Akhirnya Elena sampai juga di Jakarta setelah menempuh perjalanan yang jauh. Matanya melirik kesana kemari. Dia hanya bermodalkan nekat dan juga ambisi agar dia bebas dari kehidupan lamanya yang suram. Dia menghela nafas panjang, dia tidak percaya kalau dia sudah ada di ibukota Jakarta. Dia membawa barang-barangnya dan dia duduk di kursi stasiun tersebut. Kemudian dia memekirkan untuk segera mencari kos-kosan untuk dia bisa tinggal dan akan memulai kehidupan barunya. Akan tetapi dia tidak mengenal satupun orang yang ada disana. Bahkan ini adalah pertama kalinya dia ke ibukota Jakarta. Elena berfikir dan berpasrah dengan keadaannya sekarang. "Huh, bagaimana ini ya Allah? Apa yang harus kulakukan. Aku bahkan tidak kenal dengan siapapun disni. Aku hanya bisa pasrah." Kemudian ada seorang ibu-ibu duduk disampingnya sedang bertelepon dengan seseorang. Ibu-ibu tersebut sedang membahas tentang, keadaan kos-kosan yang dia miliki. "Gimana dengan kondisi kos-kosan kita yang di Rawamangun pak Harto? Sudah lama saya nggak pernah kesana. Kebetulan sekali Lo pak saya mau ke rawa Mangun jenguk anak saya jadi sekalain aja nanti saya singgah kesana ya pak Harto." Mendengar pembicaraan ibu-ibu yang duduk disampingnya itu dia kemudian mengumpulkan keberanian untuk bertanya kepada ibu-ibu yang duduk disampingnya itu. Tapi karena ibu-ibu itu belum usai berbicara dia hanya bisa menunggu dan mengambil ancang-ancang kalau saja ibu-ibu itu pergi, maka kesempatan nya untuk mendapatkan kos-kosan di ibukota akan semakin susah. Dia menunggu dan menunggu pembicaraan ibu-ibu itu sampai selesai. Benar saja ibu-ibu itu hendak pergi dari samping nya. Akhirnya dia memberanikan diri untuk bertanya. "Ibu, permisi sebentar." Dia menghentikan langkah ibu-ibu itu yang hendak akan pergi dari sampingnya. "Iya ada apa ya?" "Maaf sebelumnya bu, tadi saya dengar ibu membicarakan tentang kos-kosan." "Iya benar emangnya kenapa ya?" "Begini Bu... Anu" "Anu... Kenapa?" "Gini Bu saya Kebetulan sekali mau cari kost an. Apa saya boleh ngekos di kontrakan ibu?" "Memangnya kamu mau kemana makanya mau nge kos ditempat saya?" "Gini Bu, saya baru saja dari kampung. Kebetulan sekali bulan ini saya akan kuliah di Jakarta Bu. Setidaknya bolehkah saya nge kos ditempat ibu?" "Yaudah deh, kasian juga kamu baru dari kampung. Ibu nggak tega juga liat kamu baru dari kampung. Memangnya kamu nggak punya keluarga di Jakarta ini?" Tanya ibu-ibu tersebut. "Tidak Bu. Saya tidak memiliki keluarga di Jakarta ini." Kemudian sebuah mobil pribadi berwarna hitam datang. Ternyata itu adalah jemputan untuk ibu-ibu yang di ajak Elena bicara mengenai kos-kosan. Supir pribadi ibu-ibu tersebut keluar dan membawa barang-barang majikannya tersebut. "Maaf ya nyonya saya sedikit terlambat saya baru isi bensin mobil tadi nyonya." "Iya nggak papa, ini bawakan masuk kedalam mobil. Kita langsung ketempat anak saya ya. Sekalian kita lihat kosan yang di Rawamangun." "Baik nyonya. Oh iya dia siapa ya nyonya?" Supir pribadi ibu-ibu tersebut menanyakan seorang wanita yang berdiri dekat dengan majikannya, siapa lagi kalau bukan Elena. "Oh dia ini katanya mau cari kosannya tapi nggak tau mau kemana. Jadi dia mau ikut ke kosan yang di Rawamangun." "Jadi dia ikut nyonya?" "Apa kamu jadi mau ikut liat kosannya nak?" "Jika saya tidak memberatkan ibu, saya mau Bu." "Ya sudah kalau begitu, kamu angkat barang-barang dia kebagasi. Biar sekalian dia ikut ke Rawamangun." "Baik nyonya." Kemudian barang-barang Elena dimasukkan kedalam bagasi mobil." "Sudah semua nyonya. Silahkan masuk nyonya." " Baik. Ayo nak, kamu duduk di samping saya." "Baik Bu." Kemudian Elena masuk kedalam mobil mewah tersebut. Dia baru delapan belas tahun baru bisa menaiki mobil semewah itu. Dia merasa sangat bahagia akan hal tersebut. Dia juga terkadang menyentuh bagian-bagian dari mobil mewah tersebut. "Jalan ya pak." Suruh majikan nya kepada supir pribadinya. " Baik nyonya" kemudian mobil melaju dan meninggalkan stasiun tersebut. Ibu-ibu yang duduk disampingnya menanyakan dia, karena dia merasa iba juga dengan kelakukan Elena seperti baru kali ini melihat hal seperti ini. "Kamu baru pertama kali ya naik mobil ya?" "Iya bu, baru pertama kali ini saya naik mobil semewah ini. Biasa dikampung saya hanya naik becak saja dan juga angkutan umum yang dipenuhi orang-orang didalamnya." "Wah berarti sekarang kamu sudah merasakan sekarang bagaimana kalau berada di dalam mobil seperti ini." "Iya Bu, saya berterima kasih sama ibu ya. Sudah mengajak saya naik ke mobil semewah ini." "Tidak apa-apa. Ibu senang bisa membantu kamu. Oh iya ngomong-ngomong ibu lupa nanya nama kamu. Nama kamu siapa ya nak, kalau ibu boleh tau?" "Boleh Bu, nama saya Elena Sulistyowati." "Nama yang bagus." "Maaf ya Bu, seharusnya saya yang bertanya sama ibu lebih dahulu." "Makasih Bu, tapi saya minta maaf ya bu. Seharusnya saya yang menanyakan ibu terlebih dahulu." "Tidak apa-apa." "Oh iya ibu namanya siapa ya kalau boleh tau?" "Nama ibu, Nurul Musthofa. Tapi kamu bisa panggil ibu Nurul saja." "Nama ibu cantik, kayak orangnya." "Oh iya nak, memangnya orang tua kamu diamana? Kenapa nggak diantarin sampe ke sini?" "Orang tua saya sudah lama meninggal Bu sejak aku masih SMP kelas 1. Sekarang aku cuman hidup sebatang kara. " "Inalillahi wa Inna ilaihi Raji'un, ibu turut berdukacita ya nak, ibu nggak tau soal itu. Terus Apa bibi kamu nggak ada?" "Iya buk nggak apa-apa. Kalau keluarga saya Nggak ada sama sekali bu. Makanya setelah saya lulus sekolah SMA saya pergi ke Jakarta kebetulan saya Lulus di universitas negri Jakarta. Sekaligus saya juga mau tinggal di kota Bu" "Kamu memang gadis yang mandiri nak. Ibu turut sedih kamu nggak punya keluarga lain." Elena merasa beruntung sekali ada seseorang yang baik hati mau menerima dia. Padahal dia baru saja bertemu dan kebetulan saja dia menanyakan tentang kos-kosan. "Oh iya kamu bilang tadi lulus kuliah dimana?" "Saya lulus di Universitas negri Jakarta Bu." "Wah kamu satu universitas dengan keponakan ibu. Sekarang dia juga baru masuk ke kampus yang sama dengan kamu Lo. Kalo kamu jurusan apa nak?" "Saya jurusan manajemen Bu" "Wah keren ya." "Kalau keponakan ibu jurusan apa ya kalau boleh tau?" "Keponakan ibu jurusan Fisika." "Wah keponakan ibu pintar ya." Puji Elena kepada ibu-ibu tersebut. "Ya begitulah nak, tapi sebenarnya keponakan ibu ini sudah menganggur selama dua tahun karena nggak mau sekolah" "Wah sayang sekali ya Bu. Oh iya, apa ibu punya anak?" "Ibu punyak anak laki-laki semua tiga-tiganya. Satu sudah tamat kuliahnya. Satu masih kuliah semester empat dan satu lagi masih SMA kelas sepuluh." "Ibu hebat ya." "Akh tidak ibu cuman sekedar saja ..." Beberapa menit setelahnya suasana menghening sejenak. Kemudian ibu-ibu tersebut bertanya kepada Elena. "Nak, ibu ada mau nanya nih sama kamu?" "Iya Bu, silahkan Elena nggak akan keberatan kok Bu." "Kebetulan nih, ibu lagi butuh pembantu dirumah. Apa kamu mau kerja jadi pembantu." Mendengar pertanyaan tersebut elena berpikir. 'Padahal aku ke kota ingin mencari hidup yang lebih layak. Kenapa selalu saja aku mendapat tawaran menjadi babu. Ya Tuhan kenapa dengan nasibku ini.' Elena jadi terdiam sejenak. "Kamu kenapa diam nak?" "Oh, enggak Bu. Elena merasa kayak mimpi saja. Padahal Elena batu aja ketemu sama ibu dan ibu langsung menawarkan kepada saya seperti ini. Tentu saja saya senang Bu." "Jadi kamu mau kan nak?" "Tapi jarak dengan kampus saya apa tidak jauh ya Bu?"
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bgus cerita ny
03/02
0sangat seru
21/12
1aku suka jalan ceritanya😙
30/09/2025
0Lihat Semua