Ammar berusaha terus menggali informasi tentang gejala yang dialami oleh Ayudia. Pasalnya, semakin mendekati hari prediksi lahiran, Ayudia semakin resah dan sering ngelantur membicarakan siapa nanti yang bisa ia percaya merawat anaknya. Bukan untuk dijadikan baby sitter, melainkan menjadi ibu sambung. Ammar miris sekali mendengarnya, ia yakin Ayudia memang tidak baik-baik saja. Mengingat dulu saat memiliki Han dan Mim, Ayudia begitu telaten merawat dan memberi ASI. Kini, Ayudia sama sekali tak kepikiran untuk membesarkan calon bayinya. Ammar berhasil mendapatkan nomor ponsel milik temannya yang berprofesi sebagai dokter kejiwaan. Beruntung karena sosial media miliknya masih intens digunakan. Ammar mencoba mengadukan semua gejala yang Ayudia alami, tanpa terkecuali. Termasuk mulai dari kehilangan Han dan Mim. Nino mendiagnosis Ayudia mengalami Prolonged Grief Disorder, suatu gangguan kesedihan yang berkepanjangan. Penyebabnya yaitu ditinggalkan oleh orang terdekat. Hanya saja kata Nino, Ayudia tidak perlu dibawa ke rumah sakit ataupun tempat terapi. Sebab, Nino bilang Ayudia masih bisa sembuh dengan bantuan keluarga. Sehingga Nino hanya berpesan kepada Ammar, jangan pernah bosan untuk selalu menemani dan mengingatkan bahwa semua yang sudah terjadi adalah takdir. Ya, Ayudia harus berani melihat kembali kesedihan yang sudah-sudah sebagai kenyataan pahit. Jikalau pun Ayudia ingin anaknya dirawat oleh oranglain, Ammar diminta untuk mencari keluarga saja. Tentu yang mau turut tinggal dengan Ayudia. Nino yakin tangis si mungil lama kelamaan akan mampu membuka mata hati Ayudia yang memang sudah tersedia jiwa keibuan. Naluri Ayudia sebagai ibu tidak pernah hilang, terbukti dari setiap ia memohon kepada Ammar untuk mencarikan ibu sambung, perempuan itu juga selalu berkaca-kaca. Kini, Ammar sudah bersiap-siap mengantar Ayudia pergi ke klinik untuk melihat jenis kelamin si bayi. Ayudia sudah mengambil cuti sekolah, mulai hari ini. Ammar kebetulan juga pulang pagi karena sekolah masih dalam suasana ujian. Kini keduanya duduk bersebelahan di dalam mobil abu milik Ayudia. Hening berselimut, Ayudia hanya diam sambil menatap ke samping, entah apa yang sedang ia pandangi. Hiruk-pikuk jalanan atau malah memandang jauh bayang-bayang masa depan. Ammar biarkan diam membelenggu udara yang terasa dingin hingga menusuk. Rasa dingin bercampur kesunyian, benar-benar membekap keduanya. Tangan Ammar bergerak memutar radio yang tersedia, memilih chanel yang menyajikan siaran berita dengan kombinasi lagu-lagu pop nasional. Sengaja melaju dengan santai, menikmati alunan lagu yang seakan paham kondisi Ayudia. Kesepian karena kehilangan. Sambil manggut-manggut, Ammar fokus menatap jalanan yang cukup ramai pagi itu. Tak terasa hingga sembilan bulan kandungan Ayudia, Ammar setia menemani. Ammar berharap akan seperti ini selamanya, ditambah dengan bayi mungil yang akan menyempurnakan hidup mereka. Ammar akan berjuang untuk kesehatan mental Ayudia, ia tak ingin kemungkinan buruk seperti yang Nino bicarakan, mengganggu kejiwaan Ayudia. Seram sekali jika sindrom tersebut bisa juga memicu keinginan untuk bunuh diri. Ammar merinding mengingat Nino bicara dari sambungan telepon. "Kak, Dia belum membeli baju-baju untuk si kecil." Keluh Ayudia tiba-tiba. Ammar tersenyum, lalu menjawab dengan santai. "Ya nanti mampir beli di swalayan, mau langsung banyak apa sedikit dulu?" Ayudia menatap Ammar datar, "Sedikit saja barangkali ya, Kak. Nanti kan dia akan dibawa pergi oleh seseorang." Ammar mengangguk, "Yakin? Kamu benar-benar ingin melihatnya menangis di gendongan orang lain?" Kata Ammar tanpa mengalihkan tatapannya dari jalanan. Ayudia diam, sangat lama dan akhirnya ia kembali bicara dengan topik lain. "Kak, kalo dia cowok bagusnya diberi nama siapa ya?" Tanyanya. Ammar melihat segaris senyum singgah, hanya sebentar dan hilang lagi. Berganti dengan wajah murung Ayudia. Ammar membuang napas kasar. "Nanti kalo emang kamu rela menyerahkan bayi itu, biar aku aja yang merawatnya. Aku akan sayangi dia seperti Han dan Mim. Dulu, aku belum sempat merawat Han dan Mim, sekarang biarkan aku puas bermain dengannya yang nanti akan membuatku meringis karena terkena ompol, aku tertawa karena dia mulai tengkurap, dan pasti aku akan bangga jika nanti dia sudah mulai bisa bicara dan kata pertama yang keluar adalah 'pappa'. Aku akan memberinya nama dengan nama belakang dari nama Adam." Ammar tersenyum sambil geleng-geleng membayangkan betapa bahagianya ia nanti jika memiliki buah hati. "Kok jadi Kak Ammar yang mau merawat?" Protes Ayudia dengan nada agak tak suka. Mungkin dia iri dengan cerita manis Ammar. Ia bahkan juga menginginkan hal yang sama, dengan alasan yang sama pula Ayudia sebenarnya ingin bahagia dengan si bayi. Namun, hati kecilnya tetap berontak. Bisikan-bisikan untuk tidak merawat bayi itu selalu nyaring di telinganya. Bahkan ia tak boleh memberikan ASI berkolostrum yang memiliki gizi melimpah untuk sang bayi. Entah bisikan dari siapa. "Aku pernah menjadi Bapak, Dia. Aku bahagia memiliki bayi, lalu sedih saat ditinggal. Sekarang, selagi ada kesempatan aku ingin memperbaiki, memanfaatkan momen yang pernah singgah dan hilang dalam waktu yang cepat. Semua sudah takdir Allah, Dia. Kamu harus bisa menerimanya." Usai mendengar penuturan Ammar, Ayudia diam sampai mobil abu tersebut berhenti di depan klinik ibu dan anak. Ammar membantu Ayudia untuk turun. Siapa yang percaya kalau mereka bukan sepasang suami-istri? Tentu semua mata yang melihat akan yakin bahwa keduanya pasangan muda yang tengah menanti anak pertama. Namun seketika kayakinan itu akan lebur dan berganti menjadi tanda tanya saat semua tahu Ammar tak mengantar Ayudia masuk ke dalam ruangan periksa. "Mas, kok nggak ikut masuk? Apa nggak pengen tau jenis kelamin anaknya?" "Kasihan istrinya sendirian." "Iya, buatnya kan bareng-bareng, masa mau enaknya aja, nggak mau antar istri barang periksa doang!" Ketus ibu-ibu yang sama-sama duduk di kursi tunggu. Ammar hanya tersenyum lalu berkata, "Istri saya sejak hamil anti banget kalo di deketin, Bu. Saya sampe heran, apa jangan-jangan istri saya ndak cinta lagi ya?" Salah satu ibu menjawab dengan lantang, mungkin dia kira itu di rumahnya. "Jangan menuduh sembarangan, Mas! Itu bawaan bayi." "Iya, saya juga pernah kaya gitu." Ammar hanya mengangguk dan tersenyum, siapa yang menuduh? Ammar menyingkir dari kerumunan ibu-ibu tersebut. Berdiri di depan pintu masuk poli kandungan. "Masuk aja, Pak. Istrinya di dalam kan?" Tanya perawat. "Ndak usah Mbak, istri saya lagi susah didekati." Tiba-tiba Ayudia keluar, lalu mengangkat satu alis mendengar alasan Ammar barusan. Ammar bersikap santai, seolah ia memang suaminya. Kemudian meminta kertas resep dokter dari Ayudia, menyelesaikan administrasi dan membayar vitamin-vitamin yang sudah diresepkan. "Ini obatnya." Ammar memberikan kantong plastik kecil berwarna putih. Ayudia menerima, "Ini vitamin, bukan obat." Lalu mereka berjalan keluar dan langsung masuk ke dalam mobil karena tak ada kepentingan lain lagi di sana. Ayudia memasang sabuk pengaman seraya menatap Ammar penuh tanya. "Kakak ngobrol apa sih, kok jawabnya ngelantur." "Ngelantur gimana?" "Ya tadi sama perawat." "Yang mana?" Ammar sengaja berpura-pura lupa, agar Ayudia menyebutkan apa yang Ammar katakan tadi. "Ya tadi lho," Jawabnya mulai kesal. "Ya yang mana? Soalnya tadi kan ndak cuma ngobrol sama satu perawat?" "Ya tadi pas bilang 'istri saya lagi susah didekati'." Ayudia memilin ujung kerudung. Tiba-tiba jantungnya bertalu bagai genderang. "Hehe, ya ndak apa-apa lah. Barangkali nanti beneran kita menikah lagi." Kata Ammar sambil nyengir. "Kak?" "Dia ... aku beneran, aku masih berharap kita berjodoh. Nanti saat bayimu lahir, aku akan menikahimu." Kata Ammar serius. Ammar terlalu terburu-buru. Jadi itu hanya pengakuan atau sebuah tembakan? Tidak ada romantisnya sama sekali. Bahkan ia sampai lupa menanyakan jenis kelamin anak dalam kandungan Ayudia. "Kak Ammar kenapa sih?" "Hehe ndak apa-apa, efek lapar jadi ngelantur kemana-mana." Ammar bingung hendak mengarahkan obrolan kemana, lebih baik mencari aman. Ia akan persiapkan pinangan yang manis, hingga tak bisa dilupakan seumur hidup Ayudia. Namun, tiba-tiba Ammar memukul kepala. Masalah mental Ayudia saja belum selesai, kenapa ia malah memikirkan diri sendiri? Memikirkan yang bahagia saja. "Astaghfirullah." Gumamnya. Ayudia menoleh, "Kak Ammar kenapa? Kok aneh banget sih? Kak Ammar sehat kan?" "Sehat, kita mampir makan dulu ya. Baru deh berburu baju baru untuk si kecil." Ayudia mengangguk. Dalam hati ia berkata, 'Aku ndak boleh terhipnotis oleh pesona Kak Ammar. Aku harus menyelamatkan orang-orang yang aku sayang. Harus!' "Jangan bengong, Dia. Oh ya, emang dulu Adam ndak pernah pesan omongan sama kamu? Sebelum dia meninggal?" Tanya Ammar. Ayudia kemudian teringat suara Adam kala ia berkata porsi cintanya untuk Adam. Ia juga ingat Adam menanyai soal hatinya untuk Ammar. Ayudia ingat, ia mengingat baik semua itu. Namun, Ayudia memaksa kepalanya untuk menggeleng. Ammar bertanya lagi, "Barangkali Adam meninggalkan pesan di buku atau apa? Kamu pernah baca?" Ayudia menggeleng lagi, namun tiba-tiba ia teringat buku lusuh yang Adam sering gunakan untuk mencatat anggaran bulanan. "Kak Adam punya buku penting, tapi Dia belum mencarinya." "Coba nanti cari, siapa tahu Adam menuliskan sesuatu untukmu." Bukan apa-apa, Ammar hanya berharap Adam menuliskan sesuatu yang barangkali bisa membuat pikiran Ayudia terbuka. Kalimat Ammar membuat Ayudia tak sabar ingin menggeledah lemari milik Adam. Ia sampai meminta Ammar untuk melaju kencang dan membatalkan rencana makan di restoran bahkan menunda untuk membeli pakaian bayi. Ayudia ingin segera mendapatkan sesuatu yang barangkali akan membuatnya tenang. * *
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (58)
LiyduLismawati
awal baca judul kirain bakal sama dengan novel novel lain. ternyata beda sama sekali. setelah dibaca sampe akhir ternyata banyak kisah di dalamnya, masalah juga yg rumit, bikin keki, kesel, jengkel marah sedih seneng lucu ngakak ketawa bahagia. diselipin juga pengetahuan, pengalaman dan pembelajaran hidup terutama berumah tangga.walaupun ujung-ujungnya balik sama Ammar lagi sesuai judul tp tetap saja sedih sama perjuangan dan perhatiannya Adam. Kenapa harus dibuat meninggoy coba. sedih akutuh😭
16/07/2022
0
FarezkyAdam
Sumpah penasaran sama lanjutan cerita Ammar dan Ayudia, ayo thor up lagi..
awal baca judul kirain bakal sama dengan novel novel lain. ternyata beda sama sekali. setelah dibaca sampe akhir ternyata banyak kisah di dalamnya, masalah juga yg rumit, bikin keki, kesel, jengkel marah sedih seneng lucu ngakak ketawa bahagia. diselipin juga pengetahuan, pengalaman dan pembelajaran hidup terutama berumah tangga.walaupun ujung-ujungnya balik sama Ammar lagi sesuai judul tp tetap saja sedih sama perjuangan dan perhatiannya Adam. Kenapa harus dibuat meninggoy coba. sedih akutuh😭
16/07/2022
0Sumpah penasaran sama lanjutan cerita Ammar dan Ayudia, ayo thor up lagi..
05/05/2022
0ceritanya sangat bagus dan menyentuh
17/03
0Lihat Semua