah melayang. Bisa berbahaya juga bila terus-terusan di sini.
Sera melepas pelukan, kemudian memajukan bibir bawah. Cukup tak enak pada adiknya Dimitri.
"Ekspresi apa begitu? Mau dicium?" Dimitri menaruh satu tangan di sandaran bangku istrinya.
"Kamu kenapa bisa curiga sama adik sendiri?"
"Wajar. Adikku itu juga sempat menaruh hati sama kamu."
"Kita sudah menikah."
"Siapa yang tahu?"
Ucapan itu langsung membuat Sera mengernyitkan dahi. "Biar. Terus aja tuduh aku. Katanya, apa yang terus-terusan kita pikirkan, suatu saat bakal benar-benar terjadi."
Mata Dimitri melebar. Ia menggigit lidah. Berjanji tak akan memikirkan hal begitu lagi.
"Maaf, Pak. Kami sempat tidak mengenali Bu Sera." Seorang pria yang merupakan manajer toko mendatangi mereka. Bicara dengan sedikit membungkuk, sebisa mungkin menghindari bertatapan langsung dengan si bos.
Dimitri melirik ke arah salah satu pegawainya. Sorot mata pria itu datar, tetapi terlihat menakutkan. "Kamu datang ke acara resepsi saya, 'kan? Menurut kamu, saya un--"
"Enggak pa-pa, Pak. Saya memang mau mengantre saja." Sera memotong ucapan suaminya. Perempuan itu berdiri, dengan sengaja mengamit lengan Dimitri.
"Maaf, Bu. Saya benar-benar minta maaf."
Sera mendongak agar bisa menunjukkan eskpresi tak nyamannya pada si suami. Pegawai Dimitri sama sekali tak melakukan kesalahan. Melihat pria itu meminta maaf begini rasanya benar-benar tidak enak.
"Nama istri saya Sera." Tatapannya mengelilingi ruangan, mengabsen setiap pegawai di sana. "Ingat baik-baik wajahnya. Lain kali, kalau kalian membuatnya mengantre begini, hubungan kerja di antara kita tamat."
"Baik, Pak." Serempak karyawan di sana menyahut. Sedikit bernapas lega karena tak seperti biasanya, bos mereka memberi kesempatan kedua.
Dimitri membawa kantung belanjaan Sera dari meja. "Mau gratis atau bayar, Sera?" tanyanya dengan sorot nakal.
Sera tak tahu tahu bagaimana bentuk wajahnya sekarang. Ia menjadi pusat perhatian semua orang di ruangan itu. "Bayar." Ia mengeluarkan dompet, hendak berjalan ke arah kasir.
Dimitri menunjukkan deretan gigi. Ia meraih lengan Sera. "Masukan ke tagihan atas nama saya," ucapnya pada si manajer toko, kemudian berlalu.

Komentar Buku (22)

  • avatar
    ArumAisyah

    sangaat baguss

    06/05/2025

      0
  • avatar
    RahmadintaCarla

    baguss

    29/04/2025

      0
  • avatar
    Karin Nabila Kamuty

    bagus banget, seru

    18/04/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru