logo text

Wajah di balik cadar

Sadewa yang terkejut melihat wajah Stella yang berbilur biru dan tubuh yang demam segera mengangkat tubuh gadis itu masuk ke kamar tamu. Melody dan Bi Kinan mengikuti langkah panjang Sadewa yang membopong Stella hingga ke kamar. Dibaringkannya pelan dan meminta Bi Kinan untuk mengurusnya.
“Tolong urus dia Bi Kinan, jika sudah siuman panggil aku.” Sadewa meninggalkan kamar tamu, Melody mendekat pada Bi Kinan dan mencoba memeriksa luka-luka yang dialami Stella.
“Bi, kita panggil dokter yaa? Kasihan dia,” ujar Melody setelah menyelimuti Stella.
“Sudah malam, biar pak Bintoro saja yang memanggil dokternya kamu gak usah ikut, Nak. Kamu di sini saja jaga Non Stella,” ujar Bi Kinan, dia mengelus bahu Melody kemudian meninggalkannya bersama Stella di kamar itu.
“Apa yang telah terjadi padamu dan membawamu hingga ke sini, Nona? Apakah suamiku hanya satu-satunya orang yang bisa melindungimu? Apa yang ingin kau inginkan hingga kembali ke kehidupan suamiku?” bisik lirih Melody. Perlahan dirinya ikut meninggalkan kamar dan menutup pintu dengan rapat.


Matahari sudah bersinar dengan hangatnya di luar sana, Melody sudah beraktifitas seperti biasa sejak pagi buta. Seorang laki-laki dengan membawa benda berbentuk segi empat berukuran besar menunggu di depan pagar.
“Bi Kinan, siapa laki-laki yang berada di luar sana? Apa ada paket yang akan datang ke rumah ini?” tanya Melody pada Bi Kinan. Perempuan paruh baya itu melongok ke arah pagar untuk memastikan apa yang dikatakan Melody.
“Eeh iya, ada orang, kamu di aduk dulu masakan Bibi yaa, jaga jangan sampai hangus.” Bi Kinan mengambil Fajar dari gendongan Melody dan bergegas keluar menemui laki-laki itu.
“Maaf, Mas, ada perlu apa ya?” tanya Bi Kinan pada tamunya.
“Ini pesanan buat Pak Sadewa, foto yang dimintanya sudah dicetak dengan ukuran yang Pak Sadewa inginkan. Saya bertugas untuk mengantarkannya.”
Sejenak Bi Kinan ragu, setelah banyak kejadian yang terjadi dia harus meningkatkan kewaspadaannya.
“Sebentar ya, saya temui majikan saya dulu,” ujar Bi Kinan lalu berbalik menuju kamar Sadewa. Tak lama Sadewa keluar sendiri untuk mengambil paket itu dan membawanya masuk ke kamar. Sebuah tempat untuk menggantung foto yang dipesannya sudah disiapkan.

Melody tampak cantik dan anggun dengan kebaya putih yang dikenakannya, senyumnya yang manis dan mata yang penuh dengan binar bahagia. Di sampingnya tampak Sadewa begitu gagah meskipun saat itu dia belum bisa melihat. Mata Sadewa nyaris tak berkedip memandangi foto yang berukuran besar itu di dinding kamarnya. Dirabanya dadanya, ada nyeri yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, kerinduan yang membuatnya terasa sesak.
“Kembali lah kepadaku, Melody,” bisik Sadewa penuh harap.
Melody menatap foto dirinya yang terpajang di dalam kamar Sadewa, letaknya yang menghadap ke pintu kamar membuatnya leluasa melihat gambar itu ketika pintu terbuka. Hatinya berkecamuk, bagaimana dia bisa kembali jika dirinya saja menatap ngeri pada pantulan wajahnya di cermin. Sadewa melihat pantulan Melody yang berdiri di depan pintu, laki-laki itu berbalik tetapi dengan cepat pula Melody bergegas pergi. Sudah cukup baginya melihat Sadewa yang masih mencintainya.
“Hey … tunggu!” kejar Sadewa pada Melody yang telah menghilang di ujung selasar ruangan. Sadewa ingin menanyakan tentang kondisi Stella tetapi perempuan bercadar itu dalam sekejap telah menghilang dari pandangannya.
“Non Stella sudah bangun, Nak, apa Tuan ingin melihatnya?” Suara Bi Kinan tiba-tiba terdengar dari arah belakang Sadewa yang membuatnya tersentak kaget.
“Huufthhh… Bibi mengagetkan aku,” keluh Sadewa ketika dia berbalik menatap pengasuhnya.
“Maaf, Tuan muda, tetapi Tuan muda perhatikan apa sampai tidak mendengar Bibi datang?” Bi Kinan memiringkan kepalanya melihat ujung ruangan yang menghubungkan kamar belakang tempat Melody.
“Sepertinya tadi aku melihat Melody tetapi mungkin aku salah lihat. Bagaimana keadaan Stella, Bi?” Sadewa menaruh tangannya di belakang dan bersikap sangat serius.
“Non Stella masih lemah, tetapi dia sudah bisa diajak ngobrol, silakan Tuan muda ke kamarnya jika ingin bicara dengannya.”
Sadewa membuang napasnya dan kembali menoleh ke ujung ruangan, dia menimbang sesaat kemudian berjalan menuju kamar tamu tempat Stella. Pintu kamar terbuka dan terlihat jelas wajah Stella yang penuh lebam dan tangannya yang masih menggantung di depan dadanya. Stella berusaha duduk ketika Sadewa menghampirinya.
“Darimana kamu tahu jika aku berada di villa ini?” tanya Sadewa dengan dingin.
“Aku menebaknya dan memang ada rumor yang beredar jika kau kembali menetap di villa ini.” Stella menatapnya nanar, berharap niat terselubungnya tidak terendus di hari pertama.
“Apa alasanmu hingga kau berani memutuskan untuk datang ke sini?” Sadewa menyilangkan tangannya di belakang punggungnya. Sama sekali tidak ada keramahan yang terlihat dari wajah laki-laki itu.
“Aku sudah mengatakan jika hanya kepadamu aku bisa percaya untuk melindungiku dari Indra, dia menyiksaku, apa kau pikir aku mau pura-pura dihajar seperti ini?” Mata Stella berkaca-kaca, bagaimanapun caranya dia harus mendapatkan simpati dan kepercayaan dari Sadewa.
Sesaat Sadewa terdiam, dia membenarkan kata-kata Stella, tidak mungkin jika perempuan ini babak belur hanya untuk berpura-pura saja.
“Wa, aku hampir mati di tangan Indra, dia gila! Dia suka sekali menyiksa perempuan. Dulu dia berjanji untuk menikahiku tetapi ternyata tidak, dia hanya ingin bermain-main saja denganku.”
“Jadi kau sudah tidur dengannya” Sadewa mendengkus sinis pada Stella.
“Kau pikir aku perempuan seperti itu? Diperkosa tepatnya Sadewa! Dan aku hanya punya satu kesempatan untuk melarikan diri darinya dan kau, hanya kau tujuanku menyelamatkan diri.” Suara Stella bergetar, dadanya terasa sesak menahan tangis yang hampir pecah. Tentu saja ini bukan bagian dari kebohongan, berhubungan dengan Indra memang sesakit dan sekeji itu bagi Stella.
“Jadi kau ingin mengundang bahaya ke villaku saat ini, Stella? Kau ingin aku jadi tamengmu setelah tahu kebusukan Indra setelah kau mencampakkanku, hah?” cecar Sadewa mulai emosi.
“Aku minta maaf dengan semua kesalahanku yang dulu, aku minta maaf, Sadewa, aku tidak berpikir jernih dan termakan hasutan Indra saat itu, aku mohoooon…” ratap Stella dengan tangis yang akhirnya pecah juga. Stella tidak berakting, dia benar-benar menangis, menyesali kebodohannya kemudian bingung apakah dia akan berkata jujur atau terus menjadi mata-mata Indra.
“Tolong aku, aku tidak tahu harus ke mana lagi, jika kau tidak bisa menerimaku di sini aku lebih baik mati saja, aku lebih baik bunuh diri dari pada harus kembali kepada Indra!” ancam Stella dengan wajah yang basah dengan air matanya.
Bi Kinan merasa sangat prihatin dan kasihan dengan apa yang terjadi pada Stella. Kepalanya menggeleng tanda dirinya tidak setuju jika gadis itu memilih mengakhiri nyawanya dengan tragis.
“Tuan muda, tolonglah, paling tidak sampai Nona Stella sembuh, kasihan dia, Nak,” bujuk Bi Kinan pada tuan mudanya itu.
“Baiklah aku mengizinkan dia tinggal sementara di sini, tetapi ingat, Bi, jangan percaya pada air mata buaya betina!” Sadewa menatap tajam ke arah Stella yang masih terisak kemudian meninggalkan kedua perempuan itu.


“Nakula, apa kau jadi membawa istrimu ke villa?” tanya Sadewa melalui ponsel. Setelah meninggalkan kamar Stella dia hanya memikirkan saudara kembarnya dan iparnya.
“Iya, secepatnya tetapi pekerjaan di kantor masih ada beberapanya yang harus diselesaikan,” jawab Nakula yang sedang berada di kantor Twins Group.
“Naku, Stella ada di sini, dia tiba semalam dengan wajah dan tubuh luka-luka,”
“Apa…? Stella, dia terluka?!” suara Nakula meninggi di seberang sana.
“Katanya dia melarikan diri dari Indra tetapi firasatku berkata lain, Naku, ada hal lain yang seperti tidak beres tetapi entah apa itu.” Sadewa menghela napasnya. Sesungguhnya dia masih merasa khawatir juga dengan keadaan Stella, dia tidak setega itu untuk membiarkan mantan tunangannya tersiksa di tangan Indra.
“Bagaimana dia bisa sampai di villa dalam keadaan seperti itu?” Nakula meletakkan map yang tengah dipegangnya. Kehadiran Stella di villa mereka benar-benar mengejutkan.
“Aku tidak tahu, tiba-tiba saja Bi Kinan sudah membawanya ke rumah dan jatuh pingsan di kakiku. Lebam di wajah dan sekujur tubuhnya memang cukup parah. Aku mengizinkan dia untuk sementara tinggal di villa sampai kondisinya membaik.”
“Kau harus berhati-hati, kita belum tau motif Stella apa sehingga dia tiba-tiba muncul begitu saja,” pesan Nakula, sama seperti adiknya dia merasakan jika ada sesuatu yang janggal dengan kehadiran mantan tunangan adiknya itu.
“Ya, tentu. Aku menunggu kalian datang, juga dengan ibu.” Sadewa teringat sosok lembut yang dirindukannya itu.
“Baikah, aku akan selesaikan sisa pekerjaan ini, mungkin akhir pekan nanti aku akan mengantarkan Niar dan ibu ke villa.
Percakapan mereka pun selesai, Nakula kembali berkutat dengan berbagai berkas dan dokumen sementara Sadewa kembali melangkah menuju kamarnya. Sesaat langkahnya terhenti, dia melihat sosok Melody di taman sedang menggendong Fajar dan mengajaknya bermain. Sadewa tersenyum lebar melihat perempuan itu. Melody sedang mengajak Fajar bermain bola, terdengar tawa dari bayi yang tengah lincah merangkak itu. Tanpa sengaja bola yang mereka mainkan menggelinding jauh Melody berlari kecil untuk mengejarnya sementara Fajar dari Melody.

Tangan kecil itu mencoba meraih pot bunga yang letaknya di pinggir teras, jika Fajar menariknya maka bisa saja bayi itu tertimpa pot yang cukup berat. Sadewa melihat itu dan segera mengambil Fajar disaat yang tepat ketika pot itu memang berhasil ditariknya. Melody yang melihat itu terlihat panik karena mengira Fajar tertimpa pot, dia segera berlari menuju Fajar yang diambil oleh Sadewa dan diamankan dalam gendongannya.
“Dia tidak apa-apa, jangan khawatir,” ucap Sadewa menenangkan Melody. Napas Melody turun naik, dia akan menyesali diri jika sesuatu terjadi dengan bayi Seruni. Diambilnya kembali Fajar dalam gendongan Sadewa dan tanpa sengaja tali pengikat cadar Melody terlepas tepat ketika Sadewa melihat separuh wajahnya yang cacat.
“Aaahhh!” pekik Melody sambil menyembunyikan wajahnya. Sadewa terkesiap, dia tidak menyangka jika wajah yang disembunyikan perempuan itu di balik cadarnya begitu parah.

Komentar Buku (108)

  • avatar
    RinawatiIda

    Lanjutnya mana kk

    18d

      0
  • avatar
    69Marhamah

    terimakasih

    17/05

      0
  • avatar
    TungkaKia

    nice

    11/02

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru