Bab 97

Bab 97
Yuda tampak gagah saat berdiri bersisian di sampingku dengan wajah bahagianya.
Sesekali pria itu melirik ke arahku, tapi tetap kuabaikan. Meski aku tersenyum di depan para tamu, nyatanya ketika melihat sosok pria yang sekarang telah menjadi pendamping hidupku ini, hatiku kembali tersayat pedih.
Bayangan bibir merahnya beradu dengan bibir Yanti waktu itu, terus membayang di pelupuk mata.
"Sepertinya kamu masih nggak percaya padaku, Indi." Pria itu berbisik tepat di telinga. Aku mengerjap sadar kala Yuda mengangsurkan air mineral. Kali ini dia tidak memanggil dengan sambutan 'Mbak' lagi. Mungkin karena sekarang aku telah resmi menjadi istri sah-nya.
Meski sebenarnya hari ini tidak bisa kubayangkan. Betapa aku telah menikahi dengan seorang pria yang sebelumnya telah melakukan perbuatan yang menurutku sangat menjijikan itu dengan mantan adik iparku sendiri.
Aku mengacuhkan perkataannya, saat para tamu undangan kembali mendekat ke arah kami. Memberi doa restu, sekaligus memberi selamat yang dibalas dengan ucapan terima kasih.
Kulihat dalam antrian, ibu mertua terlihat mendekat. Wanita itu tampak cantik memakai brokat berwarna hijau bersama dengan ayah mertua di belakangnya yang mengenakan batik khas Pekalongan, bercorak burung garuda.
"Selamat, Nak. Akhirnya kamu resmi menjadi istri Yuda. Semoga kamu bahagia kedepannya."
"Terima kasih, Bu."

"Nak Yuda, ibu titip Indira dan Adi. Mulai saat ini, tanggung jawab sepenuhnya ada di pundakmu. Tolong jaga dan bahagiakan dia, jangan seperti anakku yang–"
Ibu mertua tidak meneruskan perkataannya, ketika ayah mertua menyentuh bahunya dengan lembut, lebih untuk mengingatkan.
"Insya Allah, Bu. Doakan saja yang terbaik." Yuda menjawab singkat setelah melirik ke arahku.
"Terima kasih, Ayah, Ibu, kalian sudah datang ke mari."
"Sama-sama, Indi. Kamu adalah putri kami apapun yang terjadi. Maafkan kami jika pernah salah paham padamu." Ayah mertua mengusap kepalaku yang dihiasi siger dengan lembut. Tampak ketulusan di wajah pria berusia hampir lebih dari separuh abad tersebut.
Kini giliran kupeluk tubuh wanita yang sempat salah paham padaku akibat ulah anaknya tersebut. Siapa sangka anaknya bersama dengan calon suamiku waktu itu, tengah berciuman dengan posisi keduanya berbaring di atas tempat tidur.
Jika mengingat hal itu, tiba-tiba saja rasa jijik menyeruak kembali dalam pikiran, yang ujung-ujungnya pasti mengumpat pria yang telah bergelar suamiku.
Saat istirahat, Yuda menyempatkan untuk makan bersama dengan Adi dan keluarganya. Karena enggan menemani, aku memilih duduk di tempat lain bersama dengan ibu dan Bu Dian.
"Kenapa tidak makan bareng suamimu saja, Indi?"
Aku menggeleng pelan. "Rasanya sangat aneh melihatnya saat ini, Bu. Pria yang telah kuberi kesempatan itu, entah kenapa aku masih belum bisa menerimanya kembali. Rasanya terlalu mengerikan."
Ibu mendesah. Aku memang sudah mengatakan semuanya kepada ibu, tepat ketika keluarga Bu Dewi datang ke rumah bersama Yuda waktu itu.

Setelahnya, ibu terus menguatkan dan menasehatiku agar tidak mudah percaya begitu saja dengan apa yang kulihat waktu itu, serta menyuruh agar memberikan Yuda kesempatan kedua. Mengingat pria itu yang sungguh-sungguh meminta maaf kepadaku dan juga pada keluargaku.
"Kamu hanya perlu memaafkan dan membuka diri. Yuda sudah berusaha semampunya untuk meminta maaf padamu, mengenai kekhilafannya waktu itu. Lagi pula, bukankah dia sudah menjelaskan jika semuanya itu tidak disengaja, karena ulah Yanti yang menariknya dengan paksa." Ibu berkata lembut tapi terkesan tidak memaksaku.
Aku mengangguk dan meyakinkannya.
"Indi akan coba melakukan apa yang ibu katakan, tapi Indi nggak bisa janji."
"Minimal kamu sudah berusaha. Tolong jangan buat hatinya sakit juga."
"Sepertinya kamu memang perlu waktu, Indira. Tapi jangan lama-lama, kasihan suamimu jika dia terpaksa harus puasa dulu." Bu Dian ikut menimpali yang dibalas senyum oleh ibu.
"Dian benar. Jangan lama-lama marah padanya. Kasihan jika sampai kamu memperlakukan suamimu dengan tidak baik apalagi tidak memberi hak-nya, itu dosa yang sangat besar."
Ibu belum selesai bicara. Tapi Yuda terlihat mendekat ke arahku dan duduk di sampingku, sambil menebarkan senyum khasnya yang belakangan ini makin membuatku kesal.
"Kamu makannya cuma sedikit?"
"Aku lagi males makan," sahutku singkat. Tak ingin terlalu banyak bicara dengannya. Tak kusangka pria itu langsung meraih tanganku dan menggenggamnya dengan erat. Ibu dan Bu Dian langsung tersenyum, sementara Adi ikut bahagia melihat perlakuan Yuda padaku.
"Kamu harus banyak makan, kalau nggak kamu bisa sakit. Lagi pula acaranya masih lama," ujarnya pelan.
Kubiarkan pria itu berkata sesuka hatinya. Aku memilih meraih sepotong puding dan memakannya dalam diam. Ibu sendiri langsung berdiri dan bergandengan tangan bersama dengan Adi menuju ke pelaminan, saat kerabat dari desa memanggilnya untuk mengobrol.
"Kalau udah beres cepat kembali ke pelaminan. Kasihan, masa ibu dan Adi yang menyalami para tamu." Yuda berdiri, dia meraih tanganku dalam genggamannya.
"Aku bisa sendiri," ujarku sambil menarik tangan, saat Bu Dewi ikut mendekat tapi tidak mengatakan apa-apa.
Kupandangi pria itu sekilas dari tempatku duduk. Entah kenapa, rasanya sulit sekali memaafkan dan membuka hati kembali untuknya. Padahal dibalik satu kesalahan itu, dia menyimpan kebaikan-kebaikan lainnya. Terutama dalam bersikap dan memperlakukan Ibu serta Adi dengan sangat baik.
Apakah aku yang terlalu egois, atau aku terlalu keras hati, hingga aku tidak bisa melupakannya begitu saja.
Yuda tersenyum saat kembali ke atas pelaminan. Aku menunduk karena tidak kuasa menahan sesak yang masih bercokol di dalam dada.
Ketika aku mengangkat kepala, seseorang berdiri di sana dan tidak bergerak sama sekali.
"Andreas, kamu datang?" ujarku ketika melihat lelaki itu tersenyum dan mengulurkan tangannya padaku, yang langsung kusambut dengan senyum yang kupaksakan.
"Selamat berbahagia, Indira. Kuharap setelah ini kamu bisa menjalani hidup dengan baik." Perkataan Andreas terdengar tulus. Aku mengangguk berkali-kali.
"Terima kasih, Andreas. Maaf karena aku tidak mengundangmu. Syukurlah kamu tetap datang dan memberi doa," tuturku merasa bersalah padanya.
Pria itu kembali tersenyum.
"Tidak apa-apa. Aku tahu kamu melakukan itu demi menjaga perasaan suamimu. Tapi, sebagai orang yang pernah dekat denganmu, sudah seharusnya aku datang dan memberi ucapan selamat padamu." Andreas melirik ke arah Yuda dan menatapnya dengan datar. Sekilas bisa kulihat wajah suamiku tidak terlalu suka melihatku berinteraksi bersama dengan Andreas.
Pria itu langsung turun dari pelaminan tanpa bersalaman maupun memberi ucapan apapun kepada Yuda. Pria itu melewatinya begitu saja. Bahkan keluargaku dan keluarga Yuda menatap kepergian pria itu, yang ternyata langsung berjalan menuju ke arah luar.
Yuda menghembuskan nafas berat. Sepertinya pria itu juga menahan kekesalan kepada lelaki yang juga pernah menyatakan cintanya kepadaku.
"Sepertinya kamu lebih bahagia saat pria itu memberi ucapan selamat padamu." Yuda berkata dengan suara pelan namun ada penekanan dari setiap kata-katanya.
"Kenapa tidak, orang mengucapkan selamat, berarti dia merestui pernikahan kita. Lalu untuk apa aku bersedih, kecuali dia melakukan hal yang bukan bukan."
"Lain kali, tolong hargai suamimu ini, Indi. Dia hanya orang lain bagimu sekarang."
Kali ini aku menatapnya penuh, hingga di antara kami bertatapan dengan sempurna.
"Lalu masalahnya di mana? Dia hanya mengucapkan selamat, dan aku tersenyum sekaligus berterima kasih atas ucapannya. Bukan berarti aku langsung nyosor padanya dan berciuman, bahkan di tempat yang tidak semestinya."
"Kamu masih mempermasalahkan hal itu, bahkan setelah aku minta maaf padamu berulang kali?"
"Tentu saja. Kamu pikir aku sesabar itu memaafkan kamu, apalagi ciuman itu terjadi di depan mataku sendiri?"
Aku berpaling membuang pandangan ke arah lain, ketika Yuda diam saja namun kulihat ada bara dalam matanya. Tanpa bisa dicegah, air mataku mengalir di pipi. Lekas kuseka agar orang lain tidak bisa melihatnya, meskipun Bu Dewi terlihat memperhatikan kami.
Selama beberapa jam itu, aku harus berpura-pura tersenyum dan berbahagia, demi menyambut para tamu undangan yang memberi selamat. Padahal sejatinya, hatiku ingin segera meninggalkan tempat itu, dan menumpahkan tangisan di atas bantal, seperti biasanya.
Hari bahagia yang kuimpikan bersama Yuda, kenyataannya hanya membuat lukaku semakin perih, dan tidak bisa melupakan, apalagi memaafkan perbuatannya ketika bersama dengan Yanti.
Memang tidak seharusnya sikapku menyulitkannya, namun aku belum siap dan masih membenci kenyataan ini. Andai saja undangan tak terlanjur tersebar luas. Pilihanku pasti adalah mundur dan pergi menjauh.

Komentar Buku (409)

  • avatar
    Ahmad rivai kurniawan

    sangat menegangkan dan seru

    16/06

      0
  • avatar
    GuruBatara

    novel bagus alur ceritanya

    01/05

      0
  • avatar
    Ainur rahmanRidhoo

    assalamualaikum saya sedang tertarik dengan anda yang seperti bagus dan rapih

    24/04

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru