Beranda/Terungkapnya Kebiasaan Buruk Suamiku/
Bab 24
Bab 24
Aku segera pulang ke rumah saat mentari sore hampir tenggelam. Bersama dengan Adi diboncengan, setelah tadi Bu Dewi dan Yuda ikut menenangkanku yang tersulut emosi.
Dasar anak itu kurang ajar sekali, berani-beraninya dia mempermalukanku dan berusaha memfitnahku. Awas saja jika sampai Ayah Mertua mendengarnya dan mengatakan hal lain, aku tak segan-segan menamparnya di depan keluarganya sendiri. Aku tidak peduli.
Setelah beberapa menit melewati perjalanan, akhirnya sampai juga di rumah. Terlihat pintu yang terbuka dan tampak jelas terdengar suara orang tengah mengobrol di dalam.
Ternyata orang yang kemarin bertamu tidak sopan itu kembali datang ke rumah dengan formasi yang sama. Lima orang. Dan dengan tak tahu malunya mereka mengobrol sambil tertawa keras dan mengepulkan asap dari mulut mereka.
Karena tak kulihat keberadaan Mas Agung dan Zahra, baiklah, kita lihat bagaimana jika aku bereaksi kepada mereka dan memberi sedikit pelajaran kepada orang-orang sampah tak tahu malu ini. Kenapa aku menyebutnya demikian, karena itu memang julukan yang pantas disematkan kepada mereka.
Aku segera membuka pintu lebar-lebar saat kelimanya menatapku dengan heran. Segera kusuruh Adi untuk mandi agar dia tidak mendengar apa yang akan segera kukatakan di hadapan orang-orang ini.
"Adi, kamu mandi dulu setelah itu masuk ke kamar. Nanti Ibu akan siapkan makan malam untuk kamu ya," kataku sambil mengusap kepalanya. Anak lelaki itu menurut meskipun sempat terbatuk-batuk akibat menghirup aroma rokok yang sangat tajam. Bahkan aku pun sampai menutupi hidungku dengan pashmina instan yang kukenakan.
"Maaf aku ingin bertanya. Sebenarnya siapa kalian dan sedang apa kalian di rumahku. Ini sudah hari kedua kalian berada disini dengan tidak tahu diri," kataku sambil bersedekap tangan di dada. Tidak takut meskipun badan mereka besar-besar.
"Kami adalah tamunya Agung. Apa kamu tidak tahu hal itu," katanya dengan suara bariton yang keras, kemudian diikuti tawa terbahak-bahak dari teman-temannya yang lain seolah tengah meledek. Membuat kupingku gatal.
"Oh ya, lalu kenapa Mas Agung tidak duduk bersama kalian dan mengobrol," cetusku dengan mengerutkan kening. Sebenarnya hidungku terasa semakin sakit mencium aroma tembakau yang sangat menyesakkan itu. Heran sekali, kenapa ada orang yang sudi menghisapnya, meskipun aromanya tidak sedap dan bisa merusak kesehatan bahkan parahnya bisa menyebabkan kanker itu.
"Mungkin saja si Agung tengah berduaan dengan istri mudanya dan tak mau diganggu," sahut temannya yang berwajah legam diikuti kembali tawa yang membahana.
"Atau mungkin saja Mas Agung tidak suka kalian datang ke sini!!" sindirku cepat. Semoga bisa mengerti, jika mereka mempunyai otak.
Brak!!
Lelaki yang pertama bicara itu menggebrak meja dengan keras. Dia pikir aku akan takut? Tentu saja tidak. Jangan sebut aku Indira jika tidak bisa menghadapi dan memberi pelajaran pada manusia begajulan itu.
"Kami datang ke sini tidak ada urusannya denganmu. Jadi tidak usah sok tahu. Lagipula mungkin si Agung hanya takut dan segan untuk bicara dengan kami!!" Lelaki itu tampak berdiri dan menampilkan tubuhnya yang besar dan garang, seperti seorang gigolo di film-film yang pernah kunonton di televisi.
"Tentu saja ini urusanku, karena kalian adalah tamu di rumahku. Jadi kalian harus punya sopan santun dan beradab. Jangan anggap rumah ini seperti pos ronda yang kalian bisa memasukinya dan membuat tempatnya berantakan," hardikku tajam, tanpa rasa takut. Semua sudah hilang, dihancurkan Mas Agung saat berkhianat.
Mata Lelaki itu terlihat beringas dan teman-temannya menatap tajam ke arahku. Satu lawan lima. Siapa takut!
Jangan mereka pikir aku akan mundur hanya karena melihat badan mereka yang besar dan tatapannya yang tajam. Aku sama sekali tidak takut pada mereka. Justru aku ingin melihat seperti apa dan sejauh mana mereka akan berani menghadapiku yang hanya seorang wanita ini.
Tapi jika mereka berbuat macam-macam, maka aku tidak segan-segan untuk memanggil tetangga dan meneriakinya sebagai orang pembawa kerusuhan di tempat orang lain.
"Kau!!! Untung saja kau hanya perempuan. Kalau kau laki-laki, sudah kucincang tubuhmu itu dan kuberikan kepada anjing." Mendengar perkataannya yang kasar itu, aku langsung melayangkan tamparan keras kepada wajahnya.
Bahkan bukan satu kali tapi dua kali, di kanan dan kiri pipinya.
Plak! Plak!
"Kau pikir karena aku seorang perempuan, lantas tidak berani berbuat kurang ajar padamu?! Jangan sebut aku Indira, jika aku tidak bisa memberi pelajaran pada kalian! Sekarang, pergi kalian semua dari rumahku. Kalau tidak, aku pastikan akan menelepon polisi dan mengarak kalian di lingkungan ini. Kalian tidak tahu seperti apa orang-orang di tempat ini, yang jika ada warganya yang merasa tersakiti, maka semua warga disini akan ikut melayangkan bogemnya kepada wajah-wajah kalian itu. Kalian mau seperti itu?!" kataku mengancam mereka dengan telunjuk tempat mengarah kepadanya. Bahkan kedua mata kami langsung bertatapan seolah berperang.
"Nyalimu besar juga, perempuan!!" kata lelaki itu sampai meludah ke sampingnya. Ih, jijik sekali melihat kelakuannya seperti itu. Lihat saja nanti, setelah Mas Agung dan Zahra keluar dari kamar, maka akan kupastikan kedua pasangan suami istri itu harus membersihkan tempatku seperti semula. Agar jangan sampai meninggalkan bibit penyakit dan sampah yang merajalela.
"Sekarang keluar atau aku teriak!!" kataku sambil menunjuk ke arah pintu tepat ketika melihat tangan mereka mengepal.
"Awas saja kau!! Aku akan membalas perbuatanmu ini. Ayo kita pergi!" katanya sambil melirik kearah teman-temannya. Bahkan yang lainnya menatap sinis kepadaku termasuk teman-teman wanitanya yang sengaja menyenggol bahuku. Semoga aku tidak terkena bakteri setelah bersentuhan dengan mereka. Amit-amit.
"Huh ….!"
"Songong!" Masih bisa kudengar umpatan-umpatan mereka meski sudah keluar rumah. Aku menarik nafas kasar melihat ruang tamu tak beraturan.
Deru suara motor saling bersahutan, kemudian perlahan suaranya menghilang di kejauhan. Mas Agung dan Zahra membuka pintu kamar tamu dan tergopoh lari ke arahku. sepertinya mereka dari tadi mendengarkan di balik pintu sana.
"Apa mereka sudah pulang, Indira?! Berani sekali kamu melawan mereka yang berlima itu, padahal badannya gede-gede semua. Hiy!!!"kata Mas Agung sambil bergidik. Disebelahnya, Zahra tampak menggerutu dengan tatapan kesal dan cemberut, membuat wajah kusamnya semakin terlihat jelek.
"Jika aku mau, maka kamu pun bisa kuusir sekarang juga," balasku cepat.
"Apa? Kamu jangan kejam seperti itu Mbak!" Zahra ikut bersuara. Tidak seperti melihat mereka berlima tadi, seolah-olah nyalinya ciut seperti kerupuk yang melempem tersiram air. Lebih memilih diam dikamar daripada menghadapi mereka. Cemen.
"Kalau begitu, segera ambil sapu dan alat pel. Kalian berdua harus membersihkan ruangan ini semuanya. Termasuk kamar kalian dan kamarku juga. Jika tidak, aku tidak akan segan-segan untuk berteriak kepada warga dan mengatakan bahwa kalian telah berzina di rumahku. Supaya kalian segera diusir dari tempat tinggalku ini," ancamku agar mereka takut sambil menunjuk muka Zahra yang saat ini terlihat menor.
"Mas, aku tidak mau melakukannya, mana bisa aku bersih-bersih rumah," rengek Zahra. Merajuk kepada suaminya yang terlihat salah tingkah.
"Turuti sekarang juga. Atau, kalian angkat kaki dari rumahku sama seperti mereka!" ancamku, menatap tajam kepada keduanya yang langsung bergidik ngeri melihat sikapku yang tidak seperti biasanya. Biar saja mereka ketakutan, agar tahu bagaimana jika seorang Indira sudah dikuasai amarah.
"Mas!!" Lagi, Zahra merajuk sambil mengguncang lengan Mas Agung.
"Makanya jangan coba-coba membangunkan macan tidur. Kalau tidak, kalian akan terkena imbasnya. Sekarang lakukan perintahku karena aku malas untuk berkata kepada kalian lagi." Aku berkacak pinggang di depan Mas Agung. Biar saja dibilang tak sopan, toh mereka memang semestinya bertanggung jawab.
"Baik, Indi, kami akan melakukan apapun perintahmu," kata Mas Agung sambil menarik Zahra ke arah belakang. Aku tersenyum dalam hati kemudian melenggang ke kamar Adi. Puas sekali rasanya hari ini. Setelah dibuat kesal sama Yanti, aku bisa menumpahkan amarah kepada tamu tak tahu diri sekaligus Mas Agung dan Zahra.Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (409)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
sangat menegangkan dan seru
16/06
0novel bagus alur ceritanya
01/05
0assalamualaikum saya sedang tertarik dengan anda yang seperti bagus dan rapih
24/04
0Lihat Semua