Beranda/Terungkapnya Kebiasaan Buruk Suamiku/
Bab 62
Bab 62.
Sore harinya Yuda benar-benar mengantarkanku untuk kontrol ke dokter Leo. Lelaki itu membantu mendorong kursi roda yang kududuki dengan santai tanpa merasa risih, meski orang-orang menatap kami. Untunglah tempatnya masih di kawasan yang sama, hanya butuh berjalan melewati beberapa ruko, kami sudah sampai.
Dengan cekatan dokter Leo memeriksa bagian tubuh, termasuk tangan kaki dan kepala. Setelah semua hasilnya bagus, aku pun kembali pulang bersamanya. Yuda sempat membeli beberapa es krim sebelum masuk kembali ke dalam toko yang ternyata sudah ada ibu dan Adi di sana.
"Kalian sudah kembali. Bagaimana kata dokter?" Aku menyalami wanita yang telah melahirkanku itu dengan senyum terpatri. Yuda langsung menyerahkan bungkusan es krim pada Adi dan anak itu langsung berlalu ke belakang.
"Semuanya baik, Bu. Oh ya, kok ibu bisa datang ke mari?" tanyaku heran. Padahal aku belum memberitahu ibu perihal aku membuka usaha ini, tapi kenapa beliau sudah tahu tempatku lebih dulu. Kulirik Yuda yang langsung tersenyum. Pasti lelaki itu yang bicara dan mengatakan semuanya kepada ibu.
"Syukurlah. Ibu sudah beberapa kali datang saat kamu di rumah sakit."
"Oh. Ibu naik apa ke mari?"
"Naik motor kamu lah, tuh!" Ibu menunjuk motor biru metalik yang terparkir di halaman depan. Kenapa aku baru ngeh sekarang. Bukankah seharusnya motor itu rusak ketika aku mengalami kecelakaan waktu itu. Aneh. Lagi-lagi Aku melirik ke arah Yuda yang tetap tersenyum meskipun hatiku diliputi dengan banyak pertanyaan.
"Yud, pasti kamu kan yang-"
"Sudah, nanti lagi kalau mau bertanya. Sekarang ibu sudah bawa makanan buat kalian. Kamu kan tadi belum makan, Indira. Sekalian buat yang lain juga." Sepertinya ibu merasa lega karena kondisiku membaik. Beliau juga tampak perhatian, sampai-sampai masih menyempatkan diri untuk memasak buat semua karyawanku.
"Tadi Bu Dian sudah ibu suruh masak nasi yang banyak, biar lauknya ibu saja yang bawa." Beliau bicara tanpa kuminta. Aku dan Yuda hanya tersenyum, entah harus bilang jangan repot-repot, tapi pasti wanita itu langsung menyergah dengan omongan tidak apa-apa.
Kali ini Yuda dan ibu membawaku ke ruang dapur tempat membuat kue. Bu Dian dan yang lainnya tampak sudah menggelar tikar dan menyajikan banyak makanan. Adi tampak asyik makan ayam goreng tanpa nasi. Dia hanya nyengir ketika Yuda berkata agar makannya jangan cepat-cepat.
Rasa lapar langsung mendera, apalagi saat melihat banyak sajian di depanku termasuk makanan kesukaanku yaitu oseng cumi cabe hijau yang di sampingnya tersedia aneka macam sambal.
Dari arah belakang tampak Bu Dewi dan si kembar, berjalan mendekat dengan dua kresek besar di tangannya.
"Nggak terlambat, kan?" Bu Dewi langsung menyerahkan apa yang dibawanya pada Bu Dian dan ibu, lalu meletakkan di tengah-tengah. Sedikit kaget karena wanita itu membawa nasi tumpeng cukup besar dalam box.
"Eh ini ada acara apa, kok sepertinya niat banget. Apa ada yang ulang tahun?" Aku bertanya heran dan menatap mereka bergantian. Mereka semua hanya tersenyum sebelum akhirnya Bu Dewi yang bicara.
"Jadi begini, Indira, kita kan belum mengadakan syukuran setelah kamu membuka toko kue, juga setelah kamu sembuh dari kecelakaan itu. Rasanya kita perlu merayakannya saat ini, ya meskipun tidak besar-besaran, tapi kurasa ini lebih baik daripada tidak sama sekali."
Aku mengerti dan membenarkan apa yang Bu Dewi katakan. Sebenarnya memang sudah berencana untuk membuat syukuran, tapi pikirku nanti saja setelah semua urusan sedikit beres. Tak tahunya takdir berkata lain, aku keburu kecelakaan yang mengakibatkan harus duduk di kursi roda seperti ini.
Syukurlah lagi-lagi ada orang baik di sekitarku yang selalu mendukung dan memberikan perhatiannya padaku, hingga tanpa kuminta mereka berinisiatif sendiri.
"Sudah, sekarang kita berdoa dulu, sepertinya orang-orang sudah mulai lapar.
Nah, Yuda, kamu yang mimpin doa." Bu Dewi menepuk pundak anak sambungnya seperti kepada anaknya sendiri.
Dengan khidmat, Yuda melafalkan ayat-ayat dan diakhiri doa. Aku dan yang lainnya sempat takjub mendengar lantunan suaranya yang merdu dalam pembacaan kalam Ilahi. Tak kusangka Yuda secerdas itu. Selain pintar dalam urusan bisnis hingga membuka beberapa cabang di luar kota, lelaki itu juga sangat kuat ilmu agamanya. Benar-benar seorang calon imam yang baik dan semakin membuatku minder untuk bersanding dengannya. Aku merasa sangat tidak pantas dan juga tidak layak mendapatkan seorang suami sholeh plus baik disampingku.
Saking terharunya sampai-sampai aku meneteskan air mata karena ucapan-ucapan Yuda yang tulus dalam mendoakanku.
Kurasakan Bu Dewi dan Ibu mengelus pundakku bersamaan.
"Malah melow, Yuda mendoakanmu yang baik-baik untukmu lho."
"Iya, kok malah nangis," kata Bu Dewi. Aku tersenyum tipis menanggapi perkataan ibu dan Bu Dewi. Mereka tak tahu apa yang kurasakan.
"Jangan-jangan baper," timpal Bu Dian dan yang lainnya ikut tertawa.
"Pasti nyesel tuh dah nolak Yuda." Ibu malah ikut bicara membuatku malu saja, padahal aku berpikir sebaliknya. Mana pantas aku bersamanya. Level kami berbeda jauh, dia berada diatasku dan sangat berat andai berusaha kugapai. Makanya aku stuck di tempatku dan enggan melangkah meski tertatih. Takutnya malah nanti aku yang terluka.
Kulihat lelaki itu hanya diam dengan pandangan lekat ke arahku. Apa yang ada dalam pikirannya akupun tak tahu, yang jelas aku masih heran saja bagaimana bisa dia datang ke rumah sakit dan mengajakku menikah detik itu juga. Hal yang sangat mustahil sekali. Tapi sepertinya dia sadar melakukannya.
******
Aku berbaring di ranjang setelah ibu dan Yuda membantuku. Tadi lelaki itu langsung mengantar pulang ke rumah meski berulang kali sudah kutolak karena tak mau merepotkannya.
"Kalau Mbak diam di toko, nanti tak bisa ngapa-ngapain. Naik ke lantai atas apalagi. Susah, kasian ibu juga kalau suruh gendong." Aku menepuk pundaknya, kulihat lelaki menarik sudut bibirnya saat mulai meraihku dengan tangannya. Segera kulingkarkan kedua tanganku di bahunya karena takut jatuh.
"Kamu sendiri terus-terusan gendong, Mbak. Apa nggak cape. Kasian pinggangmu encok nanti, aku kan berat," celotehku saat lelaki itu membantuku masuk ke mobil. Dapat kurasakan detakan dadanya yang bertalu-talu, itu karena dia mendudukanku dengan mencondongkan tubuhnya hingga aroma maskulinnya benar-benar masuk ke dalam hidungku dan bodohnya aku sempat menikmatinya juga. Sumpah demi apapun, membuat wajahku malu seketika
"Anggap aja ini latihan, biar nanti kuat gendong tiap hari." Yuda tersenyum manis, semanis gula diet tropicana. Ish, kalau seperti ini, pertahananku bisa jebol. Lain kali sebaiknya aku diam saja di rumah agar hatiku juga aman.Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (409)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
sangat menegangkan dan seru
16/06
0novel bagus alur ceritanya
01/05
0assalamualaikum saya sedang tertarik dengan anda yang seperti bagus dan rapih
24/04
0Lihat Semua