logo text

Ekstra Part: Putus?

Dalam tidurnya, Saima merasa ada yang mengusap rambutnya beberapa kali. Ia belum sepenuhnya bangun, tetapi lewat celah matanya yang sedikit terbuka ia tahu jika Jaendra tengah mengangkat tubuhnya.
Berjalan entah kemana, oh kamar.
"Jae."
"Tidur lagi aja, Babe." Jaendra membaringkan tubuh Saima. "Maaf, ya masuk kamarmu tanpa izin."
"Mau pulang?"
Jaendra mengangguk sambil menyelimuti Saima.
"Jam berapa sekarang?"
Kebetulan Jaendra sedang memakai jam tangan dan pemuda itu segera mengeceknya. "Jam ... 2?"
Mendengarnya, kedua mata Saima terbuka sepenuhnya. Melihat dengan jelas raut lelah juga kantung hitam di kedua mata Jaendra.
Saima bangun. "Nginep aja," katanya.
Jaendra hanya menanggapinya dengan senyum tetapi kemudian pemuda itu tidak lagi berdiri, duduk di pinggir ranjang.
"Serius," tegas Saima.
"Cuma ada kita berdua di rumah." Jaendra menggeleng. "Aku pulang aja, Babe."
Saima menatap Jaendra.
"No. Jangan natap kaya gitu."
"Kaya gimana?"
"Tatapanmu berbahaya banget," keluh Jaendra memegang dada putus asa. "Jangan bikin goyah, dong ... Babe. Seharusnya kamu bantuin biar aku jadi orang yang kuat pendiriannya."
"Oke." Saima menyipit. "Tapi tetep."
"Apa?"
"Udah malem."
Jaendra tertawa, menjawil hidung Saima sebelum menukas, "Malem apaan, ini mah itungannya bukan malem lagi, Babe. Pagi."
"Iya."
"Iya apa?"
"Terserah."
"Kok?"
"Hak kamu."
"Apasih? Jangan gemes-gemes, ah. Susah pulang aku nanti jadinya."
Tatapan Saima bertambah datar.
"Galak."
"Sana pulang."
"Emang mau pulang," ledek Jaendra. "Kasih peluk dulu tapi."
Saima memeluk Jaendra.
"Jae."
"Hm?"
"Serius?"
"Serius apa?"
"Mau pulang aja."
"Ya, serius dong. Gini-gini aku ini cowok yang serius, apalagi kalo disuruh seriusin kamu. Beuh. Jelas, aku udah maju yang paling depan."
"Apasih, Jae."
"Babe."
"Kenapa?"
"Makasih udah nemenin aku. Lega banget bisa fokus dan selesain satu bab. Tumben banget, padahal kemarin sampai satu Minggu pun meski tiap malem begadang masih aja stuck. Efek ditemenin kamu kali, ya? Jadi idenya lancar karena semangat."
Saima tersenyum.
"Semoga aja nanti kalo disuruh revisi jangan banyak-banyak. Fiuh."
Benar. Memasuki semester 5, meski sempat tertunda karena mengurus banyak hal mengenai perceraian kedua orangtuanya—Jaendra mulai mengerjakan skripsinya. Tidak berhenti sampai disana kesibukannya, pemuda itu bahkan mulai magang. Meski di tempat sendiri—maksudnya perusahan yang dulu dijalankan oleh mama Jaendra tapi sekarang diambil alih oleh pamannya—Jaendra memiliki keinginan untuk memulai dari bawah.
Jaendra menolak sebuah posisi yang ditawarkannya bahkan ketika pemuda itu diperintah langsung menjadi pemimpin menggantikan pamannya yang katanya sudah ingin pensiun. Alasan dari penolakannya, jelas mau belajar dan mencari pengalaman lebih dulu.
"Tapi kalo nginep, kantornya bakal jauh lebih deket," ujar Saima tiba-tiba.
"Babe." Jaendra lebih dulu melepas pelukan mereka. "Kamu belum nyerah juga ternyata?"
"Belum."
Jaendra menggeleng yakin.
"Jae."
Begitu tatapan Jaendra fokus tertuju lurus padanya, Saima tidak membuang kesempatan untuk mencium pipi pemuda itu.
Jaendra tidak berkutik.
"I love you," imbuh Saima.
Jaendra hanya berkedip, tapi kemudian menyipitkan mata curiga.
Saima tersenyum.
"I love you more," balas Jaendra seraya mencium dahi Saima lama. "Tapi tetap, aku mau pulang aja."
"..."
Jaendra mengedipkan sebelah matanya. "Rayuan kamu nggak mempan, Babe."
Rupanya pemuda itu menyadarinya.
Sekali lagi Jaendra mencium dahi Saima, kali ini sebentar. "Aku pulang, ya. Kamu lanjut tidur aja, nggak perlu anterin aku ke depan."
"Nggak bisa," kekeuh Saima.
"Besok aku ke sini lagi, karena kalo dipikir-pikir ternyata nggak sia-sia ngikutin saran kamu buat kerjain skripsi di rumahmu. Seperti biasa, tempatnya nyaman dan tenang. Udah gitu ada bonus penyemangatnya lagi." Jaendra menggerling ke arah Saima yang tatapan datarnya tidak berubah sama sekali. Mendapatinya, pemuda itu tertawa lalu berkata, "Segitunya nggak mau aku pulang?"
"Bukan."
"Jadi?"
"Tapi kamu suruh aku tidur lagi."
"Dan masalahnya?"
"Kalo aku tidur, siapa yang bakal kunci pintu sama gerbang?"
"Jadi ini alasan kekeuh kamu tadi?"
"Ya."
Jaendra mengusap tengkuk, buang muka. "Perlakukan manis kamu ternyata emang selalu sebesar ini efeknya. Berhasil bikin aku gagal fokus," lirih pemuda itu sepertinya tidak sadar bila Sima masih bisa mendengarnya.
"Katanya nggak mempan?" Tanya Saima tenang, tidak ada unsur apapun tapi Jaendra mengira ia sedang mengejek pemuda itu.
Terbukti bagaimana Jaendra menoleh dengan mata melirik sinis.
"Aku bohong, puas?"
Saima membasahi bibir. "Banget."
***
"Cie."
Seharusnya Saima tidak perlu heran. Yang di depannya adalah seorang Aprilia Maharani dan satu kata tersebut menjadi lumrah meski ini menjadi pertemuan pertama pertama setelah berbulan-bulan tidak bertemu karena mereka berada di satu kampus yang berbeda.
Setelah sempat berpelukan sebentar, Saima menarik kursi diikuti April yang berada di seberangnya.
"Sumpah, lihat lo jalam dari sana." April menunjuk pintu cafe. "Sampai sini, aura modelnya benar-benar keluar."
"Apasih, Pril."
"Nyesel banget dulu gue ketawa kenceng banget abis lo bilang mau jadi model," sesal April. "Karena ternyata pilihan lo nggak pernah salah, cocok. Keren banget demi apapun! Gue bangga sama lo, Sai."
"Makasih."
April mengangkat dua jari jempolnya. "Tapi tetap, gue masih marah."
Saima yang sedang melihat-lihat buku menu sedikit mendongak. Mendapati bagaimana raut wajah April yang cemberut lalu setelahnya tatapannya kembali turun.
"Lo nggak pernah balas chat gue."
Saima rasa April berlebihan. Bukannya tidak pernah membalas, hanya saja tidak sesering itu. Selain sibuk, ia juga sering kali lupa membuka aplikasi chatting padahal sedang memegang ponsel.
"Tapi ya, udahlah." April meminta buku menu yang tengah Saima baca. "Lo mau pesan apa?" Tanyanya setelah pelayan yang gadis itu panggil datang.
Saima menyebut pesanannya.
"Samaan, ya mbak." April berbicara pada pelayan, setelah selesai mencatat lalu menyuruh menunggu sebentar pelayan itu pergi dan April sepenuhnya kembali menatap Saima. "Tapi, yaudahlah," ulang gadis itu. "Toh, nggak dapat perhatian dari lo—gue dapat perhatian dari yang lain."
Saima mengernyit.
April tersenyum memperlihatkan gigi. "Yup, gue akhirnya punya pacar lagi dong."
"Selamat."
"Nggak niat banget ngasih selamatnya, tapi tetep makasih."
Selanjutnya April banyak bercerita mengenai pacarnya tersebut. Mulai dari bagaimana pemuda itu, awal mereka bertemu hingga akhirnya keduanya saling menyukai dan memutuskan untuk berpacaran.
Topik tersebut berakhir ketika pesanan mereka datang.
"Oh, ya. Saima."
"Kenapa?" Saima mendongak, tatapannya tidak lagi tertuju pada orange juice yang tengah ia aduk.
April sempat menyuapkan potongan kecil cake pesanannya sebelum menjawab, "Lo ada bikin Instagram baru, ya? Terus, akun lama lo yang di private itu gimana?"
Saima mengangguk. "Lupa password." Sebenernya ia tidak berniat membuat akun yang baru, lagipula ia merasa tidak terlalu membutuhkannya. Namun, "Tapi agensi nyuruh buat."
"Ah~" April mengangguk paham. "Pasti ini karena fans lo udah banyak."
"Fans?" Saima tidak pernah merasa kalau ia memiliki seorang penggemar.
"Iyalah. Buktinya biar masih baru, followers lo banyak. Baru bikin aja  udah ada 10 ribu followers, terakhir gue liat waktu itu. Sekarang berapa, Sai?"
Saima menggeleng. Jangankan melihat perkembangan banyak followers-nya. Ia bahkan tidak sesering itu aktif di Instagram, dan sekalinya aktif itupun ia jarang sekali memposting foto selfienya dan hanya foto dari hasil pemotretan. Caption pun terkadang tidak ada selain akun agensinya yang tertulis di sana.
"Oke, sesuai perkiraan. Lo nggak mungkin sepeduli itu. Nggak masalah, yang penting sekarang lo udah follback gue meski harus ngerusuh dulu di chat karena lo-nya nggak ngeh."
Saima meneguk minumannya, kemudian meringis kecil.
"Gue sempat ngebatin, melihat lo yang sepopuler sekarang paling lo udah nggak level deket sama orang yang nggak sama populernya."
"Drama," sahut Saima tanpa beban.
"Biasanya juga kebanyakan pada gitu," sanggah April sebelum menyeruput orange juice miliknya lalu lanjut makan cake.
"Kalo gitu, jangan jadiin 'biasanya' tolak ukur buat menilai sesuatu."
"Bener juga."
"..."
"Tapi susah, udah kebiasaan." April nyengir.
Saima hanya geleng-geleng. Seperti menjadi sebuah kebetulan, tepat ia memutar kepala untuk menatap arah lain dimana ia yang memang berada di meja dekat dinding kaca tersebut mendapati sebuah pemandangan yang menjadi pemberhentian kedua matanya.
Saima kurang tahu apa kesepakatan yang Jaendra dan Niken buat karena setelah terakhir melihat di rumah sakit waktu itu, hari-hari berikutnya ia tidak lagi melihat gadis itu dimanapun. Tidak berhenti, yang lain—maksudnya teman-teman Jaendra pun seolah mendukung. Tidak pernah menyinggung nama Niken sedikit pun.
Melalui kabar yang beredar, katanya Niken cuti kuliah. Kurang jelas apa alasannya namun, setelah hampir satu tahun waktu berlalu Saima kembali melihat kehadiran gadis itu.
Di luar sana, ada Niken. Gadis itu, ah tidak. Apakah Saima harus mulai menyebutnya wanita itu? Ia melihat Niken menggendong seorang bayi.
Rupanya anaknya sudah lahir.
Saima masih memperhatikan. Bagaimana Niken yang tampak kesusahan karena kedua tangannya membawa belanjaan. Tapi kesusahan itu tidak berlangsung lama saat seseorang datang membantu.
Jaendra.
Saima sangat yakin ia tidak mungkin salah mengenali.
Melihat kehadiran Jaendra, Niken sama sekali tidak terlihat terkejut apalagi saat Jaendra menoel-noel pipi bayinya akrab. Seolah memberi bukti jika pertemuan tersebut bukan sekedar kebetulan. Bisa saja sebelum itu, mereka sudah lebih dulu bertemu. Tanpa sepengetahuan Saima.
"Saima."
Saima menoleh.
"Fokus banget. Lagi liatin apa, sih?" Kepo April melarikan pandangan ke arah yang sebelumnya Saima tuju. "Tukang baso?"
Saima mengikuti arah tatapan April. Bukan pemandangan Niken dan Jaendra yang ada di sana, mereka sudah tidak ada. Akan tetapi tidak jauh dari parkiran cafe memang ada tukang gerobak baso yang melintas.
Apakah Saima harus merasa lega? Tidak tahu.
Pikiran mengenai pertemuan Jaendra bersama Niken itu terus berkecamuk bahkan sampai malam tiba.
Saima tidak bisa tidur. Padahal Saima sudah mengatur bantal sedemikian nyaman dan memasang selimut. Ia juga sudah mematikan lampu bahkan menyalakan lilin aromaterapi tapi tetap saja kedua matanya tidak mau terpejam.
Saima akhirnya bangun, turun dari ranjang dan memutuskan untuk berjalan menuju meja belajar. Membuka buku, membaca materi kuliah yang ia dapat hari ini.
Beberapa menit berlalu akhirnya meski perlahan, Saima mulai mendapatkan fokusnya. Hanya saja, sesuatu yang susah payah ia bangun tersebut buyar dengan mudah di satu detik setelah bel rumah berbunyi.
Saima melihat jam dinding, hampir menyentuh jam 11 malam.
Jaendra ada disana ketika Saima turun. Tubuh pemuda itu yang tidak sesemangat biasanya itu bersandar di gerbang yang masih dikunci.
"Jae."
Jaendra menoleh. Lantas menegakan tubuh begitu Saima membuka kunci lalu mendorong gerbangnya agar terbuka.
Bukan wajah lelah Jaendra yang menjadi perhatian Saima, tetapi bagaimana cara pemuda itu menatap.
Dingin, sangat dingin.
Makanya, Saima pikir bukan saat yang tepat jika ia menanyakan mengapa pemuda itu datang malam-malam begini.
"Capek."
"Aku tahu." Saima berjalan mendekat, berniat memeluk tapi ia berhenti ditempat saat Jaendra menghindar.
"Kamu nggak tahu." Jaendra meraup kasar wajahnya. "Kamu nggak tahu," ulang pemuda itu tegas.
"Jae—"
"Aku capek."
"..."
"Capek sama hubungan ini, hubungan kita. Capek banget."
"Tiba-tiba?"
Jaendra tertawa sarkas. "No, ini nggak tiba-tiba. Aku udah mikirin semuanya dari lama."
"What's wrong with you?"
"Nothing."
"Then, why?"
"Apalagi?" Enteng Jaendra. "Aku cuma mau kita putus. Masa gitu aja nggak ngerti?"
Meski ketenangan itu masih ada tetapi Saima tidak bisa memungkiri jika ada rasa tak enak yang seperti menusuk tepat di uluh hatinya.
"Jadi, ayo kita putus."
***
   

Komentar Buku (65)

  • avatar
    Rusmiati

    suka banget sama alur ceritanya, bikin greget dan gak mau berhenti baca... kharakter Saima the best banget, mampu menyembunyikan perasaan itu gak mudah dan gw salut sama saima. jadi baper pokonya.

    08/08/2022

      3
  • avatar
    ImySayang

    good

    18/02

      0
  • avatar
    Renitasari Renitasari

    Sangat bagus ❤️

    07/09/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru