Beranda/Kupinang Mantan Istriku/
Bab 7 Bahagia dalam Luka
Ayudia sedikit terhibur dengan keputusan Abah yang mengajaknya untuk bergabung di MI Asmaul Husna. Usai makan malam, Abah kembali dengan rutinitasnya bersama santri. Najma, Fatma juga Muha pun sama, kembali mengaji. Umi duduk di ruang tamu, biasanya ada beberapa orang bertamu ataupun para santriwati yang sekedar ingin ilmu tambahan.
Ayudia memunguti piring-piring kotor dan membawanya ke cucian piring. Ammar kembali ke kamar, Ayudia belum tahu apa saja aktivitas yang Ammar lakukan dalam sehari-hari.
"Dia, sudah. Tinggalkan saja, biar Najma dan Fatma yang membereskan semuanya sepulang ngaji nanti." Seru Umi dari ruang tamu.
Sayup-sayup, Ayudia mendengar obrolan, mungkin sudah ada tamu yang datang. Batin Ayudia.
Ayudia meninggalkan cucian piring sebentar, lalu membuka horden pembatas antara ruang tamu dan dapur.
"Ndak papa, Umi. Ini kan pekerjaan Dia juga, Dia sudah biasa mencuci piring dan baju waktu di rumah Atuk."
"Nanti Dia kecapek'an, sudah ... tinggalkan saja."
"Dia ndak capek, Mi. Udah ndak papa, malah kasihan Najma dan Fatma nanti pulang ngaji pasti sudah ngantuk."
"Ya sudah, lepas itu kamu istirahat."
"Iya, Mi."
Ayudia kembali ke cucian piring. Satu persatu piring dan gelas selesai dicuci. Ayudia meraih kain lap untuk menyeka air yang menempel di tangan.
Perutnya terasa nyeri, ia pun segera melangkah menuju kamar. Sebelumnya, Ayudia pamit dulu pada Umi. Ia sempat menyalami santriwati dan tamu yang berkunjung.
Ayudia merasa risih karena mereka menatap dirinya dengan aneh. Ya, Ayudia tahu sebab mereka menatapnya seperti itu.
Ayudia tak menutup rambut indahnya dengan hijab seperti mereka. Ayudia belum banyak memiliki koleksi hijab. Baru satu helai hijab instan dan dua helai hijab segi empat. Yang biasa Ayudia gunakan hanya selendang. Kain panjang seperti selendang itu adalah hijab terkini anak muda, mereka menamai dengan pasmina.
Ayudia tak acuh, ia belum memiliki alasan atau sebab untuk menutup surai hitam nan lurus tersebut.
Ayudia menutup pintu kamar, ia tak menemukan Ammar di sana. Ayudia membuka ransel, mencari pembalut di dalam. Untung saja tidak ketinggalan di rumah uti. Jika saja tertinggal, Ayudia pasti akan kelimpungan.
Pembalut instan ia pilih untuk menghalau darah menstruasi menembus keluar. Sebenarnya Ayudia tahu kalau pembalut buatan pabrik itu tidak bagus, banyak efek samping yang akan ditimbulkan. Namun apa mau dikata, pembalut kain lebih mahal harganya, padahal jika dihitung mungkin sama saja. Pembalut kain bisa dicuci dan dipakai kembali, sedangkan pembalut instan hanya sekali pakai.
Bedanya, sekali beli pembalut kain bisa merogoh kocek ratusan ribu. Kan tidak mungkin belinya hanya satu. Profesinya sebagai guru honorer yang bergaji tiga ratus ribu perbulan, benar-benar harus ekstra pandai mengatur pengeluaran.
Ayudia membawa satu piece pembalut panjang ke dalam kamar mandi. Setelah selesai mengganti pembalut, Ayudia membaringkan tubuhnya. Rasanya perut Ayudia semakin nyeri, seperti sedang diremas-remas.
Ia mencoba duduk, meneliti seluruh ruang kamar yang memiliki lebar 5 x 5 meter persegi, tidak termasuk kamar mandi. Cukup luas, di dalam juga ada dua lemari jati dengan masing-masing memiliki dua pintu. Belum lagi lemari kecil di samping ranjang. Juga ada meja rias, di atasnya berjajar beberapa minyak wangi, sisir dan entah apa.
Ayudia hanya melihat, ia tak berani menyentuh barang-barang di sana selain ranjang, meja kecil di dekat ranjang dan kamar mandi.
Baju-baju Ayudia pun masih tersusun berantakan di ransel yang ia bawa. Bagaimana tidak berantakan, jika berkali-kali Ayudia menarik helaian baju dari dalamnya.
Setelah puas memandangi barang-barang milik Ammar, Ayudia kembali merebahkan tubuhnya. Rasa sakit masih mendera. Biasanya tidak sesakit itu, entah kenapa saat tak ada teman, ia justru mengalami kesakitan yang teramat.
Sudah pukul sepuluh malam, Ayudia belum juga bisa tidur. Ia masih memegangi perutnya dengan meringis menahan sakit.
Ceklek!
Pintu dibuka oleh Ammar. Ayudia yang tengah meringkuk menghadap dinding, bergerak pelan untuk duduk.
Gadis itu memerhatikan gerak-gerik Ammar. Pria itu terlihat menaruh peci di atas meja rias. Lalu masuk ke dalam kamar mandi guna mengganti sarungnya dengan celana dasar panjang berwarna hitam.
Ayudia menunggu Ammar bicara, namun apa yang diharapkan tak terkabul. Akhirnya ia mengalah dan membuka obrolan.
"Ma'af, Dia tidur di sini." Ucapnya pelan.
"Sekarang kamu pilih, mau tidur di ranjang atau tidur di karpet." Kata Ammar.
Hati Ayudia serasa tertusuk anak panah dari kejauhan. Ia tidak menyangka anak seorang kyai besar, tega mengatakan itu. Untuk bergerak saja kesulitan, apalagi harus turun dari ranjang dan pindah ke karpet tipis yang digelar di lantai.
Mata Ayudia memanas, napasnya terasa sesak. Dengan berat hati ia kembali mengalah.
"Dia, tidur di bawah saja." Ayudia menarik kakinya, kedua tangan masih setia memegang perut. Bibirnya ia gigit kuat, untuk menahan sakit agar ia tak sampai mengaduh.
Dengan angkuh, Ammar mengibaskan selimut yang telah dipakai oleh Ayudia. Gadis itu hanya mampu meneteskan bulir bening dari mata.
Pernikahan impian hanya menjadi angan-angan belaka. Ayudia jadi membandingkan Ammar dengan anak pak lurah di kampungnya.
Andre adalah anak pak lurah yang telah lama mendekatinya. Andre hanya lulusan SMA, ia pun tidak mengenyam bangku pesantren sama sekali. Namun, pria itu memiliki sopan santun yang patut diacungi jempol.
Ayudia menggeleng beberapa kali, agar pikirannya kembali pada kenyataan.
Ayudia duduk di karpet, alas itu digelar tepat di bawah kaki Ammar jika ia sedang tidur. Ayudia melirik, berharap suaminya memiliki belas kasih padanya. Ternyata tidak sama sekali. Ammar bahkan terlihat enjoy dan nyaman tanpa beban.
Ammar tidur dengan posisi miring ke dinding, seperti Ayudia sebelumnya. Bedanya posisi tubuh Ammar lurus, tidak melengkung seperti orang kesakitan.
Ayudia merangkak untuk meraih tasnya yang berada di samping meja rias. Ayudia tak sanggup berdiri, rasa sakitnya benar-benar menyiksa.
Menggeser ransel dan menjadikan bantal untuknya menumpu kepala. Ayudia merasakan sedikit pusing, mungkin efek dari menstruasinya.
"Uti ... perut Dia sakiiittt ... Dia kangen Uti sama Atuk. Hiks hiks." Ayudia terisak pelan, ia tak lagi sanggup menahannya.
Sudah pukul dua dini hari, namun Ayudia belum bisa terlelap. Rasa sakit masih merajainya.
Ammar menggeliat, lalu pria itu duduk. Ayudia seketika pura-pura memejamkan mata dengan menyembunyikan wajahnya yang penuh air mata.
Ammar berdiri, menoleh ke bawah untuk melihat Ayudia. Ia tahu mungkin Ayudia hanya pura-pura tidur, tubuhnya masih bergetar seperti seorang yang tengah menangis.
"Biar dia tahu, aku tidak tertarik untuk jatuh cinta padanya." Batin Ammar.
Ammar ke kamar mandi untuk buang air kecil, selepas itu ia kembali tidur. Ayudia masih terisak, Ammar tak ingin bertanya ataupun meminta gadis itu tidur di sebelahnya.
Hingga pukul tiga dini hari, Ayudia akhirnya berhasil terlelap. Tertidur pulas, hingga tak menemui siapapun di dalam mimpinya.
Samar-samar, silau matahari mengusik tidurnya. Ayudia terbangun, melihat jam dinding yang melekat di tembok. Jarum pendeknya menunjuk angka enam, sedang yang panjang ada diangka tiga.
"Astaghfirullah, Dia kesiangan," Gumamnya. Sebelum bangun, Ayudia meraba bagian bawah, setelah itu ia melihat ke karpet.
"Alhamdulillah, ndak tembus." Kata Ayudia.
Cepat-cepat ia melipat karpet lalu beranjak dari sana menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Keluar dari kamar mandi, Ayudia duduk di lantai, mengambil kaca serta bedak tabur dan lipstik. Lipstik berwarna merah muda ia pilih, untuk menyamarkan bibirnya yang agak pucat.
Ayudia menggelung rambut panjangnya dengan tusuk konde, lalu ia menutup rambut dengan selendang yang tersampir di bahu.
Lima belas menit Ayudia gunakan untuk mandi dan bersiap-siap mengajar di MI, seperti perintah Abah.
Ketika hendak membuka pintu, suara tak mengenakkan terjun bebas ke gendang telinga Ayudia.
"Menantu seperti itu pilihan Abah? Menantu yang ndak ngerti adab? Mana ada menantu baik, di rumah mertua bangunnya kesiangan?"
"Kamu ndak perlu menjelekkan Ayudia, Am. Abah lebih tahu dia itu seperti apa, kamu hanya butuh waktu untuk mengenal kepribadiannya."
Kembali Ammar mengukir luka, jika menuruti ego, maka Ayudia akan membenci Ammar dan meminta untuk dikembalikan ke rumah Atuk. Namun ia akan bertahan, toh hanya Ammar yang tak menyukainya.
Ayudia cukup membentengi hati agar tak terjatuh dalam daya pikat Muammar. Ayudia menarik napas berkali-kali lalu membuangnya kasar. Setelah itu, ia membuka pintu.
"Assalamualaikum, Bah ... ma'af, Dia kesiangan." Ayudia mencium punggung tangan Abah.
"Sudah, ndak papa. Ayo sarapan."
Mereka berjalan ke meja makan yang terletak di dapur.
"Nak Dia ndak sakit to?" Tanya Umi Aida.
"Ndak Umi, Dia sehat."
"Ya sudah, ayo sarapan. Muha ... Ha, ayo sarapan cah bagus!"
Saat semuanya sudah berkumpul, sarapan dimulai. Dalam waktu sepuluh menit, semua selesai menyantap nasi goreng buatan umi.
Abah membawa Ayudia ke MI Asmaul Husna, memperkenalkan Ayudia pada tenaga pendidik lainnya.
"Ya Allah, menantu Abah cantik banget." Puji salah satu guru perempuan.
Ayudia hanya tersenyum ramah. Lalu pukul delapan pagi, ia diantar oleh Bu Yuli ke kelas empat A. Ayudia menjadi guru kelas di sana menggantikan posisi Yai Suryo yang baru saja jatuh sakit.
Kegiatan belajar mengajar pagi itu, ia awali dengan perkenalan. Melihat wajah-wajah lugu itu, Ayudia sejenak lupa akan pedihnya luka yang Ammar torehkan. Ayudia tertawa saat ada anak yang bercerita dengan polosnya. Allah memang adil, selalu menyelipkan bahagia dalam luka.
"Ummi, aku tuh pernah ke Kipyuh lho ... jauh banget kan, Mi, dari sini? Aku nggak mau lagi kesana, aku takut naik kapal very. nanti aku bisa dimakan hiu atau buaya. Ya kan, Mi? Di laut yang mau ke Kipyuh banyak hiunya?"
"Emang kamu liat hiunya, Zam?"
"Ada bintang laut juga nggak, Zam?" Tanya yang lain.
Ayudia mengulum tawanya, ia menjelaskan bahwa transportasi yang digunakan adalah perahu, bukan kapal very.
Ia pun mengatakan jika tak ada buaya ataupun hiu di sana.
Usai sedikit bercerita tentang kampung halaman, Ayudia mulai masuk ke materi hari itu.
Ia membuka resleting tas, lalu mengambil spidol di sana. Saat hendak menggoreskan spidol pada white board, Ayudia kembali merasa pusing. Matanya berkunang-kunang. Ia izin keluar sebentar, mungkin ruang kelas terlalu panas. Ia berniat menghirup udara di luar.
Dari kejauhan, Adam yang hendak masuk ke kelas enam, melihat tubuh Ayudia berdiri tak seimbang.
Adam berlari secepatnya, hingga ia ...
Hap!
Berhasil menangkap tubuh Ayudia, gadis itu pingsan.
Adam mengatur deru napas sebelum menggendong Ayudia dan membawanya menuju rumah Abah.
Adam melewati beberapa kelas termasuk kelas lima B untuk sampai di rumah Abah. Dari kelas tersebut, Ammar melihat Adam. Ia tahu betul, siapa yang Adam bawa, karena tak ada perempuan lain di dalam lingkungan itu yang tak berhijab sempurna selain Ayudia.
Ammar meninggalkan kelas, mengejar Adam untuk mengambil alih tubuh Ayudia yang merupakan istrinya.
Namun, Adam tak menghiraukan.
Kira-kira apa yang akan terjadi ya?
* *Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (58)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
awal baca judul kirain bakal sama dengan novel novel lain. ternyata beda sama sekali. setelah dibaca sampe akhir ternyata banyak kisah di dalamnya, masalah juga yg rumit, bikin keki, kesel, jengkel marah sedih seneng lucu ngakak ketawa bahagia. diselipin juga pengetahuan, pengalaman dan pembelajaran hidup terutama berumah tangga.walaupun ujung-ujungnya balik sama Ammar lagi sesuai judul tp tetap saja sedih sama perjuangan dan perhatiannya Adam. Kenapa harus dibuat meninggoy coba. sedih akutuh😭
16/07/2022
0Sumpah penasaran sama lanjutan cerita Ammar dan Ayudia, ayo thor up lagi..
05/05/2022
0ceritanya sangat bagus dan menyentuh
17/03
0Lihat Semua