logo text

Bab 5 Sikap Aneh Penjaga Kos

"kamu mau beli apa?" Tanya Nining padanya yang sudah dekat dengan penjual makanan.
"Saya mau beli karu sim untuk handphone saya dulu mbak."
"Oh, ya sudah ayo mba temani."
"Memangnya dimana konter yang terdekat mba?"
"Udah ikut aja, nanti kamu bakalan liat tau."
"Ok mbak."
Mereka berdua berjalan kembali sekitar lima puluh meter ke depan. Terlihat ada sebuah tulisan konter Iqbal disebuah plangkat didepan konternya.
"Nah itu dia konternya. Ayo." Nining menunjuk kearah konter yang dimaksud.
"Oke mbak, ayo."
"Mas, mau beli kartu sim nggak?" Tanya Nining kepada penjual, yang berdiri membelakangi mereka berdua.
"Eh, maaf mbak. Apa tadi?" Dia membalikkan badannya dan bertatap muka dengan mereka berdua.
"Ini mas saya mau beli kartu sim untuk handphone saya."
"Boleh, mbak. Silahkan ini kami menyediakan berbagai macam kartu. Silahkan dipilih saja."
"Mbak,"
"Iya,"
"Kartu yang bagus apa ya?" Bisiknya kepada Nining.
"Mas kartu yang bagus selain Telkomsel apa nih kira-kira?"
"Kalau kartu yang bagus untuk jaringan sekarang Telkomsel masih oke. Tapi mana tau mbaknya mau coba M3 juga bagus kok." Tentu saja tawaran itu teknik pemasaran mereka.
"Gimana? Kamu mau yang mana. Kalo mbak sih pake kartu Telkomsel udah lama banget sih dari dulu-dulu masih ok juga."
"Yaudah deh mbak aku pilih Telkomsel aja." Jawab Elena kepada Nining.
"Yauda mas, adik saya mau yang Telkomsel saja." Padahal pembicaraan mereka dalam memilih kartu sim itu sudah di dengar oleh si penjual.
"Oke, sebentar saya ambilkan. Nomornya bebas saya ambil atau mbak saja yang pilih?"
"Masnya aja yang ambil nggak papa kok" jawab Nining.
"Iya mas bebas aja."
"Ok, ini dia kartunya. Coba dilihat dulu." Penjual membariskan kartu sim Telkomsel yang dimaksud Elena.
Elena meneeima kartunya dan mengecek kartunya dalam keadaan masih disegel."bagus kok mas, harganya berapa ya?"
"Oh kartu Telkomsel yang mbak pegang itu harganya cuman tuju puluh lima ribu saja. Itu juga sudah lengkap dengan paket data didalamnya. Mbak nggak usah Registrasi lagi. Tinggal pakai saja."
"Ok mas, ini uangnya. Boleh sekalain diapasangkan ke handphone saya mas?" Elena menyodorkan handphone miliknya.
"Boleh. Sini biar saya pasang." Si penjual menerima handphone Elena untuk di isi kartu sim yang baru.
"Wah handphone kamu bagus juga ya?" Puji Nining kepadanya.
"Eh mbak bisa aja," Elena malu karena handphone miliknya dikatakan bagus.
"Ini mbak, sudah saya masukkan kartu sim yang baru."
"Oh iya mas, sama-sama. Ini uangnya." Elena memberikan dua lembar uang pecahan lima puluh ribu. Dan kemudian sipenjual memberikan kemabalian uangn Elena.
Setelah mereka dari konter mengganti kartu sim Elena yang baru, Nining mengajaknya untuk membeli makanan ditempat yang tadi.
"Elena kamu sudah lapar belum?"
"Sudah mbak. Kalau Mbak udah lapar belum?"
"Iya saya sudah lapar nih. Kita beli makan di tempat tadi aja yah. Ga mahal ko."
"Oh, ok mbak. Ayo."
Mereka berdua memesan makanan dan makan di warung makan tersebut.
"Pak, kami pesen makan. Apa aja yang ada ya pak?"
"Oh boleh. Menunya tinggal rendang sapi sama. Ayam gule aja."
"Oh ya sudah saya pesan ayam gule satu. Kamu apa Elena?"
"Saya, ayam gule juga mbak."
"Jadi dua ya pak."
"Oke."
Mereka berdua menyantap makanan yang mereka pesan sampai habis. Kemudian mereka pulang kembali ke kosan mereka.
"Oh iya mbak, kamar mbak di sebelah mana ya?" Tanya Elena kepada Nining.
"Kamar saya di nomor 3 yang didepan."
"O dekat dengan rumahnya penjaga kos-kosan ini ya mbak?"
"Iya benar, dekat sama rumah pak Harto."
"Boleh nggak mabuk saya ke kamar mbak sesekali?"
"Boleh banget dong. Lagian saya sendiri kok di kamar jadi sepi."
"Sekalian deh kalau gitu nomor mbak biar aku save di handphone aku. Boleh mbak?"
"O boleh. Tapi mbak lupa nomor handphone mbak. Nanti aja deh pas sampe di kosan kita makan di kosan mbak aja."
"Ok mbak."
Mereka menapaki jalan dan sampai juga di depan kosan mereka. Pak Harto yang kebetulan ingin keluar dengan menaiki sepeda motor miliknya. Membukakan pintu gerbang. Pak Harto memandangi Elena dari bawah sampai ke atas.
Karena Elena dipandangi pak Harto dia merasa malu. Tapi Nining sepertinya tau maksud dari pak Harto melirik Elena dengan pandangan begitu.
"Pak kenapa, mandangin Elena begitu. Ga sopan tau. Mau saya bilangin ke bu Nurul biar bapak di husir?"
"Lah kok gitu sih, apa salahnya bapak geliat dia begitu. Lagian bapak tadi udah ketemu sama dia. Kan dia sama Bu Nurul ke kesini."
"Hu... Awas kalo macam-macam. Ayo Elena." Jawab Elena dengan nada mengancam Harto penjaga kos-kosan mereka.
Mereka berdua meninggalkan Harto yang kemudian pergi entah kemana dengan kendaraannya.
"Yok masuk. Ini kamar mbak. Maaf ya agak berantakan begini."
"Oh, tidak apa-apa mbak."
"Mari masuk." Nining membukakan pintu kosannya dan mereka berdua masuk kedalam.
"Nih duduk disini aja." Nining memberikan Elena kursi kecil. Maklum karena Nining juga adalah orang sederhana. Itu terlihat dari perabotan yang ada di dalam kamarnya yang masih dikategorikan sederhana, tapi kamarnya sebenarnya rapi dan bersih.
"Mbak memangnya pak Harto selalu begitu ya sama anak baru?"
"Iya dek, kamu harus hati-hati. Jangan sampe kamu jadi korban dia ya."
"Memangnya kenapa mbak?"
"Panjang deh ceritanya. Dia pernah kedapatan meniduri seorang perempuan yang bukan istrinya di rumahnya itu."
"Loh emangnya nggak di marahin sama Bu Nurul ya mbak?"
"Bu Nurul kasihan sama pak Harto yang memohon dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. Tapi dia masih saja terus melakukannya tanpa diketahui oleh Bu Nurul. Mbak aja sendiri pernah melihat dia sedang mengintip di kamar mandi cewe."
"Ih serem juga ya mbak, jadi takut."
"Nggak usah takut selagi kamu nggak ada salah."
"Oh iya mbak, nomor mbak tadi saya lupa."
"Oh, sebentar ya. Mbak ambilkan handphone mbak dulu."
Elena hanya mengangguk.
"Ini nomor mbak." Nining memberikan handphone miliknya kepada Elena, dan menunjukkan nomor handphone miliknya.
"Wah handphone mbak bagus banget." Puji Elena kepada Nining.
"Ih kamu bisa aja deh,"
"Sebentar aku miscall nomornya ya mabak."
"Oke."
"Masuk nggak mbak?"
"Oh iya sudah. Nomor kamu buntut 4523 kan?"
"Iya bener mbak."
Kemudian mereka saling menyimpan nomor handphone masing-masing.
Tidak terasa mereka berbincang dan bercanda selama berjam-jam di kamarnya Nining. Akhirnya Elena berpamitan untuk ke kamarnya. Dia ingin menghubungi seseorang.
"Mbak, udah larut nih. Elena ke kamar dulu mbak. Lupa kalau mau hubungi seseorang."
"Oh ya sudah silahkan. Kalo kamu butuh datang aja ke kamar mbak ya."
"Iya mbak, atau mbak mau ke kamar Elena?"
"Ah tidak usah, mbak juga sekalian mandi aja deh."
"Oh iya mbak, kalo mandi di sebelah mana ya?"
"Itu nanti lurus aja dari lorong kalian trus belok ke kanan nanti langsung dapet kok ada delapan kamar mandinya."
"Ok mbak makasih ya."
"Iya sama-sama."
Elena pergi dari sana dan menuju ke kamarnya. Kemudian dia menghubungi Bu Nurul untuk menyetujui kalau dia mau menjadi pembantu rumah tangga di rumah Bu, Nurul.

Komentar Buku (60)

  • avatar
    TauGk

    bgus cerita ny

    03/02

      0
  • avatar
    RajehSosoh

    sangat seru

    21/12

      1
  • avatar
    RinoAlvine

    aku suka jalan ceritanya😙

    30/09/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru