Mobil putih dengan variasi ban off-road berbelok ke pondok pesantren Asmaul Husna. Para santri terlihat membungkuk hormat kala mobil itu melewati gerbang menuju tempat parkir. Mereka sudah sangat hafal siapa pemiliknya, meski sang empunya tak membuka kaca jendela. "Alhamdulillah ... sudah sampai, Dia." Seru Abah pada Ayudia membangunkan tidur nyaman Umi Aida. "Iya Bah, Alhamdulillah ...." Kata Ayudia. Umi Aida mengedip beberapa kali, lalu bergerak membenarkan posisi duduknya. Umi Aida juga mengusap wajahnya. Mungkin takut kalau ada kotoran mata maupun air liur yang tertinggal di sana. "Sudah sampai, Bah?" Ucapnya setelah sadar sepenuhnya. "Sudah, Mi ... ayo turun, pasti Nak Dia sudah lelah dan pengen istirahat." "Iya iya, ayo Am ... ajak Nak Dia." Ujar Umi Aida. "Iya, Mi." Namun itu hanya jawaban yang keluar dari mulut Ammar, nyatanya begitu turun dari mobil, Ammar berjalan sendiri tanpa beban ke rumahnya. Ayudia berdiri diam, menggendong ransel hitam berisi baju-baju miliknya. Sedangkan, Abah Ahmad dan Umi Aida mendahului menantu dan anak-anak. Waktu di pergelangan tangan Abah, sudah pukul setengah empat sore. Adzan juga tengah dikumandangkan oleh santri. Sehingga Abah dan Umi tak bisa menunggu anak-anak turun dan berjalan bersama menuju rumah. Abah serta Umi cepat-cepat masuk ke dalam rumah, guna mengambil sajadah dan telekung untuk menunaikan sholat berjamaah di masjid. "Ayo, Mbak Dia. Sini tasnya biar Fatma bawakan." Kata Fatma. Beruntungnya Ayudia memiliki adik-adik ipar yang perhatian. Ayudia sedikit mengulas senyum, lalu menggeleng. "Ndak usah, Dik ... biar Mbak bawa sendiri." "Ya udah, ayo masuk Mbak." Kata Najma. Ammar juga Muha sudah lebih dulu masuk ke dalam. Ayudia hanya mengikuti. Jika boleh, Ayudia ingin pulang saja. Ia merasa asing di sana, apalagi suaminya sendiri pun tak memperlakukan ia dengan baik. "Mbak Dia, kamar Mas Ammar yang ini. Mbak Dia masuk saja, istirahat di dalam. Kalau mau mandi, di dalam juga ada, Mbak. Najma juga mau mandi, ba'da asar mau ngaji." Ucap Najma. Fatma juga sudah masuk ke kamarnya. Kini Ayudia berdiri di ruang tamu sendirian. Pintu kamar Ammar memang berada di ruang tamu, sehingga jika ada acara apapun, sulit untuk masuk atau keluar kamar tersebut. "Dia ingin pulang, Ti ...." Gumam Ayudia, "Dia ndak mau di sini." Gadis itu menitikkan air mata. Karena merasa lelah, ia duduk di sofa berwarna merah bergambar kembang. Bingung hendak melakukan apa, Ayudia membuka resleting tas cangklongnya. Mengambil ponsel, membuka galeri. Napasnya justru semakin berat kala melihat ratusan foto anak-anak didiknya. Belum juga genap dua puluh empat jam, Ayudia sudah merindukan mereka. Lama kelamaan, air matanya semakin deras berjatuhan. "Uti ...." Lirihnya hampir seperti tak terucap. Lima sekon kemudian, mata belok Ayudia meredup. Gadis itu tertidur di sofa dengan ponsel di tangan. "Assalamualaikum," Tak ada jawaban dari dalam, Umi pun segera masuk. Umi sangat kaget melihat menantunya tertidur di sofa. "Astaghfirullah ... " Pekik Umi Aida. "Ammar, Am ... buka pintunya!" Umi lalu menggedor pintu kamar Ammar yang terkunci dari dalam. "Ada apa, Mi?" Kata Ammar ketika sudah berada di depan pintu, pria itu terlihat mengucek kedua mata. "Astaghfirullah ... Am. Umi ndak pernah ngajarin kamu memperlakukan istri seperti itu. Kamu lihat di sana! Lihat itu, Dia tertidur di sofa karena terlalu lelah. Kamu ndak lupa kan, kalau Dia adalah istrimu?" "Ma'af, Umi ... Ammar ndak tahu." "Kamu beneran ndak tahu, atau ndak mau tahu? Bawa masuk Dia ke kamar!" Ammar serta merta melangkah ke tempat dimana Ayudia sedang tertidur dengan tenang. Ammar menepuk lengan Ayudia beberapa kali, namun tak sampai membangunkan Ayudia. Umi Aida kembali menegur tindakan Ammar tersebut. "Jangan dibangunkan, kasihan ..." Kata Umi. "Lalu bagaimana Ammar bisa membawa Dia masuk, Mi?" Entah polos atau memang sok bodoh, Ammar seolah tak mengetahui apa gerangan yang bisa ia perbuat untuk memindahkan tubuh terkapar Ayudia. Kamu sudah besar, Am ... begitu saja ndak tahu. Ingin sekali Umi mengatakan hal itu, namun yang dilakukan hanyalah menggeleng-gelengkan kepala heran dengan anak bujangnya. Dan memilih memberi saran untuk Ammar agar menggendong Ayudia masuk ke dalam kamar. Ammar diam sesaat di hadapan Ayudia yang terpejam. Tangannya beberapa kali terulur dan ia urungkan kembali. Sampai yang keempat kali, akhirnya Ammar berhasil meraih tubuh Ayudia. Seeett! Ammar menyaruk tubuh perempuan itu. Ayudia memiliki tinggi 160 cm, diikuti berat badan 50 kg. Bukankah itu merupakan berat badan ideal yang diimpikan setiap perempuan? Terutama untuk para gadis. Ayudia tak perlu kepayahan mengontrol makanan yang masuk ke tubuhnya untuk menjaga berat badan. Mau makan apapun, berat badannya tetap di angka 50, jika naik pun hanya lebih satu atau dua angka di atasnya. Lumayan pegal di lengan Ammar membawa Ayudia. Ammar merasakan tubuhnya merespon aneh saat ia menggendong Ayudia. Kala ia memerhatikan lekat detil wajah gadis tersebut. Hanya beberapa sekon, lalu ia tepis pandangannya dengan mengibas tangan ke depan wajah. Ammar menjatuhkan tubuh Ayudia sedikit kasar, tujuannya agar gadis itu kaget dan terbangun. Akan tetapi, Ayudia tak terusik sama sekali. Dengan rasa kesal, Ammar melempar tas ransel berisi baju ke lantai di samping ranjang. Ponsel Ayudia ia letakkan di meja. Lepas itu, Ammar ke mushola yang terletak di bagian belakang. Umi sibuk memasak untuk makan malam. Ditemani Ammar yang hendak menyeduh kopi hitam. Najma, Fatma juga Muha sudah berangkat mengaji. Biasanya, sore hari ketika sedang masak, ada saja santri yang datang berniat membantu. Yang tak pernah absen adalah Nur. Gadis sempurna di mata Muammar. Sudah pukul lima sore, Umi selesai menyiangi sayuran. "Assalamualaikum, Umi." Kata seorang gadis yang berdiri di depan pintu dapur, menunggu dipersilakan masuk. "Walaikumsalam ... Eh, Nur? Sini masuk." Kata Umi. Nur dengan semangat, masuk ke dalam. Karena sudah biasa membantu di sana, Nur tak kebingungan dengan aktivitas di sana. Nur juga sudah paham tata letak perkakas dapur yang biasa dipakai memasak. Umi menatap lekat wajah Nur. Ada yang berbeda dengan gadis itu. "Nur, Umi ndak larang kamu untuk memakai perias wajah, akan tetapi ... alangkah baiknya, kalau merias diri cukup di dalam rumah. Jangan membiarkan dirimu menjadi pusat perhatian semua lelaki ya, Nur." Ujar Umi memberi nasihat. Umi tak tahu apa tujuan Nur melakukan itu. Yang Umi yakin, Nur sudah tahu hukum bersolek di depan umum. Beruntung, karena Ammar sudah tak di sana. Entah kemana perginya anak sulung Umi Aida membawa secangkir kopi. Di dalam kamar bagian depan, Ayudia menggeliat. Sebelum akhirnya mengucek mata dan bangun dengan mata lebar. "Loh, Dia ada di mana ini?" Kata Ayudia yang agak lupa akibat nyawanya masih terkumpul setengahnya. Ayudia beranjak, membuka pintu lalu keluar. Mengetahui ruang tamu beserta beberapa figura yang terpajang di bufet, membuat ia mengingat status barunya. Rambut panjangnya tergerai begitu saja. Karet yang ia pakai untuk menguncir, entah jatuh dimana. Selendang yang ia pakai juga tergeletak di ranjang. Ayudia berpikir, siapa yang memindahkannya ke dalam kamar. Kembali bingung dengan keadaan tersebut, Ayudia berdiri mematung di depan pintu kamar. Ingin berjalan ke belakang, namun ia takut jika itu salah. Ayudia belum dikenalkan dengan rumah tersebut, sehingga membuatnya merasa canggung untuk melakukan apapun. "Eh, Nak Dia sudah bangun?" Kata Umi agak keras, karena jarak antara dapur dan ruang tamu cukup panjang. Pintu depan ke arah dapur di buat sejajar, tegak lurus, namun pintu keluar dibagian dapur di tempatkan di samping. Sehingga tidak menyalahi aturan kejawen yang pantangan membuat pintu depan selaras sampai pintu keluar dari dapur. "Sudah, Mi." "Ya sudah, mandi saja dulu. Di dalam kamar ada kamar mandi, mandi saja di dalam. Setelah itu kita makan bersama sebelum Maghrib." Ayudia mengangguk, lalu kembali masuk ke kamar. Lima belas menit kemudian, Ayudia keluar dari kamar mandi. Pintu kamar mandi terbuka berbarengan dengan pintu kamar yang dibuka Ammar. Ayudia kaget karena tatapannya bertemu mata Ammar. Lalu ia menunduk kembali. "Keluar. ditunggu Umi di meja makan!" Kata Ammar bernada ketus. Ayudia mengambil selendang lain dari ranselnya, menyampirkan di kepala. Lalu ia keluar. "Sini-sini, Nak Dia duduk di sini. Sebelah Ammar." Abah Ahmad menarik kan kursi untuk Ayudia. "Ndak usah, Bah ... Dia bisa sendiri, Abah Ndak perlu begini." "Sudah, ndak papa." Ayudia duduk di sana, Umi sedang mengambil cerek berisi air bening hasil rebusan sendiri. Meja makan besar itu cukup untuk makan orang delapan. Najma duduk di hadapan Ammar, sebelahnya sudah ada Fatma. Muha berhadapan lurus dengan Abah. Sedang Ayudia berhadapan dengan Umi. Kursi di samping kanan Ammar, kosong tak berpenghuni. Muha memimpin do'a sebelum makan, selanjutnya mereka makan bersama. Ayudia jadi teringat momen-momen manis seperti itu di gubuk reyot Atuk. Meski mereka tak makan di meja makan yang terbuat dari kayu jati terbaik, namun Ayudia lebih bahagia di sana. Makanan yang Ayudia telan, terasa sangat hambar. Bukan karena Umi kurang menambah garam pada masakannya, namun karena Ayudia tak berhasil menciptakan kegembiraan dalam dirinya. Lima belas menit berlalu, makan sore itu selesai. Abah menaruh gelas belimbing yang airnya sudah masuk ke dalam kerongkongan. "Nak Dia, mulai besok ... Nak Dia bisa ikut mengajar di MI Asmaul Husna. Nak Dia mau kan?" Kata Abah, "Dia mau, Bah." Jawab Ayudia antusias. Dalam hati Ayudia bergembira, karena artinya ia tak akan lagi kesepian melalui hari-hari kaku dengan Muammar sang suami. * *
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (58)
LiyduLismawati
awal baca judul kirain bakal sama dengan novel novel lain. ternyata beda sama sekali. setelah dibaca sampe akhir ternyata banyak kisah di dalamnya, masalah juga yg rumit, bikin keki, kesel, jengkel marah sedih seneng lucu ngakak ketawa bahagia. diselipin juga pengetahuan, pengalaman dan pembelajaran hidup terutama berumah tangga.walaupun ujung-ujungnya balik sama Ammar lagi sesuai judul tp tetap saja sedih sama perjuangan dan perhatiannya Adam. Kenapa harus dibuat meninggoy coba. sedih akutuh😭
16/07/2022
0
FarezkyAdam
Sumpah penasaran sama lanjutan cerita Ammar dan Ayudia, ayo thor up lagi..
awal baca judul kirain bakal sama dengan novel novel lain. ternyata beda sama sekali. setelah dibaca sampe akhir ternyata banyak kisah di dalamnya, masalah juga yg rumit, bikin keki, kesel, jengkel marah sedih seneng lucu ngakak ketawa bahagia. diselipin juga pengetahuan, pengalaman dan pembelajaran hidup terutama berumah tangga.walaupun ujung-ujungnya balik sama Ammar lagi sesuai judul tp tetap saja sedih sama perjuangan dan perhatiannya Adam. Kenapa harus dibuat meninggoy coba. sedih akutuh😭
16/07/2022
0Sumpah penasaran sama lanjutan cerita Ammar dan Ayudia, ayo thor up lagi..
05/05/2022
0ceritanya sangat bagus dan menyentuh
17/03
0Lihat Semua