Bab 32

Terjadi sesuatu yang lucu di kediaman Adinata. Majikan dan pelayannya serempak, kompak mengalami demam. Sejak pagi hingga sore ini, Sera dan Dimitri tidak keluar dari kamar masing-masing, asyik menikmati sakit.
Dimitri yang lebih dulu flu lalai istirahat dan meminum obat, karenaya bukannya sembuh, malah semakin parah. Sedangkan Sera, karena insiden menjatuhkan diri ke kolam renang kemarin, akhirnya ikut-ikutan tumbang.
Satu orang saja yang sakit, Mirna sudah cemas. Ditambah Sera, yang notabene selalu menjadi orang yang diandalkan mengurusi Dimitri. Alhasil, wanita itu kelimpungan, terutama untuk merawat si sulung yang semakin keras kepala. Tak hanya menolak makan, lelaki juga mengurung diri di kamar, tidak membiarkan satu orang pun masuk.
Saat Mirna dan Maudi sedang duduk di ruang tamu karena sudah lelah mengetuk-ngetuk pintu kamar Dimitri yang sialnya tidak punya kunci cadangan, si anak malah menampakkan diri.
"Sera mana?" Tak mengindahkan pertanyaan-pertanyaan ibunya, Dimitri bertanya cepat. Tidak ada yang menjawab, ia pergi ke dapur.
Di sana, ia melihat Sera yang sedang duduk di salah satu kursi makan, bersandar ke dinding.
"Ikut saya," ucapnya setelah berdiri di depan orang itu. Tidak disahut atau dibalas tatapannya, pria itu menarik Sera begitu saja dan membawanya menuju mobil.
"Dim, itu Sera juga sakit. Kamu mau bawa ke mana? Apa kamu bisa nyetir? Bahaya, Dim." Mirna berusaha mencegah putranya pergi.
Tuli pada semua omelan dan penjelasan Mirna, Dimitri memaksa Sera masuk ke mobil. Tak lama kendaraan beroda empat itu ia bawa meninggalkan halaman rumah.
Asal saja, setelah berkendara tak tentu arah  selama setengah jam, Dimitri menepikan mobil di dekat sebuah pohon. Pria itu kembali memaksa Sera turun dan mengikutinya masuk ke dalam sebuah warung bakso.
Masih sore, warung tersebut juga baru saja buka, maka cukup lengang di sana. Dimitri merasa keadaan itu cocok untuk mereka bicara.
Sera duduk di hadapannya, mereka dibatas sebuah meja panjang, Dimitri meremas jemari karena perempuan di hadapan lebih memilih menatap tempat sendok di depan mereka.
Kilasan peristiwa mengerikan di kolam renang membuat si pria memejam sesaat.
"Kamu sengaja. Kamu sengaja lompat ke kolam itu. Kamu mau mati?" Pelan, tetapi nada suara itu sarat akan rasa marah, kecewa dan bersalah.
Sera menyungging senyum perih. "Pikirmu aku bisa memikirkan apa selain itu? Kamu yang bilang, aku harusnya tak membenci siapa pun, kecuali diriku sendiri." Niatnya bersikap kuat, hati Sera pedih saat mengatakan semua itu.
Menumpu kepala dengan dua tangan di meja, Dimitri mengusap wajah kasar, kemudian menjambak rambut. Dia ditampar oleh rasa bersalah. Sangat menyesal, hingga ingin sekali memotong lidah yang kemarin sudah lancang mengatai Sera yang tidak-tidak.
"Kamu yang memancing aku bicara begitu, Sera. Kamu yang membuat aku bicara seperti itu."
Penyesalan Dimitri semakin menjadi ketika Dante datang ke kamarnya dan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Sera tidak tahu apa-apa, sebab Dantelah yang tiba-tiba mengecup bibir gadis itu.
Getir, tetapi Sera merasa hatinya dibasuh sesuatu yang hangat. Apalagi, saat melirik ke arah Dimitri, dilihatnya pria itu tertunduk lesu, dengan air muka kelabu.
Telapak tangan Dimitri mengusap wajah sekali lagi. Menggigit bibir, ia menatap Sera dengan perasaan bimbang yang luar biasa. Satu sisi tak ingin mengatakan kalimat yang sudah dirancang sebelum ini. Namun, satu sisi lagi amat merasa bersalah dan tak tahan menanggungnya lagi.
Sebentar mata mereka beradu, gemuruh di dada Dimitri makin menjadi. Menarik napas, ia menyatukan jemari di atas meja.
"Aku enggak bisa mecat kamu. Aku enggak mau ambil risiko kamu bakal ngelakuin percobaan bunuh diri lagi. Aku enggak bisa."
Perlahan, wajah Sera terangkat. Dua matanya membingkai paras Dimitri yang hari ini tak sesegar biasanya.
"Aku juga enggak bisa biarin kamu tetap di sekitar aku dan nyiksa kamu dengan semua kenangan buruk di antara kita."
Bodoh. Sera mengatai diri demikian. Di saat seharusnya ia marah, meneriaki atau mungkin memukul lelaki di depan, perasaanya malah melakukan hal sebaliknya.
Ini pertama kalinya Dimitri terlihat sekacau ini. Rambutnya tak disisir rapi. Paras rupawan yang biasanya memasang ekspresi datar itu sejak tadi malah terlihat lesu dan kelabu. Belum lagi sorot terluka dan lelah dari kedua iris pekat Dimitri. Sera tak nyaman melihat semua itu.
"Kasih aku waktu."
Sera jelas melihat mata itu berkaca-kaca barusan. Entah karena demam atau sesuatu yang lain.
"A--aku butuh waktu untuk mikirin keputusan apa yang bakal aku ambil."
Dimitri memohon. Gila, karena Sera malah merasa pria itu tak pantas melakukan hal seperti tadi. Untuk sekali ini, ia lebih menyukai Dimitri yang angkuh dan suka semena-mena.
"Kasih aku waktu. Dan selama itu, tolong. Jangan bahayakan dirimu." Dimitri menyadari bibirnya bergetar. Tangan yang sejak jadi disatukan terasa lembab.
Mereka beradu tatap, si pria yang lebih dulu memalingkan wajah. Dimitri beranjak, mengajak Sera pulang sebab semua yang ingin dikatakan sudah disuarakan.
Sera menatapi wajah itu. "Pulang aja duluan. Aku bisa sendiri."
Meski sakit mendengar itu, Dimitri tetap menerima keputusan Sera. Siapa juga yang sudih satu mobil dengan pria jahat seperti dirinya. Dimitri yakin, saat ini rasa benci Sera padanya sudah semakin menggunung.
"Kamu punya ongkos?"
Sera menggeleng. Berikutnya, lembaran uang seratus ribu Dimitri taruh di meja. Pria itu pergi, tanpa mau menoleh sedikit saja.
Hampa menguasai Sera setelah Dimitri tak lagi tampak. Bertanya-tanya, perempuan itu memijat pelipis.
Ini tidak benar. Sebelum ini, Sera sudah memutuskan tak akan bekerja lagi di rumah Mirna. Bulat, ia akan resign. Namun, barusan, saat Dimitri sendiri yang mengatakan akan segera memberhentikan, dia malah gelisah.
Kepala yang sudah pusing semakin berputar-putar sekarang. Perempuan ini tak paham yang ia inginkan. Sebenar-benarnya, apa?
Dimitri bersalah, sudah menghinanya. Namun, saat pria itu bersikap penuh rasa bersalah seperti tadi, tak sampai satu menit, hati sudah luluh. Bukannya membenci, malah iba, simpati, tak tega dan akhirnya merasa bersalah sendiri.
Kebingungan merajalela, Sera tak sengaja mendengar pembicaraan dua orang pengunjung yang baru datang.
"Memang, kita tahu kita itu cinta sama orang dari mana?"
"Kamu ngeremehin pengalaman aku, Tla?"
"Jangan banyak cakap. Jelaskan."
Awalnya tak sengaja, Sera tanpa sadar menaruh atensi penuh pada obrolan dua anak muda di meja yang lain.
"Kalau dia sedih, kita ikutan se--"
"Itu namanya iba."
Sera mengamini pendapat si gadis berkaus abu-abu itu.
"Aku belum selesai, Atla. Enggak sekadar ikut sedih, tapi kamu juga bersedia dan enggak keberatan gantiin dia."
Gadis berkaus abu-abu berdecak. "Enggak menjelaskan apa-apa."
"Susah memang kalau bicarain cinta sama orang yang enggak pernah jatuh cinta."
"Penjelasanmu yang kurang terang."
"Sederhananya, hatimu akan kasih sinyal saat kamu ketemu orang yang kamu cintai."
Beranjak dari warung itu, Sera terus mengulang-ngulang kalimat terakhir yang ia dengar.
Hati tahu siapa pemiliknya. Dia akan memberi tanda, jika kamu sudah berjumpa dengan orang yang kamu cintai.
Dulu, dalam bayangan, Sera ingin merasakan jatuh cinta di pandanga pertama. Setuju dengan pendapat lelaki muda di warung, hatinya akan memberi sinyal saat bertemu dengan seseorang tersebut. Namun, tampaknya hal indah demikian tak akan terjadi dalam hidup.
Sera bukan Sera yang berharga lagi. Sampah, menjijikan, murah. Siapa yang sudih jatuh cinta pada orang seperti dirinya?
Pengap. Sera berhenti melangkah. Mendongak ke arah langit sebentar, sekelebat bayangan muncul saat matanya terpejam.
"Sera. Sera. Sera."
"Saya suka saja memanggil nama kamu. Bagus."
Wajah Dimitri muncul. Sera membuka mata yang terasa basah. Saat menoleh ke kiri, perempuan seketika membeku seluruh tubuh.
Di dekat pohon tak jauh dari tempat mereka memarkir mobil, Dimitri berdiri di sana. Menyandarkan punggung, kepala tertunduk. Sesekali terbatuk.
Pria itu tidak pulang. Dimitri tak benar-benar meninggalkannya sendiri.
Sera tertegun, dengan getaran aneh di hati. Pelan, langkahnya mendekat ke sana. Lelaki itu mengangkat wajah dan tampak terkejut.
Tak menyangka akan dipergoki Sera, Dimitri mengusap tengkuk. Bingung harus memakai alasan apa. Pria itu hanya khawatir Sera tidak bisa pulang dengan selamat. Belum lagi, perempuan itu sedang sakit.
Baru saja Dimitri akan buka mulut, Sera mendahului.
"Aku enggak mau dipecat." Jantung Sera berdetak cepat. Tangannya yang gemetar memegangi ujung kaus depan Dimitri.
"Aku butuh pekerjaan ini sebagai alibi karena sisa uang seratus juta dari kamu enggak bisa kuserahkan langsung ke ibu."
"Aku enggak mau dipecat. Bekerja di rumahmu gajinya besar. Kamar di rooftop itu bagus." Pandangan Sera kabur karena tumpukan air mata. Perempuan itu bisa melihat bahwa Dimitri tampak semakin terkejut.
"Sera ...." Ragu, lelaki itu melingkupi punggung tangan Sera yang memegangi ujung bawah baju.
"Jangan pecat saya, Pak." Menutup kalimat, Sera menjatuhkan air mata. Entah untuk apa air mata itu tumpah. Yang jelas, saat ini, ia tak punya keinginan untuk angkat kaki dari rumah Mirna.
Detik itu juga, lilitan kuat yang sejak kemarin menghimpit dada Dimitri dan membuatnya kesulitan bernapas, lepas sudah. Lega luar biasa.
Menangkup dua sisi wajah Sera, Dimitri mendekatkan dahi mereka. Memejam, pria itu menikmati sensasi damai yang datang dan menyapu tiap sudut hati. Ia bak menemukan sesuatu yang sudah lama dicari dan dinanti.
"Maaf," lirih pria itu. "Harusnya aku enggak bilang semua itu sama kamu."
Apa yang Sera nanti akhirnya datang. Permintaan maaf yang terdengar amat tulus itu sukses meluruhkan semua pedih di hati. Dalam isakan, dia tersenyum.
Dimitri merengkuh Sera dalam dekapan. Erat, pria itu menciumi kepala si perempuan, tak henti berucap maaf.
"Jangan lakukan lagi. Entah kenapa, saat kamu yang mengucapkan semua itu, aku percaya bahwa diriku memang sudah tidak berharga."
Memandangi Sera dengan binar di mata, Dimitri menggeleng. Kembali mengucapkan maaf. Pria itu memiringkan kepala, mulai memangkas jarak yang ada di antara dirinya dan Sera.
Menunduk, Sera memegangi bahu Dimitri. Menahan pria itu agar tidak terus mendekatkan wajah. "Jangan, Pak," ucapnya pelan dengan pipi merona.
Kaku, Dimitri menjauhkan diri. "Masih jangan?" tanyanya dengan perasaan lega.

Komentar Buku (22)

  • avatar
    ArumAisyah

    sangaat baguss

    06/05/2025

      0
  • avatar
    RahmadintaCarla

    baguss

    29/04/2025

      0
  • avatar
    Karin Nabila Kamuty

    bagus banget, seru

    18/04/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru