Bab 59 Terharu

Ammar sudah siap ketika jarum jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Dengan jantung berdebar tak karuan, Ammar berusaha untuk tetap tampak rileks dan biasa saja. Ia juga sudah mulai membiasakan diri untuk berhati-hati ketika hendak berbicara, dengan siapapun. Takut jika ucapannya kembali melukai hati seseorang, terutama Ayudia.
Lisan memang memiliki kapasitas lebih besar untuk menyakiti hati seseorang. Bahkan karena lisan, seseorang bisa sampai terluka dan sulit untuk memaafkan. Kini Ammar menghindari berbicara tanpa dasar, ia akan mulai berpikir lebih dahulu saat akan mengungkapkan apapun.
Sebelumnya Ammar telah mengirimkan pesan lebih dahulu ke Ayudia agar ia menunggu di depan rumahnya. Dan benar saja saat Ammar sampai, Ayudia sudah bersiap dengan gamis hitam berpadu kerudung warna latte. Sungguh perpaduan yang sempurna untuk wajah Ayudia, Ammar menelan ludah kepayahan, ia gugup. Tapi mendadak fokusnya pecah saat mendapati Ayudia yang tiba-tiba berdiri dan mondar-mandir sambil memegangi perutnya yang besar. Ammar dengan cepat membunyikan klakson agar Ayudia menyadari kedatangannya.
Lantas Ayudia masuk ke dalam mobil setelah Ammar memberi kode dengan lambaian tangan.
Ammar langsung menanyakan keadaan Ayudia kala perempuan itu sudah duduk dengan tenang. "Ada apa? Apa jagoanmu membuatmu ndak nyaman?"
"Apa anak ini laki-laki? Dari kemarin Kakak memanggilnya jagoan?" Ayudia sedikit merengut.
Ammar terhenyak dengan jawaban yang melenceng. Lalu ia menatap ke samping, tepat saat Ayudia juga tengah menatapnya. Lalu Ammar berdehem untuk meringankan detak jantung yang mulai tak ramah.
"Hm, aku belum tahu, bukankah kalau jagoan itu lebih baik? Artinya dia akan menjadi laki-laki yang kuat dan selalu menjaga ibunya."
"Iya." Ayudia menarik napas pendek lalu mengeluarkan perlahan dan berulang kali seperti itu.
Ammar menjadi sangat khawatir, takut jikalau terjadi hal-hal yang membuat bayi itu kenapa-kenapa. "Pakai sabuk pengaman, kita berangkat."
Ayudia mengangguk.
Tidak membutuhkan banyak waktu untuk sampai di rumah bidan yang biasa memeriksa kandungan Ayudia. Kebetulan hanya ada satu pasien yang tengah duduk menanti giliran periksa, Ayudia turut dalam antrian bersama ibu-ibu tersebut. Namun perutnya terasa kram dan tidak nyaman. Ayudia kembali berdiri, mengusap perut sambil bersholawat agar sang anak bisa tenang dan tidak rewel di dalam.
Ayudia rasa ia tidak melakukan hal apapun yang membuatnya lelah, akan tetapi jabang bayi di perutnya seakan meronta karena tulang-tulangnya terasa pegal. Ayudia tersenyum sendiri memikirkan apakah iya bayi di dalam rahim bisa kecapaian juga?
Ammar tampak gelisah dan bergerak maju mundur, Ayudia sebenarnya paham bahwasannya Ammar tengah bingung melihatnya tak nyaman. Lalu Ammar keluar, hanya dalam waktu beberapa menit, ia kembali lagi dengan sebuah kantong plastik berwarna hitam.
"Coba minum dulu, barangkali dia haus." Ammar memberikan Ayudia susu UHT berukuran kecil dengan rasa strawberry. Ayudia tak bisa menahan geli akibat perlakuan Ammar yang menurutnya lucu.
"Siapa yang haus?"
Ammar menunjuk perut Ayudia, karena tak mungkin untuk menyentuhnya. "Dia yang ada di perutmu. Barangkali akan suka dengan susu strawberry. Coba dulu, apa mau makan coklat ini? Atau aku bilang saja ke bidan agar kamu di dulukan?"
Ayudia menggeleng, ia mengulum senyumnya dan berkata dengan lembut. "Aku ndak kenapa-kenapa, Kak. Tunggu giliran aja, dia sabar kok." Ayudia mengusap perutnya lagi.
Raut wajah Ammar masih terbalut kecemasan, ia masih terlihat bingung. Lalu ia menarik kursi yang lebih tinggi dan mempersilakan Ayudia untuk duduk di sana. 
"Duduk di sini aja, ini akan lebih nyaman karena tinggi."
Ayudia akhirnya mendaratkan tubuhnya sesuai kemauan Ammar. Meski perutnya masih tak nyaman, setidaknya lebih baik. Ia kemudian meminum susu pemberian Ammar tadi, ya barangkali seperti kata Ammar si bayi akan suka.
"Besok-besok lagi ajak Umi aja ya, biar ada yang bantuin kamu elus-elus si bayi. Aku bingung mau gimana, kalo Umi kan jelas sudah lebih pengalaman. Nanti juga saat periksa pasti kamu ndak ngizinin aku ikut masuk." Akhirnya Ammar mengungkapkan keresahannya.
"Ndak usah lah, Kak. Sebenarnya Dia sendiri juga bisa."
"Ya bisa si bisa, tapi masa iya, aku tega biarin kamu berangkat sendiri. Setidaknya ya ditemani Najma lah, jangan sendiri."
"Najma sibuk, Kak. Katanya sebentar lagi mau sidang skripsi."
Tak lama giliran Ayudia tiba. Perempuan itu masuk sendiri dan Ammar menunggu di luar.
"Apa keluhannya, Mbak?" Bidan Diva bertanya.
"Ini dari mulai siang tadi kok terasa kram dan kencang terus ya, Buk. Kenapa ya?"
"Naik dulu yuk, coba kita cek dulu dede bayinya lagi apa?" Kata bidan Diva yang sangat ramah.
Usai periksa, Ayudia kembali duduk. Lalu bertanya lagi dengan Bidan Diva. "Gimana ya, Buk."
"Alhamdulillah, semua normal. Denger kan tadi detak jantungnya keras banget. Saya rasa dia emang jagoan," Bidan Diva tersenyum.
Lalu berujar lagi setelah mengambil beberapa vitamin dari lemari, "Yang penting, pikiran Mbak Ayu harus tenang. Namanya hidup itu ya tidak lepas dari ujian, serahkan semua kepada yang Maha Hidup. Kalo boleh minta, kita maunya kan seneng terus. Tapi jelas tidak bisa, karena senang dan sedih tetap akan diimbangi dengan ujian. Artinya Allah mengingat kita, Mbak. Alhamdulillah bersyukur selalu. Sekarang tinggal Mbak Ayu yang memaknainya bagaimana. Lepaskan semua beban pikiran, biar dede bayi juga happy terus. Ya Mbak, kasihan lho dede bayi juga nangis kalo ibunya banyak pikiran."
Ayudia mengangguk, rasa bersalah merasuk kedalam jiwa secara tiba-tiba. Naluri keibuannya jelas menangis dengan teguran halus sang bidan. Ia memang masih sangat berkabung. Rasa sedihnya justru semakin berlarut-larut, bukan malah hilang. Dan menghadapi masalah seorang diri tidaklah mudah.
Ayudia keluar dengan ekspresi masam, Ammar yang melihatnya langsung saja berlari dan memegang bahu Ayudia tanpa sadar, "Hei, kenapa kok wajahmu sedih gini, apa ada masalah sama kandunganmu? Apa bidan merujukmu ke rumah sakit? Dia? Kenapa?"
Ayudia meneteskan air mata, namun ia kemudian menggeleng. Ammar menggaruk kepala pusing. Ia lalu berinisiatif untuk menggandeng tangan Ayudia, ternyata Ayudia tidak menolak dan malah mengencangkan jari-jarinya pada tangan Ammar.
Dari situ Ammar bisa memahami bahwa Ayudia memang belum bisa berdiri tegak dan menata hidup seorang diri. Saat hendak memasuki mobil, Ammar memegang kedua tangan Ayudia dan menghadapkan perempuan itu ke arahnya, lalu Ammar berkata. "Menangislah kalau itu bisa membuatmu lega, ceritakan padaku semuanya, jangan dipendam. Aku siap mendengarkan."
Tak menunggu jawaban Ayudia, Ammar lalu membukakan pintu penumpang untuk perempuan itu, dan masuklah ia ke dalam setelahnya.
Ammar tak langsung membawa Ayudia pulang ke rumah, ia lebih dahulu mengajak Ayudia keliling dan memutari kecamatan Sandur. Rasanya terharu bercampur bahagia, ia jadi teringat dahulu kala, saat dirinya menjadi suami Ayudia. Apa yang pernah ia berikan, jika diingat lagi tak ada. Hanya penderitaan yang Ayudia terima, bahkan jalan-jalan keliling komplek saja tak pernah ia lakukan bersama.
"Cari makanan dulu ya." Kata Ammar.
Ayudia seketika menegakkan kepala dan melihat ke depan, ternyata banyak sekali pedagang jajanan dan berbagai kudapan ringan maupun berat. Mood ibu hamil memang mudah sekali berubah, seketika senyumnya mengembang lebar.
"Iya mau, Kak."
Di sore hari, kala langit jingga bersinar dengan anggun, Ammar menggapit tangan perempuan yang begitu ia cinta. Membawanya menyisiri jalanan alun-alun kecamatan. Rasanya Ammar ingin waktu berhenti sejenak, untuk dirinya dan Ayudia saja. Sayang, itu tidak mungkin terjadi.
Banyak pasangan lain yang juga tengah menghabiskan waktu santai untuk sekedar berburu kuliner di sana atau hanya melihat-lihat keramaian. Ayudia memborong banyak makanan, sebelumnya ia juga telah menelepon Najma dan menanyakan pada gadis itu ingin dibawakan apa.
Usai berbelanja jajanan kekinian, mereka kembali. Tiba-tiba ponsel Ayudia berdering dan membuat perempuan itu menghentikan mulutnya yang sedang sibuk mengunyah.
"Walaikumsalam, siapa?"
"..."
"Oh iya, boleh Ndre, mampir aja. Sekarang sudah sampai mana?"
"..."
"Iya, nanti aku kirim alamatnya lewat peta digital."
Usai menutup telepon, Ayudia sibuk mengirimkan lokasi melalui pesan bagikan. Agar Andre tidak tersesat kala hendak berkunjung ke rumahnya.
"Ada yang mau mampir ke rumah?" Tanya Ammar.
"Iya, Andre yang barusan telepon. Bilangnya habis dari kota dan ingin mampir ke rumah."
"Andre teman dekatmu itu?"
"Hem." Ayudia mengangguk.
"Kalo gitu mampir ke toko kue sekalian aja ya,"
"Ngapain, Kak?"
"Emang kamu punya apa di rumah, yang benar saja tamu ndak kamu beri suguhan apa-apa. Jajanan itu untuk kamu sama Najma aja habis. Kasihan jauh-jauh Andre datang masa cuma disambut dengan air putih."
Ayudia mengangguk sebelum berkata, "Tapi Dia agak takut Kak, Andre sama orangtuanya."
"Terus takut kenapa?"
"Dulu Andre kan sudah pernah berencana mau melamar Dia, tapi ndak jadi gara-gara Dia tolak."
Deg!
Jantung Ammar kembali berdetak melebihi kapasitas detakan normalnya. "Bukannya kalian dekat? Terus kenapa ditolak? Kalo sekarang Andre kembali datang dengan berbagai tawaran gimana?"
Ayudia malah diam, seakan ia sedang memikirkan apakah memang lebih baik menerima Andre? Ammar terbatuk, sengaja ia ingin membuyarkan lamunan Ayudia yang sangat lama menurutnya.
"Gimana?" Tanya Ammar lagi.
"Dia ndak masalah sih, Kak. Tapi untuk sekarang Dia masih terbayang-bayang dengan diri Dia sendiri. Bagaimana kalo Dia benar membawa sial, Dia takut. Tapi kalo Andre mau sabar menunggu ya ndak apa-apa."
Ammar mengangguk pilu, lalu ia tak lagi berbicara macam-macam, dan fokus melajukan kendaraan ke arah tujuan.
'Apakah Dia benar-benar ndak punya sedikit saja perasaan denganku?'
* *

Komentar Buku (58)

  • avatar
    LiyduLismawati

    awal baca judul kirain bakal sama dengan novel novel lain. ternyata beda sama sekali. setelah dibaca sampe akhir ternyata banyak kisah di dalamnya, masalah juga yg rumit, bikin keki, kesel, jengkel marah sedih seneng lucu ngakak ketawa bahagia. diselipin juga pengetahuan, pengalaman dan pembelajaran hidup terutama berumah tangga.walaupun ujung-ujungnya balik sama Ammar lagi sesuai judul tp tetap saja sedih sama perjuangan dan perhatiannya Adam. Kenapa harus dibuat meninggoy coba. sedih akutuh😭

    16/07/2022

      0
  • avatar
    FarezkyAdam

    Sumpah penasaran sama lanjutan cerita Ammar dan Ayudia, ayo thor up lagi..

    05/05/2022

      0
  • avatar
    HasanIstiqomah

    ceritanya sangat bagus dan menyentuh

    17/03

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru