Selama dua puluh tahun lebih hidup, Niken sering merasa jika Tuhan terlalu mengistimewakannya. Niken selalu mendapatkan apa yang ia mau tanpa perlu berusaha keras. Dimulai dari hal yang paling umum seperti, teman—dan sayangnya, Niken tidak perlu bersusah payah untuk itu, Niken memiliki kepribadian yang supel, ia bisa berteman dengan siapa saja begitu juga sebaliknya—siapa saja bisa berteman dengan Niken. Lalu, kedudukan. Katanya, siapapun bisa menjadi apapun selama kamu cantik. Niken bukan mahasiswa cerdas yang memiliki segudang prestasi tetapi gadis itu cantik. Tipikal yang membuat orang akan menoleh sampai dua kali hanya untuk melihat, lantas spontan menyebut namanya dalam hati ketika keesokan hari kembali melihat dan menjadi mengidolakan jika sampai bertegur sapa. Yang terakhir, uang. Benar-benar beruntung karena Niken tidak pernah pusing memikirkan biaya kuliah atau yang paling sederhana adalah merasakan uang sakunya terpotong karena harus membayar iuran praktek. Bisa dibilang Niken terlahir di keluarga menegah ke atas—yang membuatnya tidak hanya mampu, tetapi terlalu mampu untuk membeli barang-barang branded tanpa perlu berpikir atau menabung lebih dulu. "Itu yang di belakang. Maju." Mari mundur beberapa saat dan Niken akan menceritakan bukti lain jika Tuhan memang mengistimewakannya. "Kenapa rambutnya diwarnai begini?" Salah satu kating pembina ospek tersebut menghampiri Niken, dari nada suaranya jelas terdengar kesal. "Angkat kepala kamu." Niken mengangkat kepalanya. Ia belum sempat menjawab ketika seseorang berdiri menempati ruang kosong di sampingnya. Sosok yang juga dipanggil maju setelahnya. "Ini lagi. Telinganya dipakein anting. Kamu pikir, kamu ini Jaehyun NCT?" "Tapi cocok, ih." Suara perempuan cekikikan menyahut. "Ganteng banget." "Apasih, lo genit. Sana urus yang lain." "Spill nama IG-nya dong, Dek. Ayo mutualan. Siapa tahu endingnya nggak cuma akun, tapi hati kita juga." Terdengar suara tawa. Niken menoleh kecil. Sebuah senyum lebar berlesung pipi langsung menyambutnya. Ah, benar. Niken selalu mendapatkan apa yang ia mau tanpa perlu berusaha keras. "Gue Jaendra." Dan lihatlah, seseorang yang mencuri perhatian Niken bahkan mungkin tidak hanya dirinya saja—mengingat bagaimana rupa sosok tersebut—sekarang, berdiri dekat tepat di sampingnya dengan tangan terulur memperkenalkan diri. "Niken." Dan Niken cukup menerima uluran tangan tersebut untuk menyambut kebetulan-kebetulan di lain hari. Kebetulan yang tidak hanya membuat Niken mengenal seorang Jaendra Eka Maharga, tetapi juga menjadi teman pemuda itu. Jaendra tidak seperti pemuda kebanyakan yang mendekatinya karena memiliki maksud. Pemuda itu tulus. Segala hal yang Jaendra lakukan merupakan keinginan sendiri dan tidak ada pemaksaan dari pihak lain. Maksudnya jika Jaendra baik, memang begitulah adanya. Fakta yang membuat Niken betah berada di dekatnya, tidak peduli karena kedekatan tersebut banyak orang berasumsi jika keduanya memiliki hubungan yang spesial atau jika Niken menampik, orang-orang akan berganti menjadi menjodoh-jodohkan keduanya. "Jaendra." Tepat ketika kelas mereka selesai, Niken menghampiri Jaendra yang tengah mencangklong tas ranselnya. "Lo masih pengin ke pantai nggak?" Karena seingat Niken, beberapa kali pemuda itu mengutarakan keinginan jika ada waktu ingin ke pantai. "Masih, kenapa emang?" Niken tidak langsung menjawab saat ada cewek menghampiri Jaendra untuk menyapa. Untungnya kali ini tidak lama, si cewek langsung pergi setelah Jaendra membalas sapaannya dengan senyum lebar yang jelas menawan. "Gue ada rekomendasi pantai." Kedua mata Jaendra langsung berbinar. "Oh, ya? Di mana tuh?" "Pokoknya ada. Nggak jauh. Kalo lo sekarang senggang gue bisa anterin ke sana." "Pas banget. Gue senggang sekarang." Jaendra mengecek ponselnya yang berisik. "Gue coba ajak yang lain, ya. Siapa tahu ada yang mau ikut." "Ide bagus." Mereka berjalan beriringan. "Gimana? Ada yang mau ikut?" "Nggak ada, pada sok sibuk semua." "Terus batal?" Jaendra memicing. "Ya, nggaklah." "Berdua aja berarti?" "Lo keberatan nggak?" "Nggak juga." "Thank you," ujar Jaendra senang. "Nanti gue traktir." "Jangan di kantin tapi." Jaendra tidak jadi membuka pintu mobil. "Biasanya lo suka ditraktir di kantin." "Iya sih, tapi lama-lama gue eneg dikira kita pacaran karena keseringan kelihatan ngantin bareng lo." Jaendra tertawa. Pemuda itu maju, membukakan pintu mobil untuk Niken. "Seatbelt, Ken." Jaendra mulai menyalakan mesin mobil. "Lo tau siapa orang yang gue suka." Benar, sedekat itu mereka. Sampai Jaendra tidak canggung memberitahu siapa gadis yang pemuda itu suka. "Cepetan tembak makanya." "Udah pernah." "Terus?" Jaendra mendengus, memilih tidak menjawab namun berselang beberapa hari pemuda itu datang menghampiri Niken dan yang lain yang sedang nongkrong bersama di sebuah ćafe hits milik teman. Jaendra memperlihatkan raut wajah seolah pemuda itu adalah orang paling bahagia di dunia. "Muka lo kenapa?" Tanya Yudha curiga. Jaendra nyengir. "Gih, kalian pesan apa aja, yang banyak. Gue traktir." "Iya tau, lo anaknya royal tapi kali ini kok ... gue mencium aroma-aroma yang berbeda." "Aroma dosa lo kali," celetuk Juan polos. "Bukan bangsat." Niken tertawa. "Lo punya berita bagus?" Tanya Theo. "Kayaknya nggak mungkin," ejek Yudha. "Belum lama, ini anak masih galauin anak gadis orang." "Siapa?" Tanya Johnny. "Biasa. Yang itu-itu aja, adik kelas Jaendra pas SMA? Pernah liat fotonya karena dijadiin wallpaper, yang kata gue cantik banget tapi mukanya datar kaya pantat tepos?" Yudha terlihat berpikir. "Mau nembak lagi, tapi takut ditolak lagi katanya. Dasar lemah." "Emang ada cewek yang berani nolak yang bentukannya kaya Jaendra?" Tanya Juan. "Kaget, kan lo?" Yudha mencemooh. "Sesuai dugaan, dia pasti bukan cewek biasa," timpal Johnny. "Cewek jadi-jadian?" Dikta bertanya datar. "Kayaknya bukan itu maksud dari omongan Johnny," sanggah Theo. "Lagi bahas apaan kalian?" Tian yang tadi pamit karena dipanggil salah satu karyawannya kembali bergabung. "Kelihatannya seru banget." "Jaendra mau traktir kita, Mas," beritahu Yudha. "Bukannya udah biasa?" "Tapi kata Yudha, kali ini ada yang beda, Mas," imbuh Johnny. "Oh, ya?" Tian menatap Jaendra. "Gue diterima." Jaendra tersenyum bangga. "Terima?" Beo Yudha. "Terima apaan sih? Kerja? Lo butuh duit? Kayaknya nggak mungkin. Harta lo, kan banyak." Jaendra merangkul Tian. "Saima terima gue, Mas ..." lirihnya bahagia. Tian yang tahu bagaimana liku-liku kisah Jaendra dengan nama seorang gadis yang tadi disebutkan, ikut tersenyum. Menepuk pundak Jaendra beberapa kali saat mendapati kedua mata sang empunya berkaca-kaca. "Finally, ya Jaendra. Selamat kalo gitu." Jaendra terkekeh. "Spill dong, jangan cuma bisik-bisik berdua aja," celetuk Yudha. Tian menganggukkan kepala saat Jaendra menatap seolah meminta izin. "Pajak jadian, nih. Terserah kalian mau pesan, gue yang bayar. Khususnya lo, Ken." Niken menunjuk diri sendiri. "Kok?" Jaendra mengangguk. "Pesan sepuasnya." Kemudian, melempar senyum penuh arti. "Makasih juga by the way." "Pajak jadian?" Ulang Theo. "Yoi, akhirnya gue diterima," pamer Jaendra. "Jangan tanya kenapa nggak ikut dibawa ke sini. Gue orangnya nggak suka berbagi, oke?" "Nggak suka berbagi apa emang anaknya nggak mau diajak ke sini?" Cibir Yudha. "Itu juga, sih." Seruan penuh kesal menyusul, tetapi setelahnya semuanya kompak mengucapkan selamat pada Jaendra termasuk Niken. "Seriously, Jaendra?" "Kaget?" Jaendra menempati kursi kosong di samping Niken. "Nggak juga. Tapi mungkin karena posisi lo yang sekarang udah ada yang punya, gue sepertinya harus mulai berpikir buat jaga jarak sama lo? Atau lo yang harus jaga jarak sama gue? Menurut lo gimana?" "Ngapain?" "Ini cewek lo. Dan nggak mungkin juga gue bakal memperlakukannya sama kaya gue nggak peduli sama para fans fanatik lo, sesinis apapun mereka karena kedekatan kita." "Ken," tegur Jaendra. "Nggak usah mikir macem-macem. Percaya sama gue." Jaendra membuktikan ucapannya bahkan sampai sekarang ketika hubungan pemuda itu dengan sang kekasih genap berusia satu tahun. Jaendra memang belum pernah memamerkan langsung pacarnya di hadapan teman-temannya selain di postingan instagram tapi pemuda itu benar-benar memastikan tidak ada drama pilih sahabat atau pacar. Lagipula, ada dan tidaknya seorang kekasih—Jaendra masih sama. Sama baiknya dan konsisten perhatian dengan semua temannya. Seharusnya tidak masalah, akan tetapi lama-kelamaan sangat mengusik Niken. "Jaendra." "Bentar lagi montirnya datang katanya. Kenapa, Ken? Lo bosen?" Niken menggeleng. "Kedinginan? Masuk mobil aja kalo gitu." Lagi, Niken menggeleng. "Ya, udah pake jaket gue aja." Jaendra melepas jaketnya, menyisakan kaus hitam tanpa lengan. Niken menolak tetapi Jaendra sudah lebih dulu menyelimutkan jaket di bahunya yang telanjang karena outfit yang ia kenakan. "Ini beneran nggak apa-apa?" "Ya nggak apa-apa. Tadi, kan gue udah bilang kalo bentar lagi montirnya nyampe—" "Bukan." Niken berdiri senderan ke badan mobil. "Maksud gue nggak apa-apa lo yang anterin gue?" Sebelumnya, Niken sempat memberitahu lewat grup jika ia butuh tumpangan untuk pergi ke suatu tempat. Biasanya Niken mempercayakan Theo, tapi karena pemuda itu sedang sibuk makanya ia mencoba meminta tolong pada temannya yang lain. Kemudian, Jaendra menawarkan diri. "Yang ada lo kali yang apa-apa," jawab Jaendra, kembali meneliti mobil meski tidak bisa berbuat apa-apa atau minimal mengetahui letak masalah yang membuat mobil berkilau milik adiknya mogok. "Sorry banget, kalo gue nggak bisa bawa lo ke tempat tujuan tepat waktu. Gosh. Andai aja gue tau kalo ini mobil sama resenya sama yang punya, nggak bakal gue pinjem." Niken tertawa. "Urgent banget nggak? Kalo iya, gue bisa pesenin grab." "Nggak perlu. Kata lo bentar lagi montirnya sampe, kan?" "Oke." "Jaendra." "Kenapa?" "Ini serius, kan? Nggak apa-apa lo yang anterin gue?" "Kalo gue apa-apa, gue nggak bakal menawarkan diri kali." "Iya juga, sih. Tapi ini, kan malam minggu. Lo nggak pacaran?" "Sempet pacaran tadi, sebelum jemput lo." "Cewek lo nggak ngambek ditinggal?" Jaendra ikut senderan di badan mobil, mengambil tempat di samping Niken. Pemuda itu melipat tangan di dada. "Justru gue yang ngambek karena liat dia kesenangan pas tau kalo gue mau pergi." Niken agak tersentak saat tanpa aba-aba tangan Jaendra terulur, membenarkan letak Jaketnya agar menyelimuti bahu Niken dengan tepat. Niken berdeham. "Cewek lo lucu." "Banget." Jaendra tertawa kecil. Ada rasa tak nyaman saat Niken mendapati binar berbeda di sorot mata Jaendra. Tidak hanya hangat, kebahagian besar jelas terpencar disana. "Namanya siapa gue lupa?" Bohong. Mana mungkin Niken lupa nama gadis yang fotonya selalu menghiasi beranda instagramnya, mengingat Jaendra sering membuat sebuah postingan yang memuat objek gadis itu di dalamnya. "Saima." Rasa tak nyaman itu semakin nyata begitu Niken mendapati Jaendra yang menatap lurus jalan raya tetapi senyum berlesung pipi tercipta. "Namanya cantik kaya orangnya." Jaendra menoleh. "Meski kalo bisa gue pengin namanya tuh ... Jaendra's future? Hehehe." "..." "Mau kemana, Ken?" "Beli minum. Haus." Jaendra menahan Niken. "Biar gue aja, lo tunggu disini." Kedua tangan Niken terkepal. "Mau beli yang mana? Air mineral atau yang ada rasa? Soft drink?" Tidak. "Eh, tapi seingat gue lo suka minum itu. Susu tanpa lemak? Bener bukan sih, namanya? Ada versi botol kecilnya, kan, ya? Kalo ada entar gue beli itu aja." Tidak bisa terus seperti ini. "Persetan." "Niken—" "Gue suka sama lo." Niken memeluk Jaendra. "Nggak cukup. Jadiin gue milik lo juga." Gila. "Nggak masalah nggak bisa jadi satu-satunya, lagian jadi yang kedua kelihatannya nggak terlalu buruk." Benar-benar gila. "Jadiin gue selingkuhan lo, Jaendra." "Ken ..." Dan kekhawatiran Niken menguak begitu saja saat Jaendra tidak hanya balas memeluk, tetapi juga mengusap rambutnya. Niken tersenyum puas. Well, seharusnya Niken tidak lupa. Jika akhirnya akan selalu seperti ini. Sekali lagi. Untuk kesekian kalinya, Niken selalu mendapatkan apa yang ia mau tanpa perlu berusaha keras. Hanya saja. "Maaf." Senyum Niken perlahan memudar. Gadis itu melepas pelukan Jaendra. "Lo nolak gue?" Tidak. Tidak mungkin. "Maaf," ulang Jaendra. "Jaendra!" Bentak Niken. "Lo beneran nolak gue?" "Ken ..." Niken mundur. "Lo teman gue." "Tapi gue suka sama lo, bangsat." "Iya, nggak apa-apa. Bukan salah lo, salah gue." "..." "Salah gue karena nggak bisa balas perasaan lo." Niken selalu mendapatkan apa yang ia mau. Dan harga dirinya terluka saat mendengar pengakuan Jaendra. Apakah Tuhan sudah tidak lagi mengistimewakannya? Tidak. Tidak bisa seperti ini. "Gue nggak minta lo buat balas perasaan gue," desis Niken. "Gue cuma minta lo buat jadiin gue milik lo juga." Jaendra maju. Menepuk pundak Niken. "Kalo gitu cowok macam apa gue kalo ngeiyain permintaan lo?" "Gue nggak peduli Jaendra!" "Ken." Anehnya Jaendra tidak sama meledaknya. "Lo yang buat gue jadi seperti ini." "Maaf." "Gue nggak butuh maaf lo, brengsek." "Maaf." Meski berusaha menampik, tidak bisa menutup fakta jika Jaendra Eka Maharga memang seperti ini. Terlalu baik. Ada sisi pemuda itu yang tidak bisa Niken mengerti, pemuda itu seperti memiliki cara tersendiri untuk memperlakukan seorang perempuan bukan modus—lebih terlihat seperti ... sebuah kesalahan besar jika Jaendra sampai menyinggung perasaan perempuan. Dan, terbukti. Setelah hari dimana Niken menyatakan perasaannya, alih-alih menghindar karena permintaan yang melewati batas dan makian tanpa henti yang gadis itu layangkan, Jaendra tetap sama. Sama sekali tidak pernah menyinggung tetapi dari sikap Jaendra setelahnya bertambah makin-makin baik membuat Niken murka. Pemuda itu tidak mau menjadikannya miliknya, tapi mengapa membuatnya berharap? Kejam, sama kejamnya dengan cara yang pada akhirnya Niken gunakan. Yang tidak hanya berhasil namun juga membuat Jaendra datang dengan sendirinya, mengiyakan permintaan Niken waktu itu. Tanpa sedikitpun pemaksaan. "Gue hamil." Berhenti sejenak mengingat kejadian yang sudah lalu, sekarang, Niken berhadapan dengan seorang Saima Adara. Jangankan berekspresi layaknya orang yang seharusnya terkejut, Saima bahkan tidak terlihat terintimidasi. Gadis itu tetap tenang, datar dan diam meski nada suara yang Niken keluarkan sangat menusuk. Niken tidak mau berpura-pura lagi. "Gue hamil, Saima." "..." "Apa lo nggak mau tau siapa ayah dari anak di perut gue?" "Pentingnya?" Niken pikir ia sedang bicara dengan patung jika kali ini Saima juga tidak menjawab. Tatapan Saima mengedar, memperhatikan koridor Rumah Sakit yang mulai terlihat ramai orang berlalu lalang. Tapi di satu sisi, nampak sedang menunggu. "Gue terkadang bertanya-tanya." "..." "Untuk semua yang udah terjadi, bahkan gue selalu ngerasa lebih pantas dari pada lo, kenapa Jaendra tetap milih lo?" "..." Niken menarik sudut bibir. "Sebenarnya apa kelebihan yang nggak gue punya tapi lo punya?" "Tahu diri." Niken langsung bungkam. Saima menoleh. "Tahu diri buat nggak merebut milik orang lain, apalagi merusak kebahagian orang lain." "..." "Benar?" "I love Jaendra." "Tahu." "Lo nggak tahu!" Bentak Niken. "Lo nggak tau gimana rasanya dipermainin sama harapan! Karena yang lo tahu cuma menerima dan menerima." Suara Niken mulai bergetar. "Lo, mana tahu rasanya berjuang?" "..." "Jadi lo mah enak." Saima mengangguk. "Kalo gitu, apa lo juga tahu kalo orang yang hanya bisa menilai orang dari luar itu adalah orang yang ... bodoh?" "..." Saima meluruskan tatapan. Menatap Niken tepat dalam tatapan yang tetap tenang, berubah sedikit dingin saat ia melangkah maju membuat Niken spontan mundur. "Lo nggak tahu," tambah Saima. "Lo perempuan. Gue perempuan. Nggak seharusnya perempuan merebut kebahagiaan perempuan lain, merebut milik perempuan lain." "..." "Jika, iya ... berarti, selain nggak berharga, lo juga sama sekali nggak bernilai?" Saima melihat rahang Niken mengeras, tetapi gadis itu tidak melakukan apapun. Terlihat tidak berdaya. "Apapun alasannya ..." Saima kembali melangkah maju, pun Niken mundur. "Nggak ada pembenaran buat apa yang udah lo perbuat." "..." "Jangan berharap gue bakal memaklumi, gue bukan orang seperti teman-teman lo." Saima melihat ke bawah dimana kedua tangan Niken yang terkepal kuat. "Apa yang lo lakukan salah, dan akan tetep kaya gitu." Niken menunduk. "Fine." Saima diam mengamati. "Maaf." Saima mengernyit, mungkin tidak menyangka Niken menyerah semudah ini. Niken mendongak. "Gue nggak berharap lo maafin gue, tapi tolong maafin Jaendra." "..." "Jangan putusin Jaendra, Saima." *** "Saima berharga buat gue." Suara Jaendra tiba-tiba terdengar di telinga, dan Niken mengingat di mana di suatu malam ketika pemuda itu menghampiri ia di apartement. Tiba-tiba, tanpa mengabari lebih dulu. Jaendra menelungkupkan wajah di atas meja. Sementara Niken masih tetap sama seperti sebelumnya, duduk diam di sofa dengan tangan memegang gelas berisi minuman. "Brengsek." Rasa pahit menyenangkan terasa saat Niken meneguk minumannya. "Terserah lo mau cerita sebanyak apapun tentang Saima, tapi jangan di depan orang yang suka sama lo, di depan orang yang lo tolak. Lo nyakitin gue, Jaendra." "Maaf." Jaendra mengangkat kepala. Niken berdecih. "Tapi gue suka lo, Ken," ungkap Jaendra. "Sebagai teman? Basi." Jaendra tidak menjawab. Pemuda itu mengamati botol alkohol Niken, dan cukup mengejutkan karena Jaendra meraihnya lalu meneguk isinya. Padahal Niken masih mengingat jelas selain tidak merokok, Jaendra juga tidak minum. "Jaendra!" Niken merebut botolnya saat melihat Jaendra akan meneguk habis isinya. "Lo gila?!" "Gue minum, Ken. Gue bahkan ngerokok. Udah cukup lama." "What?" Niken terkejut, tidak lagi menahan Jaendra. Alhasil lihatlah sekarang, pemuda tidak lagi sepenuhnya memiliki kesadaran. "Ternyata yang kaya gini cukup buat pengalihan." Niken tahu maksud Jaendra. Jaendra tersenyum. "Sebenarnya apa alasan lo suka sama gue, Ken?" "Hah." Niken menyugarkan rambut berwarna merah terangnya. "Setelah sekian lama lo baru nanyain itu?" "Maaf." "Silakan merasa bersalah, tapi stop kasihan sama gue!" Jaendra tidak menjawab. "Tapi lo tahu gue, Ken. Gue nggak sesempurna kelihatannya. Keluarga gue hancur." Benar. Tahu hal tersebut bukan karena Jaendra secara cuma-cuma bercerita, melainkan Niken tidak sengaja mengetahuinya. Niken yang waktu itu datang ke rumah Jaendra, berniat mengembalikan catatan Jaendra yang ia pinjam—yang kata Jaendra membutuhkannya segera, terkejut. Bukan senyum ramah Jaendra yang menyambut kedatangan Niken waktu itu melainkan sebuah pertengkaran. Menyembunyikan mamanya yang menangis di balik punggung, Jaendra berdiri menghadap papanya yang membawa seorang gadis muda yang jika dikira-kira pasti seumuran dengan adik Jaendra. Pertengkaran tersebut menjadi kali pertama. Kali pertama Niken melihat Jaendra semarah itu, dan kali pertama Jaendra terlihat tidak hanya sebagai orang yang berbeda tapi Jaendra juga terluka. "Keluarga gue utuh, Ken. Nggak cerai. Tapi apa yang perlu disyukuri dari itu, sementara nggak bisa menutup fakta kalo gue punya ayah yang brengsek, karena nggak hanya ada orang kedua, tapi orang itu bahkan tetap bahagia, bertahun-tahun membangun rumah tangga bareng selingkuhannya dan punya anak." "..." "Ada hari paling berat di hidup gue dimana Ayah yang nggak lagi pantas disebut ayah itu tiba-tiba muncul. Tanpa rasa bersalah. Dan lo tahu apa yang lebih menyakitkan dari itu? Gue harus membukakan pintu selebar-lebarnya dan membiarkan dia masuk rumah, kalo nggak mau lihat mama makin sedih. Nggak cukup, gue bahkan harus menahan diri buat nggak hajar dia di depan keluarga besar setelah liat gimana dia dipuji abis-abisan seolah dia adalah suami sekaligus ayah terbaik yang pernah ada!" "..." "Sakit. Sakit banget." Bibir Niken menipis. "Apa yang lo rasain itu wajar, Jaendra." Jaendra mengangguk, pemuda itu mengulas senyum miris di wajahnya yang memerah. "Yang nggak wajar itu saat gue dari keluarga nggak baik-baik aja, menginginkan dia yang dari keluarga baik-baik aja." "..." "Gue suka Saima, Ken. Gue berjuang, berkali-kali. Senangnya sampai sekarang masih nggak bisa gue gambarin saat akhirnya Saima mau sama gue. Tapi, pikiran itu selalu datang." "..." "Untuk bareng sama Saima aja nggak segampang itu meski gue punya image seorang yang katanya sempurna. Gimana kalo Saima tahu ternyata gue nggak begitu? Keluarga gue rusak, nggak harmonis. Gue punya seorang ayah yang brengsek." Kedua tangan Niken yang memegang botol dan gelas mengerat ketika mendapati bagaimana Jaendra memperlihatkan raut khawatir, yang membuktikan bila pemuda itu takut, sangat takut—sebelum tertawa tidak jelas. "Nggak bisa, gue nggak mau." Niken berdiri. "Pulang sekarang, Jaendra." Jaendra mendongak, cengengesan. "Gue nggak mau Saima tahu, dan ninggalin gue." "Gue bilang ... pulang sekarang!" "Gue sayang sama Saima, gue cinta sama Saima, banget. Saima segalanya buat gue, Ken." "Kalo gitu gimana sama gue?" Tanya Niken miris. "Maaf." "Brengsek." Niken memejamkan mata, ia tertawa sinis sebelum kembali duduk dan meneguk habis alkohol yang tersisa di gelasnya. "Nggak cukup, Jaendra." Niken menuangkan alkohol di gelasnya. "Maaf lo nggak cukup buat menebus rasa sakit gue." Jaendra hanya berkedip tetapi selanjutnya walau sempoyongan, pemuda itu menghampiri lalu duduk di samping Niken. "Lo nyakitin gue berkali-kali." Jaendra mengangguk membenarkan. "Gue nyakitin lo." "..." "Gue nyakitin lo," ulang Jaendra. "Gue nyakitin perempuan, berarti gue nyakitin mama. Dasar brengsek, lo benar-benar nggak jauh berbeda dari papa sekarang, Jaendra!" "..." "Emang, ya? Mau gue berusaha jadi sebaik apapun tetep, buah jatuh nggak jauh dari pohonnya." "Nggak gitu, Jaendra." Ada sesuatu yang menyentil hati Niken. Jika bukan karena sedang mabuk, Jaendra tidak mungkin seterbuka ini berbicara mengenai luka yang pemuda itu rasakan. "Maaf." Jaendra memegang bahu Niken, kedua mata yang memerah dan sayu tersebut menatapnya lurus. "Maaf nggak bisa balas perasaan lo, maaf karena terus-terusan jadi baik dan bikin lo jadi berharap, maaf ..." Kemudian, botol dan gelas yang tengah Niken pegang meluncur bebas, pecah berserakan menghantam lantai ketika tanpa diduga Jaendra menciumnya. Harusnya Niken luluh, harusnya ia merasa senang jika saja tidak mendengar kalimat yang Jaendra katakan setelahnya dan bagaimana pemuda itu memanggil namanya. "Jangan tinggalin aku, Babe." Niken membuka mata, kenyataan benar-benar menghempasnya. Jaendra menjauh. Meneliti wajah Niken sebentar lalu menggelengkan kepala dengan bibir cemberut. "Aku lebih suka disuguhin wajahmu yang datar daripada wajah marahmu. Sumpah! Nyeremin banget, Babe!" "Brengsek." Niken menarik depan kaos Jaendra. "Gue Niken! Bukan Saima!" "Babe, kok marah-marah?" "Fine." Katakanlah cinta memang buta. Sebuta itu sampai hati nurani seorang tertutup karenanya. Ada kalanya sesuatu dalam diri Niken ingin menyerah dengan perasaannya lalu membiarkan Jaendra bahagia bersama pilihannya tetapi yang lain protes. Bukankah Niken selalu mendapatkan apa yang ia mau? Jika iya, selamanya harus seperti itu meskipun kali ini Niken harus berusaha ... sedikit. "Ayo kita lihat seberapa hebat Saima yang lo cintai itu." Niken senyum miring. "Dia nggak tahu apapun tentang keadaan keluarga lo, apa jadinya kalo gue kasih tahu?" "Ken!" Ternyata Jaendra masih cukup sadar untuk mendengar apa yang Niken kata sekalipun untuk duduk tegak, pemuda itu sudah kesusahan. "Saima nggak sehebat itu Jaendra, dia pasti bakal ninggalin lo." "Jangan." "Anggap aja ini balasan karena lo berani nggak balas perasaan gue," desis Niken murka. "Lo nolak gue, dan suka sama seseorang yang nggak lebih baik dari gue!" Benarkan? "Lo bukan orang kaya gitu, Ken." "Berarti selama ini lo salah menilai gue." "Jangan bilang apapun," mohon Jaendra. "Gue punya hak buat nggak menuruti apa kata lo." "Ken ..." "Nggak, Jaendra." Jaendra mengangguk pasrah, kemudian menatap Niken dengan sejuta rasa bersalah lewat sorot mata sendu. Niken buang muka. "Jika menjadi selingkuhan gue, membuat lo merasa lebih baik. Let's do it." Niken berhasil. Tapi sepertinya ia lupa. Ia boleh saja menjadi pemeran utama untuk hidupnya, namun untuk menjadi pemeran utama di hidup orang lain ia tidak bisa. Terlebih, akhirnya akan selalu sama. Ia hanya si antagonis, dan seperti layaknya bagaimana peran tersebut di dalam cerita—benar, ia tidak tahu diri berharap banyak, padahal akhir tidak akan pernah memihaknya. Di akhir cerita, si pemeran utama pria akan kembali pada si pemeran utama wanita—semengusahakan apapun usaha Niken. Menempatkan diri berada di saat-saat terburuk Jaendra, dengan upah setidaknya pemuda itu mau meluangkan sedikit tempat di hatinya untuk Niken. Masih tetap tidak bisa, sekalipun tidak hanya sekali tapi pada akhirnya Niken mengunakan cara murahan. Niken nekat mencium Jaendra bahkan ketika pemuda itu tidak sadar dan sedang dalam pengaruh alkohol, melakukan hal-hal yang jelas disebut pelecehan tapi yang membuat Niken tak habis pikir adalah ... Jaendra selalu memaafkannya. "Yang buat lo kaya gini gue. Nggak apa-apa. Salah gue, bukan lo, Ken." Sejatinya manusia yang tidak pernah merasa puas, ketika diberi dia akan terus menginginkan lebih. Alih-alih merasa bersalah, Niken justru semakin tidak tahu diri. "Jaendra peringatin semuanya termasuk gue buat diam, Ken," mulai Tian setelah memanggil Niken untuk berbicara empat mata. "Tapi gue nggak bisa, Ken. Bukan karena gue orang paling tua diantara semuanya dan gue berhak membangkang—tapi sebagai sahabat lo dan Jaendra, tolong ... buat kali ini aja dengerin gue. Berhenti main-main, apalagi sampai Saima yang jadi objek mainan lo." "Sebenarnya apa hebatnya cewek itu, sampai lo bahkan mihak dia, Mas?" Niken tidak terima. Tian menggeleng. "Saima nggak salah, Ken." "Jadi menurut lo gue yang salah?" "..." "Salah karena suka sama Jaendra?!" Cecar Niken. "Salah karena gue berusaha perjuangin perasaan gue buat Jaendra?!" "Cinta itu buta, tapi gue yakin cinta nggak buat hati nurani lo sepenuhnya buta. Gue nggak menyalahkan lo karena suka sama Jaendra karena kita nggak bisa ngatur sama siapa kita bakal suka. Tapi cara lo perjuangkan rasa suka lo itu salah, Ken." "Ternyata bener kalo gue salah." "Jaendra juga salah. Kalian sama-sama salah." "..." "Nggak selamanya apa yang lo mau, lo bisa dapetin itu. Tuhan lagi peringatin lo, Ken. Lo nggak bisa mendapat perasaan Jaendra tapi lo milih menutup telinga, memanfaatkan rasa bersalah Jaendra untuk memuaskan keinginan lo." "..." "Dan Jaendra. Nggak ada yang salah sama bersikap baik. Tapi terlalu baik dan merasa bersalah sama hal yang seharusnya bukan menjadi kesalahannya itu salah, apalagi sampai bertingkah bodoh dengan menawarkan diri mengiyakan permintaan gila lo yang jelas menyakiti dirinya sendiri." "..." "Jaendra emang selemah itu sama perempuan. Dia nggak bisa berbuat kejam sama perempuan karena itu bakal ngingetin sama perbuatan papanya yang nyakitin mamanya, lo pasti udah tahu itu. Lo selamat karena lo perempuan, Ken," peringat Tian yang tidak Niken pedulikan. "Tapi lo pernah mikir nggak? Gimana selain sama perempuan, Jaendra beda. Lo nggak bakal percaya kalo ternyata Jaendra bisa sekejam itu. Gue pernah menyaksikannya sendiri, Ken." Niken tidak percaya. Tidak setelah ia melihat sendiri bagaimana Jaendra menghabisi Theo. Sekali lagi, cinta memang buta. Theo yang posisinya menyukai Niken tetapi tidak tahu apa yang terjadi, dan mengira Jaendra merebut Niken darinya, murka. Jaendra Eka Maharga memang bukan lawan Theo, tetapi Theo nekat sekalipun beberapa kali Jaendra memberi peringatan karena sadar akan rencana yang coba Theo buat. Puncaknya, ketika Theo berhasil mengirim video Jaendra dan Niken berciuman—ralat, sebenarnya Niken yang mencium Jaendra—pada Saima. Tidak perlu menunggu lama untuk Jaendra mengetahuinya. Jaendra marah. Sangat marah. Beruntung, ketika perkelahian antara Jaendra dan Theo terjadi, ada yang lain. Jika tidak, Jaendra benar-benar menjadi seorang pembunuh mengingat betapa brutal pemuda itu, masih bisa menyerang dan memukuli Theo tanpa ampun sekalipun ditahan. "Jaendra ..." Niken shock. Jaendra terduduk dengan kepala menunduk. "G-gue harus gimana?" "..." "G-gue nggak mau kehilangan Saima." Ternyata memang benar, memilih menyerah adalah pilihan yang tepat. Sebab, sampai kapanpun, sampai selelah apapun, Niken tidak akan bisa membuat Jaendra membagi sedikit saja perasaannya sekalipun dengan cara kejam yang ia gunakan. Hanya saja, sepertinya menyerah Niken sudah terlalu terlambat. Sakit. Berhadapan dengan ayahnya memang membuat Jaendra tak berdaya tetapi Niken baru tahu ternyata ada yang membuat Jaendra lebih dari tak berdaya. Jaendra hancur, pemuda itu putus asa juga sangat takut di saat yang sama. "Jaendra, maaf ..." Jaendra menoleh. "Nggak apa-apa. Bukan salah lo, salah gue, Ken." *** "Sayangnya gue punya hak buat bilang nggak." Suara Saima akhirnya terdengar di tengah lamunan panjang Niken. Niken pikir ia akan mendapatkan jambakan atau jika tidak pasti makian—Niken bahkan sudah membayangkan itu—tetapi Saima tetap pada posisinya. "Kita udah selesai, Saima." "..." "Dan, anak yang gue kandung ini bukan anak Jaendra," ungkap Niken. Hanya itu, karena untuk menjelaskan lebih lanjut sepertinya ini bukan sesuatu hal yang harus Saima ketahui secara menyeluruh. "..." "Gue nyerah." "..." "Gue relain Jaendra." "Memang seharusnya begitu." Masih ingat Niken akan perkataan Saima. Katanya, kita memang lebih memahami sesama gender ketimbang gender yang berbeda. Tapi untuk memahami makna dibalik tatapan tenang Saima, Niken tidak bisa. Saima memang sehebat itu, walau berapa kali Niken berusaha menepis fakta tersebut. Jika dilihat hanya sekilas, memang Saima tidak melakukan apapun—itulah yang membuat Niken berpikir, Jaendra pantas mendapatkan seorang yang lebih baik, yang bisa menunjukan kasih sayang serupa yang selalu Jaendra perlihatkan untuk gadis itu dan ia merasa orang itu adalah dirinya—namun jika diteliti lebih dalam, tatapan datar itu meski serupa tetapi ada yang berbeda saat Saima menatap Jaendra. Saima tidak egois. Setidak peduli apapun kelihatannya, Niken melihat jika serandom apapun tingkah Jaendra—Saima tidak keberatan untuk meladeni. Mereka termasuk Niken sungguh salah menerka, Saima tidak mementingkan dirinya sendiri. Saima ... punya hati. Saima diam, terus diam dan selalu diam. Tidak peduli pada sekitarnya namun ternyata disuatu hari dimana Niken medapati bila dibalik fokus Saima yang tengah membaca buku rupanya ada foto Jaendra yang terselip ditengahnya yang sedang ditatap. Benar, Saima tidak perlu menjadi murahan seperti Niken untuk memperlihatkannya. Saima mencintai Jaendra tanpa banyak orang tahu, tanpa banyak orang menyadari itu. "Jangan putusin Jaendra, Saima," pinta Niken lagi. "Gue nggak sebodoh itu." Niken mengangguk pasrah. "Kasih gue kesempatan buat jelasin hal yang mungkin aja nggak lo tahu." Saima membiarkan dan Niken melakukannya. "Salah besar kalo lo pikir gue bakal bikin semua ini jadi mudah." Itu tanggapan Saima setelah mendengar penjelasan Niken. "Saima—" "Lo main-main sama orang yang salah." Niken berusaha memperbaiki apa yang bisa diperbaiki. Namun mendengar apa yang Saima katakan, gadis itu sepertinya tidak akan membuatnya mudah meski Niken misalnya sampai nekat sujud-sujud dikakinya sekalipun. Terbukti. Saima membalasnya. Pun, pada semua. Tidak sama menyakitkannya namun tidak ada balasan yang lebih menyakitkan ketika kamu disadarkan oleh rasa bersalah yang tidak akan pernah memudar. "Aku nggak akan nahan kamu lagi." Jaendra menyerah. "Kamu ... boleh pergi, Babe." Mungkin jika Niken belum sadar. Tentu ia akan menjadi orang paling bahagia ketika mendengarnya. Tidak peduli berapa banyak orang yang terlibat lantas tersakiti karena keegoisannya. "Jangan maafin aku." Tapi tidak dengan sekarang. Niken maju, meraih lengan Saima. "Saima ..." Saima langsung menoleh, menggernyit tidak minat. Niken melihat Jaendra yang menunduk dengan bahu bergetar. "A-apa yang terjadi, itu bermula dari gue. Tolong ..." Niken meremat jemari Saima, memohon. "G-gue udah jelasin semuanya sama lo, tadi, kan?" "Terus?" Tanya Saima dingin. Niken menggigit bibir bawah, menggeleng. Tidak bisa. Tidak boleh seperti ini. "Jangan tinggalin Jaendra ..." "..." "Jangan putusin Jaendra ..." "..." "Jaendra nggak salah Saima!" Entah apa yang salah dari kalimat Niken barusan, namun tawa kecil yang Saima ciptakan membuat Niken melongo. "Jaendra salah," tegas Saima. "Saima—" "Salah karena udah jadi sebodoh itu, sampai sejauh ini?" Saima menggeleng tak habis pikir. "Merasa insecure itu hal yang manusiawi." "..." "Tapi, Jae." Saima melirik tajam Jaendra. "Otakku nggak secetek itu, ninggalin kamu hanya karena keadaan keluargamu begitu. Kamu nggak bisa ngatur mau lahir di keluarga mana." "..." "Kamu nggak sempurna itu wajar karena kamu manusia. Dasar bodoh." ***
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (65)
Rusmiati
suka banget sama alur ceritanya, bikin greget dan gak mau berhenti baca... kharakter Saima the best banget, mampu menyembunyikan perasaan itu gak mudah dan gw salut sama saima. jadi baper pokonya.
suka banget sama alur ceritanya, bikin greget dan gak mau berhenti baca... kharakter Saima the best banget, mampu menyembunyikan perasaan itu gak mudah dan gw salut sama saima. jadi baper pokonya.
08/08/2022
3good
18/02
0Sangat bagus ❤️
07/09/2025
0Lihat Semua