logo text

Bab 69 Penuh Arti

Semua aktivitas sudah berjalan seperti sediakala. Ayudia sudah terlepas dari bayang-bayang trauma. Ia fokus mengasuh Fa dan mengelola rumah semai bersama Najma. Sedang Ammar juga sibuk sendiri dengan proyek yang membanjiri peminat jasanya. Ya, Ammar memutuskan untuk berhenti mengajar, karena merasa bosan dan itu memang bukan bidangnya.
Sudah hampir sepuluh hari Ayudia tidak melihat wajah teduh pria yang semakin sering membayangi dirinya. Selama itu juga Ammar hanya beberapa kali mengirim pesan. Terakhir kemarin siang, pesan yang menanyakan kesehatannya dan Fa. Namun, saat Ayudia membalas, pesan hanya centang satu abu-abu ... sampai hari ini.
Ingin bertanya kepada Najma, namun Ayudia sedikit malu. Seakan ia tidak bisa menahan rindu yang menggunung. Iapun hanya pasrah menanti kepulangannya. Kadang terbersit prasangka buruk; apakah Ammar benar-benar dengan perasaan dan pernyataannya? Atau sekedar menghibur dirinya yang kesepian? Ayudia tidak paham. Tetapi, lebih dari seminggu tanpa kabar, seperti membuktikan rasa yang membenih di hati Ammar, seperti tidak berkembang. Alias, cinta Ammar bohong.
"Mbak Dia ..."
"Mbak."
Masih belum menyahut, Ayudia duduk di teras menjatuhkan pandangan pada sepokok tanaman yang mulai berbunga. Perempuan itu diam saja, entah mengamati pohon itu atau malah membayangkan hal lain. Sampai-sampai panggilan dari beberapa pekerja tidak juga memudarkan lamunannya.
Seseorang mendekat dan menepuk bahu Ayudia pelan, "Mbak ..."
"Kak!" Latah Ayudia. Ia menoleh, lalu meringis malu karena kaget dan salah memanggil, untunglah ia tidak sampai menyebut nama yang sedang memenuhi pikirannya.
"Kami pulang dulu," Pamit para pekerja.
"Eh, iya Buk. Oh iya, nasi bungkusnya belum dibagi. Maaf saya lupa. Sebentar saya ambil dulu." Ayudia masuk ke dalam untuk mengambil sekantong besar berisi nasi jatah makan siang pekerjanya.
Setelah itu, ia masuk lagi ke dalam. Mengganti popok Fa yang ternyata sudah basah lagi. Pantas saja menangis. Umur Fa sudah tiga puluh sembilan hari. Si mungil itu sudah mulai bisa diajak bercanda, meski belum bisa tertawa keras. Ayudia bahagia bisa menjadi orang pertama yang menyaksikan senyum Fa. Memang sepatutnya begitu, ibu pengasuh dan pendidik terbaik untuk anak.
* *
Malamnya Ayudia di rumah sendiri, sebab ia memang tidak jadi mencari asisten rumah tangga. Najma kebetulan sedang ke Bandung karena urusan pekerjaan. Sedikit ketar-ketir karena malam itu tidak seperti malam-malam biasanya. Dari pukul tujuh malam, petir menggelegar dengan congkaknya. Kawanan bintang yang biasanya menjadi teman rembulan, tak satupun nampak. Sedang bulan purnama yang seharusnya terbit bersama mega merah, tertutup gumpalan awan hitam.
Ayudia tidak berhenti berdzikir, ia mendekap tubuh mungil yang selalu menangis saat rungunya mendengar ledakan hebat. Setelah sekian lama tidak turun hujan, malam ini sepertinya benar-benar akan turun hujan lebat. Suara petir menjadi satu-satunya keramaian yang membelah malam. Ayudia mulai ketakutan, tiba-tiba ... listri padam.
"Astaghfirullah ...." Ia mulai panik, bagaimana tidak, di rumah tak pernah menyediakan lilin, lampu senter juga ia tidak punya. Hanya ponsel yang menjadi sumber penerangan, namun, petir yang tak kunjung mereda membuatnya takut akan sambaran.
Disaat itulah, Ayudia merasakan kesunyian kembali singgah membekap hatinya. Tidak memiliki siapapun kecuali anak yang sedang merintih dalam gendongan, merupakan takdir yang tak bisa dipungkiri.
Fa menangis, keningnya terasa hangat di punggung tangan Ayudia. Lengkap sudah derita perempuan itu. Sambil berurai air mata dalam lantunan doa, Ayudia menggendong Fa keluar dari kamar, mencari kotak p3k. Setelah satu jam penuh badai petir mengoyak Kampung Sandur, kini angin ingin menampilkan pesonanya dengan membawa gemercik hujan.
Sungguh hiburan yang menyakitkan.
"Sayang, jangan menangis. Buna akan mengambil kompresan untukmu."
"Ooeekk ... ooeekk ...."
Ayudia kian resah, tangis Fa malah menjadi. Entah apa yang dirasakan bocah itu. Jika saja ia sudah bisa berbicara, tentu Ayudia tidak akan kesulitan untuk memberinya obat. 
"Alhamdulillah, akhirnya ketemu." Ayudia mengambilnya dari lemari.
Tangan kiri menggendong, tangan kanan memegang ponsel dan kompresan. Rasa nyeri menjalar tanpa diminta. Entah kecewa pada siapa, iapun sejatinya sudah menerima kesendirian itu. Dalam gelap, Ayudia tetap berharap ada pertolongan.
BRAAK!!
"Astaghfirullah. Apa itu?!" Ayudia bergegas masuk ke dalam kamar, menutup rapat dan mengunci pintunya. Lalu ia mengintip dari vitrase jendela.
"Pohon mangganya tersambar petir, Sayang. Tumbang menimpa atap teras. Jangan sakit ya Sayang ... Buna ndak bisa bawa Fa berobat malam ini, sepertinya hujan juga belum akan reda." Tutur Ayudia sembari membuka kompresan dan menempelkan di kening Fa.
Syukurlah Fa bisa diajak kompromi, seakan memahami ucapan ibunya, bocah itu seketika diam.
Bunyi ponsel dalam sunyi mengagetkan perempuan itu, Fa juga terjingkat dan menangis lagi.
"Ya Allah, badan Fa malah tambah panas? Bagaimana ini?"
Ponsel berbunyi lagi, Ayudia ragu namun tetap menggeser tombol hijau. Terdengar kepanikan dari suara di ujung telepon seberang sana,
"Dia ... kamu di rumah sama siapa? Aku baru saja mendapat kabar jika Najma ke luar kota."
Ayudia tidak bisa menahan guguannya, ia tidak bisa pura-pura baik-baik saja. Ia ingin mengadukan apapun yang tengah dirasa malam itu, melupakan pikiran buruknya tentang rasa dan perasaan pria itu. Ayudia kini hanya butuh bantuan, pertolongan untuk membawa Fa ke fasilitas kesehatan. Bagi ibu yang sudah pernah merasakan kehilangan, tentu paham dengan kekalutan Ayudia. Meski hanya panas, pikiran Ayudia sudah berlari kemana-mana.
"Dia? Kenapa Fa menangis? Sudah, jangan menangis. Sekarang katakan, kamu bersama siapa di rumah? Aku sedang dalam perjalanan pulang."
"Dia sendiri, Kak ... Dia takut, listrik di sini padam, petir dan angin juga ndak berhenti daritadi. Fa badannya panas ... Dia harus gimana? Dia takuutt ... Dia takut ... Kak, tolong Dia. Dia mohon, Kak. Tolonglah kami, Kak ..." Kata Ayudia sampai terdengar sangat menyedihkan.
Siapa lagi yang akan dimintai tolong, ia tidak mungkin menelepon Umi. Tak enak karena entah sudah berapa ribu kali ia merasa menyusahkan Umi Aida. 
Tak bertanya Ammar di jalan mana dan sampai mana. Ayudia menggendong Fa dengan kain, menimangnya pelan-pelan setelah Fa menolak ASI yang ia berikan. Ayunan lembut itu tak juga mengalihkan rasa sakit yang mendera Fa. Rasanya Ayudia ingin berlari membawa Fa melawan hujan agar segera sampai di rumah bidan Diva.
"Sayang ... jangan menangis, sabar Sayang. Setelah hujan reda, Buna akan membawamu ke tempat bu bidan."
Sudah pukul sepuluh malam, langit kembali tentram tanpa gemuruh guntur, anginpun kembali bersahabat, tinggalah hujan yang masih setia menemani malam.
"Alhamdulillah, kita ke bidan sekarang ya, Sayang." Ayudia mengambil dompet dan memasukkan ke dalam tas Fa. Lalu menyambar kunci mobil. Membuka pintu kamar dan berjalan ke arah pintu garasi.
Tok! Tok!
"Dia ... buka pintunya, ini aku."
Ayudia agak takut, ia mengurung niatnya. Lalu berbalik ingin masuk lagi ke kamar, kalau-kalau itu adalah orang jahat. Lama tidak terdengar lagi, tiba-tiba ....
Tek! Tek! Tek!
Kaca kamar Ayudia diketuk menggunakan koin. "Fa ... ini Baba, buka pintunya Sayang. Dia ... ini aku."
Ayudia merapat ke jendela menyibak vitrase dan menempelkan senter ponsel ke arah wajah yang ada di balik kaca.
"Kak Ammar?"
"Iya, cepat buka. Ayo kita bawa Fa ke rumah bidan Diva." Ujar Ammar.
Ayudia cepat-cepat menuju pintu garasi dan memanggil Ammar untuk kesana.
"Kak, di sini."
"Sejak kapan Fa panas badannya?"
"Baru tadi, Kak."
"Kamu naik belakang aja, pakaianku basah semua, aku takut Fa terkena cipratan air dari bajuku. Apa tadi petir yang menyambar pohon itu?"
"Iya, Kak. Kenapa baju Kak Ammar bisa Bayah kuyup? Kakak darimana sebenarnya? Kenapa ndak ganti dulu, nanti Kakak sakit?"
"Sudah ... besok aja ceritanya, Fa lebih penting. Kamu telepon bidan Diva dulu, sebelum beliau tidur."
Ayudia mengangguk penuh tanya. Ia heran dengan kondisi Ammar yang basah seluruh pakaiannya. Sayangnya dalam gelap, Ayudia tak bisa melihat bibir Ammar yang mulai memutih, giginya sedikit bergetar karena menggigil. Kakinya yang mengerut karena dingin, bahkan sejak tadi telanjang tanpa alas.
Ammar menembus dinginnya malam dalam balutan hujan, hanya demi seseorang yang penuh arti di hidupnya.
* *

Komentar Buku (58)

  • avatar
    LiyduLismawati

    awal baca judul kirain bakal sama dengan novel novel lain. ternyata beda sama sekali. setelah dibaca sampe akhir ternyata banyak kisah di dalamnya, masalah juga yg rumit, bikin keki, kesel, jengkel marah sedih seneng lucu ngakak ketawa bahagia. diselipin juga pengetahuan, pengalaman dan pembelajaran hidup terutama berumah tangga.walaupun ujung-ujungnya balik sama Ammar lagi sesuai judul tp tetap saja sedih sama perjuangan dan perhatiannya Adam. Kenapa harus dibuat meninggoy coba. sedih akutuh😭

    16/07/2022

      0
  • avatar
    FarezkyAdam

    Sumpah penasaran sama lanjutan cerita Ammar dan Ayudia, ayo thor up lagi..

    05/05/2022

      0
  • avatar
    HasanIstiqomah

    ceritanya sangat bagus dan menyentuh

    17/03

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru