Beranda/Melody Cinta Tuan Muda/
Reuni
Seruni sudah bersiap untuk meninggalkan rumah sakit, dia berhasil meyakinkan dokter jika dirinya dalam kondisi stabil untuk pulang menjenguk Fajar bersama suaminya. Dokter meminta jika Seruni harus kembali segera dan menjalani pengobatan lanjutan.
“Kamu yakin Seruni?” Ahmad masih saja bertanya ketika mereka sedang berkemas.
“Tentu saja, Mas tidak perlu khawatir, lebih baik kita yang pulang menjenguk Fajar ketimbang dia harus dibawa kesini. Ayo kita berangkat sekarang, lebih baik sekarang daripada kita harus kemalaman di jalan.”
Ahmad mengambil sweater Seruni dan memakaikannya juga syal yang lembut di lehernya.
“Pakai ini untuk menjaga tubuhmu tetap hangat,” ujarnya lembut.
Seruni tersenyum lembut, dadanya dipenuhi rasa syukur karena diberikan suami yang penuh kasih sayang dan tanggung jawab seperti Ahmad. Dibimbingnya istrinya itu pelan-pelan menuju lift ke lantai dasar di mana sopir mobil yang mereka hubungi telah menunggu.
Perjalanan menuju desa Sukamakmur pun dimulai. Seruni lebih banyak diam, kerinduannya kepada putranya Fajar membuatnya sering kali bersedih karena terpisah cukup jauh dan dalam waktu yang lama.
“Kamu kenapa, Dek?” Ahmad meraih bahu Seruni dan membawa Seruni untuk bersandar kepadanya.
“Aku hanya merindukan Fajar, Mas, aku sudah meninggalkannya lama bersama Melody, kasihan dia Fajar pasti sudah merepotkannya,” ujar Seruni dengan sedih.
“Melody adik yang baik, Fajar pun berada di tempat yang baik, kamu tidak usah terlalu mencemaskannya yaa.” Ahmad mengusap bahu Seruni dengan lembut. Mata Seruni terpejam, baru setengah perjalanan tetapi rasanya dia sudah sangat lelah dan membuat tubuhnya lemas. Perempuan itu memilih untuk tidur dalam rengkuhan suaminya dan berharap mereka bisa lekas sampai.
Daniar membungkuk di tepi jalan sambil memuntahkan isi perutnya. Ibu Sekar mengusap-usap punggung menantunya itu sambil memberikan minyak kayu putih pada tengkuknya. Nakula membuka semua pintu mobil dan terpaksa mencopot pengharum mobil yang baru saja dipasangnya kemarin.
“Kamu mau bunuh aku ya?!” hardik Niar kesal kepada suaminya.
“Yaa maaf, aku gak tahu kalau kamu gak suka aroma pengharum ini, biasanya juga kamu gak komplain,” ujar Nakula dengan rasa bersalah. Disemprotkannya kembali pembersih udara merk lain yang disetujui oleh Daniar. Meskipun kehamilannya sudah menginjak usia tujuh bulan, penciuman Daniar masih tidak bisa menerima beberapa aroma yang bisa membuatnya mual bahkan muntah-muntah.
“Gimana, Niar, apa kamu sudah enakan, Nak?” tanya Ibu Sekar dengan lembut sambil memberikan Niar tisu untuk mengelap bibirnya.
“Iya, Bu, yang penting Nakula gak pakai pengharum mobil itu lagi, Niar gak sanggup baunya.” Mata Niar berair, ibu Sekar kembali memberikan tisu untuk membersihkan wajahnya. Perempuan paruh baya itu paham dengan apa yang dialami Daniar.
“Nakula, gimana, udah bersihkan mobilnya? Nanti kita telat sampainya, kasihan kalau Niar kemalaman di jalan.” Ibu Sekar melongok ke dalam mobil dan melihat Nakula sedang mengipas-ngipas semua ruangan mobil. Samar aroma buah jeruk yang menyengat itu sudah hilang berganti aroma lembut mint.
“Iya ini Nakula sudah buang pengharum yang tadi,” Nakula enggan menatap Niar yang seakan ingin mencekik lehernya, Daniar benar-benar menakutkan jika sedang marah selama masa kehamilannya.
“Awas yaa kalau mobil ini bau begitu lagi, aku bakal beli mobil baru!” ancam Daniar sambil naik kembali ke mobil.
“Iyaaa Sayaaang … Iyaaa… aku gak bakal pasang pengharum itu lagi, sini masuk, kita harus melanjutkan perjalanan," bujuk Nakula. Ibu Sekar hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan anak dan menantunya. Mobil pun membelah jalanan, Niar memutar lagu-lagu lama Nakula yang pernah hits.
“Nakula, apa kau tidak merindukan biola dan panggungmu?” tanya Niar dengan mata terpejam.
“Humh? Musikku? Mungkin nanti, setelah urusan si Indra ini selesai. Nanti kamu jangan kaget ya kalau kamu ketemu Stella di villa, dia ada di sana meminta perlindungan Sadewa.”
“Hah?! Maksud kamu, Stella mantan tunangan Sadewa, Stella Clarissa?” tanya Niar terkejut.
“Lha emangnya ada berapa Stella yang pernah jadi tunangan Sadewa?” Nakula balik bertanya pandangannya tetap lurus ke depan.
“Nakula, kenapa bisa gadis itu ada di sana?” Ibu Sekar yang mendengar hal itu ikut menjadi penasaran.
“Katanya dia kabur dari Indra karena disiksa habis-habisan sama Indra, dia aja pingsan waktu tiba di sana, Sadewa bilang wajahnya penuh memar juga sekujur tubuhnya.”
“Yaa Tuhan ….” desis Ibu Sekar prihatin, dia sampai bergidik ngeri mendengar kekejaman Indra kepada Stella.
“Lalu bagaimana dengan pencarian Melody, Nakula?” lanjut Ibu Sekar lagi.
“Entahlah, Bu. Terakhir kali ketika Sadewa berusaha mencari Melody di hutan malah dia yang hampir kehilangan nyawanya.” Nakula menghembuskan napasnya panjang. Dia pun terkadang merasakan jika sebenarnya Melody masih hidup dan terasa dekat berada di sekitarnya.
“Ibu masih ingatkan sosok Ahmad yang kuceritakan tempo hari yang menyelamatkan Sadewa, dia memiliki adik ipar yang seusia dengan Melody. Gadis itu sekarang tinggal sementara di villa bersama Fajar.”
“Iya, Ibu ingat, lalu kenapa?” tanya Ibu Sekar sedikit penasaran.
“Aku tuh kayak curiga gitu, Bu kalau adik iparnya itu Melody,” lanjut Nakula lagi sambil melirik kaca spion di atasnya. Mendengar perkataan suaminya mata Daniar membuka.
“Kamu kok bisa bilang begitu?” Istri Nakula pun ikut terpancing rasa penasaran.
“Dia itu mengaku sebagai adiknya Seruni mereka memang sama-sama mengalami luka bakar tapi kok aku lihatnya luka bakar itu masih baru lho dan Ahmad, aku yakin kalau laki-laki itu yang kulihat saat malam kebakaran,” terang Nakula.
“Yaa sudah… nanti di sana kita cari tahu lagi, kemungkinannya belum pasti, Ibu gak mau kamu berpikir terlalu jauh tetapi akhirnya kamu salah orang.” Ibu Sekar kembali bersandar setelah mengucapkan kalimat itu. Jauh di dalam hatinya dia berharap jika perempuan yang diceritakan Nakula itu memang menantu bungsunya yang hilang.
Waktu sudah merambah tengah hari Daniar meminta untuk mampir di rest area dan menikmati santapan di sana. Sementara mobil yang membawa Ahmad dan Seruni tetap melaju melewati daerah itu karena memburu waktu. Ahmad meminta agar kepada sopir untuk bisa tiba lebih cepat. Seruni sudah kelelahan di lengannya sudah terlihat beberapa titik memar. Namun, perempuan itu tetap berusaha tegar dan tak mengeluhkan apapun sepanjang perjalanan demi menengok buah hati mereka di desa sana.
“Wajahmu juga terluka… sebanyak ini?” gumam Sadewa yang melihat separuh wajah Melody yang rusak. Tangan Melody gemetar ketika menarik kain cadarnya untuk menutupi kembali wajahnya dengan tangan kirinya. Bergegas perempuan itu meninggalkan Sadewa yang masih tertegun di tempatnya berdiri dan hanya bisa melihat punggung Melati alias Melody menjauh.
“Jadi karena itu dia mengenakan cadar? Tetapi kenapa hatiku…?” Sadewa meraba dadanya lagi, ada sedih yang menyengat di dalam sana. Dia merasa jika Melody baru saja hadir di dekatnya.
“Apa dia Melody?” bisik Sadewa lirih. Lelaki itu ingin mengejar lagi tetapi langkahnya terhenti di depan kamar Stella. Pintunya sedikit terkuat dan dia bisa melihat Stella yang tengah duduk dan baru saja selesai menikmati makanan yang dibawakan Bi Kinan.
Sadewa masuk ke kamar Stella untuk memeriksa keadaan perempuan itu. Pandangan mata mereka bertemu, ada perasaan prihatin yang menelusup ke dalam hati Sadewa setelah melihat kondisi Stella yang cukup parah itu.
“Bagaimana keadaanmu sekarang?” tanya Sadewa masih dengan sikap dinginnya di depan Stella.
“Aku sudah merasa jauh lebih baik, tinggal menunggu waktu untuk lebam-lebam ini hilang dari wajah dan tubuhku.” Stella menyunggingkan senyuman tipis, saat ini dia tidak bisa berharap banyak Sadewa bisa menerima kehadirannya di villa ini.
“Baguslah, setelah kau pulih, silakan tinggalkan tempat ini,” ucap Sadewa datar. Dia hendak berbalik keluar ketika tangannya ditangkap oleh Stella.
“Aku harus kemana? Aku tidak punya siapa-siapa di luar sana yang bisa menolongku, orangtuaku dalam pengawasan Indra aku tidak bisa kembali ke sana.” Stella beranjak dari tempat tidurnya tangannya masih menahan Sadewa agar tidak keluar dari kamarnya. Dengan gerakan cepat Stella memeluk Sadewa dari belakang sehingga membuat Sadewa terkejut.
“Aku menyesal karena telah meninggalkanmu, kumohon jangan usir aku pergi, Sadewa, aku mohon,” pinta Stella dengan memelas. Sadewa merasakan demam Stella yang masih panas di tubuhnya.
“Lepaskan aku, Stella. Ingat aku sekarang sudah menikah, kau tidak bisa kembali lagi kepadaku seperti dulu. Aku membiarkanmu sementara di sini karena alasan kemanusiaan, kau jangan pernah berharap lebih.” Sadewa melepaskan pelukan Stella. Gadis itu mengalah dia tidak ingin terlalu memaksakan niatnya, tetapi dia pun tidak boleh sampai keluar dari sini jika tidak Indra akan menghukumnya lebih berat lagi.
“Baiklah, maafkan atas kelancanganku, tetapi aku mohon, aku tidak ingin kembali kepada Indra dan mengalami penyiksaan lagi, hanya kau tempatku berlindung Sadewa.”
Sadewa yang membelakangi Stella hanya meliriknya sesaat dan tidak berkata apa-apa lagi kemudian meninggalkan gadis itu sendirian.
Seperti janjinya Ruben mengawal sendiri Nakula dan keluarganya menuju villa tetapi dia menggunakan mobil lain dan hanya mengikuti dari belakang. Beberapa anggotanya pun disebar agar tidak terlalu terlihat mencolok. Indra adalah lawannya yang licik, bahkan saat dia dan Nakula telah mengepungnya tetapi lelaki itu masih bisa lolos. Ruben menunggu hingga mobil Nakula keluar dari rest area dan kembali melanjutkan perjalanan. Sambil menunggu dia menghabiskan sebatang rokok dan tetap mengawasi Nakula dan keluarganya dari jauh. Ingatan Ruben melayang pada adiknya yang sesuai Daniar.
Gadis keras kepala yang senang berdebat dengannya, andai saja adiknya tidak memilih kabur dari rumah mungkin saat ini Ruben tidak terlalu kesepian seperti ini. Adiknya pernah menelponnya sekali, dalam keadaan ketakutan dan menyebut nama Indra Nugraha telah menipunya. Saat itu adiknya dalam pelarian, ketika Ruben hendak menjemputnya ternyata bus yang ditumpangi adiknya mengalami kecelakaan parah dan nyaris semua penumpang bus terbakar. Bahkan petugas pun sulit mengidentifikasi para korban yang terbakar. Ruben mencari tahu apa yang hendak Indra lakukan kepada adiknya tetapi akhirnya dia memilih diam karena tidak cukup bukti. Mobil Nakula yang bergerak kembali ke jalan tol memutuskan lamunan Ruben, dia menyalakan mobilnya dan mengikuti Nakula hingga ke villa.
Hari menjelang sore ketika mobil yang ditumpangi Ahmad dan Seruni telah tiba di villa, Bi Kinan, Sadewa dan Melody menyambutnya gembira. Melody sempat menangis ketika melihat Seruni yang pucat dan kurus. Leukimia seketika membuat Seruni layu dan lemah. Fajar masih bingung dan menangis ketika tiba-tiba saja ibu dan bapaknya muncul. Mereka berkumpul di ruang tengah dengan riuh ramai. Tak lama Nakula pun tiba bersama dengan Niar dan ibu Sekar. Suasana Villa seketika menjadi semarak, semua berkumpul dengan suka cita.
Melihat hal itu diam-diam Stella mengirimkan pesan kepada Indra tentang apa yang terjadi di villa dan siapa-siapa saja yang datang. Stella hanya mengintip dari kamarnya dan tidak ingin bergabung. Sementara Ruben pun tiba bersama beberapa anak buahnya yang akan bertugas menjaga villa. Ruben mengamati ke sekitar villa dan menemukan sosok perempuan yang hampir tak bisa dikenalinya. Pemuda itu mendekat dan memutar bahu perempuan yang tengah menggendong Fajar.
“Seruni?!” seru Ruben dengan sangat terkejut.
“Kak Ruben….” gumam Seruni lirih dengan mata yang berkaca-kaca.Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (108)
Share
Selesai
Rekomendasi untuk Anda
Lanjutnya mana kk
15d
0terimakasih
17/05
0nice
11/02
0Lihat Semua