logo text

Bab 71 Kupinang Mantan Istriku

Dua hari kemudian Ammar baru menanyakan lagi perihal jawaban Ayudia. Sebab ... semakin ditunggu, Ayudia justru semakin kelihatan menjauh, membuat Ammar dilanda kegalauan. Dengan amat sangat terpaksa, Ammar membuang urat malu dan melapisi wajahnya dengan tembok, Ammar menagih jawaban Ayudia. Dengan santai dan hanya dalam sebuah pesan singkat. Ayudia menjawab dengan Jawaban yang masih sama. Tetap iya, membuat Ammar merasa bingung akibat tak mau terlalu percaya diri dulu dan akhirnya kecewa.
Lalu ia desak lagi agar menuliskan jawaban yang jelas menggunakan kalimat, bukan sekedar satu kata.
[Iya, Dia mau kembali dengan Kakak.]
Pesan yang Ayudia kirim barusan, Ammar pandangi sampai lama, sampai seluruh kepingan jiwa dan kewarasannya kembali. Lalu ...
"Yey! Yes! Alhamdulillah ya Allah ...! Alhamdulillah! Hore ... Umi ... Dia mau, Dia mau, Mi ....!"
Umi tidak heran, sebab beliau begitu paham dengan tabiat anaknya yang memuja Ayudia. Janggal jikalau Ammar tidak jingkrak-jingkrak. Jika sudah begitu, artinya Ammar sehat jasmani. Umi acuh tak acuh, hanya berucap Alhamdulillah dan menasihati Ammar untuk menyalurkan rasa syukurnya dengan berbagi. Mau apalagi? Yang benar saja jika Umi harus kegirangan dan teriak-teriak hingga memekakkan telinga yang mendengar?
Syukur yang tiada bisa Ammar ungkap lagi. Senyum hampir tak bisa terkulum sebab terlanjur terbit. Hanya satu kata 'iya', mampu mengacau kewarasan Ammar. Pria itu meninggalkan rumah, membuat Umi tak bisa untuk tidak ikut tersenyum. Energi positif Ammar tularkan begitu cepat.
Umi geleng-geleng. "Alhamdulillah, semoga Allah selalu menyertaimu, Am. Jadilah suami yang welas asih." Gumam Umi.
Ammar berlari sepanjang satu kilometer, menuju mini anjungan tunai mandiri dan menarik sejumlah uang dari dua kartu debit. Lalu kembali lagi dengan melakukan hal yang sama. Berlari.
Konyol memang, namun tak bisa dimengerti, juga sulit untuk dikendalikan. Bahagia ... dalam dan teramat sangat. Alhamdulillah Ammar masih ingat siapa yang memberi dan siapa yang Maha membolak-balik hati manusia. Allah. Tentu semua karena Umi selalu ada untuk mengingatkan. Ia tak serta-merta bungah lalu sombong kembali merajai. Tidak, Ammar justru ingin berbagi kebahagiaan pada santri-santri yang ada di sana.
Uang pecahan limapuluh ribu rupiah, ia bagikan ke anak-anak. Ada keheranan dibenak Abah saat melihat putranya sangat dermawan. Ingin mendatangi dan bertanya, namun tubuh Ammar sudah terlanjur dikerubungi badan-badan mungil santri Madrasah Ibtidaiyah. Semua mendapatkan, entah berapa banyak yang Ammar hamburkan. Bukan pemborosan, itulah wujud syukur Ammar.
Usai berbagi sedikit hasil keringatnya, Ammar masuk ke dalam rumah. Memasuki kamar dan mencari secarik kertas berwarna merah jambu yang pernah ia simpan. Sebelum ia benar-benar datang untuk melamar nanti malam bersama Abah dan rombongan. Ia akan memberi Ayudia kado yang indah lebih dahulu.
Sebuah frame dengan hiasan dua cincin nikah mereka dulu, ada lampu, bunga dan foto dirinya, Ayudia juga Fa. Entah kapan ia memotret Ayudia. Ia membeli frame tersebut saat di perjalanan ke luar kota. Kini, ia ingin membubuhi sedikit tulisan yang bisa mengungkapkan rasa cintanya untuk Ayudia.
Terimakasih telah sudi memberikan kesempatan yang tidak terhitung ke berapa. Terimakasih atas kelapangan hatimu. Terimakasih atas keluasan maafmu. Kamu yang terbaik dan akan selalu menjadi yang terbaik untukku. Sekedar terimakasih rasanya sangat kurang untuk bidadariku ini.
Dia ... biarkan bingkai ini menjadi bukti kita pernah terikat, berpisah dan pada akhirnya bersatu lagi. Aku ingin denganmu selamanya ....
Menghabiskan sisa-sisa usia saat aku tak lagi kuat berdiri, hanya denganmu. Menatap dan menata masa depan Fa. Biarlah dokter pernah memvonis penyakit yang sama mengalir di setiap tetes darah kita. Namun ... Sang Mahakuasa masih setia memberi dan mewujudkan yang tak terduga.
Tidak ada yang lebih berarti dari ini ... dari anggukan kepalamu saat kembali menerima lelaki bajingan sepertiku. Bidadariku ... surga anak-anakku. Tetaplah setia menemani, saling menjaga dari laku tercela. Ayu kecilku yang cengeng, cinta pertama dan terakhirku. Terimakasih ... bidadari dunia akhiratku.
Sekali lagi ... Kupinang kau Mantan Istriku ....
Usai menuliskan itu, Ammar memasukkan ke dalam paper bag. Lalu meminta Fatma untuk mengantarkan ke rumah Ayudia. Ammar tidak pusing lagi dengan urusan perhiasan untuk lamaran nanti, semua sudah Ammar beli jauh sebelum Ayudia menikah dengan Adam.
Bahagianya sedang tumpah ruah. Ia juga sudah memborong semua pedagang kaki lima di depan pondok pesantren. Siapa saja yang makan hari ini tak akan membayar. Gratis dari Ammar.
"Am ... kamu belum beli cincin untuk Dia nanti malam."
"Semua sudah siap, Mi."
"Kapan beli?"
"Kemarin, Umi ndak usah bikin kue banyak-banyak lah, nanti kecapekan. Ammar ndak mau pernikahannya ditunda terlalu lama. Nanti bilang Abah ya, Mi. Langsung cari hari baik."
"Ndak sabar aja."
"Iyalah, Mi. Biar Dia ada yang meluk." Ammar memeluk Umi dengan gemas.
"Pikiranmu, Am ...." Umi berlalu.
* *
Ayudia juga memiliki rasa yang sama, bahagia. Namun ia lebih lempeng dan tidak seheboh Ammar. Ayudia hanya membuat bingkisan dan membagi ke anak-anak yatim. Ia mengundang Andre, memintanya untuk mengajak Pak Lik yang merupakan keluarga dan wali satu-satunya. Meski pada akhirnya nanti saat akad wali akan diambil alih oleh hakim. Tidak masalah.
Ayudia ingin merasai bahagia dengan keluarga semata wayang.
Perempuan itu juga tidak melupakan berkunjung ke makam Adam. Rencananya sore nanti bersama Andre dan Pak Lik juga Najma. Meski sudah tiada, Adam adalah lembaran kebaikan bagi Ayudia. Pria itu banyak mengajarkan hal terpuji juga mengingatkan yang salah. Adam bisa menggantikan bahu ayah untuk Ayudia. Rasa yang selama ini Ayudia salah artikan.
"Dia, ada Fatma!" Teriak Andre dari luar, ia bersama Najma sedang mengemas pesanan produk kaktus.
Ayudia menidurkan Fa, "Iya." Sahutnya, lalu keluar.
Fatma yang baru duduk, seketika berdiri saat Ayudia datang, "Ini bingkisan dari Mas untuk Mbak Dia." Menyerahkan paper bag.
"Makasih ya, Dek." Ayudia kembali masuk ke dalam.
Senyum merekah bagai rembulan sabit diantara bintang kejora. Wajahnya cerah secerah purnama yang didamba pungguk. Debaran jantungnya berirama seperti genderang. Bismillah dulu sebelum membuka, sebab tangannya sudah terlebih dahulu gemetaran.
Mengambil kertas merah jambu, lalu menarik bingkisan dan membukanya. Kelap-kelip lampu langsung menyambut penglihatan Ayudia. Tersenyum ke sekian ribu kali, lalu membaca pesan yang Ammar tuliskan.
Sejurus dengan hatinya yang meleleh, air mata juga membanjiri pipi. Nikmat mana lagi yang engkau dustakan? Semua datang tepat saat manusia sudah mampu menerima nikmat tanpa kesombongan dan takabur. Tepat saat cobaan sudah membentuk pondasi keikhlasan, serta kebersyukuran yang lapang. Semua datang sesuai kehendak Allah. Tiada yang terlambat, tiada yang kebetulan, semua tentu dengan garis kehidupan yang sudah tercatat.
"Alhamdulillah, terimakasih Allah. Ikhlasku Engkau balas bagai aliran sungai yang tiada bermuara."
* *

Komentar Buku (58)

  • avatar
    LiyduLismawati

    awal baca judul kirain bakal sama dengan novel novel lain. ternyata beda sama sekali. setelah dibaca sampe akhir ternyata banyak kisah di dalamnya, masalah juga yg rumit, bikin keki, kesel, jengkel marah sedih seneng lucu ngakak ketawa bahagia. diselipin juga pengetahuan, pengalaman dan pembelajaran hidup terutama berumah tangga.walaupun ujung-ujungnya balik sama Ammar lagi sesuai judul tp tetap saja sedih sama perjuangan dan perhatiannya Adam. Kenapa harus dibuat meninggoy coba. sedih akutuh😭

    16/07/2022

      0
  • avatar
    FarezkyAdam

    Sumpah penasaran sama lanjutan cerita Ammar dan Ayudia, ayo thor up lagi..

    05/05/2022

      0
  • avatar
    HasanIstiqomah

    ceritanya sangat bagus dan menyentuh

    17/03

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru