Bab 58

Bab 58
"Terima kasih untuk semuanya, Yuda. Tapi kukatakan sekali lagi kepadamu, ini semua tidak mudah bagiku. Kamu tentu bisa melihat bagaimana perjalanan hidupku bersama dengan Mas Agung belakangan lalu, hingga akhirnya kami berpisah dengan segudang masalah yang mendera kami. Semua itu tidak mudah dilupakan begitu saja, lagi pula masalah kami belum juga selesai. Seperti yang kamu lihat baru saja, bagaimana orang-orang dari masa laluku terus saja mencoba untuk mencelakai dan membunuhku." Aku terisak di depan Yuda. Entah kenapa rasanya sesak dan sakit sekali. Kulihat Yuda membuat nafas pelan, dan mengusap bahuku.
"Aku mengerti, Mbak, makanya aku berniat berada disampingmu untuk melindungimu. Apakah itu salah?"
Kutatap wajah yang penuh ketulusan itu, aku mengangguk.
"Ya itu salah. Aku tak memikirkan itu untuk sekarang, Yuda. Mungkin ada masanya ke depan hingga aku siap membuka hati untuk yang lain. Tapi untuk saat ini biarkan aku sendiri menjalani kehidupanku bersama dengan Adi. Aku berterima kasih karena kamu sudah menjadi bagian dalam kehidupanku. Tapi dengarkan agar kamu tahu, tentang apa yang yang akan kukatakan padamu bahwa aku tidak berniat dan belum memikirkan hal tentang pernikahan. Lagipula, seharusnya kamu bertanya lebih dulu padaku sebelum mengambil keputusan itu. Ini bukan perkara yang kecil dan kita tidak bisa memutuskan menikah dari satu pihak saja. Kuharap kamu mengerti, Yuda." Panjang lebar aku berkata, berharap semoga dia mengerti dan bisa memakluminya. Aku tidak ingin memberi harapan semu padanya. Lagi pula untuk urusan hati tidak bisa dipaksakan meskipun kuakui aku cukup nyaman berada disisinya dan selalu senang ketika dia menghiburku. Tapi untuk melangkah lebih jauh, aku harus berpikir berulang kali. Dan jawabanku adalh tidak.
"Tidak apa-apa, Mbak, aku akan menunggu dengan sabar. Aku memang salah karena memaksamu menikah hari itu juga, namun seperti yang kamu tahu, aku mempunyai alasannya sendiri. Aku tidak ingin orang yang kusayangi menderita apalagi seperti yang kamu alami barusan itu, sangat buruk Mbak. Dimana banyak orang-orang yang berniat mencelakai kamu. Lalu kupikir jika aku menjadi suamimu, tentu aku bisa meminimalisir hal itu dengan menjagamu setiap waktu dan berada disisimu selalu." Yida mengusap wajahnya kasar, tapi dalam hati aku tak menyesal. Ini yang terbaik untuk kami.
"Yuda, please kumohon hentikan obrolan ini dan tolong mengerti posisiku. Aku tidak membutuhkan pernikahan untuk saat ini, dan entah kapan aku siap lagi menjalin hubungan serius kedepannya."
Kutatap Yuda yang terlihat tampan saat tersorot lampu. Wajahnya yang tampan dengan rahang tegas dan berkulit putih.
Semoga kamu mendapat jodoh yang lain, Yuda.
"Baiklah aku tidak akan bertanya lagi padamu. Sekarang Bagaimana dengan luka di lehermu apa kamu merasa sakit sekali?" Yuda memeriksa leherku. Kebetulan aku menggunakan hijab instan namun tak mungkin kutunjukkan padanya. Jadi kukatakan kalau aku baik-baik saja.
"Kalau begitu istirahatlah, karena waktu pagi masih lama. Aku akan menunggu di luar untuk berjaga." Raut kesedihan terlihat jelas di wajah lelaki itu saat berniat meninggalkanku sendiri. Aku merasa tersanjung dan merasa sangat bahagia karena ada seseorang yang perhatian dan memperhatikanku sangat dalam. Tapi maafkan aku Yud, untuk urusan pernikahan lagi-lagi aku tidak bisa memutuskan secepat ini.
"Kuraih lengan Yuda dan membuat lelaki itu langsung menoleh ke arahku.
"Tidurlah di sofa, aku tahu kamu sangat lelah. Lagipula sesekali tak apa-apa."
"Mbak kita--"
"Aku tahu di luar sangat dingin dan mbak takut kamu akan sakit." Kusela segera ucapannya. Lelaki langsung berbinar ceria. Ah Yuda, seandainya saja kamu tak menaruh hati padaku, mungkin aku tak akan secanggung ini.
"Terima kasih atas perhatianmu, Mbak." Yuda mengusap kepalaku seperti seorang suami kepada istrinya yang membuatku langsung salah tingkah. Tak lama kemudian, lelaki itu langsung memejamkan matanya dan tertidur.
Aku mengalah nafas panjang, karena mata ini tidak bisa dipejamkan lagi. Akhirnya aku memandang wajah Yuda yang sekejap saja langsung tampak terlelap. Sepertinya lelaki itu kelelahan karena semalam tidak tidur persis seperti seorang yang tengah melakukan ronda malam.
Aku bukan tidak tersanjung ataupun bukan tidak tertarik pada lelaki itu. Hanya saja aku belum siap saat ini, lagi pula Yuda terlalu sempurna untukku yang hanya seorang janda dengan satu anak plus segudang masalah yang kini bertubi-tubi terus mendera ke arahku. Aku takut jika lelaki itu lebih lama bersamaku dia akan terluka juga dan aku tidak mau sampai hal itu terjadi. Biarlah, aku sendiri bersama dengan Adi menjalani hidup ini tanpa kehadiran Yuda di sampingku, dan kuharap lelaki itu segera menemukan tambatan hatinya agar dia tidak selalu berharap padaku. Karena terus terang aku takut untuk melangkah kembali apalagi dengan pria sepertinya. Memikirkan lelaki lain saja tidak pernah, apalagi bermimpi untuk menikah dengan Yuda, itu hal yang mustahil dalam pikiranku.
🍎🍎🍎🍎🍎
Entah kenapa perawat pagi ini belum juga masuk ke ruanganku, padahal aku ingin sekali pergi ke kamar mandi untuk menuntaskan hajatku. Tapi setelah jam 06.30 lebih tidak ada yang datang untuk sekedar membuka gorden atau membantuku menyelesaikan ritualku. Hanya ada Yuda di ruangan yang baru saja pulang sholat subuh.
"Kamu butuh sesuatu, Mbak?" Yuda mendekat sambil meletakkan jaketnya. Mungkin dia melihat wajahku yang seperti gelisah.
Sebenarnya aku tak tahan ingin buang air kecil di kamar mandi.
"Aku sebenarnya … aku tidak apa-apa," kataku pura-pura bersikap normal. Tak mungkin kukatakan pada Yuda kalau aku ingin pipis dan tidak tahan lagi. Tapi pasti rasanya itu sangat memalukan sekali apalagi Yuda adalah seorang lelaki. Jika dia mendengar perkataan dariku, pasti akan sangat risih.
Aku akhirnya aku hanya menggeleng karena tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun.
"Apa kamu sudah shalat subuh?" Yuda bertanya lagi, mungkin dia melihat keadaanku yang sama seperti tadi. Lagi-lagi aku menggeleng untuk yang kedua kalinya.
"Padahal bisa tayamum lho, Mbak. kamu tidak usah repot-repot pergi ke kamar mandi jika kamu tidak bisa melakukannya. Lagi pula agama itu tidak memberatkan." Yuda berkata demikian karena dia tidak tahu kalau aku sedang menahan pipis yang sangat berat saat ini. Tidak mungkin aku shalat dalam keadaan menahan hajat.
"Tolong panggilkan perawat, Yud, aku membutuhkan bantuannya." Terpaksa kata itu terucap daripada lama-lama menahan pipis juga tidak baik.
"Ini kan hari libur, sepertinya belum ada perawat yang shift pagi. Bahkan tadi aku tidak melihat mereka di ruangan mana pun." Yuda bicara lagi dan pernyataannya membuatku semakin tersiksa.
"Oh ya, katakan saja padaku jika Mbak membutuhkan bantuan. Aku siap kau membantumu, Mbak. Jangan sungkan." Yuda tersenyum manis, dan aku malah menggigit bibir bawahku karena bingung harus mengatakan dari mana hal ini. Sungguh semuanya sangat memalukan.
Ya, Tuhan tolong aku …!"

Komentar Buku (409)

  • avatar
    Ahmad rivai kurniawan

    sangat menegangkan dan seru

    16/06

      0
  • avatar
    GuruBatara

    novel bagus alur ceritanya

    01/05

      0
  • avatar
    Ainur rahmanRidhoo

    assalamualaikum saya sedang tertarik dengan anda yang seperti bagus dan rapih

    24/04

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru