Bab 67

Bab 67
Aku terus saja melirik ke arah Yuda yang duduk di samping kemudi. Kuakui lelaki di sebelahku ini memang sangat tampan dan mempesona di usianya yang masih sangat muda, yakni dua puluh enam tahun. Tak bisa ku bayangkan andaikan aku menikah dengannya tentu saja akan menjadi perbincangan dari beberapa orang, mengingat usiaku yang memasuki usia tiga puluh tahun saat ini dengan seorang anak yang sudah beranjak kelas tiga SD.
Dulu aku selalu berharap akan menikah satu kali seumur hidup dan akan hidup bahagia dengan Mas Agung sampai tua bahkan sampai maut memisahkan. Tak kusangka badai kehidupan menerjang rumah tanggaku hingga akhirnya karam di usia menginjak sepuluh tahun pernikahan.
Yang lebih tak kusangka lagi, lelaki itu dengan mudahnya tergoda oleh kilau dunia dan wanita yang lebih muda usianya.
Orang bijak pernah bilang, wanita diuji ketika tak punya apapun dan lelaki diuji saat dia mempunyai segalanya. Namun nyatanya justru ujian kepada Mas Agung datang ketika dia tidak mempunyai apa-apa, bahkan hampir bangkrut dalam hidupnya. Lelaki itu tergoda dengan mencicipi beberapa wanita dan menjadi gemar pergi ke klub malam, entah karena alasan apa. Jangan lupakan kebiasaannya yang suka bermain judi hingga dia meminjam kepada rentenir yang bunganya melebihi tingginya pemasukkannya yang minus itu.
Aku bahkan tidak bisa membayangkan sebelumnya kalau nasibku sekarang akan seperti ini. Berulang kali mendapatkan cobaan hingga akhirnya mengalami kecelakaan yang hampir merenggut nyawaku bahkan sampai sekarang kakiku masih memakai gips akibat luka patah yang tidak akan sembuh dalam waktu sebentar. Kemana-mana aku harus menggunakan kursi roda, sedangkan untuk memakai tongkat penyangga pun belum bisa melakukannya, saking nyerinya kedua kakiku untuk dipakai berjalan.
Tadi Yuda memaksa membawaku ke dalam mobilnya. Lelaki itu mungkin kesal karena ada Andreas dan Amara. Entah apa yang mereka bicarakan tadi tak terlalu jelas. Hanya saja Yuda dan Andreas terlihat tegang.
Hingga akhirnya anak dan ayah itu tampak kecewa melihatku dan Yuda yang langsung bersiap pergi. Sedangkan ibu dan Adi menyusul setelahnya. Anakku itu sempat melihat heran kepada Amara yang menangis dalam pelukan ayahnya.
"Apa yang kamu pikirkan, Mbak?" Yuda yang duduk disampingku menoleh. Raut wajahnya masih dingin seperti tadi, hanya saja kali ini dia mau bicara. Sepertinya lelaki itu masih menyimpan kekesalan kepada Andreas atau mungkin dia masih marah padaku, perihal kemarin yang pergi tanpa izinnya sama sekali. Meskipun aku merasa terlalu berlebihan jika aku meminta padanya untuk mengizinkanku pergi bersama Andreas. Dia bukan siapa-siapaku dan aku juga tidak berani bermimpi untuk benar-benar menikah dengannya. Tidak, itu terlalu mustahil dan aku tidak ingin bermimpi di siang bolong. Kasihan Yuda-nya jika aku menjadi pendampingnya, takutnya dia diolok-olok oleh teman-temannya ataupun rekan-rekannya yang lain. Apalagi lelaki itu adalah pemilik beberapa cafe yang sedang happening di kota ini.
"Mbak, aku bertanya kepadamu lo, kamu malah bengong seperti itu."
"Mungkin Ibu masih memikirkan anak yang menangis tadi!" seru Adi dari belakang, sedangkan ibu menatap kami sekilas, wanita itu mengusap tangan Adi.
"Kamu bertanya apa memangnya?" kataku tak mengerti. Perasaan Yuda hanya bergumam tak bertanya apapun. Lelaki itu malah menarik sudut bibirnya sambil menggeleng pelan.
"Menurutmu aku bertanya apa?" Yuda malah balik bertanya. Tak tahukah dia banyak hal yang kupikirkan sekarang hingga rasanya otakku sedikit oleng mendengar kata-katanya.
"Entahlah, kupikir kamu sudah tahu aku memikirkan hal tadi." Aku mengangkat bahu cuek, bahkan kini aku tak tahu dia akan membawaku kemana.
"Kamu memang belum mengerti sekarang, tapi tidak apa perlahan-lahan kamu akan mengerti apa alasanku melakukan hal ini." Yuda bicara santai, rasa kaku yang tadi hadir sepertinya sudah pergi jauh.
"Terus terang Mbak bingung dengan apa yang kamu lakukan. Dan Andreas itu, siapa sebenarnya dia?"
"Hmm ….!"
Yuda menarik sudut bibirnya lagi dan mulai mendekat. Lelaki itu kadang kalem kadang serius disaat bersamaan. Membuatku bingung tapi juga penasaran.
"Aku akan menceritakan semuanya padamu setelah kamu benar-benar menjadi istriku." Yuda mencondongkan wajahnya ke arahku saat mengatakannya. Sepertinya Adi dan ibu tidak mendengarnya.
Entahlah mendapat perlakuan seperti itu wajahku rasanya sudah memerah dan malu. Yuda tampak tersenyum senang, sambil kembali fokus pada kemudi. Ada yang menghangat dalam dadaku saat dia mengatakan hal itu. Namun demikian aku merasa aneh dengan perasaan apa ini. Hanya saja sekali lagi aku katakan, aku tidak berani bermimpi terlalu tinggi.
Biarlah, kuharap perlahan-lahan lelaki itu akan menghilangkan rasa cintanya padaku, karena bosan mendapat penolakan dariku terus. Sejujurnya aku tidak ingin memberinya perhatian ataupun perasaan lebih, karena aku takut terluka untuk yang kedua kalinya. Mas Agung saja yang tidak terlalu tampan bisa tergoda oleh wanita lain apalagi Yuda yang notabene umurnya di bawahku. Lagipula lelaki itu pasti setiap harinya berkaitan dengan wanita-wanita cantik yang berada di sekelilingnya, apalagi mengingat konsep cafe yang dibukanya untuk remaja, hingga pasti banyak para wanita yang menghabiskan waktu makan di tempatnya. Masa iya dia tak tergoda pada satu wanita pun.
Kami sampai di sebuah tempat yang bertuliskan 'Yudhagama' yang bertema khas korea. Cafe berkonsep 'all you can eat' alias bisa makan di tempat sepuasnya dengan patokan membayar sesuai harga yang tertera.
Beberapa pelayan yang berpakaian merah hitam menyambut di depan pintu, saat Yuda mendorongku perlahan, sedang Ibu dan Adi menyusul di belakang.
"Pak Yuda pagi-pagi sekali udah bawa siapa nih? Kalau dilihat-lihat sepertinya spesial." Lelaki berwajah oriental menyapa. Yuda tersenyum ramah padanya. Kuduga mereka cukup dekat mengingat lelaki bicara tak terlalu formal, berbeda dengan yang lainnya.
"Kenalkan, ini calon istri gue. Cantik kan?!" Tanpa canggung ataupun malu, dia mengatakan hal demikian pada empat orang yang berdiri di depan pintu utama itu yang langsung menatap heran padanya, dan padaku bergantian. Mungkin mereka tengah memindai wanita cacat sepertiku yang duduk di atas kursi roda. Entahlah aku merasa minder dengan apa yang mereka tujukan padaku.
"Bagaimana menurut kalian, bukankah pilihanku cantik?!" Yuda membawaku masuk tanpa mendengar penjelasan mereka terlebih dahulu. Hanya saja senyum kaku itu terlihat jelas sambil mengangkat dua jempol mereka. Ah Yuda, kamu membuatku minder setengah mati dan tak tahu harus bicara, mengingat aku tidak mengenal mereka.
Yuda sendiri yang melayani dengan memberikan buku menu padaku, untuk memesan apapun yang kuinginkan.
"Sebenarnya masih terlalu pagi untuk makan makanan yang berat." Apalagi menu di tempat ini kebanyakan berupa daging atau beef slice yang dipanggang ataupun direbus di meja yang sudah tersedia alatnya.
"Tidak apa-apa, Mbak bisa pesan apapun yang kamu suka, atau Mbak mau aku pilihkan menu spesial untukmu?" Yuda tersenyum ramah. Aku mengangguk pasrah akan pilihannya. Lelaki langsung mencatat beberapa menu dalam buku kecil setelah bertanya pada Ibu dan Adi juga, yang pasrah akan pilihannya.
"Sebentar ya." Yuda pergi setelahnya.
Kupikir lelaki itu tidak benar-benar menyukaiku. Jika dia suka padaku tentu dia tahu apa yang ingin kumakan saat ini.
Sambil menunggu aku membuka aplikasi berlogo biru. Sudah lama sekali aku tidak membukanya. Sekali-kali aku ingin melihat postingan dari orang-orang yang berteman denganku di aplikasi berwarna biru itu. Suara Ibu dan Adi yang mengobrol membuatku tersenyum sendiri akan kedekatan mereka.
Satu suara mengagetkanku dari arah belakang dengan baki di tangannya.
"Silahkan Mbak, Ibu dan Adek, dinikmati minumnya sambil menunggu makanan lainnya datang." Aku menatap gadis itu yang baru kuingat kalau dia adalah Anisa, gadis yang pernah bersama dengan Yuda. Waktu itu kami bertemu di mall.
"Apakah kamu kerja di sini?" Mata Anisa membulat menatap penuh ke arahku.
"Oh Anda kan ... Eh maksud saya, benar sekali Ibu. Saya memang sudah lama kerja bersama dengan pak Yuda disini. Oh ya, kita pernah bertemu di mall waktu itu bukan?!"
"Iya benar. Kamu kan Anisa kalau tidak salah." Nada suara Anisa terdengar lebih ramah. Berbeda dengan waktu kami bertemu pertama kali, tampak wanita itu mengerucutkan bibirnya saat pergi meninggalkanku dan Yuda. Atau mungkin saja suasana hatinya sedang bahagia saat ini.
"Iya benar, Bu. Saya kira ibu lupa dengan saya." Aku tersenyum melihat Anisa yang cantik berwajah oval lengkap dengan kerudung warna hitam yang tampak meruncing di ujungnya.
"Iya, saya sedikit lupa pada temannya Yuda."
"Apa Yuda belum bicara kepada ibu kalau dia dan saya juga mempunyai hubungan yang dekat, lebih dari sekedar teman? Tapi ya sudahlah. Silahkan menikmati makanannya. Saya permisi dulu." Gadis itu pergi saat aku menganggukan kepala dengan dada terasa nyeri. Seperti tidak percaya mendengar penjelasannya. Padahal seharusnya aku senang karena pernah menyuruhnya untuk mencari gadis muda untuk dijadikan kekasih dan mungkin juga calon istri. Tapi mendengar perkataan Anisa barusan, kenapa aku merasa ada yang salah dengan perasaanku sendiri.

Komentar Buku (409)

  • avatar
    Ahmad rivai kurniawan

    sangat menegangkan dan seru

    16/06

      0
  • avatar
    GuruBatara

    novel bagus alur ceritanya

    01/05

      0
  • avatar
    Ainur rahmanRidhoo

    assalamualaikum saya sedang tertarik dengan anda yang seperti bagus dan rapih

    24/04

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru