Bab 13

Keputusan sudah dibuat.  Siang ini, setelah beberapa jam beristirahat, Sera beranjak dari tempat tidur. Menarik daun pintu di kamar rooftop itu, di tangan dua tas ransel menggantung. Sera sudah memutuskan, dia tidak akan sanggup bekerja di rumah ini, lebih-lebih harus menjadi pelayan pria itu. 
Sera akan mengundurkan diri. Masalah alibi pekerjaan, dia bisa pikirkan nanti. Meski tahu mencari pekerjaan tak semudah membalik tangan. 
Sudah keluar dari kamar, langkah berhenti. Dua tas tadi kembali ditaruh ke lantai. Sebuah panggilan dari Tina masuk ke ponsel. 
"Iya, Bu." Setenang mungkin dia bersuara. 
"Kamu sedang sibuk, Sera? Ibu ada hal yang ingin dibicarakan." 
Tidak biasanya ibunya seserius itu, Sera mendengarkan dengan sungguh. Menit berlalu, usai di seberang sana ibunya mengucapkan maksud, perempuan ini luruh ke lantai. Terduduk lemas dengan ekspresi nanar. 
Tina meminjam uang pada Lidia, salah atau  temannya. Rencananya, uang tersebut akan digunakan untuk membuka warung kecil di halaman rumah. Ibunya yakin usaha kecil-kecilan menjual barang-barang keperluan sehari-hari itu berpeluang bagus dan nantinya bisa diharapkan untuk menyambung hidup mereka setelah sembako yang ada di rumah habis dan menjadi mata pencarian setelah Tina resmi bercerai dengan Ferdi yang tak kunjung pulang. 
Sera setuju akan rencana itu. Hal demikian juga terpikirkan olehnya. Masalahnya, akibat meminjam uang untuk modal, Tina memintanya untuk tak berhenti kerja--seperti rencana semula-- meski tidak secra langsung bicara demikian.  
"Maafkan ibu karena selalu membuat kamu sudah, Nak. Gajimu akhir bulan nanti, ibu pakai untuk membayar cicilan utang pada Tante Lidia, ya?" Sedikit terisak, meski malu, Tina meminta sungguh-sungguh pada putrinya. 
Belum menjawab, Sera meratap dalam hati. Seandainya, uang yang dia miliki sekarang tak berasal dai pekerjaan kotor, mungkin semua tak akan sesulit ini. Rencana berhenti bekerja tetap bisa dilakukan, rencana ibunya berjualan juga jalan. Sera tak akan sangat membutuhkan pekerjaan ini sebagai alasan dan dengan segera bisa menjauh dari pria itu. 
Perempuan itu terus meratap. Buruk sekali nasibnya. Dari sekian banyak manusia di Bumi, haruskah terdampar di rumah Mirna yang ternyata adalah ibu Dimitri. Keadaannya ini membuat Sera meyakini bahwa ucapan ayahnya sudah jadi kenyataan. Hidupnya memang penuh kesialan. 
"Sera?" 
Panggilan tersebut membuat Sera tersadar. Dibiarkannya air mata tumpah. "Iya, Bu. Ibu bisa pakai uang Sera nanti ... pas gajian." 
Ucapan terima kasih didapati dari Tina, Sera beralasan harus segera bekerja, kemudian menyudahi panggilan. Meremas ponsel, menatap kosong, dia menangis tanpa suara. 
Pergi apanya? Mau tak mau ia tetap harus bertahan di sini. Menebalkan muka dan menghadapi Dimitri setiap hari. Orang berdosa harus dihukum, maka Sera akan merasakan neraka secepatnya. 
Cukup lama menangis, Sera mendengar suara derap langkah mendekat. Entah kenapa perempuan ini enggan menoleh ke arah tangga. Seperti sudah tahu siapa yang datang, dia bergeming di tempat. 
Dua tangan tersembunyi di saku celana, Dimitri mengamati Sera dan tas-tas yang tergeletak di belakang perempuan itu. Matanya memicing. 
"Bersikaplah profesional. Hari itu dan sekarang adalah dua pekerjaan yang berbeda. Berpura-pura saja tidak mengenali saya. Jika memang tidak bisa ... silakan. Kamu akan angkat kaki sekarang?" 
Tidak lagi menatap wajah pias dan basah Sera, Dimitri memalingkan muka ke pemandangan di ujung rooftop. Urat di sekitar rahangnya tampak mengeras. Untuk sebentar, dia menyesal sudah menarik kesimpulan sendiri dan berkata seperti tadi. Bagaimana bila Sera benar-benar pergi? 
Mendongak, Sera menyorot penuh kebencian pada Dimitri. Dia berusaha menahan diri dengan memenuhi kepala dengan wajah ibu dan adik-adiknya. Menarik napas, perempuan itu membersihkan pipi dari bekas air mata. Ia berdiri, menurunkan pandangan. 
"Bapak butuh sesuatu?" Dua tangan Sera di sisi tubuh mengepal. Rasanya seperti habis menelan bola api. Panas, ingin meledak dan juga perih. 
Dimitri menoleh, memandang lekat perempuan yang tak membalas tatapannya itu. Sedikit lega, tapi panas hati belum hilang. "Kamu sedang izin sakit hari ini." 
"Apa Bapak ingin saya membereskan barang-barang yang baru datang?" 
Keras kepala, rutuk Dimitri dalam hati. Jelas sekali tadi sedang menangis dan berniat pergi. Wajah saja masih terlihat pucat. Dimitri sudah berusaha bersikap berempati, secara tidak langsung membebaskan Sera dari pekerjaan hari ini. Namun, perempuan itu malah bersikap begini. 
"Rapikan lemari saya. Setelahnya, buatkan makanan." Berbicara ketus, Dimitri berjalan pergi dari sana. 
Berusaha tidak memikirkan apa pun, Sera melakukan perintah Dimitri. Serapi mungkin pakaian pria itu yang ada di koper disusun di lemari. Tak lupa menempatkan kursi goyang rotan yang datang bersamaan dengan koper tadi pagi ke sudut kamar, sesuai permintaan majikan. 
Selesai dengan itu, dia kemudian turun ke dapur. Di sana sudah ada bu Tesa dan Mirna. Sempat diminta kembali ke kamar dan istirahat, Sera menolak dengan alasan sudah baikan. Perempuan itu lalu bertanya pada Mirna, soal makanan apa yang harus disiapkan untuk sang bos. 
Mirna menyarankan nasi goreng dengan sosis saja. Dimitri menolak makan siang tadi, padahal sudah sengaja dihidangkan semua makanan lezat yang Mirna masak sendiri. 
"Kamu saja yang membuatnya, Sera. Buat secepat dan seenak mungkin. Putraku yang keras kepala itu mungkin sudah sangat lapar." 
Mengangguk, Sera mulai bekerja. Karena Mirna menyerahkan semua padanya, maka nasi goreng tersebut Sera buat sesuai insting. Nasi goreng dengan bumbu bawang, cabai dan bawang putih. Di atasnya ada potongan sosis dan bawang goreng. Hares biasanya menyukai bawang goreng sebagai teman makan jika sedang  tidak berselera. 
Tepat saat Sera akan membawa nampan berisi sepiring nasi goreng dan air putih hangat ke lantai atas, Dimitri dilihatnya muncul di dapur. Pria itu meliriknya sekilas, sebelum akhirnya menarik kursi di meja makan kecil di sana. 
Sera menghidangkan makanan tadi. Awalnya merasa masa bodoh, persetan akan dimakan atau tidak. Namun, karena tatapan penuh harap Mirna, perempuan ini jadi sedikit penasaran. 
Dimitri menatap tajam piring di depannya. Hendak minum, tapi kemudian gelas di tangan ditaruh lagi. "Bu Tes, minta air dingin." 
"Air hangat saja, Pak," pungkas Sera membuat Bu tesa urung bergerak. Banyak tingkah, batinnya. 
Masih memasang raut datar, Dimitri akhirnya meneguk air putih yang Sera bawa. Tak berucap apa-apa, lelaki yang jadi pusat perhatian tiga wanita di dapur itu mulai menyendokkan nasi ke mulut. 
Satu suap, dua suap, tiga suap, kemudian piring putih itu kosong tak bersisa. Menghabiskan air dari gelasnya, Dimitri beranjak dari duduk, kemudian pergi begitu saja. 
Mirna berdecak kagum usai putranya pergi. Mengusap lembut puncak kepala Sera, dia tersenyum hangat. "Sepertinya kamu cocok jadi asisten pribadi Dimitri." Wanita ini terkesima sebab sepanjang makam tadi, anaknya sama sekali tak protes tentang apa pun. Tenang, tampak lahap menikmati sepiring nasi goreng sederhana Sera, meski ditontoni. 
Sera menunduk. Tak berniat menimpali ucapan tadi. 
"Malam ini, siapkan makanan untuk Dimitri lagi, ya. Khusus Dimitri saja. Biar makanan untuk saya dan yang lain tetap urusan bu Tesa." 
"Baik, Bu. Saya permisi dulu." Sambil melangkah, Sera merutuk. Seharusnya menyumpahi Dimitri menghilang dari hadapan mata, sekarang ia malah harus mengurusi makanan pria itu. Memuakkan. Dunia ini suka sekali bercanda pada perasaan orang. 
Perut terasa nyaman, baru tiga kali kursi rotannya bergoyang, Dimitri sudah mulai dikuasai kantuk. Ketukan di pintu yang membuatnya kembali melebarkan mata. Sera muncul, bertanya soal pekerjaan apa yang harus dilakukan sekarang. Juga menu makan malam yang harus disiapkan. 
Menatapi perempuan itu, Dimitri tak berniat menjawab. Tanpa disuruh, otak mulai bekerja aneh. Lelaki ini menilai penampilan Sera. Tak berbeda dari pertemuan mereka. Hari ini kaus hitam lengan panjang kebesaran, juga celana olahgara hitam. 
Dimitri menyandarkan kepala. Pakaianya bukan masalah. Yang membuat tak nyaman adalah karena Sera terus menatap ke bawah. Sama sekali tak berniat menoleh padanya. 
"Saya harus buatkan apa untuk makan malam Bapak?" 
Bapak. Ingin sekali dia protes. Dante mungkin tak masalah dipanggil demikian. Namun, dirinya belum mengizinkan Sera menyebutnya begitu. Apa dia sudah terlihat sangat tua hingga pantas diberi panggilan itu? 
"Nasi goreng lagi?" 
Lelaki tadi mengembuskan napas perlahan. Rasa kecewa sekelebat mengisi tatapannya. Tak seperti dugaan, saat Sera melihatnya pagi tadi, perempuan itu sama sekali tak terlihat nyaman. Malah, sepertinya tak suka, sampai-sampai nyaris pingsan dan berhenti kerja. 
Lelaki ini mencari-cari apa yang salah. Mengapa Sera tak suka bertemu lagi dengannya? Mengapa Dimitri merasa kecewa akan fakta itu? Memang, sambuan seperti apa yang diharapkan? Di mana yang tidak tepat? Harapannya atau reaksi Sera? 
Saat Sera sudah berbalik hendak meninggalkan ruangan, pria itu akhirnya buka suara. "Apa saja asal bukan nasi goreng lagi. Untuk sekarang, pekerjaan yang harus kamu lakukan adalah berdiri di sana." 
Untuk sebentar mereka beradu pandang. Alis Dimitri meruncing karena lagi-lagi Sera memalingkan wajah. "Berdiri di situ. Saya ingin tidur." 

Komentar Buku (22)

  • avatar
    ArumAisyah

    sangaat baguss

    06/05/2025

      0
  • avatar
    RahmadintaCarla

    baguss

    29/04/2025

      0
  • avatar
    Karin Nabila Kamuty

    bagus banget, seru

    18/04/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru