Bab 74

Bab 74
Hari beranjak malam. Keadaan Mas Agung tidak juga berubah, malah lelaki itu semakin menggigil seperti kedinginan dan bahkan sampai saat ini kesadarannya hampir hilang. Lelaki itu sama sekali tidak merespon, meskipun aku dan ibu mencoba untuk menyadarkannya.
Adi yang berhasil kubujuk ikut mendekati ayahnya dan memeluk lelaki itu yang seperti kesakitan, entah menahan apa. Anak itu terus terisak dan memanggil-manggil nama ayahnya.
Sudah beberapa saat yang lalu, aku menelepon teman, bahkan tetangga yang punya kendaraan agar bisa membawa Mas Agung ke rumah sakit. Mengingat kondisinya yang mengkhawatirkan, aku takut jika sampai terlambat, kondisinya akan sangat parah dan yang lebih buruk lagi dia tidak dapat diselamatkan.
"Kamu masih belum juga mendapatkan mobilnya, Indira?" Aku menggeleng lemah, menatap ke arah ibu.
Di desa memang sangat jarang sekali orang yang mempunyai kendaraan roda empat, hanya beberapa orang saja yang punya mobil dan itupun biasanya dipakai ke kota untuk bekerja.
Tapi aku ragu jika harus menggunakan motor untuk membawa Mas Agung. Dengan kendaraan itu, sangat tidak memungkinkan, dikarenakan jaraknya yang cukup jauh, apalagi harus melewati hutan dan perkebunan yang cukup gelap dan terjal jalannya.
Dari arah pintu, beberapa orang masuk setelah sebelumnya mengetuk pintu, yang ternyata adalah tetangga sekitar, yang salah satunya adalah ketua RT.
"Indira, kami sudah mendapatkan mobilnya."
"Baiklah, Pak, kita bawa Mas Agung sekarang ke rumah sakit." Lelaki itu dan orang-orang di belakangnya langsung mengangguk, dan dengan sigap membawa Mas Agung menuju ke dalam mobil. Aku segera mengikuti dan memangku kepala Mas Agung di belakang, sementara dua orang lainnya duduk di depan dan di samping kemudi. Sengaja aku tak menyuruh ibu dan Adi untuk ikut serta, karena selain darurat juga mobilnya tidak memungkinkan untuk mengangkut banyak orang.
Di dalam mobil dapat kurasakan genggaman Mas Agung yang kian mengerat, dengan tangan yang sangat dingin. Namun demikian, giginya terlihat bergemeretak hingga menimbulkan bunyi yang nyaring, dan lelaki itu semakin pucat wajahnya dengan tanpa mampu membuka matanya sama sekali.
"Dzikir dan memperbanyak istighfar, Mas" bisikku di telinganya, yang membuat lelaki itu mengikuti kata-kataku meski dengan suara terbata-bata.
Membutuhkan waktu hampir satu jam lamanya, hingga kami masuk ke kawasan rumah sakit, yang langsung ditangani oleh tim IGD dan membawa Mas Agung masuk ke dalam ruangan.
Sementara aku menunggui lelaki itu di lorong dengan terus melafalkan doa, berharap agar keadaan Mas Agung menjadi lebih baik setelah ditangani oleh dokter.
Cukup lama aku menunggu, sedangkan dua orang lainnya tampak duduk di pojokan. Aku tahu mereka tidak ada hubungan darah, tapi mereka tetap mau membantu. Dan aku patut berterima kasih kepada mereka.
"Keluarga pasien atas nama Pak Agung?" Aku langsung berdiri diikuti dua orang, Pak RT dan temannya.
"Apa yang terjadi dengan Mas Agung sebenarnya, Dok?" tanyaku segera.
"Pak Agung ini adalah pasien kami dan minggu kemarin dia selama dua minggu berada di rumah sakit ini. Kami sudah mengusulkan padanya untuk dirawat dan minum obatnya dengan teratur. Namun sepertinya beliau tidak melakukannya belakangan ini. Apakah ibu tahu alasannya?"
Aku segera menggeleng dengan cepat. Bagaimana aku bisa tahu, sedangkan aku baru bertemu dengan Mas Agung hari ini, itupun dengan kondisi Mas Agung yang sudah tidak baik-baik saja.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan Mas Agung, Dokter? Kenapa dia sampai kesakitan seperti itu dan wajahnya terlihat kuyu dan sangat pucat."
Dokter lelaki itu malah menetap penuh kepadaku, dengan kedua alis yang berkerut. "Apakah Pak Agung tidak menjelaskan kepada ibu tentang kondisinya selama ini?" tanya Dokter lelaki itu lebih lanjut.
"Tidak, Dokter. Tolong katakan saja apa yang terjadi padanya, karena beberapa kali saya bertanya lelaki itu tidak menjawabnya, dan hanya mengatakan jika dia kesakitan, dan tidak mungkin bisa bertahan itu saja." Aku menjawab jujur dengan apa yang dikatakan Mas Agung berkali-kali. Lelaki yang pernah menikahiku selama sepuluh tahun itu mengatakan hal demikian, membuatku merasa nyeri di sudut hatiku. Dan bertanya-tanya sebenarnya apa yang menimpa lelaki itu?
"Sebaiknya kita bicara di ruangan saya agar lebih jelas menjelaskannya. Mari ikut saya." Dokter lelaki itu berjalan dan aku mengikutinya dari belakang, hingga sampai di lantai tiga, dimana ruangan itu kuduga adalah tempatnya bekerja.
Dokter itu memberikan selembar surat ke depanku. a
Aku membacanya dengan nama tulisan 'Agung Prayoga' disana. Meskipun aku tidak mengetahui lebih jelasnya, karena bahasa dokter sangat sulit untuk dipahami.
"Apa ini, Dokter? Tolong jelaskan pada karena saya benar-benar tidak mengerti."
"Jadi begini, Bu Indira, suami anda Pak Agung saat ini tengah terkena virus HIV dan berada di stadium akhir, dan kondisinya sudah sangat mengkhawatirkan. Kemungkinan untuk hidup hanyalah sepuluh persen saja, mengingat lelaki itu juga tidak mau mengkonsumsi obat. Apalagi untuk menekan virus yang menyebar dalam tubuhnya, yang saat ini sudah masuk ke dalam hati dan jantungnya.
"A-apa?" Aku terkejut dengan apa yang dikatakan oleh dokter barusan. Bisa saja aku salah dengar dan bisa saja itu hanya halusinasi, namun ternyata dokter itu mengangguk dengan serius.
"Itu benar, Bu Indira. Kami sudah beberapa kali melakukan uji laboratorium dan hasilnya tetap sama. Sepertinya suami anda terinfeksi saat berhubungan dengan wanita lain atau saat menggunakan jarum suntik secara bergiliran." Dokter itu memberi penjelasan yang membuatku bertanya-tanya.
"Tapi dokter–"
Suaraku tercelakaan di tenggorokan. Bahkan untuk sekedar bertanya lagi, rasanya aku tidak sanggup lagi, dan hanya air mata yang mewakili kesedihanku saat ini. Betapa hidupku dan Mas Agung berubah setelah ada hal-hal yang lelaki itu sembunyikan, kemudian Zahra yang gadis setelahnya.
"Sebaiknya anda bersabar dan berikan dukungan untuk pasien. Apakah anda ingat mungkin terakhir kali anda berhubungan dengan Pak Agung? Virus itu rawan menyebar jika kalian rutin berhubungan suami istri. Anda juga bisa memeriksakan diri anda ke agar jangan sampai virus itu mengalir ke diri anda sendiri."
"Tapi, Dokter, saya dan adalah suami saya sudah tujuh bulan ini kami bercerai, dan kami hampir tidak melakukan hubungan intim selama satu tahun lebih Apakah ada indikasi saya ikut tertular juga?" tanyaku khawatir.
"Jika seperti yang ibu Indira katakan barusan, sepertinya tidak mengingat jarak virus itu dengan hubungan kalian cukup jauh. Virus itu menyebar empat bulan belakangan ini. Tapi demi untuk memastikannya, sebaiknya Bu Indira memeriksakan sendiri dengan melakukan tes darah dan uji laboratorium."
Aku mengangguk dan melangkah gontai setelah pamit pada dokter lelaki itu, yang kuketahui tengah merawat Mas Agung sebelumnya. Kenapa lelaki itu menolak perawatan dan pengobatan. Sebegitu prustasikah Mas Agung hingga dia tidak ingin diobati.

Komentar Buku (409)

  • avatar
    Ahmad rivai kurniawan

    sangat menegangkan dan seru

    16/06

      0
  • avatar
    GuruBatara

    novel bagus alur ceritanya

    01/05

      0
  • avatar
    Ainur rahmanRidhoo

    assalamualaikum saya sedang tertarik dengan anda yang seperti bagus dan rapih

    24/04

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru