logo text

Bab 58 Dampak Positif

Cemburu kerap dibilang sebagai bumbunya cinta. Lalu, jika cemburu terus menerus, apa artinya cinta itu semakin manis karena lebih sering diberi bumbu? Tentu saja itu anggapan yang salah. Terlalu sering cemburu akan berimbas pada tak baiknya hubungan antara pasangan ataupun pertemanan.
Cemburu yang terus-terusan justru bisa menyebabkan pasangan meragukan cinta itu sendiri, ia akan merasa bahwa seseorang yang mencintainya tak memiliki rasa percaya. Malangnya lagi, cemburu bisa mengingatkan seseorang pada masa lalunya. Dan ... Ammar menjadi pria yang punya rasa cemburu sangat-sangat tinggi. Bahkan melewati batas kewajaran. Ia kadang tak bisa menempatkan diri, ia lupa siapa dirinya sekarang untuk Ayudia. Bagaimana masalalu dari kegagalan yang pernah dilalui dengan Ayudia tak ia pikirkan. Padahal begitu banyak hal buruk terjadi akibat ego terhadap cemburu yang begitu besar, namun tak juga ia perhitungkan.
Tanpa terasa Adam sudah meninggalkan Ayudia selama satu pekan. Hari ini menginjak hari ke delapan. Habibi juga berkunjung lagi kemarin dan baru pulang pagi tadi. Perlahan semua aktivitas sudah kembali seperti sediakala, Ayudia juga sudah mengajar untuk meringankan sedikit saja rasa sepi dan bersalahnya.
Namun, Ammar di rumah masih terus uring-uringan dengan menyebut Habibi adalah pria yang sok cari perhatian dan lain sebagainya. Mulut Ammar memang belum pernah dijejali cabai lima ratus gram. Hingga ia tak tahu bagaimana pedasnya mulut seseorang kalau sudah menyinggung hati.
"Dek, kamu kalo sama Mbak Dia perhatikan ya, apa Mbak Dia sering kirim-kirim pesan sama si Habibi kribo itu."
Najma terkikik geli dengan sebutan yang Ammar sematkan untuk memanggil Habibi. Rambut Habibi memang kriting, bahkan cenderung mengarah ke kribo, dan pria itu membiarkannya agak gondrong, sehingga tampak sekali ikal-ikal rambut yang unik dan menggemaskan.
Lalu Najma geleng-geleng sambil menatap agak serius ke arah Ammar, "Mas, jangan menyia-nyiakan kesempatan kedua, atau malah ndak akan pernah punya kesempatan lagi."
Ammar memukul lengan Najma. "Sembarangan kalo ngomong!"
"Najma ngomong yang benar lho, Mas. Apa adanya, kalo Najma yang jadi Mbak Dia nih, Najma sudah males balikan lagi sama Mas Ammar. Jangankan balikan, berteman aja ogah. Ndak mau Najma."
Ammar menaikkan satu alisnya,
"Tau ndak, Mas tuh cemburunya kelewatan. Mas ndak percaya diri bisa memenangkan hati Mbak Dia? Atau Mas takut kalah saing sama Mas Habibi? Iya kan?"
"Siapa bilang? Kamu salah ya." Elak Ammar.
"Lagian ya Mas, orang itu kalo dicemburui terus-terusan, pasti capek. Cuma duduk sebelahan aja dituduh cari perhatian, cuma senyum aja, dibilang suka. Jangan gitu dong, Mas. Itu ndak baik, percaya deh sama Najma."
Ammar mulai sedikit memahami nasihat Najma. Namun, masalahnya ia tak mengerti harus bersikap seperti apa agar Ayudia tahu bahwa ia masih amat mencintai perempuan itu.
"Terus Mas harus gimana, Dek?"
"Kasih Mbak Dia sedikit ruang, biarkan Mbak Dia berteman dengan siapapun, Mbak Dia itu perempuan baik-baik, jelas sudah tau mana batasan pertemanan dengan lawan jenis. Kalau Mas begini terus, Mbak Dia akan merasa tertekan, semua masalalu dulu akan teringat lagi, terus ... Mbak Dia akan mundur pelan-pelan dan menjauhi Mas Ammar. Mau?"
"Ya ndak lah Dek. Tapi kalo Mbak Dia ndak bisa liat perasaan Mas gimana?"
"Makanya mulai sekarang perbaiki sikap Mas yang seperti itu. Cukup kasih perhatian sewajarnya, jangan berlebihan juga. Insyaallah Mbak Dia tetap bisa merasakan. Masalah jodoh kembalikan kepada Allah."
Ammar manggut-manggut. Lalu pamit pulang, begitu juga dengan Najma yang pamit pulang menjemput Ayudia.
Pada pukul satu siang, seusai menjemput Ayudia, Najma mampir ke rumahnya. Ayudia mengangguk saja tanpa mengatakan penolakan.
"Mbak Dia mau ikut masuk apa tunggu di luar?" Tanya Najma saat mereka sampai di teras rumah.
"Mbak sini aja."
Najma masuk ke dalam, sedangkan Ayudia duduk menunggu sendirian di teras rumah. Tiba-tiba bayangan pertemuannya dengan Adam beradu di memori, Ayudia tak bisa membohongi dirinya agar tidak sedih, namun ia sudah bisa mengendalikan diri agar tak terus menangis akibat takdirnya yang pahit.
Fatma datang dari arah barat, masih memakai seragam Aliah. Gadis itu selalu saja ceria seperti biasanya. "Wah, ada Mbak Dia. Kebetulan banget, Fatma pengen bilang sesuatu."
Ayudia langsung ikut tersenyum, bahagia setiap melihat gadis yang selalu ceria seperti tak pernah memiliki beban di kehidupannya. "Mau bilang apa, Dek?"
"Fatma tuh pengen ikut tinggal sama Mbak Dia lho, boleh ya Mbak." Fatma memohon dengan wajah memelas.
Ammar mendengar suara Fatma yang melengking sampai kemana-mana, lalu keluar untuk melihat apa yang terjadi. Namun berhenti dan memilih berdiri di ambang pintu kamar.
Ayudia mendadak dingin, senyum yang berhias tiba-tiba lenyap. Seolah tergusur oleh luka dan derita. "Ndak usah, Mbak Dia ndak mau semakin banyak orang yang sial karena dekat-dekat sama Mbak."
Fatma pun terkejut, ia bingung hendak menjawab apa. Namun, tiba-tiba sebuah suara bariton terdengar dari arah timur.
"Masyaallah, Dia ... ndak ada manusia pembawa sial. Istighfar, itu ndak benar. Allah mengujimu karena melihat kamu yang kuat dan luar biasa hebat menjadi seorang perempuan. Jadi jangan lagi menganggap dirimu pembawa sial."
"Kak Malik benar, Mbak." Tambah Fatma.
Ammar maju beberapa langkah, menyaksikan dari dalam ruang tamu, ia sudah mendengar ucapan Ayudia itu saat di pemakaman. Ia cukup bisa mengerti perasaan Ayudia, mungkin memang belum bisa lapang dada.
"Tapi Malik ndak tau perasaan Mbak Dia. Malik belum pernah mengalami hal sesulit Mbak Dia. Malik ndak pernah ditinggal orang-orang tersayang secara beruntun. Mbak yang ngerasain, Dek!" Nada suara Ayudia meninggi.
Ammar keluar, lalu mencoba bicara dengan pelan, "Kamu dah pulang, Fat? Ngapain ndak masuk? Loh ada Dia juga? Malik juga ada, sudah ... masuk dulu masuk. Ngobrol di dalam. Kebetulan Umi tadi bikin kue. Ayo masuk-masuk."
Ayudia masih tampak tegang, lalu berusaha kembali tenang untuk menjawab tawaran Ammar, "Makasih, Kak. Dia tunggu di luar aja, Najma cuma ngambil barang aja, paling ndak lama."
Ammar mengangguk, lalu Malik masuk ke dalam dengan hadiah tatapan tajam dari Ayudia. Termasuk Fatma. 
Malik membawa piring berisi talam ayu keluar, menawarkan pada Ayudia. "Makan ini dulu, Dia. Kamu baru pulang sekolah kan, pasti belum makan siang."
"Aku ndak lapar." Jawabnya ketus.
Ammar malah memilih memanggil Najma agar lebih cepat berkemas karena Ayudia sudah terlalu lama menunggu.
"Eh, maaf Mbak. Banyak yang dibawa jadi lama." Kata Najma saat sudah keluar.
Ayudia sudah berdiri, hendak melangkah namun Ammar tiba-tiba memanggil. "Dia, ini bawa kue talamnya, tadi Umi sudah menyiapkannya untukmu dan Najma, tapi aku belum sempat nganterin. Bawa sekalian aja ya, ndak apa-apa kan?"
"Ndak apa-apa, sampaikan terimakasih sama Umi ya, Kak. Dia pulang dulu."
"Pelan-pelan bawa motornya, Dek. Perut Mbak Dia besar."
Najma bersikap seolah sedang hormat, "siap."
Mood Ayudia menjadi sangat buruk karena Malik dan Fatma, rasa kesal yang muncul tidak bisa hilang dengan mudah. Ayudia menjadi sangat sensitif sejak kepergian Adam. Apa yang menjadi keputusannya, mutlak. Ayudia tidak suka diingatkan. Mungkin itu salah satu dampak dirinya yang sedikit frustasi.
Saat ini Ayudia hanya nyaman dengan Najma, dan ... satu lagi, ia tak bisa memungkiri kalau dirinya cukup nyaman dengan sikap Ammar. Namun, kembali lagi pada trauma yang terlanjur berkecamuk  dan bercokol di alam bawah sadarnya. Ayudia takut akan terulang lagi untuk yang kesekian kali. Cukuplah Najma untuk sementara waktu yang menemani dirinya.
Sampai di rumah, Ayudia tak sabar lagi untuk memakan kue talam buatan Umi yang begitu menggoda. Sebenarnya tadi saat Malik membawakan sepiring talam, Ayudia lumayan tergoda. Harum pandan yang menusuk penciuman benar-benar membuat air liurnya meleleh. Akan tetapi, ia lebih memilih menolak karena amarah masih menguasainya. Gengsi lah ya.
"Pelan-pelan makannya, Mbak." Kata Najma.
"Najma mau ndak?"
"Untuk Mbak Dia aja, Najma ndak begitu suka talam."
Ayudia tersenyum lebar, seolah kemarahannya tadi terobati oleh talam sepuluh biji. Lumayan kenyang meski ia tak makan nasi. Najma ikut bahagia melihat Ayudia selahap itu makan kue talam. Najma sampai mencuri satu potretan dan mengirimnya ke Ammar.
Dari kemarin-kemarin, Ayudia kurang makan dan sukar kalau disuruh untuk makan. Najma sekarang paham bagaimana agar perempuan tersebut tidak melewatkan makan. Ya, memancing Ayudia dengan makanan-makanan yang membuat napsu makannya bertambah.
Pesan yang Najma kirim sudah Ammar terima dan baru saja dibuka.
Ammar tersenyum sendiri melihat foto Ayudia saat sedang memakan talam. Ammar berharap kesedihan Ayudia cepat berlalu dan berganti dengan kebahagiaan menyambut si bayi lahir. Teringat si bayi, Ammar jadi penasaran dengan jadwal periksa kandungan Ayudia. Ammar sengaja membawa pulang buku kesehatan ibu dan anak milik Ayudia. Karena kalau tidak, Ammar yakin Ayudia akan melewatkan jadwal periksa dan membiarkan si bayi bertumbuh kembang tanpa asupan vitamin.
Ammar mengamati dulu mulai dari sampul, hingga beberapa lembar. Lalu, "Astaghfirullah, ini jadwal periksa harusnya kan kemarin. Kan, Dia mana ingat."
Begitu mengetahui bahwa sudah terlambat sehari, Ammar segera menelepon Ayudia. Baru sekali deringan, panggilan sudah dijawab oleh Ayudia.
"Walaikumsalam,"
"Ada apa, Kak?"
"Nanti jam empat siap-siap, aku jemput tepat jam empat ya."
"Mau kemana?"
"Periksa. Kasihan jagoan di perutmu, sudah waktunya dicek. Mau ya?"
Ayudia tampak berpikir, dan akhirnya ia menjawab, "Iya, Kak."
Seusai panggilan terputus, Ammar tak berhenti melompat-lompat kegirangan hanya karena satu alasan, Ayudia. Ia harus sangat hati-hati memperlakukan Ayudia seperti kata Najma. Dampak positifnya sudah terlihat, dari cara Ayudia memandangnya, bukan lagi dengan tatapan kebencian, sekarang jauh lebih teduh dan menenangkan.
* *

Komentar Buku (58)

  • avatar
    LiyduLismawati

    awal baca judul kirain bakal sama dengan novel novel lain. ternyata beda sama sekali. setelah dibaca sampe akhir ternyata banyak kisah di dalamnya, masalah juga yg rumit, bikin keki, kesel, jengkel marah sedih seneng lucu ngakak ketawa bahagia. diselipin juga pengetahuan, pengalaman dan pembelajaran hidup terutama berumah tangga.walaupun ujung-ujungnya balik sama Ammar lagi sesuai judul tp tetap saja sedih sama perjuangan dan perhatiannya Adam. Kenapa harus dibuat meninggoy coba. sedih akutuh😭

    16/07/2022

      0
  • avatar
    FarezkyAdam

    Sumpah penasaran sama lanjutan cerita Ammar dan Ayudia, ayo thor up lagi..

    05/05/2022

      0
  • avatar
    HasanIstiqomah

    ceritanya sangat bagus dan menyentuh

    17/03

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru