Bab 23

Bab 23
"Mbak kan yang tadi masuk ke rumahku, terus mencuri uangku!" tuding Yanti sambil menunjuk tepat ke wajahku yang menganga mendengar penuturannya yang tidak masuk akal itu. Mencuri? Yang benar saja. Seumur hidup aku tidak pernah mencuri uang siapapun, apalagi itu uang Yanti di rumah mertua pula.
"Hei, Yanti. Kenapa kamu menuduh Mbak tanpa alasan!?" kataku merasa tidak terima dengan tuduhannya yang keji itu. Lagi pula pula dari mana dia punya uang. Bukankah dia hanya seorang pengangguran selama ini. Bahkan kuliah pun tidak benar dan kerjaannya hanya kumpul-kumpul tidak jelas bersama dengan teman-temannya yang sama-sama begajulan.
"Aku tidak menuduh Mbak. Kata tetangga, Mbak barusan masuk ke rumahku bukan, terus disaat yang bersamaan uangku juga hilang. Lalu jika bukan Mbak, siapa lagi yang mencurinya. Lagipula Mbak itu pasti tidak dinafkahi oleh Mas Agung karena dia sekarang sudah punya Zahra?!" tudingnya tepat mengarah kepada wajahku. Yuda dan Adi yang melihat pun sampai menganga mendengar penuturan tantenya.
Wanita yang berdiri di samping Yanti juga ikut-ikutan mengangguk membenarkan.
"Ya benar itu. Bukannya tadi Bu Indira masuk ke rumah Yanti dan tak lama keluar lagi. Bukankah itu sudah pasti kalau Mbak Indira yang mencuri uangnya," katanya tak mau kalah.
"Kamu jangan sembarangan menuduh ya. Saya memang masuk ke rumah mertua, tapi hanya meletakkan makanan di atas meja, lalu kembali keluar dan langsung ke rumah Bu Dewi. Karena di rumah tidak ada siapa-siapa. Lagi pula jika Ibu mau silahkan periksa tas saya sekarang juga. Karena saya tidak mengambil uang itu." Ingin sekali kulempar tas itu ke arah mereka, agar mereka tidak terus-terusan menyudutkanku seperti ini.
Akan sangat memalukan jika aku dituduh mencuri padahal sama sekali tidak pernah melakukan hal itu. Amit-amit.
Bu Dewi dan Yuda saling berpandangan dan menatap tajam pada Yanti.
"Yanti, kamu tidak usah menuduh ya. Lagi pula aku lihat sendiri Bu Indira tidak membawa apa-apa saat datang ke sini." Bu Dewi ikut membela, untunglah dia tidak ikut menyalahkanku.
"Awas saja tuduhanmu, jika itu tidak benar!" kata Yuda dengan geram.
"Jika tidak dibuka, mana kita tahu," sahut wanita di samping Yanti.
"Lebih baik periksa saja tasnya Yanti, biar kita tahu benar atau tidak." Wanita itu menatap tajam pada Bu Dewi dan Yuda. Mungkin kesal karena keduanya ikut membelaku.
"Baik kalau begitu, kamu buka dan periksa saja sendiri!" kataku sambil melemparkan tas itu ke muka Yanti yang langsung disambarnya.
Disaksikan oleh Bu Dewi dan Yuda sendiri. Di halaman rumah orang, ketiga wanita itu mengeluarkan barang-barang yang ada di kantong tasku. Untung saja yang keluar hanyalah dompet kecil berisi uang puluhan ribu, ponsel dan minyak kayu putih yang biasa aku bawa kemanapun aku pergi.
"Kamu lihatkan tidak apa-apa dalam tasku?" aku menatap tajam kepada Yanti. Kali ini sikapnya benar-benar keterlaluan menurutku.
Wanita itu memicingkan matanya kemudian menatapku tajam seakan tidak terima karena tidak menemukan bukti apa-apa di dalam tas kecilku itu.
"Mungkin saja Mbak sudah menyimpannya di dalam kantong celana Mbak atau di dalam baju Mbak. Kan tidak ada yang tahu!" ujarnya terus saja menyudutkan, seakan-akan aku itu benar-benar telah mencuri uangnya. Bahkan matanya mendelik tajam saat Yuda ikut membela.
"Apa, kamu jangan asal tuduh ya Yanti. Menuduh tanpa bukti itu adalah sebuah tindak kejahatan dan aku bisa melaporkanmu kepada kepolisian, jika aku mau." Susah payah aku meredam emosi melihat tingkah yanti yang sangat keterlaluan itu. Bukankah selama aku menikah dengan Kakaknya tidak pernah kehilangan apapun di rumah mertua setiap aku berkunjung ke sana. Bisa-bisanya dia terus menyerangku dengan tuduhan pencurian itu. Benar-benar keji.
"Heh, katakan saja jika Mbak mengelak tidak mau mengakuinya. Lagipula di mana ada yang maling yang aku kata!?" tantang Yanti berapi-api.
"Oke, jika kamu tetap ingin membuktikannya. Mbak bersedia diperiksa tapi tidak di depan umum seperti ini," sanggahku. Ingin melihat reaksinya. Orang seperti Yanti tidak akan berhenti sebelum puas mempermalukanku.
"Mbak, tidak usah menuruti apa yang dikatakan Yanti. Lagipula kami percaya Mbak tidak akan melakukan hal yang Yanti tuduhkan," kata Yuda mau ikut membelaku sambil menatap tajam kepada Yanti yang semakin menampakkan wajah kesal.
"Tidak apa-apa Yuda, lagipula Mbak tidak mau dituduh sebagai pencuri, karena Mbak mampu membiayai Adi dengan uang Mbak sendiri.
Lagi pula aku penasaran seberapa banyak uang Yanti yang hilang, hingga dia tega permalukan Mbak di depan umum seperti ini. Bukankah Yanti itu tidak bekerja!" Aku sengaja menekankan kata terakhir agar orang-orang mengerti akan tindakan Yanti yang diluar batas. Bukankah itu hal yang sebenarnya. Yanti tidak bekerja dan paling-paling mendapatkan uang jajan dari Ayah Mertua yang kuyakini tidak akan terlalu besar karena Ayah Mertuaku tidak pernah memanjakan anak-anaknya dengan uang yang berlimpah. Justru menyuruh ketiga anaknya agar mandiri. Sayang sekali ketiganya mempunyai perangai buruk, baik itu Mas Agung yang suka judi, Yanti yang malas kuliah dan hobinya kumpul-kumpul bersama temannya ataupun Doni yang hobinya keluyuran tanpa tahu waktu.
"Kalau begitu masuk ke rumah saya dan silahkan periksa Bu Indira. Tapi jika sampai Indira tidak bersalah maka Yanti dan orang yang telah menuduhnya harus minta maaf kepada Yanti," kata Bu Dewi sambil menarik tanganku untuk masuk kedalam. Adi dan Yuda pun ikut serta bersama tetangga di belakang.
"Aku yakin Ibu bukan pencuri," seru Adi sambil menggenggam tanganku. Aku mengusap rambutnya pelan agar dia tidak khawatir.
"Ibu memang nggak mencuri uang Tante Yanti, Adi percaya kan sama Ibu." Anak itu mengangguk cepat kemudian mendelik ke arah Yanti. Dapat kupastikan anak sekecil itupun merasa kesal atas ulah tantenya. Kasihan sekali kamu Adi, harus menyaksikan tuduhan keji yang dilontarkan anak kakekmu itu.
Sampai di dalam kamar, Bu Dewi, Yanti dan kedua orang tetangga yang ikut bersama Yanti, mulai meraba-raba tubuhku. Aku yang yang sudah kadung kesal sama mereka, langsung membuka kemeja atas sehingga menyisakan bra dan kaos dalam serta celana panjang. Kupersilahkan mereka melihat dan meneliti bagian tubuhku dengan jelas. Namun hingga beberapa saat, mereka memasukkan tangannya ke dalam saku celanaku dan nyatanya tidak bisa menemukan apa-apa selain kunci motor yang biasa kugunakan untuk bepergian. Untung saja aku tidak merasa minder karena bentuk tubuhku yang ideal tanpa kerutan ataupun strechmark di beberapa bagian tubuh, karena aku rutin berolahraga, meskipun hanya treadmill di dalam rumah.
"Aneh, kok nggak ada. Apa kamu tidak salah tuduh Yanti?!" tanga tetangga Yanti yang bernama Bu Ira itu sambil menatap Yanti dalam.
"Iya memang tidak ada apa-apa di badannya Indira," sahut temannya yang lain membuat Yanti langsung gelagapan dan matanya melirik ke sana kemari seperti tengah mencari alasan untuk menutupi kebohongannya.
"Mungkin saja ada di dalam motornya, kan kita tidak tahu," Kata Yanti beralasan membuatku geram dan orang-orang di sekitarnya.
"Yanti, kamu tidak usah mencari-cari alasan, tidak mungkin Indira langsung memasukkan uang ke dalam motornya. Wong tadi setelah keluar dari rumah kamu dia langsung berjalan ke rumahku tidak naik dulu ke atas motornya," kata Bu Dewi tidak terima. Terlihat sekali kekesalan di wajahnya yang gembil.
Aku pun ikut mengangguk membenarkan, karena memang tidak ada apa-apa di dalam jok motor selain jas hujan dan helm.
"Makanya kalau nuduh harus ada buktinya dulu Yanti, jangan membuat kami malu seperti ini hingga menuduh Mbak Indira yang tidak-tidak. Lagipula berapa sih uang kamu yang hilang itu, penasaran aku sampai kamu berteriak heboh seperti itu?! tanya Bu Ira mendengkus sambil menarik bahu Yanti agar melihat ke arahnya.
"Eh it-itu berapa ya," kata Yanti gelagapan
membuat orang-orang berseru kepadanya.
"Dasar kamu itu. Udah kuliah nggak bener, kerja juga tidak, malah kerjaannya kumpul kumpul dengan teman-teman kamu. Sok-sokan punya uang dan menuduh kepada bu Indira saat uangmu tidak ada. Lagipula jika uangnya hilang bukan uang kamu yang diambil tapi uang kedua orang tuamu yang banyak itu, ngerti nggak kamu?! Kami jadi nuduh Indira gara-gara kamu?!" Bu Ira bersama temannya langsung membuka pintu kamar saat aku memakai kembali bajuku dan keluar bersama mereka.
"Udah ketemu uangnya?" Yuda dan Adi yang tengah duduk di ruang tamu melihatku dengan penuh wajah penasaran.
"Uang-uang apa, tidak ada uang di badan Indira. Lagi pula itu mungkin hanya akal-akalan si Yanti saja agar membuat Indira malu," kata Bu Dewi sambil duduk di samping anaknya. Wanita dengan bobot berlebih itu langsung menenggak air putih yang berada di atas meja.
Yanti yang merasa malu mendapat tatapan tajam dari Yuda pun hendak pergi, namun segera dihadang oleh Yuda.
"Lain kali, tidak usah menuduh tanpa bukti apa lagi menuduh Indira. Dia tidak akan pernah mencuri uangmu aku bisa jamin itu. Lagipula pula dari mana kamu mendapatkan uang banyak sampai berani sekali menuduh orang lain tanpa alasan," cecar Yuda dengan nada suara dingin. Baru kali ini aku melihat sisi lain Yuda yang biasanya kalem dan ramah.
"Kenapa Mas Yuda malah membela Mbak Indira. Apakah Mas suka padanya? Ingat Mas, Mbak Indira itu sudah menikah dan dia sudah mempunyai suami juga anak. Jadi jangan sok-sokan menjadi pahlawan dengan ikut-ikutan menyalahkanku. Mas tidak tahu kan selama ini aku juga mempunyai penghasilan sendiri tanpa meminta kepada orang tuaku!?" kata Yanti sambil menghentak-hentakkan kakinya dan berlalu pergi dari tempat itu. Aku dan yang lainnya sampai geleng-geleng kepala tak percaya.

Komentar Buku (409)

  • avatar
    Ahmad rivai kurniawan

    sangat menegangkan dan seru

    16/06

      0
  • avatar
    GuruBatara

    novel bagus alur ceritanya

    01/05

      0
  • avatar
    Ainur rahmanRidhoo

    assalamualaikum saya sedang tertarik dengan anda yang seperti bagus dan rapih

    24/04

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru