Nakula mendekap Niar dengan erat, kemarahan serta kesedihannya bercampur sehingga rasanya dadanya hampir meledak. Di depan matanya calon istrinya nyaris saja dilecehkan oleh saudara tirinya, Nakula hanya mampu menutupi tubuh Niar dengan kain tirai yang ditariknya di sekitar tempat itu. “Niar, Niar Sayang, buka matamu Niar!” Nakula mengguncangkan tubuh gadis itu perlahan. Ruben yang sempat berduel dengan Indra terlihat menghalau para anak buah Indra yang berusaha melawan. Indra sendiri dengan liciknya bisa melarikan diri melalui jalan rahasia. Ruben berusaha mengejar tetapi akses jalan itu seketika tertutup dan membuat Indra lolos. “Ruben, apa yang harus kulakukan? Ada apa dengan Niar, Ben?” tannya Nakula panik, segera dibopongnya gadis yang telah hilang kesadaran itu keluar dari ruangan. “Bawa dia segera ke rumah sakit, tampaknya Indra sudah memberinya sesuatu,” ujar Ruben yang sudah selesai memukul mundur anak buah Indra yang tersisa. “Bertahanlah Sayang, kita ke rumah sakit sekarang,” bisik Nakula. Entah iblis yang seperti apa bersemayam di diri Indra sehingga dia tega melukai seorang perempuan dan berusaha merampas kehormatannya, pikir Nakula. “Biar aku yang nyetir.” Ruben membukakan pintu mobil agar Nakula mudah memasukkan Niar ke dalam mobil. Ruben pun segera memacu mobil ketika mereka sudah siap, Ruben hanya berharap Indra tidak memberikan obat bius yang keras pada Niar. Nyawa gadis itu bisa terancam jika diberi dosis yang lebih besar. Teman dekat Nakula itu masih punya perhitungan pada Indra yang juga pernah berbuat sama kepada salah satu kekasih anak buahnya. Niar masih lebih beruntung karena Indra tak sempat menjamahnya lebih jauh lagi, gadis calon istri anak buahnya disekap selama tiga hari dan mendapat pelecehan seksual yang brutal. Gadis itu tak dapat menahan diri sehingga memilih mengakhiri nyawanya sendiri.
Mobil Indra melaju dengan kecepatan tinggi menuju luar kota, wajahnya yang tampak memar karena pukulan Ruben tak menghalangi laki-laki itu kembali tertawa gembira. Dia puas melihat wajah Nakula yang memucat saat Indra menindih tubuh calon istrinya yang nyaris bugil. Hanya saja kehadiran Ruben jauh dari bayangannya. Andai saja The Middle tidak ikut campur mungkin dia sudah membuat Nakula lebih menderita lagi. “Saatnya aku berkunjung ke saudaraku yang buta itu, kejutan ini pastinya akan sangat menyenangkan. Aku gak akan berhenti sebelum si kembar itu dan Tuan besar Rendra Bakti Nugraha hancur!” teriak Indra seperti kesetanan dan menginjak pedal gas semakin dalam.
Menjelang malam Indra sudah tiba di desa tempat villa berada, dia memarkirkan mobil di depan pondok sewaan anak buahnya. Dilihatnya sekeliling dan tampak dari kejauhan pendar-pendar cahaya lampu dari villa yang di atas bukit sana. Indra menyeringai, sebentar lagi dia akan membuat suasana acara itu menjadi lebih semarak. “Wirya, apa kamu sudah siapkan ledakan kecilnya juga kembang apinya?” tanya Indra yang mengambil setelan batik untuk dipakainya berbaur di acara. Yang mengenalinya hanya kedua orang tuanya, dan asisten rumah tangga, bi Kinan dan pak Bintoro. “Sudah siap, Bos, saya akan lewat belakang, saya akan memberi tanda jika paket siap untuk diledakkan.” Wirya mengenakan jaket hitam dan topi baseball hitam seperti yang dikenakannya saat merusak mobil Sadewa. Indra tertawa lagi, disisirnya dengan rapi rambutnya, bekas memar terlihat di berbagai sudut wajahnya. “Bagaimana dengan Nakula, Bos?” tanya Wirya yang tahu tentang rencana penculikan kekasih laki-laki itu. “Dia akan tertahan untuk sementara waktu, pengalihan yang cukup bagus agar dia tidak langsung kesini.” Indra menatap map yang berisi dokumen pengalihan Twins Group yang sempat dibawanya kabur, dia akan membuat pak Rendra menandatangani pengesahan itu. “Sudah saatnya Twins Group kembali kepadaku, Ayah,” gumam Indra dengan senyum liciknya.
Melody membantu Sadewa mengenakan baju kemeja yang dibawakan oleh ibu Sekar, baju itu berpasangan dengan kebaya encim yang diperuntukkan kepada Melody. Sambil memasangkan kancing satu persatu Melody menatap dalam ke wajah suaminya. “Apakah perasaanku benar jika saat ini kau sedang memandangiku?” tanya Sadewa yang merasakan hembusan napas Melody. “Iya, benar, Mas. Aku sedang mengagumi buatan Tuhan yang satu ini, betapa tampan dan sempurnanya.” Ujung jemari Melody merapikan rambut Sadewa sehingga tampak sempurna dirinya. “Kau tahu kekuranganku Melody,” ujar Sadewa dengan lirih. “Kekurangan Mas adalah kelebihanku, tidak ada tawar menawar lagi.” Melody sedikit mundur, dirapikan sanggul rambutnya, serta rok wiron yang dikenakannya. Mereka sangat serasi malam ini. “Gambarkan padaku kau mengenakan apa malam ini?” tanya Sadewa yang berdiri di belakang Melody. “Aku memakai kebaya encim warna putih pemberian Ibu mertuaku, mengenakan rok wiron sebagai pasangannya. Rambutku disanggul oleh kakak iparku dan diberi hiasan bunga. Ibu mertua juga memberiku seperangkat perhiasan emas yang sangat bagus dan pastinya mahal, aku sampai merasa berat memakainya,” canda Melody seraya tersenyum. “Kau pantas mengenakan itu Melody dan pastinya kau lah yang tercantik malam ini,” puji Sadewa dengan tulus. Mereka pun akhirnya bergandengan menuju ruang tengah dan disambut meriah oleh anggota keluarga dan para tamu undangan. Senyum tak henti-hentinya mengembang dari sepasang pengantin baru itu, nuansa kehangatan keluarga benar-benar terasa.
Nakula menatap masih memegangi tangan Niar yang terbaring di kamar perawatan. Jarum infus menancap di tangan satunya lagi, wajah calon istrinya itu masih terlihat bengkak dan memar. Indra berhasil membuat perasaan dan pikirannya porak poranda. Sebelum mendobrak pintu itu, Indra memasang pengamanan berlapis dan Nakula harus melewati lusinan anak buahnya. Syukurnya Ruben dan The Middle benar-benar tangguh dan bisa diandalkan. Niar bergerak pelan dan nyaris histeris ketika merasakan genggaman seorang pria di tangannya. “Daniar … ini aku, Nakula, tenanglah kau aman, kau aman sekarang,” tukas Nakula cepat sambil menahan gerakan Niar yang hendak memberontak. “Nakuuuu… Nakuuu… aku … aku … Indra, dia …,” Daniar tergugu dirinya menyangka jika Indra telah berhasil merebut kesuciannya. “Tidak Niar, kau aman, Indra tidak sempat melakukan itu, kau masih suci, kau tidak sempat dijamah olehnya,” terang Nakula mencoba menenangkan Niar. Gadis itu akhirnya menangis lega karena calon suaminya datang tepat waktu seperti yang diharapkannya. “Maafkan aku yang telah menyeretmu dalam bahaya, maafkan aku Calon istri,” Nakula mengecup dahi Niar untuk membuat Niar lebih tenang lagi. “Di mana bajingan itu sekarang?” tanya Niar cemas, Nakula pun sejenak berpikir. Jantungnya berdebar kencang, dia mendadak ingat jika ada acara syukuran Sadewa Melody di villa mereka. “Indra berhasil kabur, tetapi jangan khawatir, Ruben menempatkan anak buahnya di depan untuk menjagamu. Indra tidak akan berani membuat kekacauan di sini.” Nakula mengelus punggung tangan Niar dengan penuh kasih sayang. “Naku, jika Indra kabur kira-kira dia akan ke mana?” tanya Niar sambil memandang wajah Nakula yang berusaha menyimpan kecemasannya. “Apa Indra akan menyusul Sadewa?” pertanyaan Niar itu membuat Nakula tersentak, dia juga berpikir hal yang sama sementara kedua orang tuanya ada di sana. Nakula mencari ponselnya yang diharapnya masih aman di saku celananya. Ponsel itu terlihat retak di layarnya karena perkelahian tadi. “Ponselku mati. Niar, aku harus ke villa sekarang, kau tidak keberatan jika aku menitipkanmu pada Ruben?” tanya Nakula penuh harap. Gadis itu mengangguk saat ini buka hanya Sadewa saja yang berada dalam bahaya tetapi keluarga lainnya. Nakula mendaratkan kecupannya lagi di dahi Niar dan meminta gadis itu menunggunya. Ruben menyuruh separuh anak buahnya untuk ikut tetapi Nakula menolak, dia hanya meminta agar Ruben menjaga Niar. Tanpa membuang waktu lagi Nakula menancap gas menuju villa.
Bi Kinan mengucek matanya berharap dia hanya salah lihat saja sosok yang melintas di depannya seraya mengambil segelas minuman. Bergegas dia mencari ibu Sekar untuk melaporkan jika dirinya melihat Indra menyusup dalam acara mereka. Namun, langkahnya terhenti ketika sosok yang ditakutinya itu tengah berbicara serius dengan majikannya, pak Rendra. “kau keterlaluan, Indra! Kau tak punya hak apa-apa di Twins Group!” hardik pak Rendra kesal, laki-laki paruh baya itu tak menyangka jika Indra akan hadir di tengah-tengah mereka dengan meminta pengalihan kekuasaan atas Twins Group. “Apa Anda lupa, Pak Rendra jika aku lebih berhak dari kedua kembar itu? Kau hanya menikahi ibuku untuk menguasai perusahaan ayahku lalu mengubahnya menjadi Twins Group!” desis Indra dengan penuh amarah. “Kau sudah salah paham, Indra! Ayahmu tidak punya kemampuan mengurus perusahaan peninggalan ayah kami karena sakit keras. Aku menikahi ibumu karena wasiat ayahmu, sesuai dengan warisannya aku sudah memberikan bagianmu dan Twins Group itu adalah hasil usahaku sendiri. Kau memang anak serakah!” “Kau tanda tangan saja, Pak Tua, anak-anakmu tidak akan bisa menolongmu, bahkan langkahnya sendiri Sadewa tak mampu melihatnya. Nakula? Aku baru saja memberinya kejutan dengan mengirimkan calon istrinya ke rumah sakit. Apa kau tidak sayang nyawamu sendiri?” bisik Indra dengan kejam. “Anak kurang ajar! Salah apa kami kepadamu, hah?!” pak Rendra masih menjaga suaranya agar mereka tidak membuat kegaduhan. Ekor mata Indra menangkap sosok Wirya yang sudah menyelinap ke arah dapur, menuangkan sesuatu ke dalam gelas kemudian menukar gelas itu dengan milik Sadewa. Tanpa diketahui Indra dan Wirya gelas yang berisi racun diambil oleh Melody. Keduanya meminum minuman yang sama tetapi gelas yang mematikan sedang direguk isinya oleh Melody.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Lanjutnya mana kk
16d
0terimakasih
17/05
0nice
11/02
0Lihat Semua