Ayudia bersyukur telah melewati trimester pertama dengan baik. Berat badannya cukup terkuras akibat susah makan selama tiga bulan. Di trimester kedua, Ayudia sudah bisa menyajikan masakan untuk Adam. Anehnya, ia malah jadi tak doyan makan nasi masakan di rumahnya sendiri. Mau tidak mau, setiap sehari tiga kali ia bergantian dengan Adam membeli sebungkus nasi untuknya makan. Sore nanti di rumah Adam dan Ayudia akan digelar acara empat bulanan. Sebagai tanda syukur karena diusia empat bulan, ruh jabang bayi akan ditiupkan ke dalam kandungan. Sungguh luar biasa Kuasa Tuhan, dari setetes sari pati tanah, bisa bertumbuh hingga terlahir sebagai bayi mungil nan lucu. Ayudia juga sangat bahagia karena di usia kandungannya saat ini, ia sudah mulai bisa merasakan gerakan-gerakan halus dari adik bayi. Yang membikin perempuan tersebut lebih bahagia adalah, hari ini juga bertepatan dengan hari ulangtahunnya yang ke dua puluh lima tahun. Acara diadakan sederhana, hanya mengundang keluarga dan beberapa teman dekat saja. Sebagian besar makanan sudah dibagikan ke tetangga-tetangga sekitar pukul lima sore. Ya, masih dalam suasana pandemi yang tak memungkinkan Adam menggelar acara besar. Sengaja Adam memesan kue tart dengan hiasan yang begitu manis. Kue berwarna merah jambu, berhiasa hati dan foto pernikahan mereka berdua. Kue diantar pukul setengah delapan, agar Ayudia tak melihatnya. Biarkan semua yang dipersiapkan Adam menjadi sebuah kejutan. Pukul delapan malam, semua anggota berkumpul di ruang tengah. Sedangkan Ayudia masih berada di dalam kamar, ia dilarang keluar lebih dulu sebelum semua penataan selesai. "Sudah siap semua, Mas. Buruan bawa sini Mbak Dia." Ujar Najma yang baru selesai menata tumpeng nasi kuning dan tart yang tersusun dari buah-buahan segar. Najma bilang, kado khusus dan spesial untuk Ayudia. Sekalian, gadis itu ingin menjajal kemampuan dalam berkreasi. Adam mengangguk, lalu masuk ke dalam kamar dan menuntun Ayudia keluar. "Aku tutup dulu ya mata kamu." Adam menutup mata Ayudia dengan kedua tangannya. "Emang ada apa sih, Mas? Bikin Dia penasaran aja." Jantung Ayudia berdebar dan membuatnya gelisah. Selama dua puluh lima tahun ia hidup di dunia, baru kali ini ada yang menyiapkan kejutan di hari ulangtahunnya. Kalaupun tak ada kado spesial, Ayudia tak bersedih. Ia sudah bahagia dengan orang-orang dekatnya yang memberi ucapan. "Siap-siap ya," ujar Adam perlahan menarik tangan dari mata Ayudia. Ayudia mengucek mata karena masih buram. Sejenak, ia tertegun. Mengedip beberapa kali dan memastikan bahwa semua yang di depannya bukanlah halusinasi. Tak menyangka kejutan dari Adam akan semewah itu. Baginya itu lebih dari sederhana. "Selamat ulang tahun, Sayang." Kata Adam berbisik di telingan Ayudia. Ayudia terharu, ia langsung menghadap ke arah Adam dan memeluk sang suami begitu erat. "Terimakasih, Mas." Ucapnya dengan terisak. "Uluh-uluhh ... so sweet." Teriak Fatma. Membuat Ayudia tersadar, kalau di kelilingnya banyak saudara-saudara yang ikut menyaksikan. Ia cepat menarik diri dari rengkuhan Adam. Malu sekali. Ayudia benar-benar dibuat meleleh oleh Adam. Ia kira Adam adalah pria yang kolot, ternyata salah. Adam memang sangat romantis, tak kalah dengan aktor-aktor di televisi. Ucapan-ucapan selanjutnya diterima dari keluarga yang hadir. Lalu semua menunduk hikmat untuk meng-aamiinkan doa yang dipanjatkan oleh Adam. Selanjutnya, Ayudia membuka kotak kado pertama, dari Adam. Sebuah kunci yang cukup besar, "ini apa, Mas? Kunci apa ini?" "Lihat saja di depan." Kata Adam. Ayudia keluar, saat di teras rumah. Hal pertama yang tertangkap penglihatan Ayudia adalah: dua pasang mata Muammar, agak kemerahan. Pria itu sedang berdiri menyandar di pilar rumah menghadap pintu masuk. "Kak Ammar," gumam Ayudia. "Dia?" Ammar juga kaget dengan Ayudia yang tiba-tiba muncul. Bagaimana perasaan keduanya? Tentu Ayudia dan Ammar sendiri yang tahu. Ayudia menoleh lagi ke arah Adam, dengan maksud bertanya kado apa yang sebenarnya Adam persembahkan. "Tentu saja bukan dia kadonya Sayang. Mana mungkin aku memberimu hadiah yang membuat aku tersingkir." Adam melirik Ammar sambil merangkul pinggang Ayudia dan membawanya keluar. Ammar diam saja, godaan Adam tak membuat ia tersinggung atau sakit hati. Ia memilih diam, tak juga ingin menimpali godaan Adam. Takut salah dan menyakiti hati oranglain lagi. Selain itu, Ammar lebih takut dengan amarah Umi. "Itu mobil untukmu, Sayang." Adam menunjukkan mobil Toyota Rush berwarna grey. "Untuk apa, Mas? Motor saja Dia ndak bisa nyalain mesinnya, gimana mobil?" "Nanti aku ajari, biar kamu dan dede bayi ndak kepanasan. Itu untukmu." "Untuk kita!" Ralat Ayudia dengan mencebikkan bibir. "Untukmu, Sayang." Kata Adam lagi. Ammar gemas sendiri mendengar Adam dan Ayudia mendebatkan sebuah benda yang tak seharusnya membuat mereka berdebat. Sungguh pasangan aneh. "Kalo ndak ada yang mau, bawa sini kuncinya. Buat aku aja, Dam. Lumayan untuk pamer di media sosial." Kata Ammar dengan mengulurkan tangan. Adam seketika menepuk keras telapak tangan Ammar. "Enak aja! Aku membeli itu untuk, istriku tercinta!" Adam menekan kata istri. Membikin senyum Ammar langsung melengkung ke bawah. "Sok romantis!" Ketus Ammar. "Sekali-kali ndak apa-apa lah, siapa tau tahun depan ndak bisa lagi ngasih kejutan dan hadiah. Mumpung sekarang bisa." Adam merangkul Ayudia lagi, lalu mengecup keningnya. Ammar diam, lalu memilih masuk ke dalam rumah. Ayudia memukul lengan Adam, "jangan sembarangan kalo ngomong, Mas." Adam nyengir. "Ya sudah, ayo masuk. Yang lain sudah menunggu." Acara dilanjutkan dengan makan malam, usai perjamuan, Ammar pamit pulang. Tak ikut mengobrol dengan tuan rumah dan yang lain. Hanya dengan cara seperti itulah, Ammar bisa sedikit menekan perasaannya. Kalau selalu berhadapan dengan Ayudia, Ammar tak yakin bisa mengontrol diri. Ammar juga satu-satunya manusia di sana yang tak memberi ucapan kepada Ayudia secara langsung, juga tak memberi hadiah. Sesampainya di jalan, Ammar membuka sosial media, mengirimi Ayudia sebuah pesan ucapan ulangtahun. 'Selamat ulangtahun Ayudia Prasasti, semoga diberi umur panjang dan kesehatan jasmani serta rohani. Bahagia selalu menyertaimu, maaf ndak bisa mengucapkan langsung tadi, aku ndak bisa berkata apa-apa kalau di depanmu.' Sebuah pemberitahuan direspon cepat oleh pemilik gawai pintar. Ayudia membuka pesan yang sudah tertera dilayar. Ia mengulum senyum getir membaca pesan dari Ammar. Sungguh pilu kisah yang mereka rangkai dengan keegoisan. Ayudia juga masih menyimpan sedikit sesal untuk semua yang sudah terjadi. Perlahan ia membalasnya. 'Terimakasih banyak.' Ammar mendesah kecewa setelah membaca isinya. Bisa-bisanya ia masih berpikir Ayudia akan memberi balasan yang membuat hatinya berbunga. Ia berpikir lagi, mungkin seharusnya ia memang tidak sama sekali bertemu dan melihat wajah Ayudia. Sebab, ya begitu. Kalau sudah bertemu, seakan harapan terpupuk sendiri. Sungguh mengharapkan sesuatu yang tak mungkin akan terjadi adalah hal sia-sia. "Bismillah, apa susahnya ndak ketemu Dia. Ayo Am, bisa. Kamu pasti bisa! Semangat." Katanya memberi semangat dirinya sendiri. "Tapi kalo ada gadis yang persis kaya Dia, aku mau ya Allah. Persis semuanya, cantiknya, sifatnya, pokoknya semua." Gumamnya lagi. Ammar berbicara sendiri sepanjang jalan pulang. Ia memilih berjalan karena sudah lama sekali ia tak menikmati momen-momen berjalan di kegelapan malam dan jarak yang tak begitu jauh. "Untung aja tetangga Adam pelit-pelit, kalo ndak, pasti aku sudah dikira orang gila. Bicara sendiri di jalan, malam-malam lagi. Astaghfirullah, apa aku emang sudah gila karena Dia?" Ammar memukul kepalanya. Lalu ia berlari kecil agar cepat sampai rumah. Ia malah jadi teringat dulu masa kecilnya, ketika malam, ia sering bermain petak umpat dengan para tetangga yang sebaya. Dulu waktu pesantren belum sebesar sekarang. Dulu, ketika belum ada pembatas antara pesantren dengan pemukiman warga sekitar. Ammar paling dekat dengan gadis kecil yang sangat cengeng, bukan ia suka dengan gadis itu, melainkan ia kasihan karena sebentar-sebentar ia menangis takut dengan gelap. "Coba aja aku tau dari awal kalau Ayu itu kamu. Pasti aku terima kamu sejak Abah menjodohkan kita, seperti janjiku dulu, menjagamu. Selalu menjadi temanmu di gelapnya malam. Sayang, semua sudah terjadi. Mau gimana lagi?" Ammar berhenti di depan gerbang pesantren. Seorang pria seusia Fatma mendekat, lalu menepuk bahu Ammar. "Gus, kamu punya pegangan ya? Awas lho Gus, nanti kalo Abah tau pasti akan marah besar!" "Ngagetin aja kamu, Van! Pegangan apa?!" "Jangan keras-keras, nanti ada yang dengar. Kalo aku nggak akan bocorin kemana-mana, Gus. Tenang aja." Ammar menggaruk kepala bingung, apa maksudnya? "Apa sih, Van? Aku ndak ngerti kamu ngomong apa?" Evan berbisik di telinga Ammar, "aku lihat Gus Ammar ngomong sendiri tadi, pasti lagi ngomong sama makhluk astral yang dipelihara sama Gus Ammar sendiri kan? Sudah, nggak usah malu Gus." "Heh! Ngaco kamu, Van. Sembarangan aja! Kamu kira aku penyembah setan!" Teriak Ammar. Mendengar kata setan, santri yang menjaga gerbang langsung berlari membuka. "Mana setan? Cepat masuk, Van, Gus. Biar setannya nggak bisa masuk." Ammar geleng-geleng, "Nih, kalian beli makan sana! Biar ndak gagal fokus!" Ammar menepuk telapak tangan Evan dengan tiga lembar uang ratusan ribu. Ammar berjalan dengan kesal, "dasar bocah-bocah ndak ngerti orang jatuh cinta, masa aku malah dibilang punya peliharaan jin! Dasar gila si Evan!" * *
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (58)
LiyduLismawati
awal baca judul kirain bakal sama dengan novel novel lain. ternyata beda sama sekali. setelah dibaca sampe akhir ternyata banyak kisah di dalamnya, masalah juga yg rumit, bikin keki, kesel, jengkel marah sedih seneng lucu ngakak ketawa bahagia. diselipin juga pengetahuan, pengalaman dan pembelajaran hidup terutama berumah tangga.walaupun ujung-ujungnya balik sama Ammar lagi sesuai judul tp tetap saja sedih sama perjuangan dan perhatiannya Adam. Kenapa harus dibuat meninggoy coba. sedih akutuh😭
16/07/2022
0
FarezkyAdam
Sumpah penasaran sama lanjutan cerita Ammar dan Ayudia, ayo thor up lagi..
awal baca judul kirain bakal sama dengan novel novel lain. ternyata beda sama sekali. setelah dibaca sampe akhir ternyata banyak kisah di dalamnya, masalah juga yg rumit, bikin keki, kesel, jengkel marah sedih seneng lucu ngakak ketawa bahagia. diselipin juga pengetahuan, pengalaman dan pembelajaran hidup terutama berumah tangga.walaupun ujung-ujungnya balik sama Ammar lagi sesuai judul tp tetap saja sedih sama perjuangan dan perhatiannya Adam. Kenapa harus dibuat meninggoy coba. sedih akutuh😭
16/07/2022
0Sumpah penasaran sama lanjutan cerita Ammar dan Ayudia, ayo thor up lagi..
05/05/2022
0ceritanya sangat bagus dan menyentuh
17/03
0Lihat Semua