Bab 54 Terserah

Sudah satu bulan Ayudia rajin belajar berkendara mobil, meski perutnya semakin besar, ia tetap bergerak aktif. Baru hari ini Adam tega membiarkan sang istri keliling pasar membawa kendaraan sendiri. Usai perayaan hari ulangtahun Ayudia, Adam juga memutuskan untuk berhenti bekerja di Asmaul Husna. Ayudia tidak tahu pasti alasan berhentinya Adam dari sana, namun Adam bilang ingin bekerja di rumah saja.
Sebagai istri, Ayudia mendukung saja setiap keputusan yang Adam ambil. Tak berpikir macam-macam, Ayudia menikmati saja momen kebersamaan mereka yang lebih intens.
Akan tetapi, hari ini Ayudia sedikit melihat perubahan suaminya. Tubuh Adam tampak kurus, rahangnya semakin terlihat tipis. Kalau ditanya, Adam biasa akan bilang kelelahan, jadi berat badannya juga ikut menyusut.
Awalnya Ayudia percaya dengan alibi-alibi yang dibuat Adam, tetapi kali ini ia ragu. Ayudia sampai membeli timbangan digital untuk mengukur berat badan, apakah benar dugaannya kalau berat badan Adam turun sangat kontras. Mata sulit dibohongi ketika perbedaan itu terlalu signifikan. Ayudia memaksa Adam untuk menaiki timbangan tersebut.
Adam hanya berkata dengan santai dan bernada datar, "Aku memang kurus sekarang, Sayang. Itu semua karena aku cukup lelah mengerjakan barang-barang bekas itu. Ndak perlu sekhawatir ini, aku baik-baik saja."
Ayudia agak sebal dengan jawaban Adam, ia pun agak merajuk. "Ya sudah, kalo ndak mau melegakan hati istri, terserah Mas aja. Dia capek, Mas susah diajak bekerjasama."
'Terserah' memang dapat menjadi kata-kata ampuh seperti jimat bagi kaum perempuan. Maknanya begitu dalam dan ambigu. Jika sudah terserah, maka pria mana yang berani menolak? Tentu saja tak ada, atau ia akan merasakan dinginnya ubin teras dan angin malam.
Adam mengalah, ia beranjak dan menaiki timbangan tersebut sembari berkata, "Iya iya, aku timbang ini. Jangan ngambek ya, Sayang."
Ayudia langsung menengok angka yang menunjukkan ke akuratan berat badan Adam yang sesungguhnya.
"Ya Allah, Mas. Kok cuma 45? Pasti ada yang salah. Tapi ini kan timbangan baru, jelas bukan timbangannya lah. Ayo ke dokter, Mas."
Ayudia terus menarik-narik lengan Adam. Mengajak pria tersebut untuk periksa kesehatan. Ayudia mulai ragu kalau keadaan yang terlihat baik-baik saja, sebenarnya sedang bergolak.
Adam tersenyum dan menggeleng, "Aku baik-baik saja, ayo ke kamar, ini sudah malam."
Saat di kamar, Adam mengambil sebuah kartu debit dari laci. Memberikan pada Ayudia, "Simpan kartu ini, ini tabunganku selama bekerja. Mulai sekarang ini milikmu, bisa untuk biaya persalinan nanti dan biaya Adam junior saat sudah keluar. Tentu untuk keperluanmu juga." Adam menoel hidung Ayudia.
Ayudia tersenyum sumringah, melupakan semua kecemasan yang sedang singgah. Matanya berbinar menerima kartu debit dari Adam. Manusiawi bukan? Semua orang akan bahagia kala diberi uang. Termasuk Ayudia. Kebahagiaan yang belum sempat tersalurkan, mendadak jadi kepanikan. Teriakan bahagia dan pelukan yang baru saja akan mendarat, sirna sudah.
Tak lama dari pikiran buruk Ayudia tadi, ternyata terjawab tunai. Adam tiba-tiba kehilangan kendali dalam mensuplai pasokan oksigen. Adam terengah-engah sambil memegangi dada yang cukup menyesakkan. Sampai tenggorokannya serasa tercekat hingga ia tak bisa bersuara.
Ayudia mulai panik, ia merangkul tubuh Adam agar tak serta-merta tumbang dan membentur benda yang keras. Ayudia memapah ke ranjang dengan bergetar ia berkata, "Astaghfirullah, apa yang sebenarnya Mas sembunyikan dari Dia?"
Lalu dengan cepat Ayudia menghubungi dokter Rina. Dalam waktu sepuluh menit, mobil ambulance sudah mendecit di halaman rumah mereka, saking ngebutnya sampai meninggalkan jejak ban di tanah tandus halaman rumah.
Ayudia ikut naik ke ambulance, ia tak melepaskan genggaman tangan pada jemari Adam. Dokter Amrina memasang oksigen untuk membantu pernapasan Adam.
Ayudia terus menangis sambil memperhatikan wajah Adam yang berubah menjadi sepucat kertas, "Apa yang terjadi, Mas? Kenapa Mas seperti ini?"
Ambulance melaju sangat kencang dengan kecepatan di atas rata-rata. Sepanjang jalan sirine tak henti berdenging, mengejutkan warga yang mendengar. Sirine yang membikin banyak rungu merinding.
Sekitar pukul dua belas tengah malam, ambulance sampai di rumah sakit Abdoel Moel. Perawat langsung menyambut mereka dengan brankar. Mungkin karena dokter Amrina sudah lebih dahulu menghubungi pihak rumah sakit. Ayudia ikut berlari, ia melupakan perut buncit yang berisi buah hati Adam.
Brankar di dorong ke ruang ICU rumah sakit, Ayudia ditahan oleh dokter Amrina untuk tidak merecoki tim medis yang bertugas menangani Adam. Tiba-tiba Ayudia mengaduh, ia menggigit bibir bawahnya. "Ya Allah, perut Dia kenapa sakit banget?"
Dokter Amrina menuntunnya untuk duduk, lalu memberi Ayudia minum. Serta memberi instruksi agar Ayudia menarik napas dan membuangnya hingga beberapa kali supaya janin lebih rileks. Sehingga perut tidak kram lagi.
Dokter Amrina juga mengusap perut Ayudia, "Jangan tegang, berhentilah menangis. Kasihan dede bayi di dalam. Soal Adam, serahkan semua pada Allah. Allah tau yang terbaik."
Dokter Amrina menjadi satu-satunya orang yang mengetahui semua hal yang Adam sembunyikan. Beliau sudah menangani Adam sejak lima tahun lamanya. Beliau juga ikut andil dalam menutup-nutupi penyakit Adam dari orang-orang terdekatnya. 
Bukan Adam enggan melakukan pengobatan, tanpa sepengetahuan orang, saat Adam belum menikahi Ayudia, ia sering keluar masuk rumah sakit untuk mengobati penyakitnya. Kondisinya sempat membaik ketika hendak menikah dengan Ayudia. Namun, ketenangan Adam tak berlangsung lama. Dua bulan menikah, dokter justru mengatakan kalau paru-paru Adam bermasalah.
Sebelumnya ia hanya mengidap asma, lalu bertambah dengan paru-paru. Lengkap sudah perkara yang menggangu pernapasan. Dokter Amrina sudah seperti ibu bagi Adam, beliau sangat setia mengantar Adam periksa dan mengingatkan Adam untuk disiplin konsumsi obat.
Kembali lagi, pengobatan adalah satu cara manusia berusaha. Segala hasil, tetap Allah yang berkehendak. Kini, Adam memasuki masa kritis.
Ayudia tak lagi sibuk mencari tahu ada apa gerangan, bagaimana bisa Adam sampai tumbang dan langsung masuk ke ruang ICU. Ayudia berhenti ingin tahu. Sekarang ia lebih fokus berdoa untuk kesembuhan Adam. Ia hanya ingin Adam sembuh, bukan yang lain seperti yang orang bilang terbaik untuk Adam.
Tidak, Ayudia tak mau terjadi sesuatu yang lebih buruk dari kondisi kritis. Ia ingin melahirkan dengan di dampingi oleh Adam. Sekarang, ia sedang bersujud khusuk di mushola rumah sakit.
Usai bermunajat, Ayudia kembali ke ruang tunggu untuk memastikan kalau Adam sudah sadar. Harapan kosong ia dapati setelah melihat di kursi tunggu banyak orang tengah duduk menyandarkan kepala pada telapak tangan.
Sudah ada Ammar dan Malik serta Albi anak dari Kiyai Lutfi. Ammar berdiri saat menyadari kedatangan Ayudia, "Dia, duduk di sini."
Ayudia mengangguk.
Ammar berdiri di sisi perempuan tersebut, ia pandangi Ayudia dari samping. Ayudia tampak tegar meski tak bisa dipungkiri raut cemas menghias wajah cantiknya. Ammar tahu itu hal yang amat berat untuk seorang istri. Meski masih mengharap Ayudia kembali, namun di saat melihat Ayudia bersedih akibat Adam sakit, Ammar pun ikut merasakan pedih dan terpukulnya.
Di sudut hati Ammar, ia tetap berdoa agar Adam kembali sehat dan bisa membersamai Ayudia hingga menua. Walaupun ada sisi tak rela, tapi Ammar lebih tak rela kalau Ayudia menderita, seperti kala kehilangan si kembar dan Atuk juga Uti. Ammar takut Ayudia akan menyalahkan dirinya atas kepergian orang-orang tersayang.
Ammar membujuk Ayudia agar mau istirahat walau hanya di kursi besi itu, "Tidurlah, aku akan berjaga semalam untuk memastikan Adam baik-baik saja. Tidurlah, jangan biarkan Adam kecil ikut sedih karena Buna-nya terus saja menangisi calon Ayah yang sedang berjuang di dalam."
"Dia ndak ngantuk, Kak. Biar Dia menunggu Mas Adam sadar, lalu Dia akan tidur."
Dokter Amrina merangkul bahu Ayudia dan mengusap-usapnya, "Benar yang dibilang Ammar, kasihan anak kalian, dia juga butuh istirahat. Tidurlah sebentar, nanti kami akan bangunkan kalau Adam sudah sadar. Tidurlah di bahu Ibu."
Ayudia akhirnya tak mampu lagi bertahan, rasa kantuk membekap kedua mata lentiknya. Ia tertidur pada pukul dua dini hari. Diikuti oleh dokter Rina dan dua pria lainnya, kecuali Ammar. Pria itu benar-benar bertahan demi menjaga Adam. Sesekali Ammar mengintip lewat kaca. Ia merintih tak tega menatap Adam terbaring dengan berbagai alat kehidupan menempel di dada.
"Bangun, Dam. Cepat bangun! Katamu akan menjaga Dia, katamu akan membuat Dia bahagia. Mana janjimu, Dam? Jangan biarkan aku merebut istrimu itu. Bangunlah! Bangun, Dam!" Ammar memukul kusen jendela.
Suara Ammar sampai bergetar, ia juga menitikkan air mata. Adam sudah seperti kakak baginya, sejak kecil mereka bersama. Tumbuh dalam asuhan Abah Ahmad dan Umi Aida. Walau keduanya sering bertengkar dan berebut mainan, namun Adam lebih banyak mengalah untuk Ammar. Ia tak akan melupakan semua kenangan dengan mudah. Sekarang, Adam benar-benar tak berdaya.
Ammar menangkap gerak jemari Adam, ia langsung berlari mencari para medis yang berjaga malam.
"Dok ... Dokter! Tolong Adam, Dok! Adam menggerakkan jarinya."
Seorang dokter beserta dua perawat berlari masuk ke dalam ruangan Adam.
* *

Komentar Buku (58)

  • avatar
    LiyduLismawati

    awal baca judul kirain bakal sama dengan novel novel lain. ternyata beda sama sekali. setelah dibaca sampe akhir ternyata banyak kisah di dalamnya, masalah juga yg rumit, bikin keki, kesel, jengkel marah sedih seneng lucu ngakak ketawa bahagia. diselipin juga pengetahuan, pengalaman dan pembelajaran hidup terutama berumah tangga.walaupun ujung-ujungnya balik sama Ammar lagi sesuai judul tp tetap saja sedih sama perjuangan dan perhatiannya Adam. Kenapa harus dibuat meninggoy coba. sedih akutuh😭

    16/07/2022

      0
  • avatar
    FarezkyAdam

    Sumpah penasaran sama lanjutan cerita Ammar dan Ayudia, ayo thor up lagi..

    05/05/2022

      0
  • avatar
    HasanIstiqomah

    ceritanya sangat bagus dan menyentuh

    17/03

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru