Bab 34

Bab 34
"Indira, apa yang terjadi?" Mas Agung seperti terkejut sambil mendekat ke arahku. Beberapa saat yang lalu sempat kudengar suara mesin yang menderu di halaman.
"Cepat sekali kamu pulang, Mas. Biasanya juga pulang sore atau paling tidak, besok paginya lagi," kataku tanpa menjawab pertanyaannya.
"Loh, kok ditanya malah balik bertanya," kata Mas Agung terdengar protes. Tangannya sigap meraih sapu yang tengah kepegang.
"Siapa yang melakukan ini, Indira?" tanyanya lagi sambil menarik pengki yang teronggok di sudut.
Dia menatap penuh ke arahku, namun ku balas dengan wajah masam.
"Entahlah aku juga belum tahu siapa yang melakukan ini. Tapi sesegera mungkin aku akan segera mencari tahu dan tidak akan melepaskan orang itu begitu saja," kataku dengan emosi. Bahkan sambil meremas baju.
"Jangan-jangan orang yang tadi kamu hajar. Mungkin saja, dia balas dendam karena tak terima kamu hajar." Mas Agung menatapku penuh. Aku mengangkat bahu, cuek.
Aku memutuskan untuk mengambil sapu kedua, kembali ikut membantu membersihkan kaca-kaca di depanku. Untunglah akan memakai sandal yang tinggi, hingga tidak terlalu takut andai pecahannya menusuk kakiku.
"Hati-hati, Indira. Biar Mas yang melakukannya," ujarnya kembali, sambil mencoba meraih sapu yang kupegang, namun segera ku halau.
"Kamu urus saja bagianmu, Mas. Kalau pekerjaan seperti itu mudah bagiku. Lagipula ini tak seberapa dibandingkan dengan hatiku yang lebih hancur." Kutundukkan pandangan karena enggan berinteraksi terus-terusan dengannya. Yang sepertinya lelaki di depanku ini tengah mencari perhatian agar aku mau maafkannya mungkin.
"Maaf, Indi. Tapi Mas benar-benar ingin membantu," katanya dengan senyum terukir sangat manis. Senyum yang dulu sangat kurindukan. Sayangnya saat ini, rasaku sudah hambar padanya.
Aku menghentikan aktivitas, kemudian menatap padanya dengan wajah masih masan.
"Mas, beneran mau bantu aku?" Lelaki itu langsung mengangguk cepat dengan wajah sumringah.
"Kalau begitu, sebaiknya bereskan saja kamar tamu itu dan ganti sekalian spreinya. Najis aku membersihkan kamar itu setelah ternoda oleh kelakuan istri dan adikmu yang aneh itu."
Mas Agung mendadak lesu setelah ku suruh membersihkan kamar. Ingin tertawa, takut dosa.
"Kenapa Mas, kamu tidak mau?" kataku dengan mata memicing menatap ke arahnya.
"Apa nggak sebaiknya Mas di sini aja membersihkan ini. Mas nggak mau membersihkan kamar tamu, biar kamu aja yang melakukannya," katanya seperti mencoba melakukan tawar-menawar denganku.
"Mas nyuruh aku bersihin najis mereka, hah?!" Rasanya ingin kupukulkan saja sapu ini ke otak kanannya, agar lelaki yang satu ini mikir. Padahal usianya sudah tiga puluh enam tahun, tapi kelakuannya persis seperti ABG berusia enam belas tahun. Aku malu melihat tingkahnya yang sangat menjengkelkan itu.
"Ya, nggak gitu juga, Ndi."
"Oh jadi Mas nggak mau. Ya sudah, aku antepin aja itu sampai tahun depan sekalipun. Lagipula itu kamarmu Mas, bukan kamarku. Jadi aku tidak peduli," kataku sambil mengangkat bahu dan segera menyelesaikan pekerjaan ini. Agar bisa segera pergi ke dapur. Malas bicara dengan Mas Agung yang semakin lama semakin membuatku muak. Rasa hormat kepadanya sudah hilang sejak beberapa waktu lalu.
Alhamdulillah, akhirnya setengah jam kemudian aku berhasil membersihkan semuanya. Ku kemas dalam kantong kresek besar, lalu memasukkannya ke dalam tong sampah. Tidak lupa mengepel bagian ruang tamu agar tidak ada sisa-sisa pecahan kaca yang paling kecil di sana, setelahnya segera beranjak ke dapur.
Mas Agung sendiri masih duduk di sofa ruang tamu dengan pandangan ke layar 6,6 inci miliknya. Wajahnya kadang berkerut, kadang menatap fokus. Seperti tengah melihat isi di dalamnya yang tidak kutahu dan aku tidak mau memikirkan hal itu. Itu urusan Mas Agung sendiri.
"Udah beres, Indira?" Bu Dian bertanya sambil mengolesi nastar dengan campuran kuning telur dan sedikit minyak.
"Alhamdulillah, sudah beres, Bu."
"Syukurlah, ya sudah sana makan dulu. Tuh ibu sudah masak tadi. Kebetulan ada bahan-bahan di kulkas. Karena tahu kamu pasti belum makan siang, makannya sambil nungguin kue matang, Bu Dian masak tadi."
"Wah … makasih banget, Bu. Kebetulan aku lapar banget. Apalagi dari tadi juga belum makan. Bagaimana kalau kita makan dulu sekarang," kataku antusias. Pantesan saja dari arah ruang tamu tadi, selain tercium aroma kue juga tercium harum masakan dari arah dapur. Wanita paruh baya itu memang sangat pengertian dan cekatan. Ketika berada di rumahku dia selalu mengerti dan tidak harus selalu disuruh-suruh.
"Udah kayak sama siapa saja. Eh sebaiknya kita sholat dhuhur dulu, gantian, setelah itu baru kita makan bersama," katanya dengan senyuman yang selalu menghiasi wajahnya. Bu Dian, selain ramah juga dia orang yang paham agama. Aku senang mempunyai partner sepertinya yang tak hanya pandai dalam mengolah bahan kue, juga rajin mengingatkan beribadah.
"Ya, udah, aku sholat dulu, ya," balasku sambil berlalu, sebelumnya masuk ke kamar Adi. Anak itu rupanya sudah bersiap untuk pergi ke masjid dengan peci di kepalanya.
"Pulang dari masjid, kita makan bareng-bareng ya. Bu Dian masak ayam goreng dan capcay hari ini."
"Yes! Sepertinya enak tuh." Aku terseyum sambil mengusap kepalanya saat dia mencium takjim tanganku.
"Pasti dong, udah sana buruan shalat. Ibu udah lapar!"
"Siap, Bu," katanya dengan laga seperti seorang tentara. Mengangkat tangan di kening sebelah kanan. Aku tertawa melihat tingkahnya yang menggemaskan itu. Sayangnya Mas Agung tidak pernah melihat sisi lain dari anaknya sendiri. Dia lebih memilih hidup dengan dunianya sendiri dan mengabaikanku bahkan anak kami. Sungguh jalan hidup yang tidak bisa kuterima dan kumengerti lagi. Sebenarnya apa yang dia cari dan apa tujuan hidupnya selama ini?
🍎🍎🍎🍎🍎
"Hei, Indira. Sepertinya tadi aku mendengar pecahan kaca dari rumahmu." Bu Yeti menghampiri saat aku tengah memberikan bungkusan makanan, ke sopir gojek untuk diantar ke tempat tujuan.
"Oh, itu. Iya, Bu, tuh lihat kaca rumah saya sampai bolong begitu. Hancur semuanya." Aku menunjuk kaca depan rumah yang ku tutupi dengan gorden untuk sementara. Niatnya nanti sore aku akan membeli kaca baru sambil menunggu tukang yang mengukur.
"Wah, kok bisa. Siapa yang berani melakukannya?" katanya dengan kening berkerut. Tetangga yang satu ini memang sudah biasa selalu kepo padaku. Apa-apa yang kualami pasti dia lebih dulu mengetahuinya. Termasuk kebiasaan buruk Mas Agung belakangku. Padahal aku tidak pernah bercerita apapun padanya.
"Saya juga nggak tahu, Bu. Tapi nanti pasti akan mencari tahu," jawabku, singkat, jelas dan padat.
"Oh, ya sudah. Semoga cepat ketemu ya pelakunya," kata Bu Yeti sambil tersenyum lebar entah karena apa.
"Eh, Indira. Tadi kamu jagoan deh, sampai bisa menghajar lelaki yang badannya tinggi dan besar begitu," celetuk Bu Yeti lagi, begitu aku ingin masuk ke dalam rumah. Malas jika harus mengobrol dengannya yang pasti akan terus bertanya. Tapi kali ini, ucapannya menggelitik telingaku hingga tak tahan untuk segera bertanya.
"Bu Yeti tahu dari mana, jika saya mengajar orang?" tanyaku dengan alis bertautan. Padahal aku tidak mengatakan hal itu pada siapapun. Bahkan Bu Dian saja tidak kuberitahu.
"Oh itu, ada live di instagram yang menampilkan keperkasaan kamu, saat menghajar lelaki itu bahkan mendapatkan ribuan like," tuturnya bercerita. Wanita yang tengah memakai daster lebar itu mengacungkan dua jempol padaku. Pantas aja saat aku berhenti menghajar lelaki itu, beberapa orang tengah memegang ponsel dan mengarahkannya padaku. Itu artinya mereka sengaja menyebarkannya lewat sosial media. Ah ada-ada saja.

Komentar Buku (409)

  • avatar
    Ahmad rivai kurniawan

    sangat menegangkan dan seru

    16/06

      0
  • avatar
    GuruBatara

    novel bagus alur ceritanya

    01/05

      0
  • avatar
    Ainur rahmanRidhoo

    assalamualaikum saya sedang tertarik dengan anda yang seperti bagus dan rapih

    24/04

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru