"Enggak sadar apa bangkainya segede tiang listrik?" Kalimat bermuatan rasa kesal itu Dante lontarkan sembari melempar tubuh Dimitri ke sofa di ruang tamu. Memegangi pinggang yang lumayan pegal, ia mengumpati si kakak. Pulang di dini hari, dalam keadaan tak sadar karena mabuk pula. Beruntung Mama mereka sedang pergi dan baru akan kembali lusa. "Sera. Nasi goreng." Rahang Dante nyaris jatuh ke lantai mendengar itu. Si pemabuk di sofa meracau barusan. Menyebut nama Sera, mantan asisten pribadinya. "Kamu dengar saya, Sera?! Wajah saya di sini, bukan di lantai!" Suara bentakan menggema, Dimitri duduk dan menatap tak fokus pada sekeliling. Dante mendekat ke pinggir dudukan kakaknya. Ditatapnya lamat-lamat wajah merah dan kacau itu. Sebuah asumsi menggelitik, tak suka penasaran, segera disuarakan. "Kamu ... mabuk karena Sera? Kamu ... suka Sera, Dim?" Mata Dimitri yang nyaris tertutup mengerjap demi menjernihkan penglihatan. Lelaki itu sempoyongan. Pusing luar biasa, ia berusaha duduk tegak. Samar-samar wajah orang di hadapan menjadi jelas. Laki-laki itu tertawa. "Kamu belum tidur?" Tangannya terjulur ke depan. Pelan, bergerak ke wajah Sera. "Sera," panggilnya sembari memangkas jarak. PLAK! Ekspresi jijik muncul di wajah Dante. Terserah pada sopan santun yang melarang adik memukul kakak. Ini situasi darurat. Jika tidak ditampar, mungkin Dimitri akan benar-benar menciumnya tadi. Pria itu pasti membayangkan Sera saat ini. Dasar gila. "Setan!" Tamparan itu menyadarkan Dimitri. Ia berdiri, berusaha mendekat pada Dante untuk mencekik leher lelaki itu. Sayang, pengaruh alkohol membuatnya tak bisa mengatur tubuh sendiri. Limbung, pria itu terjatuh dengan separuh badan di sofa. "Suka sama Sera?" ulang Dante. Kakinya menendang lutut Dimitri. "Diam!" Susah payah berdiri, Dimitri berjalan terseok menuju tangga. Satu per satu undakan di sana ditapaki dengan pijakan yang goyah. Kalau saja Sera di sini, sudah pasti perempuan itu akan memapahnya. Karena, meski membencinya, Sera tetaplah profesional dalam bekerja. Profesional atau kelewat bodoh, Dimitri tidak peduli. Masih jelas dalam ingatan Dimitri kejadian malam itu, saat dirinya mendadak sakit. Semua orang sudah terlelap, tetapi entah mengapa Sera muncul di ruang tamu dan menemukan dirinya yang nyaris pingsan karena suhu tubuh yang tinggi. Lelaki ini ingat ketika Sera tampak kerepotan membujuk Dante agar mau mengantar ke rumah sakit. "Nanti, kalau dia mati di sini, Bapak duluan yang dihantui. Habis itu baru saya." Jika saja tidak pura-pura pingsan dan memang sedikit lemas, sudah pasti Dimitri akan tertawa terbahak-bahak saat itu. Berkat ancaman konyol tersebut pula Dante akhirnya bersedia membawanya ke rumah sakit di jam tiga pagi. Bahkan pernah suatu hari, saat Dimitri terburu-buru berangkat ke toko, pria itu lupa mengikat simpul sepatu hingga membuatnya nyaris terjatuh. Tak mungkin membungkuk, sebab di tangannya ada segelas kopi dan setumpuk berkas, ia mengabaikan itu dan terus berjalan menuju mobil. Namun, Sera mengadang langkah. Tanpa menoleh, perempuan itu berjongkok, kemudian mengikatkan tali sepatu tadi. Tak lupa menurunkan kaki celana yang ternyata terlipat ke atas. Masih dengan tidak bersuara, Sera pergi setelah memastikan penampilan Dimitri rapi. "Sialaan!" Menghentikan langkah, kembali pada kenyataan, Dimitri berteriak. Sedang mabuk pun, otaknya masih saja bisa mengingat perempuan itu. *** Esok paginya, saat kesadaran Dimitri sudah pulih, Dante kembai membuka percakapan soal Sera. Di ruang makan, dengan semangkuk bubur kacang hijau di depan mereka. "Kamu enggak berbuat macam-macam ke Sera, 'kan?" Di depan Dante, Dimitri menyandarkan punggung. Lagi-lagi Sera. Seolah dunia ini hanya berporos pada perempuan keras kepala itu. "Kamu enggak melecehkan dia, 'kan?" Mata Dimitri melirik tak suka. Tuduhan bodoh. "Maksudku, enggak mungkin dia pergi tanpa alasan. Kalian enggak terlihat bertengkar, tiba-tiba dia mau resign. Besar kemungkinan kamu melecehkan dia." Menanti beberapa saat, tetapi ucapannya tak kunjung disahut atau dibantah, Dante berkata lagi. "Keji kamu kalau sampai itu benar." "Keji?" sanggah si kakak. Kepalanya Dante anggukkan. "Cewek baik-baik seperti Sera tega kamu sakiti. Berengsek kamu, Dim. Awas karma!" Yang dihakimi berdiri. Menggeser mangkuk bubur, ia menatap tajam pada Dante. Kalau saja mengikuti emosi, sudah ia lemparkan bubur panas itu ke wajah orang di hadapan. Cukup sudah. Dimitri lelah. Sepertinya, dunia hanya akan melihat, berputar dan membela Sera. Kemarin Rio, sekarang Dante. Semuanya sialan, termasuk perempuan itu. Gadis keras kepala itu yang memutuskan pergi. Tanpa bertanya atau meminta persetujuan. Padahal, apa yang tidak Dimitri lakukan agar Sera merasa nyaman bekerja di sini? Lelaki ini bahkan tidak marah karena Sera terus mendiamkannya. Lalu, sekarang, dia juga yang bersalah? Hebat sekali! Mulai detik ini, Dimitri berkata ia membenci Sera. Sampai kapan pun, tak akan mau berjumpa dengan perempuan itu. Cukup semua kekacauan yang ada. "Sarapanmu, Dim!" Dimitri melangkah menjauh dari meja makan, mengabaikan teriakan Dante. Satu langkah, dua langkah, lalu berhenti di langkah ketiga. "Nanti cepat mati kalau enggak sarapan." Dimitri ingat kalimat itu. Itu biasa diucapkan Sera saat kesal karena dirinya menolak sarapan. "Kalau enggak mau sarapan, minum teh manis hangat. Untuk bisa buat eskpresi datar kek yang Bapak punya itu perlu banyak tenaga, 'kan?" Dimitri membenci Sera. Tadi, sebelum pria ini mengingat kembali betapa ia menyukai semua hal yang pernah perempuan itu lakukan padanya. Tak ada yang pernah seberani itu. Tak ada yang pernah sepeduli itu. Tak ada yang seperti Sera. *** Sementara itu, di sebuah rumah, Mirna tampak semringah. Duduk bersama Nova di ruang tamu, wanita itu mulai bicara. Menuntaskan maksud kedatanganya. Nova adalah teman lama Mirna. Dulu, mereka sekelas saat SMA dan di bangku kuliah. Berpisah jarak mau tak mau silahkan karena sama-sama sudah berkeluarga. Dulu, mereka membuat sebuah janji. Mirna dan Nova ingin persahabatan yang ada awet sampai masa tua, maka mereka berjanji akan menjadi besan suatu saat nanti. Kedatangan Mirna ke sini adalah untuk menagih janji tersebut. Ia ingin Dimitri menikah dengan putri tunggal Nova yakni, Maudi. Usai niat diutarakan, Mirna menanti keputusan Nova dengan harap-harap cemas, tetapi juga tak sabar. Jelas Mirna berharap ini berhasil. Maudi adalah calon menantu dengan label sempurna. Dari keluarga baik-baik, sederhana, tetapi terpandang. Ayah Maudi adalah seorang dosen dan Maudi sendiri sudah menjadi seorang pengajar di sekolah sekarang. Paket lengkap calon istri untuk Dimitri, menurut versi Mirna. "Astaga, aku senang sekali, Mir. Aku sempat mengira kamu lupa janji itu. Jelas aku setuju, Dimitri itu mantu idaman. Tapi, aku tetap harus tanya ke Maudi dulu." Yes! Mirna bersorak dalam hati. Dia memeluk Nova sangking senangnya. Jika restu orang tua sudah didapat, langkah selanjutnya akan lebih mudah. Kecil kemungkinan Maudi akan menolak Dimitri dan menolak permintaan ibunya. Selesai. Misi Mirna sudah selesai, tujuannya tercapai.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
sangaat baguss
06/05/2025
0baguss
29/04/2025
0bagus banget, seru
18/04/2025
0Lihat Semua